"Belum ada kabar mas Agam, ma?" tanya Renata hati hati setelah mereka berdua menghabiskan bebek bakar yang dibawanya.
"Belum."
Wajah mama terlihat murung campur sedih. Beliau tau saat ini anak sulungnya pasti merasa sangat bersalah sampai bisa menghilang tanpa kabar.
"Kerjaan kamu di kantor gimana, sayang?" tanya Mama sambil membawa piring kotornya ke tempat cucian piring.
Renata meraih piringnya dan mulai menghidupkan kran.
"Baik, ma."
"Joandra baik sama kamu?" selidik mama dengan rasa bersalah.
"Baik," jawab Renata sambil menunggungi mamanya dan menyibukkan dirinya dengan sabun cuci piring.
Terdengar helaan nafas berat mamanya. Beliau dapat merasakan kalo Renata sedang merahasiakan kesedihannya.
Suaminya meminta tempo enam bulan lagi untuk acara pernikahan mereka. Papa Joandra langsung menyetujuinya karena beliau pun punya urusan darurat di Amerika. Perusahaannya rupanya agak oleng di sana.
Dirimya dan suaminya menginginkan kebahagiaan Renata. Jika dalam waktu enam bulan Renata terlihat bahagia bersama Joandra, mereka akan melepasnya dengan lapang dada.
Tapi jika belum, semoga perkebunan perkebunan sebagai harta terakhir keluarga laku dengan harga pantas, dan juga akan melelang perusahaam demi kebebasan Renata.
Memulai hidup dari awal. Biarpun ngga semewah sekarang, tapi bisa lagi melihat senyum Renata. Itu sudah cukup.
"Sabar ya, sayang. Papa sedang berusaha," ucap mamanya sambil menyandar di punggung Renata
Tadi sore saat beliau sedang berkumpul dengan sahabat sahabat sejatinya, yang tentunya sudah tau keadaannya, mama Renata bertemu dengan Mama Joandra.
Wanita itu dengan angkuh mengenalkan teman sosialitanya sebagai calon besannya.
Mama Renata sangat tersinggung, tapi beliau menahannya. Apalagi teman temannya pun belum tau tentang hubungan anak anak mereka. Pertunangan itu masih dirahasiakan dari publik.
Kemudian wanita itu dengan anggun dan ramahnya mengajak mama Renata menjauh sebentar dari sahabat sahabatnya. Juga meminta calon besannya yang baru saja dia perkenalkan untuk menunggu sebentar.
"Saya tunggu usaha suami kamu enam bulan ke depan. Kamu tau, kan. Saya ngga bisa menerima Renata sebagai istri Joandra. Ngga akan pernah," ucap mama Joandra sinis tapi dengan raut wajah ramahnya.
Wanita yang menggunakan dua muka, decih mama Renata dalam hati.
Setelahnya, beliau beranjak duluan diikuti mama Renata yang menahan perasaan sakit di hatinya.
Ingin dia membalasnya. Tapi wanita itu tau cara agar dia terlihat baik oleh siapa pun yang melihatnya. Mama Renata pun yakin, ngga akan ada yang membelanya setelah ini, apalagi mempercayainya.
Bahkan sahabat sahabat mama Renata takjub, karena wanita yang dinilai sangat angkuh dan terlalu kaya itu menegur mama Renata yang berada di ambamg kebangkrutan.
Karena itu mama Renata menahannya. Dan membiarkan wanita itu berbuat seenaknya. Hanya rasa sabar yang dipunyanya saat ini.
Hanya saja mama Renata takut jika wanita itu berkata sangat tajam pada Renata. Dia ngga mau putrinya terluka oleh kata kata kejam yang diucapkan mama Joandra.
Dada Renata sesak mendengarnya.
"Iya, ma."
Renata ngga mau membahasnya lagi. Dia pun takut jika mamanya tau kesedihannya saat ini, pasti akan menambah beban pikiran beliau.
*
*
*
"Susan, aku tuh kerjanya di perusahaan Kak Joandra," kata Renata terus terang melalui sambungan telpon. Ngga ada balasan dari Susan. Sahabatnya sepertinya sangat teekejut dan sedang terguncang.
"KENAPA TADI NGGA KAMU KATAKAN TERUS TERANG."
"Maaf. Aku sedang mencari waktu lagi untuk.bertemu dengan kamu, dan bercerita dengan jujur," jawab Renata beberapa saat setelah menjauhkan ponselnya. Telinganya berdenging karena kerasnya suara teriakan Susan.
Malam ini Susan menelponnya. Meminta tolong padanya agar dibantu magang di tempat perusahaan Renata bekerja. Perusahaan itu sangat bonafid dan pasti akan sangat susah jika mengajukan proposal di sana jika ngga ada orang dalam.
Tapi jawaban mengejutkan dia terima dari Renata. Pantasan Renata ogah ogahan dan malah menyuruhnya magang saja di perusahaan papanya.
"Kamu juga aneh, udah tau itu perusahaan Joandra. Tapi kenapa kamu kerja di sana?" Susan sudah mengecilkan volume suaranya. Perasaan marahnya sudah mulai reda. Tapi kesalnya masih menggumpal di rongga dadanya.
