Langit hitam sedikit demi sedikit mulai membiru, seorang wanita mengendap-endap diantara puing-puing bangunan yang hancur kakena amukan para zombie. Sebuah bangunan minimarket menjadi tujuannya. Subuh hari yang cukup tenang, tak ada tanda-tanda Zombie yang berjalan mendekat. Wanita itu mendorong pintu kaca minimarket dengan pelan, berusaha tak menimbulkan sedikitpun suara. Wanita itu dengan cepat melangkah masuk kedalam, ketika pintu yang didorongnya telah terbuka semuat tubuhnya.
Sangat berantakan, beruntung saat itu baru hari ke tiga terjadinya peristiwa kiamat Zombie. Beberapa roti dan makanan ringan siap santap masih ada beberapa di atas rak minimarket itu. Berberapa bercak darah menghiasi sekeliling dinding dan lantai dalam minimarket. Dengan berbekal sebatang kayu yang ia ambil dari puing bangunan, wanita itu memeriksa seisi minimarket, memastikan tak ada satupun zombie yang bersembunyi disana, dan akan menerkamnya ketika dia lengah.
Pintu gudang ia buka dengan hati-hati, dengan sebelah tangan siap menghantamkan pukulan kayu persegi, jika ada sesosok yang tak dinginkan muncul dihadapannya. Pintu gudang minimarket itu terbuka lebar, hanya ada tumpukan kotak kardus sejauh mata memandang, dengan penuh kewaspadaan wanita itu berjalan masuk kedalam gudang, memeriksa dengan cermat isi gudang tersebut. Dua puluh menit ia habiskan untuk memeriksa gudang minimarket yang hanya dihiasi kardus coklat berisi berbagai barang. Wanita itu keluar dari gudang dengan perasaan lega.
Wanita itu menyandarkan tubuhnya ke salah satu rak minimarket, setelah mengambil sebotol minuman yang ia ambil dari rak yang terletak di samping pintu gudang. Wanita itu mengelap keringat yang mengaliri wajahnya dengan sebuah amhanduk yang ia temukan terlipat di dalam rak disampingnya.
"Sepertinya ada orang lain sebelumnya, yang menetap disini?", Gumam Wanita bernama Rena itu, menatap sebuah tumpukan kardus yang telah ditata menjadi tempat tidur, lengkap dengan beberapa helai handuk yang sepertinya dibuat menjadi alas tempat tidur dan selimut.
Rena bangkit dari duduknya, dia mengambil beberapa makanan siap santap dan beberapa botol minuman untuk persediaannya, sebelum orang yang telah mendiami minimarket ini kembali.
"Aku sungguh minta maaf, siapapun yang menemukan tempat ini lebih dahulu!. Kita senasib, aku harap kau tidak marah dan dendam dengan ku!", Ucap Rena sambil bergerak memasukkan makanan dan minuman ke dalam kantung plastik yang ia temukan di lantai.
Suara pintu terbuka mengejutkan Rena, diintipnya siapa atau apa yang membuka pintu minimarket yang sedang dirampoknya. Sesosok tubuh ramping terlihat mendorong pintu minimarket. Melihat dari gerak-geriknya, sepertinya dia adalah orang yang sekarang mendiami minimarket ini. Rena panik, tanpa sengaja dia menyenggol dan menjatuhkan sekaleng minuman, yang sebelumnya tertata diatas rak.
Wanita bernama Lim berjalan mendekati sumber suara, dengan sebuah pistol ditangannya. Lim membiarkan matanya secara liar melihat ke sekeliling. Sebuah suara kembali muncul, Lim menodongkan moncong pistolnya kearah sumber suara, sambil berjalan pelan penuh kewaspadaan.
"Aku mohon, maafkan aku!", Ucap Rena, yang langsung membuat Lim kebingungan mendengar suara manusia. Dengan tangan yang masih menodongkan pistol, Lim mempercepat langkahnya, ditodongkannya moncong pistol miliknya kearah Rena yang langsung mengangkat kedua tangannya keatas.
