"Ehem."
Suara deheman membuat Renata dan Andara menoleh. Keduanya langsung berdiri dan berbalik saat tau Joandra yang berada di belakang mereka dan menatap keduanya datar.
"Anda mau kopi, pak?" tanya Andara yang merespon lebih cepat terhadap bosnya.
Sementara Renata malah termangu dan netra keduanya masih saling bersitatap.
"Boleh," jawab Joandra sambil memutuskan tautan matanya dengan Renata.
"Aku saja," kata Renata sambil mengambil kopi saset dalam genggaman tangan Andara.
"Oke. Aku duluan, ya. Tapi kamu ngga apa apa, kan, ditinggal?" bisik Andara agak cemas karena menyadari wajah bosnya yang ngga baik baik saja.
"Aku ngga apa apa," balas Renata tenang walau jantungnya hampir copot karena ngga menyadari kehadiran Joandra.
"Baiklah, aku pergi."
Tanpa keduanya sadari, tangan Joandra mengepal keras memahan marah melihat tunangannya bersentuhan fisik dengan laki laki lain.
Tadi saja dia kaget saat mendapati Renata sedang mengobrol berdua dan kelihatan happy dengan Andara, salah satu staffnya saat dia keluar dari ruangannya dan ngga menemukan Renata.
Bermaksud mencari kemana hilangnya Renata malah mendapatkan pemandangan yang ngga terduga.
Kenapa dia di sini? Bukannya dia sedang ditemani wanita seksi, cela Renata kesal dalam hati.
Mengganggu saja, sambungnya lagi dalam hati.
Padahal tadi keadaan hatinya sudah mulai baik baik saja. Tapi kini berubah total karena kehadiran sang bos. Sang perusak suasana.
Andara menganggukkan kepalanya dengan sopan saat melewati Joandra. Joandra mengacuhkannya membuat Andara semakin mempercepat langkahnya.
"Bawa ke ruanganku," titahnya setelah melihat kopi yang dibuat Renata sudah jadi.
Sabar Renata. Sabar.
Joandra pun melangkah duluan menuju ruangannya dan disusul Renata dengan tangan membawa secangkir kopi buat sang bos.
Perempuan tadi mana? batin Renata heran karena ngga menemukan sesiapa pun di dalam ruangan Joandra.
Apa dia lagi sembunyi di ruang itu? batin Renata sambil melihat ke arah pintu kamar privat yang tertutup rapat. Hatinya mencelos tiba tiba.
Kak Joandra sudah berubah sangat parah ternyata.
"Apa yang kamu cari?" tanya Joandra mengagetkan lamunan Renata.
"Nggak. Oh, eh, silakan, pak," katanya agak gugup sambil menaruh cangkir itu di atas meja yang ada di dekatnya. Sedangkan Joandra berhenti di depan jendela besar yang ada di ruangannya. Menatap hujan yang masih cukup deras.
Andai saja bisa kembali ke masa lalu, inginnya dirinya yang berada di bawah payung Renata. Jalan berdua. Tanpa diganggu teman temannya.
Karena Joandra hanya diam saja, Renata pun berjalan pelan meninggalkan Joandra karena ngga ingin mengganggu lamunannya Atau tepatnya agar dia ngga disemprot dan diberikan tambahan pekerjaan lagi.
Saat Renata sudah menutup pintu, baru Joandra berbalik dan melangkah ke arah meja kerjanya. Dan duduk sanbil tepekur di sana.
Tangannya pun meraih kopi itu dan menyesapnya pelan.
"Manis," gumamnya pelan sambil memejamkan matanya.
*
*
*
"Joandra ada?"
Renata menatap suara datar yang menyapanya. Mamanya Joandra.
Dia pum bangkit dan bermaksud akan menyalaminya, tapi wanita cantik itu hanya meliriknya ngga suka.
Karena uluran tangannya ngga disambut, Renata pun menarik tangannya. Ada perasaan malu menyelimuti hatinya.
"Berlakulah yang semestinya. Kamu hanya sekertaris di sini," ucapnya sinis.
Hati Renata terluka. Tapi dia ngga menunjukkannya. Renata ingin terlihat kuat di delan wanita yang sudah siap akan menindasnya.
"Aku nyonya besar di sini. Kamu juga harus menghormati putraku yang menjadi bosmu. Lupakan peranmu sebagai tunangannya."
"Maaf, Nyonya," balasnya berani sambil menatap wanita paruh baya yang angkuh itu.
Wanita itu tersenyum sinis melihat Renata yang ngga terlihat sedang terintimidasi. Malah tenang.
Menarik, batinnya mencela.
"Jangan buat kesalahan. Kamu juga bisa saja dipecat. Aku pun ngga segan segan mencoret namamu sebagai calon istri putraku," tambahnya lagi. Sangat sinis dan merendahkan.
Ucapannya sangat tajam. Tapi Renata tetap berusaha tenang dan berdiri kokoh di atas kedua kakinya yang mulai gemetaran.
