EPISODE 13

Suara bising binatang malam yang memekakkan telinga, disambut dengan desiran uap dari sebuh teko berisi air yang meluap-luap. Seorang pria tua berambut putih beranjak dari tepian jendela tempat ia menatap langit yang cukup cerah malam ini. Pria bermata biru itu kembali setelah selesai menyeduh kopi hitam kental di dapur miliknya sendiri. Malam yang menarik pikirannya, didalam hati ada rasa ingin bertemu teman lama yang berjuang bersamanya di tengah hamparan orang-orang gila yang mengamuk, mencabik-cabik setiap daging yang dilihatnya.

Pria itu menyeruput kopinya, sesekali ia melirik jam yang menempel di dinding kayu minimalis. Ingin sekali ia mengendarai mobil tua yang mengurung diri di dalam lumbung padi di samping rumahnya, membawanya ke kota dan mengajaknya minum teh, bertemu teman lama. Tapi sepertinya mesin tua itu tak dapat berjalan jauh sedikitpun. Pria itu mendesah, menaap lekat kopi hitamnya dan kembali memasukkan air hitam di mug keramik ke mulutnya.

Pria ini memiliki nyali. Namun, jika hanya nyali saja ia punya, sebesar apapun nyali yang dimiliki tidak akan membuatnya bisa selamat dari malapetaka. Sebuah ide terbesit di pikirannya. Truk pengangkut sayur yang terparkir di tepian jalan setapak beralaskan tanah menjadi tujuannya. Pria tua itu duduk menunggu sebentar, entah menunggu habisnya kopi yang diseduh atau menunggu sesuatu yang tidak kita ketahui.

Bola mata birunya meneliti setiap sudut kegelapan yang di hiasi rimbun pohon berdaun cantik. Ingin sekali ia menunggu kepulangan kedua anak dan istrinya yang tadi ke kota untuk melihat kembang api, tanpa menunggunya sama sekali. Hanya secarik kertas diatas meja yang menandai kepergian mereka. Namun, ia tahu bahwa itu sia-sia. Dia sudah pernah kehilangan mereka sekali, maka tidaklah aneh jika kehilangan mereka untuk kedua kalinya, itulah yang yang ada di pikiran pria itu. Hati pria itu sama sekali tidak keras, hanya saja ia merasa kata-kata dan peringatan yang ia berikan kepada keluarga kecilnya tidak dihiraukan sama sekali. "Itu bukan salahku, Mungkin ini adalah kehendak-NYA".

Sudah cukup lama ia menatap keluar. Pria tua berbadan kekar itu akhirnya beranjak, mengambil sebuah senapang yang biasanya dipakai untuk berburu binatang, dan sebuah pisau mengkilap dengan panjang tiga puluh centimeter. Dikenakannya topi koboi di kepala, dan sepatu boot kulit hitam di kakinya, tidak lupa dengan sarung tangan hitam berbahan wol miliknya. Sebuah radio hitam bergelantungan ditangan kekar berbalut kain hitam. Dengan mantap pria tua itu membuka pintu kayu rumahnya dengan menariknya kedalam. Ditariknya udara dingin malam untuk masuk ke paru-paru nya. Aroma pegungungan tercium lekat di hidung mancung berwarna coklat sawo matang yang terus dipaksanya untuk menahan terik matahari disaat dirinya mengumpulkan kayu bakar dan berburu binatang di hutan.

Langkah kakinya diarahkan ke sebuah truk yang terparkir dengan pintu terbuka. Tatapan mata pria itu menari-nari, mewaspadai setiap pergerakan sekecil apapun di sekitarnya. Pisau panjang miliknya siap menebas kapan saja ketika ada serangan secara mendadak, dan senapan Laras panjang yang digendong di punggungnya juga siap memuntahkan peluru kapan pun pria tua mau. Setengah perjalanan lagi, maka pria itu dapat menggunakan truk yang berisi beberapa hasil kebun, untuk menyusul pria yang dulu sangat dibanggakannya. Jantungnya sungguh berdegup cukup kencang hingga ingin melompat dari tempatnya, pandangan liar terus diluncurkan dari matanya. Hanya tinggal selangkah lagi pria itu bisa masuk dan menggunakan mobil itu, sebelum seorang pria hijau melompat dari kursi pengemudi dan menyerang tubuh kekar pria tua itu. Sungguh beruntung, gigi-gigi berlendir itu menggigit di tempat yang salah. Tepat di depan mata pisau mulut itu terkatup, dengan cepat pria itu menekankan mata pisau itu ke dalam mulut zombie berbadan hijau, sebelum dia berhasil melepaskan gigitannya yang salah sasaran itu.