Lim melihat kearah Rena, dia berhenti melangkah ketika tubuh Rena tak alagi tertutup oleh rak Minimarket. Perhatian Lim beralih kearah kantong putih yang terisi penuh disamping kaki Rena. "Kau mencuri?", Tanya Lim, menatap tajam kearah Rena.
"Maafkan aku, tolong!. Aku belum makan sejak wabah ini berlangsung", mohon Rena.
"Itu bukan urusan ku!", tolak Lim. "Jika kau ingin makanan, bukankah lebih baik menunggu pemiliknya kembali, baru kemudian meminta apa yang kau perlukan. Dari pada mencuri?", Ucap Lim.
"Oh ayolah, bukankah kau juga mencuri?. Ini jugakan bukan milikmu?", Ucap Rena.
"Diam kau!. Pemiliknya meninggalkan ini. Dan aku menemukannya terlebih dahulu dari siapapun!, Otomatis ini manjadi milikku!", Sergah Lim.
"Terserah padamu!, Jika begitu artinya ini milikku?!", Ucap Rena. Menurunkan tangannya, kemudian mengambil kantong yang telah diisinya. Lalu dia berkata,"karena kau meninggalkan tempat ini, dan aku menemukan ini dalam keadaan kosong, otomatis ini milikku!", Rena menunjukkan sekantong makanan yang telah diambilnya.
"Hahaha, kau sama sekali tidak takut dengan benda hitam di tanganku ini?", Ucap Lim menghidupkan cahaya bidikan dari pistolnya, mengarahkannya ke dada kiri Rena. "Ini tepat di jantung mu. Aku kurang suka jika menebak di kepala, jadi aku akan menembak tepat dada kirimu!", Ancam Lim.
"Benarkah?, Tapi sepertinya kau tak akan menyisakan satupun peluru untuk membunuhku?!", Ucap Rena. Dengan tangkan kanannya menunjuk kearah luar jendela kaca minimarket yang menampilkan segerombolan Zombie yang datang menerjang kearah mereka.
"Apa?. Ooh yang benar saja?!. Hei kau pencuri!, Jika kau benar masih ingin hidup dan menikmati makananmu, sebaiknya kau bantu aku memindahkan rak-rak ini untuk menutup pintu dan jendela!", Perintah Lim.
"Ya ya, baiklah!", Ucap Rena mengiyakan.
Satu, dua, tiga, bahkan enam rak mereka pindahkan Utuk menutupi jendela dan pintu minimarket, dengan masing-masing satu rak yang dinaikan ke satu rak lainnya. Rak terkahir mereka naikkan ntuk menutupi bagian atas kaca jendela. Segerombolan zombie memukul, menendang, dan bahkan melemparkan batu kearah kaca minimarket. Dari celah ventilasi atas jendela, Lim menembaki beberapa zombie dengan pistolnya. Semenatra Rena bersandar pada rak yang ditumpuknya untuk menutupi jemdela, Rena benar-benar mengisi perutnya dengan makanan di dalam kantong yang tadi telah ia ambil.
"Gawat!, Sepertinya segerombolan besar Zombie berjalan mendekat kearah sini!. Hei pencuri, bisakah kau tolong ambilkan aku bom dari balik kardus yang kujadikan tempat tidur itu?", Pinta Lim, menunjuk kearah delapan kardus yang telah ia tata sebelumnya.
Rena mengernyit heran, dia menerka-nerka jika wanita yang sedang bersamanya ini adalah seorang polisi atau tentara wanita?. Rena beranggapan jika ini benar-benar sudah diluar batas wajar. Rena juga mengira jika Lim adalah seorang perakit senjata dan bom.
Dengan mulut yang masih terus mengunyah, Rena bergerak mengambil bom seperti yang diperintahkan Lim. Rena bergarak membuka salah satu kardus yang berisi empat koper berwarna hitam, didalamnya. Rena mengambil satu koper, kemudian membawanya kepada Lim. Enam buah benda berbentuk koin dengan tebal sekitar dua centimeter muncul ketika koper hitam itu dibuka.
