Renata bisa bernafas kega ketika berkas terakhir selesai ditandatangi Joandra.
Dia pun meluruskan punggungnya yang sudah sangat pegal.
Tanpa kata Renata mengambil tumpukan berkas itu. Joandra seolah ngga peduli melihat kesusahannya
"Saya pergi, pak," pamitnya sopan sebelum melangkah pergi dengan hati menahan dongkol.
Tanpa disadari Renata, Joandra menatap punggungnya yang mulai menjauh.
Joandra sebenarnya ngga tega melihat Renata yang tampak kesusahan berjalan dengan tumpukan berkas di kedua tangannya.
Bahkan bibirnya tersenyum miring melihat Renata menggunakan sebelah kakinya untuk melebarkan pintu yang sudah sedikit terbuka untuk keluar dari ruangannya.
Tapi perasaan kesal di hatinya masih bercokol kuat.
Kenapa kamu ngga pernah bilang kalo kamu sudah punya pacar. Mengapa kamu memberikan aku harapan palsu? batin Joandra pahit. Senyumnya pun memudar.
Betapa malunya Joandra pada hari itu. Teman temannya sudah mempersiapkan dengan matang untuk pengungkapan perasaan cintanya pada Renata. Tapi apa yang dia lihat dengan mata kepalanya sendiri?
Renata dipeluk dengan mesra oleh seorang laki laki yang terlihat lebih tua beberapa tahun darinya.
Dia pun pulang dengan marah. Bahkan tantenya yang memintanya mengantarkan ke supermarket ditolaknya mentah mentah. Padahal dia tau tantenya kurang ahli menyupir. Hanya saja yang Joandra ngga tau kalo supir di rumahnya ngga ada semua di rumah.
Tantenya yang memaksa menyetir sendiri akhirnya ngga bisa mengelakkan dirimya dari tabrakan beruntun.
Tentu kabar itu sangat mengejutkan semua anggita keluarganya. Apalagi papa dan suami tantenya.
Walaupun saat itu ngga ada yang menyalahkannya, tapi Joandra terpuruk sendiri dalam penyesalan yang sangat besar dan dalam.
Bibirnya ngga henti hentinya menyuarakan permintaan maaf pada tantenya.
Ketakutan, rasa panik, air mata melanda anggota keluarga mereka. Biasanya segala urusan sangat mudah di atasi karena keluarga mereka memiliki sangat banyak uang dan harta. Tapi baru kini uang dan harta itu menjadi sangat ngga berguna.
Mereka hanya butuh satu kantong darah lagi saja, tapi itu terasa sulit untuk didapatkan.
Neneknya sudah menangis dan pingsan hingga perlu perawatan medis untuk jantungnya.
Dirinya sendiri hanya duduk berjongkok dan menutup wajah dengan lututnya penuh rasa bersalah.
Jika saja dia ngga terlalu larut dalam kesedihan akibat patah hati dan kemarahan karena dibohongi abis abisan okeh pujaan hatinya, pasti tantenya akan baik baik saja. Dia yang akan menyetir mobil itu. Bukan tantenya sendiri.
Mungkin ada kesempatan dia membawa tantenya keluar dari mobil dengan cepat hingga tantenya tidak akan kehilangan banyak darah.
Penyesalan tinggal penyesalan.
Tapi mukjizat datang lewat seorang gadis yang dengan suka rela menyumbangkan darahnya.yang langka tanpa meminta imbalan apa apa.
Joandra hanya tau kalo akhirnya mereka berhasil mendapatkan sekantong darah terakhir dari orang yang ngga dikenal.
Padahal saat itu papa dan suami tantenya menjanjikan satu milyar untuk pemberi darah tersebut.
Tapi hadiah itu ngga pernah diambilnya sampai sekarang
Empat tahun berlalu, ternyata papanya menyelidiki dengan intens. Dan yang mengejutkan, Renata lah sebagai penyumbangnya.
Dan jalan takdir membawanya dengan sangat mudah memiliki Renata.
Jondra bemci dijodohkan dengan oramg yang ngga dikenal. Tapi dia lebih benci lagi ternyata jodohnya adalah Renata. Walaupun nama itu msih belum.bisa dia hapus dari hatinya. Tapi kebenciannya sudah terlalu dalam.
Seorang Joandra yang hanya menjentikkan jarinya saja bisa mendapatkan perempuan cantik mana pun, ternyata berhasil dikibulin dengan sangat mudah.
Joandra berjanji akan membalas Renata dengan sangat rapi dan terstruktur. Dia akan memanfaatkan perjodohan ini untuk membuat Renata tersiksa.
Hutang orang tuanya puluhan milyar, jauh lebih banyak dari pada hadiah sumbangan darah dari papa dan omnya.
*
*
*
"Capeknya," keluh Renata setelah berada di luar ruangan Joandra.
Dia harus mendistribusikan segala berkas itu ke setiap departemen.
Renata merasa sedikit aneh akan tugas ini. Seakan akan dia sekertaris yang merangkap jadi OB.
Renata pun memutuskan menyerahkan semua berkas itu ke ruang HRD. Biar pegawai pegawai HRD saja yang mendistribusikannya.
"Eh, mba Renata bawa apa? Banyak banget?" tegur Lia ketika.melihat Renata masuk ke ruangan mereka dengan setumpuk berkas.
Dia pun membantu dengan mengambil separuh berkas itu dan meletakkannya di atas meja.
"Mba Lia, bisa bantu saya untuk memberikan berkas berkas ini pada tiap departemen?" tanya Renata setelah menaruhnya di atas meja. Begitu juga Lia.
"Oke, nanti saya akan menghubungi menejer tiap departeman untuk mengambilnya," sahut Lia setelah beberapa saat berpikir.
Si bos kenapa aneh sikapnya dengan sekertaris baru ini? Mengapa ngga memanggil pegawai HRD saja? Atau membiarkan laporan laporan ini di ruagannya seperti biasa, dan para menejer yang akan ke sana memgambilnya.Tapi dengan teganya menyusahkan sekertaris barunya. Baru juga dapat SP 1 dengan kesalahan ngga jelas. Batin Lia dipenuhi banyak tanda tanya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 71 Episodes
Comments
Nur Cahya
mb lia... anggep aja itu training jadi calon istri ceo
2023-04-05
2
Nur Cahya
sebenarnya waktu itu kakaknya yg jemput renata bukan pacarnya..
yg memanipulasi cerita itu si diana jo...
2023-04-05
1
Tri Widayanti
Salah paham berkepanjangan
2022-12-01
2