Saraswati

Hujan turun sangat deras. Dapat dilihat dari balik jendela ruangannyanyang berada di lantai belasan.

Dia punya kenangan manis tentang hujan dan Joandra. Renata masih mengingat kenangan itu. Kak Joandra yang tertawa meledek temannya yang ikut menumpang di payung kecilnya ketika pulang sekolah.

Saat itu jantung Renata berdebar ngga karuan karena Kak Joandra berjalan di sisinya dalan hujan. Begitu juga beberapa orang temannya.

Mereka tertawa tawa menggoda dirinya. Saat itu sangat menyenangkan bagi Renata. Jejak hujan selalu membawa kenangannya ke sana.

Tapi sekarang ngga ada lagi Kak Joandra yang menperlakukannya dengan sangat manis. Hanya tinggal kenangan. Sekarang yang tinggal hanyalah Joandra yang dingin, kaku, dan suka bersikap kejam padanya.

Renata mengingat lagi sikap aneh Diana. Padahal dia hanya ingin bertanya keadaan temann dekatnya itu setelah empat tahun menghindarinya.

Kenapa dia begitu? Padahal aku ngga merebut Kak Joandra darinya, batinnya penuh tanya.

Susan belum juga mau bercerita tentang sikap aneh Diana.

"Mba, Joandra ada di ruangannya?" tanya seorang gadis cantik dengan tinggi tubuh semampai membuyarkan lamunannya.

Seksi.

Layaknya model.

"Ada mba."

"Oke," katanya sambil melangkahkan kakinya ke ruangan bosnya. Seakan sudah biasa memasuki ruangan bosnya tanpa perlu ijinnya.

"Eh, sebentar mba," seru Renata menahan langkah perempuan cantik itu.

Apa apaan dia? Bukannya dia harus menunggu dulu? Batin Renata ngga abis pikir melihat tingkat kepedean perempuan cantik ini.

Renata berdiri dari duduknya.

"Saya harus tau, mba siapa? Dan ada keperluan apa menemui Pak Joandra," serunya lagi.

Terpaksa kepo. Padahal hati kecil Renata ingin membiarkan saja gadis itu pergi ke mana pun. Ke ruangan bosnya atau ke neraka sekalian.

Tapi SP 1 ditangannya membuatnya jadi banyak berpikir.

Memang dia lebih senang jika langsung dipecat, bisa bebas meninggalkan bos yang ngga punya hati dan suka berlaku sangat kejam.

Tapi bagaimana reaksi keluarga suaminya? Terutama calon mama mertuanya yang malam itu menatapnya ngga suka. Bahkan seperti sangat merendahkan.

Ya, Renata harus tetap bekerja buat lunasin hutang hitamg papanya, kan? Batin Renata getir.

Atau dia akan dianggap sebagai parasit yang merong rong keluarga kaya raya itu jika.memutuskan keluar dari kerjaannya.

"Aku Saraswati. Joandra udah tau," tegas perempuan cantik itu kesal. Emosi sudah tersirat di matamya. Tangannya bahkan sudah membuka sedikit pintu ruang Joandra yang ternyata ngga dikunci.

Tumben, batin gadis itu senang.

"Maaf sebelumnya. Tapi saya harus lapor dulu ke Pak Joandra kalo mba Saraswati mau bertemu," jelas Renata berusah sabar. Bahkan tangannya berusaha menarik knop pimtu yang sudah dibuka perempuan cantik itu. Untuk menutup pintu itu kembali.

"Kamu ngga tau siapa saya?" serunya agak kerss, sengaja agar Joandra mendengar keributan ini.

Reflek Renata menggelengkan kepalanya.

"Huh," dengusnya sombong.

"Namaku Saraswati. Aku model ambassador di sini," lanjutnya sambil mendorong tubuh Renata kasar.

Renata pun terdoromg dan dia hampir terjatuh jika saja ngga ada yang menahan pintu itu yang akan terbuka dengan sangat lebar.

"Ada apa kalian ribut tibut?" sentak Joandra kesal karena merasa terganggu.

Lamunannya buyar. Malah kini dilihatnya Renata yang hampir terjatuh jika saja dia ngga menahan puntu ruangannya.

Renata cepat cepat membetulkan posisi berdirinya dan merapikan bajunya akibat hampir terjatuh tadi. Dalam hati dia bersyukur karena Bosnya menahan pintu hingga dia ngga jatuh dalam posisi yang pastinya akan memalukan.

