Renata menatap takjub pada kemampuan lambung Susan yang sanggup menghabiskan hampir sebagian hidangan. Dia masih menambahnya dengan es teler.
"Abis ini lo bakal nge gym berapa lama buat bakar kalori?" tanya Renata ngeri.
Susan malah tergelak gelak mendengarnya.
Tapi hari ini dia sungguh sangat lapar. Sang dosen killer begitu banyak tadi memberikan soalan kuis.
Sampai dia harus benar benar mengganti semua zat penting dalam tubuhnya setelah tadi banyak terkuras karena harus berpikir keras.
"Kamu ngga pesan es teler?" tanya Susan meledek sambil mengaduk es telernya yang tinggal separuh.
"Aku kenyang lihat kamu makan," tawa Renata akhirnya.
Susan pun kembali tertawa lagi.
"Kamu kerja di perusahaan papa kamu, ya?" tanya Susan sambil memperhatikan seragam Renata. Nampak sangat wah.
"Enggak," bantah Renata mulai ngga tenang. Dia takut pertanyaan Susan berikutnya. Renata ingin bohong tapi ngga bisa.
"Terus di mana? Ntar aku mau ikut ngelamar kalo sudah lulus."
Nah, kan.
Renata tertawa garing.
"Nanti kamu lamar aja di perusahaan papaku," katanya mengalihkan topik.
"Nggaklah, ngga ada kamu, ngga bisa santai aku kerjanya," kilah Susan kemudian tertawa lagi. Sangat ceria.
Renata mencoba ikut tertawa. Tapi lagi lagi dia merasa kalo tawanya garing.
"Jadinya kamu kerja di mana? Aku mau siapin CV. Tiga bulan lagi aku mesti magang," tanya Susan lagi.
"Mau tau aja atau tahu banget," ledek Renata untuk mengurangi ketegangan dalam hatinya.
"Becanda aja, nih. Ayo, dong, Ren. Masa maen rahasia," desak Susan manyun.
Kamu pasti kaget kalo tau, batin Renata yakin.
"Di perusahaan Baja Konstruksi Super," ucap Renata sambil menunduk.
"Baja Konstruksi Super," eja Susan perlahan.
Pernah dengar, batinnya.
Tapi di mana ya, batinnya lagi. Lupa.
"Kamu kerja sebagai apa? Lagian kamu aneh Ren, kan, papa kamu punya perusahaan, malah kerja di perusahaan lain," kilah Susan heran
Aku tuh ngga punya pilihan, bantahnya membatin.
"Aku emm.... jadi sekertaris bos," kata Renata mengaku.
"Wow,,, bisa nikah sama bosnya, dong," canda Susan terkekeh.
Renata tersenyum masam.
Andai kamu tau itu benar, batin Renata.
"Kamu punya kontak Diana? Dia sudah lama ngga membalas pesanku," kata Renata mengalihkan topik ngobrol.
Tepatnya tiga tahun, setelah Renata memulai kuliah.
Tawa Susan langsung surut Wajahnya nampak kesal.
"Jangan anggap dia teman kita lagi," ketus Susan berusaha menahan marah.
Renata menatap Susan aneh. Dia yakin dua sahabatnya sudah menyembunyikan sesuatu yang penting darinya.
Flashback
"Apa yang kamu katakan pada Kak Joan?" todong Susan krtika menemui Diana dan menyeretnya dengan paksa ke belakang perpus.
"Kamu apa an, sih," marah Diana sambil menarik lepas tangannya.
Susan menatap Diana tajam membuatnya salah tingkah.
"Katakan yang sebenarnya," geram Susan melihat sikap Diana yang sama sekali ngga merasa bersalah.
"Yang dipesan Renata lah," dustanya dengan nada tegas agar Susan mempercayainya.
"Kamu pikir aku percaya?" cibir Susan meremehkan.
"Terserah kamu mau percaya apa engga," ketus Diana sambil berbalik pergi.
"Kamu suka, kan, sama Kak Joan sampai nikung Renata," sinis Susan.
Diana menghentikan langkahnya dengan tubuh menegang. Tangannya terkepal menahan marah.
"Siapa yang nikung. Kalo kamu mau tau, Renata itu yang ngga jujur," sentak Diana sambil membalikkan tubuhnya kembali menghadap Susan.
"Bukan salah Renata kalo Kak Joan suka padanya. Lagian kamu salah. Aku tau Renata udah ngalah demi kamu."
Susan balas membentak Diana yang langsung pucat mendengar kata kata Susan yang memang benar.
Dia pura pura ngga mau tau perasaan Renata. Dengan ringannya dia mengatakan pada Renata kalo dirinya menyukai Kak Joan.
Diana juga tau, setelah itu Renata memilih mengabaikan segala perhatian Kak Joan, tapi bukan membuatnya sadar sudah jadi egois, malahan membuatnya sakit hati yang teramat parah.
Karena Kak Joan terus saja mencari perhatian Renata. Bahkan dirinya yang sudah bersikap sangat baik tapi ngga pernah dianggap sama sekali oleh Kak Joan
Kalo soal cantik, dia lebih cantik. Kalo soal kaya, dia lebih kaya. Dirinya hanya kalah dalan soal kepintaran saja. Diana menilai dirinya sendiri dalam hati.
"Entah apa.yang sudah kamu katakan pada kak Joan, aku harap kamu sudah puas sekarang," tandas Susan langsung melangkah pergi. Dengan sengaja Susan menabrakkan bahunya pada bahu Diana.
Kamu bukan sahabat, Di. Tapi kamu musuh dalam selimut, batin Susan mencaci maki.
end
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 71 Episodes
Comments
Suherni 123
tuh kan ada yang ga suka sama hubungan nya Renata - Joan
2023-02-08
1
Tri Widayanti
Musuh dalam selimut
2022-12-01
2
Lenkzher Thea
Keren
2022-11-19
1