"Bagaimana keadaan putri anda yang bungsu?" tanya Ramsy Dirga ingin tau.
"Sudah lumayan membaik," jawab papa dengan wajah penuh syukur.
"Alhamdulillah."
Sudah hampir setengah jam berlalu tapi putra Pak Ramsy Dirga belum juga datang.
Untuk mengusir ketegangan, hidangan pembuka pun di tampilkan
Istri Ramsy Dirga tersenyum puas melihat keberanian putranya melawan papanya.
Tapi wajah suaminya tetap tenang, malah ngobrol santai dengan calon besan, seolah olah ngga ada masalah kalo pun putranya ngga jadi datang.
Sementara dirinya hanya diam saja, tidak sekalipun menegur calon besannya.
"Renata, om dengar sejak SMP, SMA, dan sampai kuliah, kamu lakukan dalam waktu sangat singkat. Hebat sekali," puji Ramsy Dirga tulus.
Renata tersenyum tipis mendengarnya.
"Iya, saya sebagai papanya pun ngga nyangka," aku papa Renata jujur.
Ramzy Dirga mengangguk anggukkan kepalanya.
"Putra Om, hanya kuliahnya saja yang cepat setahun. Dua bulan kemarin dia baru pulang," jelasnya bangga.
"Dia langsung jadi CEO, karena om ingin menikmati masa tua yang tenang," kekehnya hangat.
Papa dan mama juga ikit tersenyum. Begitu juga Renata.
"Om ingin kalian berdua cepat menikah, karena om.dan tante ngga sabar mau bermain dengan cucu. Sangat menyenangkan, ya, Pak Kurnia," tawanya lagi mengundang papa juga ikut tergelak.
Beliau akui, di umur yang sudah setua ini, kehadiran cucu pasti akan sangat menghibur.
Mama hanya tersenyum.tipis sambil melirik wajah kaku istri Ramsy Dirga.
Bagaimana Renata bisa bahagia dengan mertua yang ngga menyukainya, batin beliau galau.
Wanita ini terlalu angkuh. Beda dengan suaminya yang ramah, batin mama lagi dengan hati resah.
Renata yang mendengarnya hampir tersedak.
Cucu? Nikah saja belum pasti, batinnya mengoreksi. Karena putra Om Ramsy belum juga datang sampai.sekarang.
Hingga hidangan utama pun keluar.
"Silakan dinikmati. Putra saya lagi on the way. Katanya ada meeting mendadak," ucapnya menyilakan calon besan dan keluarganya menikmati suguhan menu yang sangat lezat dan beraneka macam.
"Pastilah sangat sibuk menjadi CEO di perusahaan yang sangat besar," jawab papa Renata mengerti.
Walaupun perusahaannya ngga sebesar Ramzy Dirga, beliau dan putra pertamanya juga sangat sibuk
Papa tanpa sadar menghela nafas panjang karena mengkhawatirkan keadaan putra pertamanya.
Pak Ramsy Dirga tersenyum lega karena calon besannya tampak ngga tersinggung dengan keterlambatan putranya.
Saat mereka semua sudah siap untuk mengambil masing masing makanan utama yang dihidangkan, sebuah suara berat terdengar menyapa mereka.
Renata yang tadinya menundukkan kepalanya, sontak mengangkatnya dan jantungnya berdebar kencang seperti dipacu saat menatap sosok laki laki sangat tampan dan gagah yang berdiri tegak dengan senyum tipisnya.
"Maaf, saya sangat terlambat."
Joandra akhirnya memutuskan untuk masuk ke dalan restoran setelah pengawal pribadi papanya menghanpiri mobilnya.
"Tuan muda, tuan besar dan tamunya sudah lama menunggu anda,' jelas Pak Bambang santun.
Dari tadi beliau mengawasi anak bosnya yang duduk diam di dalam mobil. Setelah mendapat instruksi dari bos besarnya, beliau pun menghampiri tuan mudanya.
Joandra yang sudah tau kalo pengawal pribadi papanya sudah mengawasinya sejak tadi, menurut tanpa suara.
Dia pun berjalan lunglai masuk ke dalam restoran.
Saat menyapa, tak sedikit pun Joandra melirik calon istrinya.
"Tidak apa, nak," sahut papa Renata ramah.
"Makasih, Om."
"Duduklah," ucap papanya lembut. Beliau tau saat ini istrinya sedang menatapnya kesal.
Ngga disangkanya kalo putranya akan datang juga.
Mama Renata baru kali ini melihat putra pertama keluarga Ramzy Dirga. Saat tampan dan terlihat sopan. Pantasan namanya sangat terkenal.sebagai calon mantu idaman. Dan siapa yang menduga kalo putrinya yang beruntung akan berjodoh dengannya.
Walaupun dengan tudingan menyakitkan, sebagai pelunasan pembayaran hutang.