"Hai, Jo. Sekertaris baru kamu ini sangat menyebalkan. Ngga jauh beda sama yang dulu," sapanya manja sambil melangkah masuk dan bergayut di lengan Joandra.

Joandra ngga menyahut. Netranya malah terpaku karena sedang ditatap tajam oleh Renata

**DEG

DEG

DEG**

Renata ngga bisa menormalkan jantungnya saat ini. Dia begitu terkejut melihat pemandangan di depan.

Ada yang luruh tiba tiba. Kosong. Hampa. Juga sakit.

"Maaf, Pak. Saya ... saya hanya ingin bertanya apa bapak mau menemuinya. Tapi sepertinya bapak ngga keberatan. Permisi," ucapnya sambil memutuskan tatapan mereka.

"Ngga sopan sekali," decih Saraswati memcibir.

"Kamu pungut di mana sekertaris seperti itu?" sambungnya lagi dengan sinis.

Renata ngga mempedulikannya. Bahkan kini Renata sudah bisa mengambil kesimpulan. Dari sikap sikap Joandra, dia yakin, laki laki itu sudah ngga ada perasaan lagi padanya. Sedikit pun engga.

Kemarin Silvia, sekarang Saraswati. Atau sekertarisnya yang dulu juga. Ngga tau besok besok siapa lagi yang akan ditemuinya dan bersikap mesra pada Joandra.

Renata membalikkan tubuh dan berjalan tergesa ke arah ruangannya dengan cepat. Matanya terasa panas.

Mungkin pikiran Joandra dan mamanya sama saja. Dia hanya sebagai penebus hutang keluarganya.

"Aku bilang juga apa. Ingat namaku Saraswati," seru perempuan ini tambah sombong karena Joandra ngga berkata apa apa dan membiarkan sikapnya yang mencela sekertaris barunya itu. Seakan membenarkan dan ngga ada masalah.

Renata kembali ngga nenyahut, dia kini malah berjalan ke pantry. Dia butuh kopi atau teh buat menenangkan perasaannya sekarang. Dia ngga mungkin bisa bekerja dengan perasaan kalut seperti ini.

*

*

*

Untung pantry dalam keadaan sepi. Renata pun mengambil kopi sasetan yang ada di toples. Setelah memberi satu sendok kecik gula, dia menuangkan air panas dari dispenser ke cangkirnya.

Renata memilih duduk sebentar. Perasaannya masoh belum tenang. Tapi bau kopi sedikit menenangkan. Sikap sikap Joandra menimbulkan banyak tanda tanya di benak Renata.

"Ngopi sendiri apa enaknya?" sapa seorang laki laki muda, mungkin lebih tua sedikit darinya yang ternyata akan membuat kopi juga.

Renata ngga menjawab hanya meliriknya sebentar saja.

Ah, mengganggu saja, batinnya. Saat ini dia ngga butuh teman. Kalo pun butuh, dia hanya butuh Susan.

"Anak baru?" tanya laki laki itu mrnahan niatnya untuk pergi. Kini laki laki itu sudah duduk.di depannya.

Renata tersenyum tipis menjaga kesopanannnya.

"Bagian apa?"

"Sekertaris."

"Oooh, jadi kamu pengganti Prisila?" Dia tertawa kecil.

"Kenalkan, aku Andara," katanya tanpa mengulurlan tangannya.

"Bukan sultan Andara lo," kekehnya lagi kemudian menyesap kopinya.

Renata menyesap kopinya sambil memperhatikan laki laki muda di depannya. Terlihat ramah.

"Aku menejer riset," ucapnya lagi.

"Renata." Renata merasa perlu meyebutkan namanya walaupun dia yakin laki laki di depannya mungkin sudah tau siapa dirinya.

"Aku sudah tau nama kamu."

Bener, kan, batin Renata membenarkan analisanya.

