TOK TOK
Renata menatap ke arah pintu ruangannya yang sudah terbuka.
Bu Inggrid tersenyum sambil menatap Renata yang juga membalas senyumnya.
Gadis itu meletakkan surat SP 1 nya saat Bu Inggrid mendekat. Karena sedari tadi Renata masih memegangnya sambil melamun.
"Udah selesai semua kerjaannya?" tanya Bu Inggrid sambil melihat tumpukan berkas yang tersusun rapi. Ada tablet di atas mejanya.
"Sudah, bu."
"Sudah kamu laporkan ke Pak Joandra?" tanya beliau sambil duduk
"Belum, bu. Apakah harus dilaporkan jika Pak Joandra ngga memintanya?" tanyanya lugu.
Renata juga segan untuk masuk ke ruangan Joandra. Sikapnya yang antipati membuat Renata ngga nyaman.
Bu Inggrid menghela nafas.
Kenapa bos besarnya selalu saja memberikan sekertaris yang ngga tau tugasnya apa? keluhnya dalan hati.
Dulu Prisila, sekarang Renata, tambahnya lagi dalam hati.
"Kamu sudah menyusun jadwal Pak Joandra hari ini?" tanya Bu Inggrid sabar.
"Sudah bu. Ada di sini," ucap Renata sambil menyerahkan tablet yang berisi sekumpulan kegiatan bosnya.
"Sudah kamu laporkan apa apa saja yang harus Pak Joandra lakukan?"
Kembali Renata menggeleng.
Fix, Renata benar benar ingin mendapat langsung SP 3, batin Bu Inggrid yakin.
"Renata, tiap pagi, kami wajib menghadap Pak Joandra dan mengatakan apa saja jadwalnya hari itu. Jika ada meeting, kamu harus mengingatkannya. Juga kamu harus mencatat poin poin penting selama meeting," jelas Bu Inggrid dengan.sabar.
Renata hanya bisa menganggukkan kepala sambil berucap singkat.
"Iya, Bu."
"Jika.kamu ingin pergi saat jam makan siang, kamu wajib ke ruamgan Pak Joandra dahulu dan memberitaunya. Sebaiknya kamu juga cari tugas tugas sekertaris lainnya di internet," tambah Bu Inggrid tajam dan menyindir atas sikapnya yang ngga profesional.
"Ya bu," jawab Renata sambil menunduk. Dia tau saat ini Bu Inggrid sedang memarahinya dengan gayanya yang anggun.
Sebenarmya Renata sudah cukup paham sedikit banyak yang harus dia lakukan. Hanya saja dia ingin mengajukan protes dalam diamnya pada Joandra.
Kenapa laki laki itu mengabaikannya?
Kenapa tetap mau bertunangan padahal sudah punya pacar cantik dan memiliki kekayaan yang sama dengannya?
Renata sudah tau identitas gadis yang bersama Joandra. Dia tadi sudah mengintip akun media sosialnya.
Banyak sekali foto fotonya bersama Joandra.
Hati Renata sedih melihatnya. Bibir Joandra terlihat ringan sangat tersenyum Bahkan ada juga foto saat Joandra sedang tertawa ngakak.
Apa mereka pacaran saat kuliah? batinnya menebak karena gadis itu kuliah di tempat yang sama dengan Joandra.
"Sekarang kamu ke ruang Pak Joan. Bawa berkas berkas itu," perintahnya sambil mengambil sepertiga tumpukan berkas di meja Renata.
Renata menurut dengan patuh sambil membawa sisanya dan berjalan keluar di belakang Bu Inggrit.
TOK TOK
"Masuk," terdengar suara Joandra menjawab
Bu Inggrid membuka pintu dan bersama Renata mendekat meja Joandra yang kini menengadahkan wajahnya menatap keduanya.
"Ini laporan laporan yang sudah diselesaikan Renata, Pak," lapor Bu Inggrir sambil meletakkan berkasnya di sudut meja yang kosong. Begitu juga Renata.
"Apa laporan ini sudah yakin benar?" tanya Joandra mengintimidasi.
Bu Inggrid agak pias mendengarnya. saking kesalnya dia lupa mengecek ulang berkas berkas itu. Beliau pun mengarahkan tatapan tajammya pada Renata
"Sudah, Pak," sahut Renata yang mengerti arti dari tatapan Bu Inggrid.
"Hem... Bu Inhgrid bisa keluar," usirnya dengan nada sopan.
"Ya pak," sahutnya sambil berjalan melewati Renata.
Renata yang mengira ucapan pengusiran itu juga untuknya, juga membalikkan badan bernaksud akan pergi.
"Kamu mau kemana, Renata?" tahan Joandra dingin.
DEG
DEG
DEG
Jantung Renata berdebar ngga seirama. Sudah lama ngga mendengar panggilan laki laki itu.
Bu Inggrid juga menghentikan langkahnya sejenak, melirik Renata sebentar, dan kemudian melangkah keluar dari ruangan sambil.menutup pintu.
