EPISODE 08

Malam yang cukup riuh diluar sana, suara kembang api dan petasan memberi melodi dimalam yang gelap dihiasi lampu. Orang-orang keluar dari rumah dan kamar apartemen mereka dengan kegiatan mereka masing-masing, mulai dari memanggang daging, memainkan kembang api dan petasan kecil, atau hanya sekedar jalan-jalan menikmati kilauan pernak-pernik api yang menyebar diatas langit.

Malam yang cukup dinanti, karena hanya terjadi sekali dalam setahun. Malam pergantian tahun yang selalu meriah. Namun, untuk tahun ini ada sedikit tambahan sesuatu yang cukup spesial. Malam ini, bumi tidak akan hanya dihiasi oleh pesta kembang api maupun kelap-kelip lampu bermacam warna, malam ini juga akan dimeriahkan dengan DARAH.

Saat yang dinanti hanya tersisa beberapa detik lagi. Orang-orang berkumpul ditaman yang terletak didepan kantor pemerintahan, berteriak menyebuti angka-angka yang terus berganti setiap detiknya di sebuah tugu jam digital yang tertancap di tengah taman kota.

..."55"...

..."56"...

..."57"...

..."58"...

..."69"...

..."00"...

...Ccuuiiiit.... Duarrr......

Suara kembang api yang memancarkan percikan api diatas langit, disambut meriah oleh para manusia yang menyaksikan keindahannya. Kalimat 'selamat tahun baru' dalam bahasa Inggris terukir dilangit hitam dengan hiasan bulan. Kegembiraan menyambut pergantian tahun dirasakan oleh setiap orang, setumpuk daging panggang berbumbu dan minuman alkohol, sangat cocok untuk merayakan dan menghabiskan malam.

Empat orang yang telah siap menjalankan rencana kecil mereka, melangkah keluar apartemen berlantai tiga yang telah disewa Mike dan Zero sebelumnya, untuk menjadi markas mereka sementara.

Sebuah kembang api merah yang meluncur ke langit, menyita perhatian Mike, kembang api itu meledak dan membentuk hati, tepat dihadapan Mike. Untuk beberapa saat Mike terpaku menatap kearah langit, perasaan yang hampir dilupakannya kembali muncul. Langit gelap malam yang diisi oleh ribuan kembang api, benar-benar membuat tubuh Mike bergetar hebat, keringat sebesar biji jagung bercucuran diwajahnya. Mata Mike yang terbelalak dan senyuman mengerikan yang dipancarkan Mike benar-benar membuat gidikn ngeri orang yang melihatnya. "Aku menanti kalian pasukan manusia pucat!", Batin Mikey gembira.

"Apakah dia baik saja?, Sepertinya dia memiliki sedikit ketakutan dengan lambang api?", Ucap Rena, yang sama sekali tidak mengerti dengan ekspresi yang ditunjukan Mike, ketika melihat kembang api.

"Kau tahu, ini mengingatkanku akan sesuatu!. Apakah kau tak mengingatnya?, aku rasa itulah yang dirasakan Mike saat ini!. Sesuatu yang besar, yang akan kembali pada kita semua!", Balas Lim, menatap kearah langit yang benar-benar diporak porandakan dengan letusan kembang api.

"Hei Zero!, Sebaiknya kau sadarkan Mike sebelum dia tenggelam lebih lama di dalam lamunannya!", Saran Rena kepada Zero yang masih sibuk membenahi penampilannya di depan kaca jendela kamar apartemen bawah yang gelap.

"Mike?, Memangnya kenapa?", Heran Zero.

"Lihat saja!. Cepat! Sebelum waktu kita terbuang percuma!", Perintah Rena.

"Kenapa tidak kau saja?", Tanya Zero.

"Maaf, aku sedikit sensitif terhadap pria. Mungkin karena kenangan buruk masa lalu?", Jawab Rena.

"Ah?, Baiklah kalau begitu", Ucap Zero mengalah. Kemudian dia berjalan menghampiri Mike dan menepuk bahunya.

"Tolong cepat ganti wajah mengerikan mu itu!. Kau seperti orang tak waras!", Ucap Zero bergidik.

"Ah?, Apakah semengerikan itu?", Mike menoleh kearah dua wanita yang sekarang sepertinya menjadi temannya. "Maaf kan aku!. Aku sedikit berlebihan tentang mengatur emosi ku", ucap Mike canggung.

"Tolong jangan berlebihan, ekspresi mu tadi tak semengerikan sifat percaya diri orang ini", sindir Lim, melihat kearah Zero yang sedang asik berpose didepan kaca jendela tempatnya tadi membenahi penampilannya.