Terpopuler

Comments

Deandra Putri

Deandra Putri

kenalan disaat yg tidak tepat buat Renata, maunya sendiri dulu bukan temen baru

2024-10-21

1

Buna Seta

Buna Seta

semangat

2022-11-24

2

Naftali Hanania

Naftali Hanania

seneng deh..mulai agak panjang....😆✌️

2022-11-23

1

lihat semua
Episodes
1 Penebus Utang
2 Takut
3 Kilas Balik
4 Jalan Takdir
5 Pertunangan
6 Hari Pertama Bekerja
7 Ketemu Susan
8 Kilas Balik Susan
9 Masih dirahasiakan
10 SP 1
11 Masih setia memberi hukuman
12 Ulah Bos Joandra
13 Diana Yang Menghindar
14 Ingatan Joandra
15 Hati Diana
16 Saraswati
17 Sakit di Hati
18 Ngga Di anggap
19 Rahasia
20 Terbuka dan meninggalkan rasa kecewa
21 Kemarahan yang Meledak
22 Diikat dengan Kuat
23 Foto Yang Asli
24 Bu Inggrid yang Pengertian
25 Pikiran dan Hati yang ngga sinkron
26 Penuh Tanda Tanya
27 Tugas Tambahan Renata
28 Panas
29 Rencana masa depan
30 RESIGN?
31 Taktik tarik ulur
32 Ketahuan Berbohong
33 Ingatan Joandra
34 Kegilaan Joandra
35 Mengerjai Saraswati
36 Circle Diana
37 Kemyataan yang sebenarnya
38 Pembalasan memalukan
39 Bertemu Tante Anggia
40 Kilas balik donor darah Renata
41 Perlahan Terbuka
42 Dua situasi yang berbeda
43 Interogasi
44 Keputusan Joandra
45 Masih berprasamgka
46 Rencana Mama Joandra
47 Pasangan Alay
48 Menikmati Berdua
49 Rumor
50 Mama Joandra yang kejam
51 Mama Joandra yang kejam part 2
52 Masih Berlanjut
53 Kabar tentang mama
54 Harapan Sahabat
55 Musibah Joandra yang beruntun
56 Renata beneran pergi
57 Dendam mantan sahabat
58 Mengambil Sikap
59 Kenyataan yang menyedihkan
60 Hari kelam Diana
61 Karma
62 Dejavu Renata
63 Bertemu lagi
64 Bahagia
65 Takdir
66 Rencana Silvia
67 Akhir yang Kejam
68 Berakhir dengan Indah
69 Extra part 1
70 extra part 2
71 Pengumuman
Episodes

Updated 71 Episodes

1
Penebus Utang
2
Takut
3
Kilas Balik
4
Jalan Takdir
5
Pertunangan
6
Hari Pertama Bekerja
7
Ketemu Susan
8
Kilas Balik Susan
9
Masih dirahasiakan
10
SP 1
11
Masih setia memberi hukuman
12
Ulah Bos Joandra
13
Diana Yang Menghindar
14
Ingatan Joandra
15
Hati Diana
16
Saraswati
17
Sakit di Hati
18
Ngga Di anggap
19
Rahasia
20
Terbuka dan meninggalkan rasa kecewa
21
Kemarahan yang Meledak
22
Diikat dengan Kuat
23
Foto Yang Asli
24
Bu Inggrid yang Pengertian
25
Pikiran dan Hati yang ngga sinkron
26
Penuh Tanda Tanya
27
Tugas Tambahan Renata
28
Panas
29
Rencana masa depan
30
RESIGN?
31
Taktik tarik ulur
32
Ketahuan Berbohong
33
Ingatan Joandra
34
Kegilaan Joandra
35
Mengerjai Saraswati
36
Circle Diana
37
Kemyataan yang sebenarnya
38
Pembalasan memalukan
39
Bertemu Tante Anggia
40
Kilas balik donor darah Renata
41
Perlahan Terbuka
42
Dua situasi yang berbeda
43
Interogasi
44
Keputusan Joandra
45
Masih berprasamgka
46
Rencana Mama Joandra
47
Pasangan Alay
48
Menikmati Berdua
49
Rumor
50
Mama Joandra yang kejam
51
Mama Joandra yang kejam part 2
52
Masih Berlanjut
53
Kabar tentang mama
54
Harapan Sahabat
55
Musibah Joandra yang beruntun
56
Renata beneran pergi
57
Dendam mantan sahabat
58
Mengambil Sikap
59
Kenyataan yang menyedihkan
60
Hari kelam Diana
61
Karma
62
Dejavu Renata
63
Bertemu lagi
64
Bahagia
65
Takdir
66
Rencana Silvia
67
Akhir yang Kejam
68
Berakhir dengan Indah
69
Extra part 1
70
extra part 2
71
Pengumuman

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!