Langit benar-benar cerah. Matahari yang keluar dimusim ini sepertinya sangat mendukung aktivitas orang-orang sibuk yang berlalu-lalang.
Dua pria itu masih duduk disana, didalam sebuah cafetaria. Setelah percakapan yang panjang dan kisah perjalanan ditahun yang akan datang. Zero menatap Mike yang sedang menyeruput minumannya, dengan tatapan selidik.
Zero mengusap dagunya, dia benar-benar berusaha percaya dengan cerita temannya itu. "tapi ini sungguh tak logis", pikirnya. Dia kemudian bergumam, "Hem... Sepertinya mimpimu lumayan menarik?. Atau apakah kau berminat untuk datang kerumah sakit dan memeriksa kejiwaan mu?".
Mike meletakan cangkir yang telah kosong ke atas meja. Dan untuk kesekian kalinya lagi, dia menghembuskan nafas kasar. Dengan sedikit mengontrol diri, dia berkata,"Dengar Zero! Aku tidak bercanda!", Bantah Mike.
"Tapi bung, ini sungguh..."
Mike memotong ucapan Zero, dengan sedikit menekuk wajahnya,"Tidak logis?. Begitukah katamu?".
"Hahaha, ya kau benar!" Ucap Zero, dengan wajah menjengkelkan.
Mike benar-benar naik darah, kali ini dia tak bisa lagi mengontrol emosinya. Mike melepaskan amarahnya dengan memukul keras meja yang berada di depannya. Dengan keras ia berkata,"Sob!, Aku benar-benar tidak bercanda, dan otakku, juga pikiranku masih sehat dan berjalan normal. Aku katakan sekali lagi padamu!; 10 hari lagi, kiamat Zombie akan muncul!. Kehidupan, dan bahkan dunia kita akan hancur!".
Bentakan Mike, benar-benar mengundang rasa penasaran semua orang yang sedang berada di dalam cafetaria tersebut. Semua orang disana menatap Mike dan Zero dengan raut heran. Beberapa dari mereka terlihat berbisik-bisik, dengan pandangantetap terpaku kepada dua orang pria yang duduk di dekat jendela itu.
"Hei sob!? Ku mohon tenangkan dirimu! Semua orang menatapmu", bisik Zero. Merasakan hawa yang kurang mengenakan, dia meminta Mike untuk kembali tenang, dan duduk kembali ke kursinya.
Seorang pelayan cafe, menghampiri meja mereka dengan tergesa-gesa. Dia meminta Mike untuk menenangkan diri,"Ma...Maaf tuan. Mohon anda tenang. Para pelanggan yang lain menjadi takut, dan berkata buruk tentang anda!", Ucap pelayan itu.
Mike melihat sekelilingnya. Semua orang yang tadinya menatap Mike, langsung berpaling dan bersikap seakan tak terjadi apa-apa,"Ahh?!, Aku Mohon maafkan aku! Sepertinya aku terlalu berlebihan?, Haha", Tawa Mike, menggaruk kepalanya, benar-benar merasa canggung.
...◣◈◊◈◢...
Dua pria terlihat menjadi bagian dari keramaian jalanan di siang itu. Seorang pria dengan sebuah amplop coklat dan gaya pakaian rapi, bak seorang pegawai perusahaan besar, terlihat memikirkan sebuah hal besar yang menyangkut di kepalanya sejak di dalam cafe yang mereka berdua tadi tempati.
Zero; Pria dengan map coklat itu melangkah mengikuti Mike yang berjalan mendahuluinya. Zero sedikit kesal dengan keributan yang terjadi di dalam pikirannya. 'terlalu banyak yang harus dijelaskan, dan dibuktikan!', pikirnnya.
Setelah merasa bosan bergelut dengan pikirannya sendiri, Zero melangkah menyusul sahabatnya itu. Kemudian dia berkata kepada Mike," Hei sob?, Sungguh! Kau benar-benar membuatku merasa bingung, dan pusing berkunang-kunang!. Apakah semua yang kau katakan di Cafe tadi adalah hal yang nyata?".
Mike menghentikan langkahnya, tanpa menoleh kearah Zero, dia menjawab,"Apakah kau perlu bukti?".
"Tidak perlu, tapi... Apakah kau punya sesuatu yang dapat meyakinkan ku dengan kisahmu itu?", Selidik Zero.
