"Semoga harimu menyenangkan!", Ucap Mike. Setelah mempersilahkan kedua tamunya untuk pergi.
"Tentu!", Balas Rena dengan senyuman, kemudian berjalan menjauh.
Dari kejauhan Zero kembali dengan dua kantong plastik ditangannya, diamatinya dua wanita yang baru saja keluar dari kamar apartemen yang telah disewa mereka yang digunakan sebagai ruang rapat. Ketika kedua wanita itu hanya berjarak beberapa langkah, Zero bertukar pandang dengan salah seorang wanita yang berjalan melewatinya.
Wanita itu berucap,"Kenapa kau tidak memakai make-up mu, pria?. Bukankah kau perlu bertahan hidup dari wanita?".
Zero menghentikan langkahnya, dia terdiam sejenak. Kata-kata yang dikeluarkan oleh wanita itu terasa tidak asing di kepalanya. "Apakah dia berbicara dengan ku?", Gumam Zero yang masih bingung dengan ucapan wanita yang berjalan melewatinya.
"Hei, Zero?. Apa yang membuatmu mematung seperti itu?, Tolong bawa kemari pesanan ku!. Aku sangat menantinya!", Kata Mike, yang sedikit membuat Zero terlonjak karena terlalu sibuk dengan pikirannya.
"Ah?, Maaf. Aku sungguh sedikit bingung!", Ucap Zero, melangkah mendekati Mike. Kemudian menyerahkan dua kantung plastik yang berisi barang pesanan Mike, sambil berkata,"Siapa dua wanita yang tadi keluar dari sini, itu?".
"Mereka?, Bukan siapa-siapa hanya dua wanita yang juga senasib dengan ku", Jawab Mike, menerima kantong yang diberikan Zero.
"Apa? Banarkah?, Aku sungguh tak percaya!. Jadi kisahmu itu benar?", Ucap Zero kaget.
"Haahhhh... Jadi selama ini kau tak percaya dengan cerita ku?", Dengus Mike.
"Aku percaya! sungguh!. Aku hanya sedikit bingung dengan ucapan kembali itu. Baiklah Mike, sepertinya aku harus cepat kembali kerumah!. Ibuku tadi menelpon, dia bilang akan datang untuk menitipkan seekor kucing kepada ku!", Ucap Zero.
"Terserah padamu", Ucap Mike bergerak masuk dan menutup pintu. Zero berniat pergi, sebelum suara pintu terbuka dari ruangan tempat Mike berada, membuatnya menghentikan langkah dan berbalik melihat Mike.
"Ada apa?", Ucap Zero dengan kening berkerut, merasa aneh.
"Tak ada", ucap Mike kembali menutup pintu.
Zero berfikir sejenak sebelum kambali melangkah menuju tangga turun apartemen. Mike kembali membuka pintu sambil berkata,"Bukankah ibumu sudah meninggal dua tahun lalu? Bagaimana dia bisa menelpon dan mengatakan jika ingin menitipkan kucing peliharaannya kepadamu?".
Untuk kedua kalinya, Zero berbalik dan menatap Mike yang setengah badannya keluar dari pintu. Dengan sedikit berdehem Zero menjawab,"Kau tau sob?. Terkadang pria tak cukup hanya dengan satu istri".
"Aaa!, Kau benar!. Baiklah selamat jalan", Ucap Mike kembali menutup pintu.
Zero berbalik dan berniat melanjutkan perjalanannya sebelum pintu itu kembali terbuka, dan kembali memunculkan setengah tubuh Mike.
"Aku harap kau tak lupa untuk kembali ke sini nanti malam?!", Teriak Mike yang kembali membuat Zero terpaksa menghentikan langkahnya dan berbalik memandangnya.
"Aku tak akan lupa!, aku akan kembali ketika telah menerima kucingnya!", Jawab Zero.
"Baiklah, sampai jumpa!", Ucap Mike kembali menutup pintu.
"Aku harap pintu itu tak akan terbuka lagi!", Gumam Zero.
"Hei sob!, Bagaimana dengan kartu kreditnya?", Ucap Mike yang kembali muncul dengan setengah tubuhnya di balik pintu.
"Ada didalam kantung itu!. Jika kau kembali membuka pintu itu, aku akan memakunya disana!", Ancam Zero kesal.
"Haha, Maaf!", Ucap Mike kembali masuk dan menutup pintu.
...◣◈◊◈◢...
Langit hitam dan awan yang ikut bersembunyi dengan rembulan diantaranya, sudah menghiasi langit malam yang ditaburi dengan kelip bintang. Beberapa orang telah siap dengan alat panggang dan setumpuk daging.
"Asap apa ini? Uhuk uhuk", Ucap Rena, mencium sebuah asap yang keluar ketika membuka pintu kamar apartemen.
"Baunya buruk sekali!. Apakah ini asap dari gas beracun?", Ucap Lim yang berdiri di samping Rena.
"Maaf!, Aku sedikit membuat percobaan yang juga pernah kulakukan saat melawan zombie", Terang Mike yang muncul dengan cepat dibalik asap ketika mendengar suara dua wanita yang berdiri di depan ruangan.
"Percobaan?", Heran Lim.