"Baiklah, lebih baik kita mulai saja rencananya. Seperti yang telah disepakati!", Tegas Mike.

"Baik seperti yang disepakati!, Ayo, Rena!", Ucap Lim setuju, kemudian berjalan bersama Rena, kearah timur tepatnya menuju tempat digelarnya pasar malam.

"Ayo, Zero. Kita juga harus bergerak cepat!", Ucap Mike. Berlalu pergi kearah sebaiknya, kearah taman kota yang ada di depan kantor pemerintahan.

Keempat orang yang masing-masing menenteng sebuah tas kecil, berjalan dengan hodie hitam yang melekat ditubuh mereka. Masing-masing dua orang berada di tempat yang terpisah. Mereka berjalan, bergerak, dan beraktivitas dengan normal, layaknya menikmati malam penuh percikan api yang meluncur keatas langit. Mereka merogoh isi tas, dan menempelkan benda yang telah mereka buat di tempat yang kemungkinan tidak akan terlihat oleh orang lain. Ambil dan tempel, mereka lakukan dengan sangat mulus. Bahkan orang-orang yang berada di sekitar mereka sama sekali tidak menyadari apa yang mereka lakukan.

Zero berjalan dengan santai kearah air mancur taman kota, dengan sedikit melihat kesekitar Zero menempelkan benda bulat berbentuk tabung kecil ke tepi dalam dinding penampung air. Melihat Mike yang berjalan menghampirinya, Zero bertanya dengan alis terangkat,"Apakah ini akan berhasil?".

"Sampai kapan kau akan terus meragukan ku?. Kumohon percayalah padaku!, Ini benar-benar ampuh!", Tekan Mike.

"Aku harap kau tak mengada-ada!. Dan semoga kedua wanita itu bukan sedang mengikuti naskahmu untuk mengerjai ku", Ucap Zero yang masih sangat tidak percaya dengan peristiwa yang akan terjadi.

"Hahh... Zero, sobatku. Lebih baik kau selesaikan pekerjaan mu! Temperlkan benda itu ke tempat yang ramai dan cukup tersembunyi!. Kau akan melihat dan merasakan sendiri peristiwanya!", Jelas Mike, berusaha menahan emosinya.

"Baiklah! Aku harap begitu!", Ucap Zero pasrah.

"Kita harus cepat! Menurut ingatanku, tak lama lagi racun berbentuk gas tak kasat mata itu akan urun ke bumi. Hanya tinggal 3 menit!." Ujar Mike, memberi peringatan.

Semantara itu, jalanan yang berada tepat dibelakang kantor pemerintahan dipadati oleh penjual dan pembeli yang bertransaksi maupun sekedar bercengkrama, menikmati warna-warna indah yang menaburi langit. Lim dan Rena berpencar ke arah berlawanan karena tempat diadakannya pasar malam merupakan persimpangan empat jalan, memudahkan mereka berdua untuk bersikap adil dan mengatur kesepakatan. Dua itu wanita sibuk bergelut dengan kepadatan jalanan. Sebelah tangan mereka memegang sebuah kantong plastik berisikan jajanan yang mereka beli, sambil menyelipkan sebuah tabung di masing-masing tokoh yang mereka singgahi. Dua buah tabung telah mereka letakkan ke kaki gerbang jalan masuk pasar malam. Dan rencananya dua buah lainnya akan diletakkan ke kaki gerbang jalan keluar.

Sepuluh menit kemudian mereka bertemu ditengah persimpangan jalan. Dengan napas tak beraturan, mereka berdua merogoh tas yang mnyengkut dilehernya, kemudian mengeluarkan sebuh benda yang bersembunyi dalamnya.

"Satu tabung?", Tanya Rena yang masih mengatur nafasnya, menunjukkan sebuah tabung di tangannya

"Satu tabung!", Balas Lim, melakukan hal yang sama.

Mereka tertawa kecil lalu melangkah menuju gerbang jalan keluar, kemudian masing-masing tabung mereka ke kaki gerbang yang berbeda. Lim meneliti setiap inci tabung yang hendak diletakkannya di kaki gerbang, sebelum suara dentingan ponsel miliknya mengalihkan perhatiannya. Sebuah pesan dari Mike yang berisikan ,"Hanya tinggal 3 menit! Cepat kembali!".