"Buka berkas ini satu per satu. Yang mana saja yang harus saya tanda tangani," tukas Joandra tanpa mau melihat ke arah Renata. Tetap fokus pada laptopmya. Joandra lagi serius melihat pergerakan saham perusaahaannya.
"Baik, Pak," sahut Renata patuh.
Renata pun mengambil sebuah berkas dan mendekati Joandra dengan jantung berdebar kencang. Baru kali ini dia berdekatan dengan Joandra. Renata mengambil nafas hati hati, begitu juga saat menghembuskannya. Dia pun kemudian sedikit membungkuk sambil membuka berkas tersebut.
"Ini Pak," kata Renata sambil memberikan pulpen pada Joamdra.
Joandra meraihnya tanpa menoleh. Tapi saat akan menandatanginya berkas tersebut, lengannya tanpa sengaja bersentuhan dengan lengan Renata.
Saking gugupnya Renata hampir menjatuhkan berkas itu. Sentuhan itu mengingatkannya saat dia memberikan bola basket yang berhasil dihindari ketika Joandra dan teman temannya sedang bermain basket di jam istirahat
Itulah awal mula mereka berkenalan.
FLASHBACK
"Awaaasss!" seru anak anak basket kompak saat melihat lemparan Dilo yang membentur ring basket malah melayang dengan liar ke arah dia orang anak perempuan yang sedang mengobrol santai.
"Awas, Ren," seru Susan kaget melihat bola yang terbang dengan cepat ke arah mereka berdua yang baru saja sampai di lapangan basket.
Syukurlah gerak reflek Renata bisa dihandalkan, hingga bola itu sangat tipis melewati ujung hidungnya.
HUUFFTT
Terdengar banyak hembusan nafas lega ketika Renata berhasil menghindarinya.
"Syukurlah kamu ngga apa apa," seru Susan agak khawatir.
"Aku ngga apa apa, kok," balas Renata hangat.
Renata pun mengambil bola itu dan memberikannya pada seorang cowo yang merupakan kakak kelasnya dan kini ternyata sudah berada di hadapannya.
"Maaf," ucap Joandra saat menerima bola yang diulurkan Renata.
Renata hanya tersenyun sambil menganggukkan kepalanya. Seakan mengatakan ngga apa apa.
Tangan mereka yang bersentuhan sebentar, sanggup membiat aliran darah Renata terasa semakin kencang.
"Aku Joandra. Kamu siapa?"
"Renata."
Aku tau siapa kamu, kak, batin Renata. Siapa yang ngga mengenal Joandra, kakak kelasnya yang sangat favorit dan juga sangat populer di kalangan teman teman perempuannya.
"Ayo, Jo!" teriak Bisma dan Imam memanggil.
Joandra tersenyum sambil menatap lekat wajah Renata yang tampak tersipu.
Kemudian dia pun membalikkan tubuhnya meninggalkan Renata. Joandra pun merasa sedikit gugup hingga memilih lebih cepat kembali ke teman temannya yang sudah menunggu.
end.
Keduanya bersitatap sebentar, kemudian Joandra mengalihkan pandangannya lagi ke laptop.
Renata terpaksa meng-iyakan perintah Joandra. Dia pun bergerak agak menjauh.
"Mana lagi? Yang cepat, domg," semprot Joanda dingin tanpa mrnoleh pada Renata.
"Oh eh, iya, pak," sahut Renata gugup. Dia sedang berusaha keras menormalkan detak jantungnya. Kemudian mengambil berkas selanjutnya dan membuka lembarannya lagi untuk ditandatangani bosnya.
"Ini, pak," katanya masih grogi. Berdekatan dengan Joandra membuat kadar oksigen terasa menipis di sekitar mereka.
Dengan acuh ngga acuh Joandra menandatangani semua berkas yang disodorkan Renata.
Hampir setengah jam berlalu Renata masih dengan poaisi seperti itu. Agak membungkuk di samping Joandra.
Kedua kakinya terasa mau patah saking pegalnya dipaksa dalam posisi seperti itu terus. Apa lagi dia memakai heels yang cukup tinggi.
Renata melirik kesal pada Joandra yang seperti sengaja membuatnya.seperti sedang menerima hukuman yang ngga berkesudahan.
Tadi SP 1. Sekarang sengaja membuat kaki kaki aku pegal. Kamu kenapa, sih, kak?
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 71 Episodes
Comments
Deandra Putri
sebenarnya udh gak sabar, kapan moment salah paham ini akan berakhir...😢
2024-10-21
1
Erly Hafidz
terlalu byk flashback kak...agak menganggu
2024-01-27
1
Erlinda
ayo Renata jgn sibuk dgn pikiran mu sendiri dong..fokus aja dgn kerjaan mu...inilah yg aq ga suka melihat wanita yg katanya super cerdas ternyata lebay dan lemah hanya gara gara lelaki . hadeeeh kecewa aq thor..aq pikir Renata wanita yg tangguh dan bisa menahan hati nya biar ga lemah..ternyata...super lebay..aq kecewa dgn karakter renata
2023-02-04
5