"Ya!, Ngomong-ngomong kenapa kalian tidak membumikan bel?. Setidaknya aku akan membuka jendela untuk menghilangkan sedikit asapnya ketika kalian datang", ucap Mike, sembari mempersilahkan kedua tamunya untuk masuk.
"Kami sudah membunyikan bel. Bahkan sampai 20 kali, karena tidak ada jawaban, jadi kami masuk saja. Toh, pintunya juga tidak dikunci!", Ucap Rena.
"Hahaha, aku sungguh minta maaf!", Ucap Mike, menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Uhuk uhuk, apa yang terjadi Mike?. Sepertinya asap ini terlalu banyak! Bisakah aku membuka jendelanya?", Tanya Zero yang muncul dengan tabung reaksi dari balik kepulan asap.
"Buka saja!, Kita kedatangan dua tenaga lagi", Jawab Mike.
"Baiklah!, Itu sangat baik", ucap Mike yang dengan cepat bergerak menuju jendela dan membukanya. "Sekarang sedikit lebih lega!. Hei? Bukankah kau mengatakan jika kita kedatangan dua tenaga?", Ucap Zero.
"Benar!. Perkenalkan dua wanita yang pernah berada pada zaman zombie!. Ini Lim, dan ini Rena", Ucap Mike memperkenalkan kedua tamunya kepada Zero.
"Hallo?, Aku rasa?", Sapa Rena.
"Wanita?, Hei Mike kemari sebentar!", Ucap Zero bergerak menarik tangan Mike, dengan tampang panik. Zero membawa Mike ke sebuah ruangan yang dipisahkan oleh sedikit sekat.
"Ada apa Zero?", Tanya Mike, ketika Zero telah melepaskan tangannya.
"Bagaimana penampilan ku?. Apakah aku sempurna?", Tanya Mike , merapikan pakaian dan rambutnya.
"Kau sempurna, sob!. Tampang mu bahkan mengalahkan artis papan atas kelas internasional!", Jawab Mike. Kemudian berlalu meninggalkan Zero yang masih sibuk memeriksa penampilannya didepan kaca.
"Haha, aku memang tampan!", Ucap Zero,, bangga. "Lihat lekuk wajahku, ini bahkan sangat simetris!. Kau setuju, sob?", Ucap Zero menoleh kebelang, mencari keberadaan Mike. Zero menghela nafas panjang,"Dan pada akhirnya aku kembali ditinggal sendirian!. Bagaimana dengan mu Jack?. Apakah kau setuju jika wajahku sempurna?", Ucap Zero berlatih berbicara pada seekor kucing berbulu abu-abu yang sedang memiringkan kepalanya kearah Zero.
"Berhentilah menatapku dengan wajah seperti itu Jack!, Kau terlihat seperti sedang mengejekku!", Dengus Zero.
"Miaw?"
"Ada apa?", Tanya Rena, bingung.
"Sepertinya sangat penting?", Sambung Lim.
"Tidak ada!, Hanya sedikit urusan yang kurang penting!. Sebaiknya kita mulai percobaan ini. Waktu kita sudah mulai menipis!", Ucap Mike, melihat jarum jam dinding yang telah menunjukkan pukul 09.30.
"Kau benar!. Coba kau jelaskan sedikit tantang cara kerja, dan langkah-langkah pembuatan percobaan yang kau buat itu", Ucap Lim.
"Aku akan menjelaskannya sambil membuat ramuan percobaan. Ikutlah denganku!", Ucap Mike.
Dua jam mereka habiskan untuk membuat ramuan yang dirancang khusus untuk melemahkan efek racun zombie. Walau bau yang sangat buruk keluar dan mengepul dari ramuan yang mereka buat, mereka tetap bertahan dan memasukkannya kedalam sebuah benda yang telah dirakit khusus untuk menyebarkan asap di waktu yang telah ditentukan.
"Apakah tak ada ramuan untuk mengembalikan seseorang yang telah tertular atau terkena racun atau virus zombie, menjadi manusia normal?", Tanya Rena.
"Sungguh maaf!. Aku hanya bisa menemukan ramuan penglemah virus zombie yang kugunakan untuk menyelamatkan seseorang ini. Bahkan aku kurang yakin jika ramuan ini juga bisa melemahkan racunnya! Secara langsung", Terang Mike.
"Baiklah kalau begitu", ucap Rena dengan nada sedikit kecewa.
"Jika kau tidak yakin dengan ramuan ini, lalu untuk apa kau membuatnya?", Tanya Zero.
"Setidaknya ramuan ini cukup berguna. Dari pada tidak sama sekali!", Jawab Lim.
"Baiklah!, Tapi bagaimana jika....".
"Dari pada kau mengoceh disini, kenapa kau tidak menggunakan riasan wajah mu saja?", Potong Lim.
"Untuk apa?", Ucap Zero.
"Bukankah kau mengatakan, jika makeup untuk menyelamatkan diri dari wanita?!", Sindir Lim.
"Aku tidak butuh makeup, secara aku telah tampan tanpa setitik makeup pun diwajahku", Balas Zero, dengan bangga.
"Aku harap kau dimakan Zombie!", Bisik Lim yang benar-benar muak dengan ekspresi penuh percaya diri Zero.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 61 Episodes
Comments