Hanya saja di benak mama Renata selalu muncul pertanyaan yang ngga bisa beliau jawab.
Apa mungkin hanya karena hutang, sampai putra berharga mereka juga ikut jadi korban?
Sementara Renata kembali menundukkan kepalanya dengan resah dan dada mulai terasa sesak.
Kak Jo, batinnya ngga percaya. Ternyata Kak Joandra lah laki laki yang dijodohkan dengannya. Takdir mengajaknya berkelakar.
"Renata, bagaimana putra Om. Tampan, kan? Dia juga pintar loh," seloroh Ramsy Dirga kemudian tertawa bersama yang lainnya, minus mama Joandra.
Joandra langsung mengalihkan pandangannya dari papanya saat mendengar nama Renata yang terucap.
Renata memberanikan diri menatap mata yang hatinya pernah dia lukai sangat dalam.
Mata elang itu menyorot dingin dan tajam ke arahnya membuat Renata menelan salivanya kuat kuat.
Joandra benar benar ngga percaya, ternyata bisa memandang Renata lagi setelah sekian lama ngga mau tau lagi tentang gadis itu. Setelah kejadian yang menyakitkan dan sangat memalukan itu.
"Saya berencana menjadikan Renata sekretaris Joan, biar mereka tidak canggung saat nanti menikah," kata Pak Ramzy Dirga mengutarakan keinginannya.
"Ya, kalo mereka ngga keberatan," respon Papa sambil melihat putrinya.
Saat ini pun perusahaan utama mereka sudah diambil alih oleh perusahaan Ramzy Dirga. Hanya tinggal satu perusahaan kelas menengah saja yang sekarang dipimpin beliau.
Di situasi kesehatan putri bungsunya yang ngga menentu, papa Renata memang sudah ngga bisa bergerak dan berpikir seperti dulu.
Memilih merger dapat menyelamatkan ratusan kehidupan karyawannya. Papa Renata ngga bisa menutup mata akan kesulitan hidup para karyawannya, apalagi yang sudah berkeluarga.
"Bagaimana Joan?" tanya papanya-Ramsy Dirga sambil menatapnya.
Joan mengalihkan tatapannya sebentar pada papanya sebelum ke arah Renata. Menatap tajam.
"Aku setuju, pa," ucap Joandra tenang.
"Joandra sudah setuju. Kamu oke, kan, Renata? Belajar mengurus Joandra sebelum menikah?" seloroh Ramsy Dirga kemudian tertawa lepas bersama papanya.
"Iya, Pa, Om," sahut Renata sambil menatap papanya dan papa Joandra. Tidak berani menatap Joandra.
Jondra menarik sedikit sudut bibirnya, sinis, hanya sekilas. Dalam hati dia sudah merencanakan pembalasan sakit hatinya pada Renata.
Gadis yang dicinta sekaligus dibenci olehnya.
Seakan menyadari tatapan benci dari Joandra, Renata pun balas menatapnya. Sesaat mereka saling beradu pandang.
Maaf, sudah ngga sengaja membuat kamu terluka, kak, batin Renata sebelum menundukkan lagi pandangannya.
Dia kembali mengingat betapa marahnya Susan saat dia ngga datang menemui Joandra.
"Kenapa? Kenapa Renata? Sekarang percuma. Kak Joandra sudah ngga di sini lagi!"
Renata menatap Susan kaget.
"Papaku kecelakaan. Aku pulang sama mas Agam buru buru karena mau ke rumah sakit," jelas Renata. Nanti pun mas Agam akan menjemputnya untuk kembali menemani papa di rumah sakit
"Kenapa kamu ngga bilang?" tanya Susan kaget.
"Aku mau ke sana, tapi kata Diana biar dia saja yang ngomong ke Kak Jo," jelas Renata lagi.
Awalnya Renata mengira Joandra akan menyusulnya ke rumah sakit. Karena Renata sudah memginformasikan nama rumah sakit tempat papanya di rawat pada Diana. Ponselnya saat itu sudah off karena lowbat.
Susan diam, ada yang aneh di sini. Sepertinya ada potongan puzzle yang hilang.
Sejak saat itu Joandra ngga bisa dihubungi. Begitu juga teman temannya. Seperti sudah ngga mau lagi mengenal dirinya.
Renata merasa ngga mengerti karena ngga meras berbuat salah.
Tapi karena pikirannya sangat kalut memikirkan kondisi papanya, Renata malah ngga memikirkannya terlalu jauh penyebab Joandra dan teman temannya marah padanya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 71 Episodes
Comments
Deandra Putri
nah loh, beneran salah paham.. dibohongi temannya
2024-10-21
0
Taty Hartaty
tuh kan bener, temen nya boong
2024-09-12
1
💗vanilla💗🎶
brarti si diana nih biang kerok nya .. np jg msh pake kurir2 , gak komunikasi lsg hp ada 😁
2024-04-14
2