Lim mengalihkan pandangannya ke Rena, yang sepertinya juga menerima pesan dari Mike. Ini agak sedikit sulit, mau bagaimanapun berlari waktunya tak akan cukup. Angkutan jalan yang biasanya berlalu lalang, sama sekali tak terlihat, dengan terpaksa Rena dan Lim harus berlari dan memperkirakan waktu turunnya gas beracun itu. Rena sesekali memeriksa jam yang melingkar di tangannya, sambil memperkirakan temoat yang mungkin aman untuk menjadi tempat mereka berlindung untuk sementara waktu.

Waktu tinggal lima detik, apartemen yang menjadi markas mereka hanya tinggal beberapa blok dari tempat mereka. Tak ingin mengambil resiko, sebuah minimarket yang ternyata masih melakukan aktivitas di malam tahun baru menjadi tujuan mereka.

"Ada apa nona?, Kalian seperti habis dikejar hantu tahun baru?!", Ucap kasir minimarket, bingung.

"Ini lebih dari sekedar hantu tahun baru!. Tolong jawab pertanyaan ku tuan, apakah minimarket ini kedap udara?" Tanya Rena.

"Ya, tentu!. Kami menjadi produk yang kami jual dari panas, debu, dan polusi jalanan!", Jawab sang kasir.

"Bagus!, Berikan aku kuncinya!", Perintah Lim.

"Apa?", Tanya Kasir.

"Kubilang kuncinya!, Kunci minimarket!" Tegas Lim.

"Tapi untuk apa nona?, Apakah kalian berdua penjahat?, Apakah kalian perampok?", Panik sang kasir.

"Tenanglah! Kami bukan orang jahat!. Kami hanya ingin berlindung dari monster", Ungkap Rena.

"Monster?", Ucap kasir itu bingung.

"Sepertinya kita benar-benar harus berperan sebagai orang jahat kali ini?!", Ucap Lim, melihat beberapa orang di depan minimarket yang menggeram sambil mengeluarkan liur, orang itu memegang lehernya, mata dan kulitnya memutih. Urat-urat ditubuhnya memerah, kemudian membiru dengan cepat. Sang kasir yang ikut menyaksikan, bergerak mendekati pintu masuk minimarket, berniat memeriksa kondisi orang yang sepertinya sekarat di depan matanya.

"Kumohon hentikan langkah mu, dan berikan kuncinya!" Perintah Lim.

"Sebenarnya apa yang terjadi?!", Bentak sang kasir.

"Turuti perintah kami!, Ini demi kebaikan mu!", Saran Rena.

"Kalau begitu tolong ceritakan dulu, sebenarnya ada apa?!", Ucap si Kasir tak mengerti.

"Tak ada waktu, cepat kuncinya!", Teriak Lim. Ketika melihat kedatangan segerombolan manusia dengan postur kaku. Kasir yang masih menyimpan rasa kebingungan itu menyerahkan kunci minimarketnya kepada Lim.

"Nona!, Aku benar-benar tidak mengerti dengan semua ini. Tolong jelaskan!, Ada apa?!", Ucap Kasir minimarket kepada Rena .

"Akhirnya beres!. Hei tuan, apakah kaca minimarket ini tahan banting?", Ucap Lim setelah mengunci pintu minimarket yang terbuat dari kaca.

"Tidak sama sekali!"

"Apa?, Berapa ketebalannya, tuan?"

"Kami memiliki beberapa kendala keuangan, jadi hanya 3mm"

"Kuharap kau tidak bercanda!", Lim memegang kepalanya. Terselip di hatinya bahwa yang mereka lakukan adalah sebuah kesia-siaan. Lim melirik jam yang tergantung di dinding. Kemudian dia kembali berbicara,"menurut perkiraan Mike, asap racun itu akan hilang setelah satu jam turun ke tanah".

"Sepertinya kita harus bertahan empat puluh menitan lagi!", Sambung Rena.

"Ya, kau benar!, Tapi bagaimana kita bisa bertahan hanya dengan kaca setebal cermin?!", Bingung Lim.

"Tuan, apakah minimarket ini delengkapi rolling door?", Tanya Rena.

"Aku benar-benar minta maaf nona, minimarket ini milikku sendiri dan baru saja dibuka dua bulan lalu, aku belum sempat memasang benda itu, juga karena krisis uang", Jelas sang kasir yang sekaligus pemilik minimarket tersebut.

"Celaka! Benar-benar celaka!. Sepertinya kita berlindung ke tempat yang salah, Lim?!", Ucap Rena.

"Tenanglah, kita hanya harus bertahan sebentar!. Aku yakin kedua pria itu akan datang menolong kita!", Ucap Lim memberi semangat.

"Aku harap mereka tidak memperalat kita!, Dan semoga benda itu bekerja!"

"Aku harap begitu!"

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!