EPISODE 20

Didalam sebuah ruangan yang digunakan sebagai tempat pembuangan seorang wanita tidur dalam posisi duduk di lantai, dengan seorang gadis kecil di dipelukannya. Sepertinya mereka telah melewati hari yang yang panjang, dan cukup sulit dihadapi, juga dipahami. Keduanya terlihat kacau, lengan baju wanita itu terlihat basah oleh sesuatu. Wanita yang diduga sebagai ibu dari anak kecil yang dipeluknya, membuka mata dengan lesu. Bola mata beretina coklat memunculkan garis-garis hitam saat diterpa sinar matahari. Dilihatnya gadis kecil yang sedang tidur bersandar di dadanya, dengan penuh kasih sayang. Ia kecup dahi gadis itu dengan lembut.

Wanita itu menyandarkan kepalanya, mendongak ke atas menatap langit-langit ruangan tempat ia bersembunyi, dengan air mata yang mengalir. Suara pintu dibuka paksa membuatnya terkesiap. Pintu yang ia tahan dengan sebuah lemari kayu berukuran sedang, bergetar. Begitu juga tubuhnya yang sekarang ikut bergetar. Ia kembali terbayang akan kejadian yang tidak sengaja ia saksikan ketika hendak meninggalkan toilet bersama putrinya, malam itu. Teriakan menyayat hati, masih jelas bergema di telinganya. Seorang pria yang telah memberinya seorang putri yang manis, meregang nyawa dengan cara yang sangat kejam. Tubuhnya dicabik-cabik dengan ganas oleh orang-orang yang sebelumnya menikmati kembang api serta menu pesanan mereka. Kini para pelanggan meninggalkan kembang api maupun makanan mereka, dada hingga perut pria malang itu dicabik dan dimakan dengan rakus. Sangat jelas diotaknya ketika manusia-manusia itu memasukkan daging dan organ dalan yang bergenang darah, ke dalam mulut mereka.

Wanita itu memeluk putrinya dengan sedikit menambah kekuatan. Ia berusaha menahan tangis pada saat peristiwa itu terulang diotaknya. Si kecil membuka matanya. Ia lirik sang ibunda yang sedang menangis tersedu didepannya. "Ibu jangan menangis, ayah akan ouoang sebentar lagi. Jadi ibu jangan menangis! Kita akan ke taman. Ibu jangan menangis lagi!. Ayah akan pulang", Ucap gadis kecil itu dengan polosnya.

Tangis wanita itu semakin menjadi, ia peluk erat putri kecilnya. "Ya, sayang. Ayah mu sudah pulang!", Ucapnya.

Gadis kecil itu bangkit dari tempatnya, kemudian berucap dengan semangat, "Benarkah? Aku ingin Ayah!".

"Tidak, sayang! Kita tidak bisa bertemu ayahmu lagi!"

"Tapi ibu, bukankah ayah sudah pulang? Kenapa kita tidak bisa bertemu ayah? Kenapa ibu? Kenapa?!"

"Karena ayah mu... Ayah mu...", Wanita hanya bisa menangis tanpa bersuara. Sangat sulit mengatakannya kepada sang buah hati yang baru berusia lima tahun. Yang bahkan belum tahu apa itu kematian dan kehilangan.

Gadis kecil itu cemberut, ia menekuk bibirnya kebawah dengan tangan dilipat ke dada. "Ayah kenapa Bu?, Ayah sudah pulangkan? Ayo kita lihat ayah! Ayo kita pulang ibu!", Gadis kecil itu menarik tangan ibunya.

"Sayang, maaf. Ayah mu bukan pulang ke rumah kita", Ucap sang ibu kemudian.

"Apa? Bukankah ayah hanya punya rumah kita? Ayah pulang kemana Bu?. Asya tidak mau tahu! Ayo kita jemput ayah, dan bawa ke rumah! Ayo ibu!".

Wanita itu mendekap erat tubuh putrinya, "Kita tidak bisa menjemput ayah untuk kembali kerumah, Rasya!. Ayah mu sudah pulang ke tempatnya berasal. Ayah mu sudah kembali kepada sang pencipta!", Ucapnya. Ia kemudian melepas dekapannya, dan beralih menatap lekat wajah gadis itu. "Hanya ada kita sayang! Hanya ada kita!", Tegasnya.

"Ayah?".

"Ayah mu sudah pergi, dia tidak akan pernah kembali lagi".

"Selamanya, ibu?"

"Selamanya!"