"Sebuah bom waktu, berbentuk koin?", Batin Rena, ketika melihat Lim melemparkan benda berbentuk koin itu kearah gerombolan zombie setelah menyetel hitungan mundur pada bom.
"Apa kau seorang tentara?", Tanya Rena yang benar-benar tak bisa lagi menampung pertanyaan di benaknya.
Lim menoleh kearah Rena dengan ekspresi bingung,"kenapa kau beranggapan begitu?", Ucap Lim.
"Kau memiliki beberapa senjata yang kurang masuk akal!, Dan bahkan kau tau cara menggunakannya!", Terang Rena.
"Hahaha, kau tau. Dulu aku pernah ikut latihan menembak, untuk penggunaan bom, aku hanya menerka-nerka cara menggunakannya. Lagi pula bom dan pistol itu aku temukan di dalam gudang minimarket ini", Jelas Lim.
"Benarkah?. Kalau begitu bisa tolong ajarkan aku cara menggunakan bom ini?", Tanya Rena bergerak mengambil salah satu bom koin, kemudian mengotak-atik nya di setiap sudut.
"Kumohon letakkan benda itu!. Jika kau tak ingin mati letakkan benda itu!!", Ucap Lim, panik.
"Apanya?. Tidak ada apapun terjadi. Santai saja!", Tolak Rena.
"Apanya yang 'apanya?'. Kuharap kau mendengarkan perintahku!. Letakkan bom itu pencuri!, Atau aku akan menembak tempurung kepalamu saat ini juga?!", Ancam Lim.
"Ya baiklah!, Dari pada kau mengkhawatirkan bom ini. Lebih baik kau lihat manusia hijau di depanmu!", Tunjuk Rena.
Melihat semakin banyak zombie yang berkumpul di depan minimarket membuat Lim kembali fokus berusaha mengurangi jumlah mereka.
"Kelihatannya suara ledakan bom ini memancing zombie untuk datang kesini!. Jika tanpa bom apa yang harus ku lakukan?", Ucap Lim bingung. Segerombolan Zombie lainnya kembali muncul. Lim melihat di sekelilingnya, memeriksa kemungkinan adanya alat yang bisa digunakan untuk mengatasi zombie yang terus-menerus menerjang jendela minimarket.
"Apakah kau tak punya peredam pistol?", Ucap Rena yang sedang sibuk mengutak-atik bom koin.
"Bukankah aku sudah mengatakan jika aku menemukan pistol itu, lagi pula tidak ada peredam!. Hei! Bukankah aku menyuruhmu meletakkan bom itu?!", Dengus Lim.
"Baiklah sedikit lagi!", Ucap Rena.
'Bip' Suara itu muncul ketika Rena menekan sebuah tombol hitam di bom koin. Kemudian disusul dengan suara 'tit...tit...'. Lim membelalakkan matanya, begitu juga Rena.
"Bukankah aku sudah menyeruhmu untuk kembali menaruhnya di sini?!, Sialan!. Cepat berikan bomnya kesini!", Marah Lim. Dia merampas bom yang diulurkan Rena. Belum sempat Lim melemparkan benda berbentuk koin itu, benda itu meledak tepat didepan wajah Lim. Karena daya ledak yang kuat, bangunan minimarket itu ikut hancur, dan mengubur raga Lim dan juga Rena didalamnya. Zombie yang tadinya berkumpul di depan minimarket, sebagian ikut tertimpa puing. Dan yang lainnnya bergerak meninggalkan tempat kejadian.
Matahari yang bergerak naik menjadi saksi bisu peristiwa itu. Tak ada lagi suara gaduh yang terdengar, hanya ada geraman ratusan zombie yang melangkah tak tentu arah dibawah langit yang hampir sepenuhnya membiru.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 61 Episodes
Comments