Renata dapat merasakan aura yang ngga enak saat sampai di depan orang tua laki laki yang dijodohkan dengannya.
"Halo, Pak Kurnia, apa kabar," sambut Pak Ramsy Dirga hangat.
"Baik, Pak Ramsy," sambut papa membalas uluran tangan calon besannya.
Papa pun tersenyum dan membalas uluran tangan rekan bisnisnya. Bisa dirasakannya ketulusan akan ucapan dan senyumnya. Karena itu papa mau menerima perjodohan ini. Dia yakin, rekannya ngga akan menyia nyiakan putri kebanggaannya.
Tapi memang istri rekannya terlihat kurang nyaman.
Mamanya mengenal istri Pak Ramsy sebagai sosialita yang cukup angkuh. Makanya beliau cukup berkeberatan akan rencana suaminya
Perusahaam keluarga Renata memang masih dua kelas di bawah perusaahaan keluarga Pak Ramsy Dirga.
Sewaktu mereka masih kaya raya pun, istrinya Pak Ramsy tidak pernah menyapanya. Mungkin karena beliau bukan pengoleksi tas hermes yang sampai milyaran.
Apalagi kini putra mahkotanya malah memperistri seorang gadis untuk menebus hutang hutang keluarganya. Karena itu istrinya sempat menentang keinginan suaminya.
Renata pun menyalim penuh hormat pada penolong keluarganya.
Tapi dia merasa heran karena ngga melihat laki laki yang akn dijodohkan dengannya.
Apa dia menolak? batin Renata kelu dan penuh tanda tanya.
Apa keluarganya mendapat jackpot dengan ngga harus membayar hutang yang snagat besar ini?
Karena menurut Renata kalo putra pak Ramsy menolak, kesalahan bukan berada di pihak mereka.
Jadi ngga salah, kan, kalo dia berpikiran begitu?
"Kamu cantik sekali Renata," kata Pak Ramsy penuh arti.
"Terima kasih, Om," ucap Renata seakan merasa pernah melihat sosok kebapakan ini. Tapi dia lupa, kapan dan dimana.
Renata pun menyalim tangan istri Pak Ramsy yang terlihat enggan menerimanya.
Beliau akui, gadis ini sangat cantik, juga kabar yang beliau dengar, gadis ini pun sangat pintar.
Tapi gadis ini ngga sebanding dengan putranya yang sangat tampan, pintar dan kaya raya. Sewaktu keluarga gadis ini masih kaya saja, beliau sudah merasa, mereka berada di bawah kelasnya dan enggan menegur istri Pak Kurnia jika bertemu. Apalagi setelah mereka jatuh miskin. Sudah ngga ada nilai plus di matanya.
Apalagi suaminya membawa bawa kisah dramatis empat tahun yang lalu. Beliau merasa berhutang nyawa karena gadis ini yang dengan suka rela memberikan darahnya untuk adik suaminya yang mengalami kecelakaan hebat.
Saat itu situasi di rumah sakit dilanda kepanikan yang luar biasa. PMI dan bank darah yang sudah mereka susuri kekurangan satu kantong darah sebelum melakukan operasi. Tapi ngga lama kemudian dokter mengatakan operasi bisa dilakukan. Tentu saja keluarga sangat senang dan langsung mencari informasi siapa pemilik darah langka itu yang dengan suka rela memberikan darahnya begitu saja.
Tapi suster yang melakukan transfusi lupa menanyakan namanya. Gadis itu pun langsung pergi setelah darah berharganya diambil.
Rupanya suaminya berhasil menemukan identitas gadis itu. Dan tanpa di duga menawarkan putranya sebagai pengganti darah yang pernah menolong adiknya.
Istrinya tentu saja marah dan ngga terima keputusan sepihaknya. Apalagi putranya.
Istrinya malah sudah menemukan calon istri buat putranya. Yang satu kelas dengannya. Tapi suaminya merusak rencananya.
Malam tadi mereka kembali bertengkar, putranya pun kembali menolak mentah mentah permintaan suaminya.
Flashback on
"Ya sudah, papa, kan, sudah membantu membayar hutang hutang dan pengobatan adiknya. Anggap saja impas. Itu sudah terlalu banyak, pa. Sudah sangat terlalu banyak," seru istrinya penuh tekanan.
"Ngga pernah ada kata impas kalo menyangkut nyawa, ma," bantah suaminya tegas.
"Ganti saja dengan darahku, pa. Aku rela memberikannya. Tapi Joan mohon, jangan paksa Joan untuk menikahinya."
"Andai saja darahmu bisa menyelamatkan tantemu waktu itu," sinis Ramsy Dirga.
Istri dan putranya pun terdiam.