"Apa kau yakin ingin mendobraknya?", Zero tidak yakin dengan keputusan itu.

"Tidak ada jalan lain, Sobat!. Lagi pula sepertinya tidak terlalu buruk untuk dicoba", Balas Mike.

"Hei, Rena. Ingat! Jika ada zombie yang melayang, segera tusukan dua pisau itu!", Ucap Zero mengingatkan.

"Ya ya, aku tahu!. Dombrak saja pintunya, atau aku akan beralih menancapkan benda ini ke tubuhmu!", balas Rena.

◣◈◊◈◢

Tim A masih setia mengurung diri dari 3 orang terduga zombie, yang sedang menunggu mereka di balik pintu. Lim, Tuan Rudi, dan Tuan Loner berusaha berfikir untuk rencana pembebasan diri. Tuan Rudi mengayunkan bendera putih, dan beralih mengangkat mayat pria zombie dan membuangnya ke bawah, melalui jendela. Ia tatap tubuh tak bernyawa yang sedang meluncur turun dan membentur tanah beralaskan rerumputan hijau. "Sayang sekali, ku kira itu jalan", Ucap Tuan Rudi kecewa. "Hei Nona, sepertinya teman polisimu pingsan? Lihatlah! Aku sudah membuangnya kebawah, dan dia sama sekali tidak melawan ataupun bergerak".

"Sudah ku katakan, Pak tua!. Dia bukan teman ku!", Dengus Lim penuh penekanan di setiap kata yang ia ucapkan.

Rudi berpaling kearah mayat zombie pria yang tadi dilemparkanya ke bawah.

"Hei, sobat yang disana! Sepertinya teman wanita mu ini sama sekali tidak menganggap mu! Naiklah kembali juka kau tidak terima!", Teriaknya.

Wajah Lim memerah, ia mengarahkan moncong senapannya ke arah Tuan Rudi.

"Tuan Loner!, Apakah aku boleh membunuhnya?", Tanya Lim.

Tuan Loner melirik keduanya secara bergantian. ia tepuk bahu kiri Lim dan kemudian berbicara sedikit berbisik kepadanya,

"Terserah pada mu, nona! Terserah padamu!", Ucapnya.

Dia berjalan melewati Lim yang masih setia mengangkat pistolnya.

"Tapi, kuharap kau sudah membuat keputusan yang tepat!. Jangan sampai hanya karena sebuah masalah sepele, tangan mu ternoda oleh darah", Sambungnya.

Lim menarik pelatuk pistolnya. Peluru kecil itu melesat dan membuat lubang di dinding, tepat disamping tubuh pria bernama Rudi itu.

"Kau hari ini selamat, pak tua!", Desisnya, menurunkan pistolnya.

"Hei nona, tolong hati-hati dengan moncong benda itu!", Ucap Tuan Rudi.

Lim tidak menanggapi, ia memilih membalikkan tubuhnya menghadap ke tuan Loner yang terlihat sedang menempelkan telinganya pada daun pintu. "Bagaimana dengan melarikan diri, tuan?. Kita bisa menggunakan pakaian yang ada di lemari, untuk membuat tali darurat", Sarannya.

Tuan Loner mengangkat satu tangannya, matanya menatap kosong kearah lantai, pria tua itu sepertinya sedang memikirkan sesuatu di kepalanya. "Ada tiga zombie diluar; seorang anak kecil dan dua orang dewasa yang salah satunya terdengar memiliki langkah yang mantap. Aku rasa seorang pria yang sering berolahraga", Ucapnya. Tuan Loner menjauhkan telinganya dari daun pintu. Dia kemudian berdiri menghadap Lim dan Tuan Rudi yang sedang menatapnya dengan dari berkerut. "Sebuah ide muncul di kepalaku. Ya, aku rasa itu normal. Tapi, aku tidak yakin apakah ide ini brilian atau tidak. Tapi, mungkin aku bisa meminta pendapat dari kalian?", Katanya.

Sepuluh menit kemudian, mereka bertiga telah berada ditempat mereka masing-masing. Tuan Loner memegang gagang pintu setelah mendengarkan langkah kaki dari luar. Disebelahnya, Lim dengan moncong pistol yang siap menembak, berdiri tak jauh dari mulut pintu. Sementara Tuan Rudi bertugas untuk memukul dinding yang menjadi pemisah antara ruangan kamar dan koridor didekat tangga menunju lantai atas.