Mulut hijau itu terkoyak ke belakang, bagaikan Kuchisake-onna. Tubuh itu meronta-ronta menahan sakit sebelum ia jatuh terjerembab ditendang oleh kaki penuh otot milik si pak tua bermata biru. Dengan gesit, orang tua itu melngkah masuk ke dalam truk, tanpa kembali melihat ke sekitar. Beruntung kunci truk pengangkut itu masih melekat pada tempatnya. Pri tua itu bergerak menghidupkan mesin mobil, suara deru yang muncul mengukir senyum tipis pada wajah yang sudah ditempeli keriput.

Perjalanan seru pun dimulai. Entah cukup atau tidak bahan bakar yang ada di tangki truk, untuk memuaskan keinginannya menemui teman lama. Senyuman girang berganti tawa renyah ketika ia telah sampai pada jalanan beraspal hitam. Sungguh udara yang dingin menusuk tulang, hanya ada dedaunan yang tertutup kegelapan sejauh mata memandang. Di rilekskannya tubuh pendek kekar itu. Sekarang, pria itu sangat santai menikmati perjalanan indah malam ini ditemani dengan ratusan bintang di langit. Tak sesantai dirinya, mobil yang dikendarainya melaju dengan tegang, seakan dikejar ribuan wanita berdaster putih yang melayang dengan wajah pucatnya.

...◣◈◊◈◢...

"Hibi Hibi Yo! Ayo mendekatkan manusia berliur!. Aku tidak akan membunuhmu!, sepertinya?. Tapi setidaknya hanya akan ada luka kecil atau gegar otak!", Ucap Rena.

Ayunan pipa besi ditangannya benar-benar sangat kuat, hanya beberapa zombie saja yang berhasil bangun setelah menerima tamparan besi itu.

Lim menggeleng dengan tawa,"Sebaiknya kau tidak membunuh mereka Rena, aku berusaha meminimalkan serangan dengan tenaga kuat. Tapi sepertinya kau berbeda?".

"Hahaha, aku hanya takut zombie-zombie ini akan membuatku satu komplotan dengannya, jika aku tidak membunuh mereka!", Sahut Rena.

"Kau tidak akan satu komplotan dengan mereka, jika kau tidak bodoh!".

"Apa kau sedang mengatakan jika dirimu pintar?"

"Oh ayolah, aku tidak berbicara begitu"

"Baiklah, wanita pintar!"

Dua pria yang mengintip dari sebuah bangunan sepertinya sedang sibuk berdiskusi akan sesuatu. Mike berusaha memikirkan rute terdekat untuk membawa zombie yang berkerumun dibawah Lim dan Rena, ke dalam gudang kayu tepat mengurung Zero zombie di kehidupan Mike sebelumnya. Zero menggambar beberapa jalan yang bisa dialalui di sekitar untuk menuju ke taman kota, diatas tanah berselaput menggunakan tongkat bisbolnya. Mike mengalihkan penglihatannya dari kerumunan zombie kearah gambar peta pasir yang dibuat Zero. Sebuah ide terbesit di benaknya.

"Sekarang hanya tinggal menentukan cara membawa mereka ke rute yang telah ditentukan", batin Mike.

"Kau punya pendapat, Zero?". Mike ikut berjongkok, melukis sebuah garis dengan jari kelingkingnya, kemudian tersenyum kearah temannya.

"Boleh juga!, Kau sedikit jenius, Mike!", Puji Zero, kagum.

"Bukan sedikit jenius, tapi sangat sangat jenius!", Tambah Mike.

"Berhentilah terbang terlalu tinggi, kita tinggal di tempat yang rendah. Kau akan kehabisan nafas dan mati".

"Hahah, terimakasih telah mengingatkan. Baiklah, sepertinya kita hanya perlu memikirkan sebuah cara untuk memancing mereka".

"Ya, kau benar!, Dan sepertinya aku tidak memiliki itu!".

"Kau sangat cepat menjawab, bahkan mungkin saja kau belum sama sekali memikirkan nya?!".

"Ya, begitulah!".

Mike menghela nafas, dengan senyum kecut ia bergerak berdiri meninggalkan Zero yang masih sibuk melukis diatas pasir. Sebuah pergerakan aneh menarik perhatiannya. Sesosok tubuh yang diikat, menggeliat dibalik kaca minimarket, berusah bergerak duduk dengan sisia kemampuan dan akal nya. Untuk kedua kalinya, Mike kembali memikirkannya jalan keluar untuk memancing kerumunan zombie mengikuti rute yang telah dibuatnya. Sebuah senyuman mengerikan terukir diwajahnya, kemudian ia terkekeh pelan, dengan mata bersinar menatap tajam kearah orang yang sepertinya sandera kedua wanita yang sibuk mengahantam kepala zombie dengan pipa besi.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!