"Ceritanya agak aneh, dan aku takut kamu akan tertawa atau malah kasian, setelah mendengarnya" kekeh Renata pahit.
"Aku janji. Aku ngga akan tertawa atau pun merasa kasian. Yang jelas aku penasaran," seru Susan cepat. Tapi jantungnya berdetak aneh, dia merasa Renara akan membuatnya kena serangan jantung dengan ceritanya.
Susan sangat mengenal Renata. Jika.dia bisa berucap begini sambil tertawa aneh, keadaannya pasti ngga baik baik saja.
"Sebenatnya cerita ini sangat klise. Perusahaan kami mengalami krisis. Papa berhutang dengan Papa Pak Joandra. Tapi Papa kak Joandra meminta aku menjadi tunangan Joandra sebagai penebus hutang," jelas Renata kemudian tertawa garing.
Belum ada respon dari Susan. Renata menunggu dengan sabar.
Di rumahnya, Susan menjatuhkan ponselnya. Untung saat menelpon dia berada di atas tempat tidur. Sehingga ponselnya ngga mengalami kerusakan yang apa pun karena jatuh di tempat yang empuk. Susan sempat merasa sesak karena jantungnya seakan berhenti memompa darahnya ke otaknya.
Kenapa cerita klise ini bisa jadi kenyataan terhadap hidup Renata, batinnya lemah. Dia sudah mau pingsan.
Pantasan Renata butuh waktu buat bercerita padanya.
Susan pun yakin, jika dia yang mengalaminya, dia pun akan butuh waktu yang mungkin lebih lama dari Renata untuk bisa sharing.
"Susan?" Karena lama ngga menjawab, Renata memanggil namanya.
"Ya. I'm sorry. I'm shock," aku Susan jujur.
"Kak Joan sendiri gimana?" tanya Susan pelan. Tapi Susan hanya mendengarkan helaan nafasmya. Sangat panjang dan berat.
"Dia terlihat sangat benci sama aku."
Fix, Susan yakin seratus persen, racun si nenek lampir Diana sudah masuk dalam sumsum darah Kak Joandra dan merusak kinerja otaknya.
Susan tiba tiba saja mengingat kejadian empat tahun yang lalu dengan sangat jelas.
Semua terasa aneh bagi Susan karena tiba tiba saja Kak Bisma menghampirinya keesokan harinya di halaman parkir sekolah. Setelah acara penembakan Kak Joandra pada Renata yang Susan yakini pasti berjalan sangat sukses.
Susan saat itu ngga mempermasalahkan Renata yang sulit dihubungi. Karena dia berpikir, Renata sedang bersenang senang dengan Kak Joandra karena berhasil jadi pacarnya.
Apalagi hari itu adalah hari terakhir mereka bertemu karena Kak Joandra akan berangkat kuliah ke luar negeri.
Sebagai sahabat, Susan ngga mau mengganggu dan ingin Renata membuat kenangan manis sebelum mereka LDR.
Susan menatap Kak Bisma lagi. Sepertinya Kak Bisma sengaja menunggunya. Anehnya wajah laki laki itu terlihat keruh. Susan hanya berpikir mungkin Kak Bisma sedih karena berpisah dengan Kak Joandra dan teman teman dekatnya yang lain karena pilihan kampus yang berbeda.
"Susan."
"Ya, kak?" tanyanya heran waktu itu. Kenapa Kak Bisma ke sekolahnya, padahal keperluannya di sekolah sudah berakhir.
"Kamu kenapa ngga bilang kalo Renata sudah punya pacar?"
Haaah, apa maksudnya. Susan benar benar ngga ngerti makna ucapan Kak Bisma. Kak Bisma sepertinya kecewa terhadapnya.
"Renata? Punya pacar?" jawabnya bingung.
Pertanyaan bodoh macam apa ini? teriaknya dalam hati.
Bisma membuang nafasnya dengan lelah. Kemudian dia mengambil helmnya setelah ngga mendengar jawaban Susan. Tanpa kata dia pun pergi meninggalkan Susan yang masih berdiri dengan terbengong bengong.
Semuanya menjadi kepingan kepingan fuzzle yang berantakan dan setelah dia satukan dengan cukup memakan waktu, Susan jadi mengerti tentang siapa yang sudah menghilangkan bagian yang paling pentimg dan krusial dalam fuzzle ini.
Tepatnya siapa yang berusaha mengambil keuntungan dari kejadian ini.
Karenanya, sejak dia mengetahuinya dengan sangat jelas, Susan langsung memblack list Diana dari daftar pertemanannya dan Renata.
Tapi Susan masih merahasiakannya dari Renata. Mungkin sekaranglah saatnya mereka saling terbuka agar semuamya terpampang sangat jelas. Khususnya untuk Renata sebagai korban yang ngga tau apa apa.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 71 Episodes
Comments
Puji Ustariana
kirain bisma mw mencari kebenaran apa yang terjadi sesungguhnya ternyata gak 😔
2025-02-20
1
Puji Ustariana
sabar ya mama tetep semangat Tuhsn Maha Tahu apa yang terbaik bagi hamba"Nya
2025-02-20
1
Puji Ustariana
mama yang kuat agar putri mama renata juga kuat
2025-02-20
1