"Baiklah!, Aku akan memberi sebuah bukti. Map coklat mu, kau lupa memasukkan formulir pendaftaran mu, dan karena ketidak disiplinanmu, kau tak dapat mengikuti wawancara dan secara otomatis tak dapat diterima di perusahaan yang kau idam-idamkan itu." , Terang Mike. Sontak Zero memeriksa kedalam map coklat miliknya. Alangkah kagetnya dia, melihat apa yang dikatakan Mike memang benar adanya, Zero teringat jika formulir pendaftaran itu ia tinggalkan diatas kasur kamar apartemennya.
"Tak hanya itu!", Ucap Mike, bergerak melihat jarum jarum waktu, melalui jam yang melingkar ditangannya. Kemudian dia berkata,"satu menit lagi pacarmu akan menelpon mu, dan berkata, 'apakah kau sudah menjadi seorang karyawan dari perusahaan ternama itu, sayang?'. Dan kau menjawab,'maafkan aku! Aku tidak bisa mengikuti wawancara pekerjaan, dari perusahaan NCP, itu'. Hubungan mu berakhir saat itu juga dan malamnya, kau mengurung diri didalam kamar apartemen mu", terang Mike. Kemudian kembali melangkah.
"Apa? Bagaimana bisa?!, Itu tidak mung....". Suara dering ponsel yang berasal dari saku celana miliknya menghentikan ucapannya. Benar yang dikatakan Mike, mata Zero membulat sempurna melihat nama yang tertera dilayar ponsel miliknya. Dengan perasaan aneh, dia bergerak menerima telepon dari orang yang spesial di hatinya "untuk saat ini".
Mike terus melangkah, meninggalkan Zero yang masih berdiri di trotoar jalan. Untuk kedua kalinya Zero benar-benar kaget, pacarnya mengatakan hal yang sama seperti yang dikatakan Mike kepadanya. Pembicaraan singkat telah usai, dengan berakhirnya hubungan percintaan Zero. Namun, dia sungguh tak ambil pusing masalah tersebut. Zero lebih penasaran dengan kisah yang diceritakan Mike kepadanya, saat berada di Cafetaria, tadi.
Dengan pikiran yang masih mengambang, Zero berlari menyusul Mike yang telah berjalan jauh didepannya.
Melihat Zero yang berjalan disebelah, berhasil menyusul dirinya. Mike bertanya,"Bagaimana?".
"Kau benar! Kau benar-benar seorang peramal, sob!" Ungkap Zero.
"Aku mengatakan hal tersebut bukan untuk dijuluki 'seorang peramal'!. Sekarang, apakah kau percaya dengan semua ceritaku?", Papar Mike, tanpa menoleh ke Zero.
Zero menatap wajah Mike yang lebih tinggi darinya, kemudian berucap, "Jika ku pikir-pikir, aku akan percaya dengan lima puluh persen kisahmu!. Tapi..."
"Tapi apa?", Tanya Mike. Kali ini dia menatap Zero dengan alis berkerut.
"Kenapa aku lebih dulu mati dari mu?, Secara aku kan lebih tampan darimu?" Tanya Zero, berusaha mencairkan suasana yang sedari tadi tegang dan terlalu serius, untuk sebuah percakapan ringan.
Mike menghela nafas panjang, kembali melemparkan pandangannya ke depan, dan sedikit menambah kecepatan berjalannya sembari berucap,"Kalau begitu berusahalah bertahan hidup untuk sepuluh hari kedepan, dan saat kiamat Zombie menyerang!".
"Hei!?. Apa kau mengejekku?" Ucap Zero.
"Ya bisa jadi begitu. Secara tak ada malaikat pencabut nyawa yang mencabut nyawa seseorang berdasarkan rupa mereka!" Cecar Mike.
"Oh ayolah, aku hanya bercanda!" Gerutu Zero.
"Baiklah terserah padamu!. Lebih baik kau ikut aku ke toko swalayan di sekitar sini, yang menjual beberapa makanan ringan dan makanan cepat saji. Dari pada kau menggerutu tidak jelas disana!", Ucap Mike. Melihat sekelilingnya, berniat mencari toko swalayan.
"Oh ayolah", desah Zero, kembali mengejar Mike yang berjalan cepat di depannya. "Hey Mike!. Apakah kau masih marah padaku?. Dari tadi ekspresi dan gaya bicaramu sangat dingin dan aneh!", Ujar Zero ketika kembali berjalan berdampingan dengan Mike.
"Menurutmu?" Tanya Mike, sedikit menoleh kearah temannya itu.
"Hmm... Lupakan! Ngomong-ngomong, Mike!. Apakah kau punya uang untuk membeli 'bekal persiapan' untuk menghadapi kiamat zombie? Ujar Zero.
Mike seketika menghentikan langkahnya. Dia terlihat berfikir sejenak. Zero yang menglihat Mike, turut berhenti dan menunggu sobatnya itu membuka mulutnya.