Setelah dirasa telah siap dan menemukan saat yang tepat untuk melancarkan rencana, mereka bertiga bertukar tanda berupa anggukan kepala. Sedetik kemudian, Tuan Rudi memukul keras tembok dengan gagang pisau yang ada ditangannya. Tuan Loner kembali menempelkan telinganya pada daun pintu, mendengarkan suara langkah kaki yang sepertinya bergerak menjauh.

"Aneh! Kenapa hanya ada dua suara langkah kaki?", Batinnya.

Lim menatap heran Tuan Loner yang sama sekali belum menjauhkan kepalanya dari sana. "Pak tua? Ada apa?", Tanyanya dengan alis ditekuk.

Tuan Loner bergerak menjauhi kepalanya dari daun pintu. Dirinya masih sibuk mengoreksi pendengarannya. Hanya ada dua suara langkah, atau dia yang tidak mendengar satu langkah lainnya. "Maaf! Hanya sebuah lamunan. Kupikir ada yang aneh. Tapi... Sudahlah", ucapnya. Pria itu kemudian membuka daun pintu, dengan memutar gagangnya. Lim bersiap meluncurkan peluru dengan pistol glock 17 ditangannya.

Pintu terbuka ke dalam. 'Tidak ada zombie di depan', pikir mereka. Namun, hal itu salah besar. Seorang zombie anak kecil tengah berjongkok di depan mulut pintu. Dia menyeringai, menampakan gigi putihnya yang melekat di gusi yang telah membiru. Belum sempat Lim membidiknya, zombie kecil itu melompat seperti katak kerah tuan Loner dan menerkam lengan kiri pria itu. Lim dengan cepat menembaki kepala bocah zombie itu hingga dia terkulai tak berdaya, menggelantung di lengan tuan Loner.

Darah segar mengalir dari lengan tuan Loner ketika mulut gadis ia buka untuk membebaskan tangannya. Sepertinya gigi-gigi kecil itu tertancap cukup dalam di lengannya.

Lim menatap pria yang sedang kesakitan di depannya. Ia tidak tahu harus berbuat apa, jika dibiarkan pria itu akan berubah menjadi zombie. Tapi jujur saja, Lim tidak mungkin bisa menembaknya.

"Berhenti melihatku, nona!. Tembak saja dua zombie yang sedang mendengarkan alunan gendang, disana!", Perintah Tuan Loner.

Dua tembakan melayang dan tepat mengenai kepala dua zombie, tubuh pucat itu terjatuh ke lantai dengan kepala menumpahkan cairan hitam. Lim kembali melihat kearah tuan Loner. "Apakah aku harus menembaknya sekarang?", Batin Lim.

Tuan Rudi berjalan menghampiri tuan Loner, dan menyerahkan sembilan pisau besar yang digunakan untuk memotong daging. "Apa kau membutuhkan ini tuan?", Ucapannya.

"Terimakasih, dan sepertinya aku juga membutuhkan bantuan mu?!", Sahut Tuan Loner.

◣◈◊◈◢

1... 2... 3... daun pintu itu mereka dobrak sekuat tenaga. Daun pintu berwarna putih itu bergetar ketika terkena hantaman tubuh dua pria yang sedang membuka paksa dirinya. Hantaman demi hantaman tubuh telah mereka layangkan, tapi daun pintu itu sama sekali tidak bergerak. Merasa yang sedang dilakukannya sia-sia, mereka berhenti mendobrak.

"Manusia. Sepertinya ada manusia di dalam toilet ini? Aku tidak bisa memastikan jumlahnya. Tapi kelihatannya dia cukup kuat untuk menyeret sebuah benda besar yang menghalangi pintu ini!", Ucap Mike.

"Ya, setidaknya dia tahu bahaya!. Dan kelihatannya kita harus memberi tahunya untuk kembali mendorong benda itu?", Sahut Zero.

Rena menatap dua pisau yang sedang digenggamnya. "Akan ku coba!", Ucapnya. Dia mencungkil pintu putih yang terbuat dari kayu itu, dengan pisau. Karena itu hanya sebuah pintu toilet, seharusnya tidak terlalu menyusahkan untuk dilubangi secara manual.

"Hei sobat?, Apakah kau tega melihat wanita bekerja sendiri di depan matamu?", Sindir Mike, berbisik kepada Zero.

Zero melukis wajah kesal. "Cihh, bukankah lebih praktis jika menyuruhku melubangi pintu, saja?!", Ucapannya.

Mike membalas dengan senyuman, dan menunjuk kearah Rena, dengan sedikit gerakan kepala. Zero menatap malas Mike, kemudian melangkah mendekati Rena.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!