Ansell langsung bisa menemukan Nichole yang pingsan dan terikat di sebuah tiang kayu. Ia buru-buru melepaskan ikatannya dan ingin membawa Nichole pergi.
"Nichole, Nichole," ucap Ansell membangunkan Nichole sambil memeriksa setiap bagian tubuhnya. Wajah Nichole terlihat sangat pucat.
Memang tidak ada bekas luka apa pun di tubuh Nichole. Bekas ikatan tali juga tidak terlihat. Untungnya mereka tidak mengikat Nichole terlalu kencang.
Ia pun bisa bernapas lega setelah memastikan Nichole baik-baik saja.
Jika sampai ia menemukan goresan di tubuh Nichole, Ansell bersumpah akan langsung membunuh mereka semua. Mereka benar-benar berani menyentuh orangnya terlalu jauh.
"A-Ansell ...," gumam Nichole yang masih setengah sadar. Ia bisa merasakan sakit luar biasa di seluruh tubuhnya. Walau tidak ada luka luar, tapi tubuh dalamnya terasa mau remuk.
Sejak Ansell pergi, sejak saat itu Nichole diculik. Sudah hampir seharian Nichole diikat dan tak bisa melakukan apa pun.
Awalnya ia sedang sibuk mengurus dokumen-dokumen yang harus disiapkan untuk rapat. Sekretarisnya sedang cuti hari ini jadi Nichole mengerjakan semuanya sendiri.
Saat Nichole sedang asyik menyusun dokumen, tiba-tiba sekelompok lelaki tegap berbadan kekar memasuki ruangannya.
Nichole sempat melawan mereka. Namun, karena tubuh dan tenaga yang berbeda jauh, Nichole dengan mudah dibius oleh mereka.
Nichole tidak ingat apa-apa lagi setelah itu. Yang ia tahu saat bangun sudah tidak berada di kantornya lagi.
Saat Ansell ingin bicara dengan Nichole, tiba-tiba Julian datang dari luar dan langsung ingin berlari menerjang mereka.
Emosinya memuncak melihat Ansell masih hidup dan malah ingin membebaskan Nichole. Bahkan, Ansell terlihat baik-baik saja tak terluka sedikitpun.
"Julian! Jangan! Biarkan mereka pergi!" teriak Tom dari jauh. Ia panik melihat Julian tiba-tiba datang. Pasti Julian tidak tahu kekuatan Ansell jadi dia begitu berani ingin menghajarnya.
Julian begitu gegabah karena tidak bertanya pada ayahnya dulu. Ia merasa lebih hebat dari Ansell dan para preman yang disewa ayahnya. Ia tak berpikir jernih bahkan setelah melihat preman-preman yang pingsan dan berlumuran darah.
"A-apa? Kenapa, Ayah?" tanya Julian. Ia baru sadar ada ayahnya di sana. Tadi ia emosi setengah mati tanpa melihat situasi. Dalam pikirannya saat itu, ia hanya ingin menghabisi Ansell.
Saat ia ingin berhenti, sudah terlambat. Ansell yang langsung menyadari kedatangan Julian, ia menyambutnya dengan memelintir tangannya hingga patah.
"Arrgghhh, tanganku!" teriak Julian kesakitan. Tidak ada setetes darah pun yang keluar dari tangan Julian, tapi bisa dipastikan tulang dalamnya sudah patah.
Selain tangan, Ansell juga mematahkan lehernya hingga Julian merosot ke bawah dan kehabisan napas. Kepalanya hampir putus dari tubuh. Seluruh badannya hancur dan ia sudah meninggal.
Namun, Julian tak terlihat terluka jika dari luar. Ansell hanya menyerang tubuh bagian dalamnya dengan teknik rahasia.
"Cih, serangga pengganggu," ucap Ansell membersihkan tangannya. Ia tak berpikir panjang lagi untuk membunuh Julian. Serangga kecil sepertinya bisa ditangani dalam beberapa menit.
"Ansell!" teriak Nichole yang telah sepenuhnya sadar. Ia sedikit merasa syok karena Julian terbunuh. Namun di sisi lain, ia juga merasa Julian pantas mendapatkannya.
Ansell langsung berlari ke arah Nichole dan memeluknya erat. Ia melepaskan total ikatan tali di tangan Nichole. Ia tak ingin membuat Nichole takut karena melihatnya membunuh orang.
"Nichole, maafkan aku. Aku tak bisa menjagamu. Karena aku kau jadi seperti ini," ucap Ansell penuh penyesalan.