"Apa yang aku pikirkan?!. Dengar sob, sepertinya aku benar-benar harus menarik uang yang diberikan oleh orang tua sialan itu?!", Ujar Mike, kemudian kembali melangkah dengan tergesa-gesa, dan disusul oleh Zero.
"Apa kau yakin?, Semoga saja kartu kredit itu tidak diblokir oleh ayahmu", Ucap Zero, menatap wajah temannya.
"Tidak akan!. Aku pastikan itu!, Orang tua itu tak akan berani macam-macam dengan kartu kredit yang telah dia diberikan kepadaku", Bantah Mike.
Zero berhenti di depan sebuah bank, dan menatap bangunan itu. Kemudian dia berkata,"Apa kau yakin?".
"Hahh..., Baiklah-baiklah!", Resah Mike.
Mereka berdua melangkah masuk ke dalam bank tersebut. Mike melakukan pengecekan saldo dan keaktifan, pada black card miliknya. Tiga puluh menit kemudian mereka berdua keluar, Mike menekuk wajahnya, Zero mengulum tawa melihat Mike yang benar-benar frustasi.
"Kau tau sob? Kita sedikit beruntung, karena memeriksa isi kartu itu sebelum menunjukkannya ke kasir sebuah toko swalayan!" Ujar Zero, menyikut lengan Mike, memberi semangat.
"Ya, ku akui kau benar!" Puji Mike.
"Hahaha. Apakah kau tak punya uang lagi selain dari kartu kredit itu?"
"Aku punya sedikit tabungan untuk masa depanku. Ya, setidaknya kita memiliki sedikit persediaan makanan!"
"Aku memiliki sedikit uang!. Dan jika sekiranya kurang, aku akan menggunakan kartu ini" Ujar Zero, menunjukkan sebuah kartu berwarna emas yang diambilnya dari dompet kulit miliknya.
"Hahaha, ku rasa kita sekarang benar-benar memerlukan uang dari orang tua kita!?" Kelakar Mike.
"Ya!, Kau benar sekali!. Ahahahahaha!".
"Ngomong-ngomong, Zero! Apakah kau tidak lagi mempermasalahkan tentang lamaran pekerjaan NCP, itu lagi?" Tanya Mike.
"Ahh sudahlah sobat! Aku mohon jangan membahas itu lagi!" Sanggah Zero, yang benar-benar sudah muak dengan wawancara pekerjaan itu. "Sepertinya ada sebuah toko di depan. Apa kau tertarik untuk melihat-lihat?", Sambung Zero.
"Ide yang bagus! Baiklah kita mulai dari sana" Ucap Mike setuju. Tanpa melihat papan nama toko yang dituju.
Mereka berdua melangkah masuk, Seorang pegawai wanita menyapa mereka berdua dari balik pintu masuk toko.
"Hallo, tuan-tuan. Selamat siang!. Selamat datang dan selamat berbelanja di toko kami!", Ucap pegawai wanita itu menundukkan kepala, ketika duaborang prianitu melangkah masuk ke toko.
"Terimakasih nona cantik!" Balas Zero, tersenyum.
Mereka berdua masuk lebih dalam dan berjalan mengitari rak berisi barang-barang. Telah dua rak yang mereka kelilingi. Mike menyadari sesuatu yang salah, dia melihat sekeliling dalam toko.
Dalam kebingungan Mike berkata,"Sepertinya kita salah tempat?!. Kau lihat? Hanya ada peralatan makeup sejauh mata memandang!".
"Kau benar!" Ucap Zero, setuju.
"Maaf tuan? Ada yang bisa saya bantu?" Tanya pegawai wanita tadi, ramah.
"Maaf nona! Sepertinya kita salah masuk toko", ujar Mike. Kemudian melangkah keluar toko.
"Maaf kan kami nona cantik! Bukannya kami tak mau, hanya saja yang sedang kita cari bukanlah sesuatu yang diperlukan untuk bertahan hidup dari wanita", papar Zero kemudian berlari menyusul Mike.
Karena kalimat yang dilontarkan oleh Zero tadi. Wanita itu berlari keluar pintu dan berteriak kearah kedua pria tadi,"Dasar orang aneh! Orang gila!. Kebenarannya adalah kebalikan dari ucapan mu!".
"Hei sob?. Kau apakan wanita itu?" Tanya Mike, menatap wajah Zero.
"Tak ada! Hanya sedikit bercanda" Jawabnya.
"Aku harap begitu!", Ujar Mike.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 61 Episodes
Comments
Bn23haha
gak ada yg komen
2024-04-09
2