"Papa yakin, gadis ini akan membuatmu berpikir kalo *** bebas itu ngga guna," tandas Ramsy Dirga tajam.
Putranya terdiam.
"Joan sedang menyeleksi siapa yang pantas jadi istrinya," bela istrinya.
"Tidak ada yang pantas. Yang bersamamu hanyalah penggila uang saja," sentak papanya dingin.
Ngga semuanya begitu. Dia ngga begitu, batin Joandra, anak laki laki pertama Ramsy Dirga.
Tapi mengingatnya hanyalah rasa sakitnya saja yang bisa dia rasakan.
"Joandra berhak memilih, pa," pinta mamanya putus asa.
Beliau tau, kalo sudah begini akan sulit merubah keputusan suaminya.
"Dia sudah memilih saat tantenya kecelakaan karenanya," ungkit Ramsy Dirga dingin.
Joandra dan mamanya kembali terdiam. Kini isak tangis mamanya yang mulai terdengar.
Tubuh Joandra bergetar. Memang dia penyebab kecelakaan itu. Tapi bukan berarti dia harus menanggung seumur hidupnya, kan, bantah Joandra dengan tangan terkepal.
"Papa memaksamu kali ini. Percayalah, ngga ada gadis sebaik dia," kata papanya lembut.
Di saat orang lain akan memanfaatkan siruasi, tapi gadis ini malah memberikannya dengan gratis.
Flashback off
*
*
*
Joandra sudah sampai dari tadi di restoran mewah yang papanya jadikan sebagai tempat pertemuannya dengan calon istrinya.
Tapi hatinya masih berat. Ingatannya melayang pada kejadian lima tahun yang lalu, setelah kelulusannya.
"Apa ini akan berhasil?" tanya Joandra pada Bisma yang punya rencana.
"Pastilah. Dia juga naksir kamu, kan," kata Bisma yakin
Joandra dan Bisma mengulur waktu sambil bermain basket. Selain itu Joandra juga perlu meredakan ketegangannya. Baru kali ini dia menuruti saran konyol temannya.
"Tenang Jo. Tenang," ujar Dilo menyemangati. Dia ngga ikut maen basket, tapi sedang memegang buket bunga mawar merah besar yang sangat cantik.
Imam sedang menyiapkan kamera nikonnya. Karena kejadian ini akan mereka abadikan. Ini hari terakhir mereka di sekolah bersama Joandra. Joandra akan berangkat ke Amerika nanti malam, karena mendapatkan beasiswa di kampus yang sangat terkenal.
Mereka tau Joandra naksir berat dengan Renata, begitu juga gadis itu. Sinyal sinyal keduanya sudah tampak sangat jelas. Karena itu mereka menyusun skenario ini.
"Kenapa pake video?" tolak Joamdra keberatan.
"Loh, ini bisa kamu jadikan obat pelepas rindu selama di sana," bujuk Imam.
"Syukur syukur kamu nikah sama Renata. Kan bisa diputar saat akad," tawa Dilo.
Bisma dan Imam pun tertawa mendengarnya.
Joandra hanya menggeleng gelengkan kepalanya. Hatinya senang, jantungnya berdebaran ngga menentu menunggu kedatangan Renata.
Tiba tiba teman yang biasa bareng dengan pujaan hatinya mendekat. Tapi hanya sendiri, tanpa Renata. Hanya Diana. Padahal harusnya Susan. Karena dialah yang menjadi kurir cinta Joandra.
Joandra sudah merasakan firasat buruk. Dia dan Bisma pun menghentikan permainan basketnya.
"Kak, maaf, Renata menolak karena sudah punya pacar," ucap Diana dengan suara takut takut.
Joandra dan Bisma saling pandang.
"Kalo kakak ngga percaya, pacarnya sekarang lagi jemput di par-," ucapan Diana terputus karena Joandra langsung berlari ke arah parkiran. Begitu juga Dilo dan Imam.
"kiran."
"Tunggu Jo," seru Bisma ikut mengejar.
Joandra berdiri mematung melihat gadis yang disukainya sedang masuk ke dalam mobil mewah yang sedamg dibukakan oleh laki laki yang usianya mungkin beberapa tahun di atasnya.
Buket di tangan Dilo pun jatuh begitu saja.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 71 Episodes
Comments
Puji Ustariana
apa mungkin ini permainan diana ? kemungkinan diana menyampaikan hal yang bukan sebenarnya? bisa jadikan yang jemput itu abangnya mungkin renata ada keperluan lalu diana menyampaikannya dengan kebohongan ? hmm🤔🤔
2025-02-20
1
Deandra Putri
nah loh.... beneran apa cuma salah paham ini...
2024-10-20
1
Taty Hartaty
curiga temannya bokis dehh
2024-09-12
1