Ia sudah meninggalkan Nichole selama 5 tahun, tapi saat ia sudah kembali saja tidak bisa melindungi Nichole. Lalu, bagaimana keadaan Nichole selama ini selama ia di penjara?
Pasti Nichole benar-benar menderita.
Ansell merasa gagal menjadi seorang pria. Ia tak bisa melindungi keluarga maupun wanitanya.
"Tidak, Ansell. Ini bukan kesalahanmu. Sudahlah, sekarang aku sudah selamat. Jangan menyalahkan dirimu lagi," ucap Nichole mencoba menenangkan Ansell.
Ia tak merasa ini kesalahan Ansell. Ia hanya ingin menyalahkan dirinya sendiri karena tak bisa menjaga diri sehingga membuat Ansell khawatir.
Padahal, Nichole sudah memberontak sekeras mungkin saat mereka melakukan penculikan. Nichole tidak tahu bagaimana orang-orang itu bisa masuk ke perusahaan padahal keamanan di sana sangat ketat.
Pasti mereka sudah bekerjasama dengan orang dalam perusahaan.
"Apakah tubuhmu ada yang terluka?" tanya Ansell memastikan. Walau ia sudah memeriksanya sendiri, tetap saja ia perlu jawaban Nichole.
"Tidak, tapi aku merasa tubuhku akan hancur," jawab Nichole murung. Ia sudah sangat lemas sekarang. Ia sempat dibanting oleh mereka saat mencoba melawan. Untung saja tidak terlaku kuat.
Namun, saat ia diikat tali seharian, ia benar-benar merasa lelah. Tidak tahu apa yang ada di tali itu.
Ansell buru-buru mengeluarkan sebotol cairan obat untuk Nichole, "Minum ini. Habiskan dalam sekali teguk. Obat ini bisa memulihkan keadaanmu."
Nichole mengangguk dan langsung meneguk habis obat pemberian Ansell.
Ajaibnya, tubuhnya langsung bugar kembali. Rasa sakit yang sejak tadi ia rasakan juga hilang. Wajah pucatnya perlahan kembali ke warna aslinya.
Nichole benar-benar sudah sehat.
"Ansell, obat ini ajaib! Dari mana kau mendapatkannya? Pasti harganya sangat mahal. Aku langsung sehat setelah meminumnya," ucap Nichole terkagum-kagum.
"Jangan pikirkan hal itu. Yang penting kondisimu sudah membaik," jawab Ansell santai. Ia belum memberitahu Nichole tentang kemampuannya.
Sedangkan Tom di sana sedang menangisi kematian Julian. Ia memeluk tubuh Julian yang mulai kaku. Wajahnya membiru dan dingin.
"Julian! Jangan pergi! Jangan tinggalkan ayah. Apa yang harus aku katakan pada ibumu? Bagaimana kami bisa hidup tanpamu?" teriaknya histeris. Ia benar-benar tak menyangka malah anaknya yang mati hari ini.
Ia sudah mempertaruhkan banyak hal untuk hari ini. Ia mempertaruhkan segalanya agar Ansell bisa mati.
Namun semuanya sia-sia. Ia lah yang kehilangan putranya.
Rasa dendam Tom semakin meningkat. Ia menatap Ansell tajam dengan ekspresi marah.
"Kau pembunuh! Kau pantas masuk penjara!" teriak Tom meluapkan emosinya. Ia merasa sedih dan marah dalam satu waktu.
Tiba-tiba, para preman yang tadi pingsan kembali datang ke tempat penculikan. Walau keadaan mereka tidak sebaik tadi, tapi mereka masih mau bertarung.
Tom yang melihat para preman itu tak ingin membuang kesempatan. Ia tetap akan membunuh Ansell hari ini juga.
"Kalian untuk apa berdiri di sana? Serang dan bunuh dia! Siapa pun yang berhasil membunuhnya, aku akan memberikan 10 juta!" teriak Tom pada para preman yang berbaris di sana.
Para preman itu pun segera maju dan ingin menghabisi Ansell. Senjata yang tadi terlempar ke sana ke mari sudah kembali ke pemiliknya.
"Hyaaaa!!!" teriak mereka semua, berlari maju menerjang Ansell.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 93 Episodes
Comments
Kristina Mangisu
skip skip karena malas baca pembhasan terllu panjang. kurang seru di baca.
2023-10-12
0
"@Lv
#mantulauthor
2023-04-20
2
"@Lv
#authormantul
2023-04-20
2