"Papamu sedang mengulur waktu agar ngga menyerahkanmu begitu saja sebagai barang jaminan. Sebetulnya aku suka usahanya. Karena aku sudah mempunyai kriteria calon mantu yang sekelas dengan keluarga kami."
Renata masih diam ngga menjawab. Padahal hatinya sudah sangat perih mendengarnya.
"Karena itu, bantulah papamu untuk bisa mencicil hutangnya dengan bekerja sangat baik,. Tanpa ada kesalahan, " sambungnya lagi dengan tusukan tusukan yang langsung mengena di hati Renata.
"Ya, nyonya."
Renata berusaha menahan getaran dalam suaranya. Tapi tampaknya wanita itu menyadari kerapuhannya. Senyum puas tersungging di wajah cantiknya.
"Joandra, ada?" tanyanya penuh penekanan. Akhirnya dia sampai pada tujuannya.
"Ada nyonya," sahut Renata kemudian akan mengangkat gagang telponnya.
"Ngga usah. Aku langsung aja," larangnya sambil berbalik pergi dan melangkah menuju ruangan putranya.
"Silakan, nyonya," ucap Renata pelan sambil duduk di kursinya.
Dia pun memejamkan matanya sejenak sebelum melihat kembali kerjaannya.
Tapi terlihat buram karena matanya dibanjiri air mata.
Aku ngga boleh nangis. Ngga boleh, titah hatinya menguatkan.
Tapi tetap saja air mata itu bergulir perlahan. Satu per satu.
Ma, ini sangat menyakitkan.
*
*
*
Ketika jam pulang kantor berakhir, Renata pun segera melangkah keluar tanpa mau menemui Joandra.
Buat apa.
Biarlah diberikan SP 3 pun.
Atau sampai dipecat.
Renata sudah bertekat akn keluar dari perusahaan ini dan akan mencari pekerjaan lain.
Bukannya nyonya itu sendiri yang memintanya menyicil hutang hutang keluarganya.
"Renata, kamu mau pulang?" tanya Bu Inggrid menahan langkahnya.
"Ya bu," sahutnya sopan.
"Pak Joandra sudah pulang?" tanya Bu Inggrid sambil menatap Renata lekat.
"Sepertinya... masih di ruangannya bu," jawab Renata enggan.
Haruskah dia ke ruangannya?
Bu Inggrid menghela nafas panjang. Seakan sudah sangat lelah.
Dia ngga habis pikir kenapa bos besarnya memintanya mengawasi Renata selama dia berada di Amerika. Jangka waktunya pun beliau ngga ditentukan.
"Kamu lupa apa yang tadi sudah saya katakan sama kamu?"
"Baik, bu," jawab Renata cepat dan secepat itu juga melangkah mendekati ruangan bosnya agar ngga mendapat omelan lebih panjang lagi.
TOK TOK TOK
Setelah mendengar suara kunci yang terbuka, Renata pun menarik handle pintu dan mendorongnya ke arah dalam.
"Ada apa?" tanya Joandra tanpa mau melihat kehadiran Renata. Dia terlalu disibukkan dengan kerjaannya.
Sebenarnya dia cukup bersyukur, tadi Renata telah membantu menyelesaikan sebagian pekerjaannya. Tepatnya menyelesaikan pekerjaan mantan sekertarisnya yang ngga pernah beres.
Joandra tau Renata sangat pintar. Dia mengaguminya sejak dulu.
"Bapak belum mau pulang?" tanya Renata ragu
"Kenapa saya harus pulang?" balas Joandra cepat tapi tetap.ngga melihat ke arah Renata.
"Bu Inggrid meminta saya menanyakannya."
"Hemm."
Renata menatap bingung pada tali tasnya.
"Kamu kenapa berdiri saja di situ. Bantu saya menyelesaikan file ini," sergah Joandra sambil menggeser beberapa berkas ke ujung meja. Tetap tanpa melihat ke arah Renata.
Haaah....
Inilah yang Renata takutkan jika dia harus ke ruangan bosnya.
"Tapi saya mau pulang," bantah Renata memberanikan diri.
Kali ini Joandra mengangkat wajahnya dan menatap horor pada Renata.
"Kamu membiarkan saya bekerja sendiri sementara kamu enak enak mau pulang!" bentaknya seakan ada guntur yang masuk ke ruangan bosnya. Begitu menggelegar.
Renata sampai berjengkit karena jantungnya langsung nge sport.
"Emm... baiklah," katanya mengalah.
Akhirmya dia pun mengambil berkas berkas itu dan melangkah ke luar ruangan.
"Kerjakan di sofa itu saja," titahnya masih galak. Kemudian mengalihkan tatapannya lagi pada laptopnya.
Renata terpaksa menurut dengan hati dongkol.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 71 Episodes
Comments
Erlinda
joandra kau memang cocok dgn mama yg sok kaya dan berkuasa itu dan selalu memandang rendah orang lain jangan sombong kalian suatu saat kalian juga bisa jatuh miskin .
2023-02-04
2
Lee
skuntum 🌹 biar tmbah smngat othornya..
2022-11-27
1
Buna Seta
Lanjut thor
2022-11-24
1