Ansell dan master tua belum mulai bertarung. Julian dan Tom terlalu banyak bicara omong kosong.
Ansell menatap malas master tua itu. Ia mengenal semua orang yang ada di peringkat dunia, termasuk master tua itu. Walau si master masuk 200 besar, tapi ingatan Ansell tentang orang-orang di peringkat tak perlu diragukan.
Ia begitu benci dengan orang-orang yang sombong dengan peringkat mereka. Padahal, peringkat itu hanya angka bagi Ansell.
Memang untuk masuk peringkat dunia begitu sulit. Untuk mendapat peringkat 500 saja susah. Jika master tua berada di peringkat 152, artinya ia memang kuat.
Namun, kesombongan itu bisa menghancurkannya sendiri.
Ansell berkata dengan nada mengejek, "Orang yang diakui kekuatannya hanya sampai peringkat 100. Dan kau? Peringkat 152? Hahaha, artinya kau sampah!"
Master itu tercengang. Tiba-tiba ia merasa Ansell bukanlah orang biasa.
Hanya sedikit orang yang tahu rahasia itu. Walau ia mendapat peringkat 152, tetap saja yang dihargai adalah orang mulai dari peringkat 100.
Ia juga sadar jika ia bukan siapa-siapa dibandingkan yang lain. Namun, ia tidak sadar jika Ansell adalah peringkat 1.
Ia tetap berani melawan Ansell.
"Apa maksudmu? Apa kau tidak tahu jika memasuki peringkat dunia adalah hal tersulit? Berani sekali kau menyebutku sampah!" ucap master tua itu tidak terima dengan penghinaan Ansell.
"Ansell kau jangan terlalu sombong! Kau itu tidak tahu apa-apa tentang peringkat dunia. Jangan pikir ia hanya preman jalanan dalam bayanganmu," ucap Tom marah. Jika sampai Ansell tidak juga takut dengan master tua, artinya Tom tidak bisa berbuat apa-apa.
"Kau tenang saja. Aku akan menghabisi anak kecil sombong ini," ucap master tua.
Tanpa berpikir panjang lagi, ia langsung menerjang Ansell dengan mengayunkan kapaknya. Namun, Ansell dengan gesit menghindari setiap serangannya.
Ansell melompat ke sana ke mari seolah tubuhnya sangat ringan. Ia membaca setiap gerakan musuh dengan tepat. Selain menghindari kapak, sesekali ia juga memberikan serangan mendadak.
Hal itu membuat master tua tak bisa membaca teknik Ansell.
"Jangan terlalu kaku. Kau bilang mengambil peringkat dunia itu sulit, kan? Lalu mengapa aku seperti bertarung dengan anak kecil sekarang?" ucap Ansell memainkan emosi si master tua.
Ia tahu si master tua tak memiliki mental sekuat itu.
Walau Ansell tak memiliki senjata, tapi ia punya teknik rahasia untuk melemahkan lawan. Jurus yang selama ini ia pelajari juga ada yang bisa langsung membunuh lawan.
Jarang sekali orang memakai teknik ini. Untuk menghindarinya juga memerlukan latihan khusus. Jadi, serangan Ansell mustahil meleset.
Ansell mengambil celah dari master tua itu dan menekan tiap titik lemahnya. Master tua itu terjatuh dan kapaknya terlempar hampir mengenai Tom.
Tom yang melihat langsung kejadian ini langsung bergidik ngeri. Ia buru-buru menjauh dari tempat kejadian. Ia tidak ingin menjadi korban yang mati mengenaskan.
"Sial! Hey, master tua! Jangan asal mencampakkan kapakmu! Aku bukan orang yang harusnya kau bunuh!" teriak Tom marah.
Sedangkan pertarungan Ansell dan master tua itu masih berlanjut. Namun, keadaan master tua sudah sangat memprihatinkan. Bahkan ia tak sempat menjawab umpatan Tom.
Ia sudah dipermainkan oleh Ansell, malah dibuat tambah emosi oleh Tom. Ia hanya menonton, tapi banyak sekali bicara.
Master tua itu sudah tak memegang kapaknya lagi. Napasnya juga sudah tidak teratur dan keringat sebesar jagung mulai bercucuran. Ia benar-benar merasakan apa itu pertarungan.
Saat ingin mendapat peringkat dunia, master tua berlatih siang malam tanpa henti. Ia bertarung dengan para preman untuk meningkatkan kemampuan bertarungnya.
Ketika tiba saatnya menghadapi tes peringkat dunia, tubuh master tua termasuk yang paling besar. Banyak peserta yang langsung takut dengan fisiknya.
Namun, saat ia mencapai 500 besar, mental para peserta tidak selemah sebelumnya. Ia sudah mulai bertarung dengan serius dan sedikit kewalahan.
Masuk ke 300 besar juga semakin berat baginya. Namun, karena ada beberapa peserta yang cidera parah dalam pertarungan dan gugur, ia bisa langsung lompat ke peringkat 200.
Untungnya kekuatan fisik master tua tidak langsung habis. Ia masih bisa bertarung sampai akhirnya ia kalah di peringkat 152.
Ia masih ingat betapa beratnya mencapai peringkat itu. Namun, bertarung dengan Ansell sebentar saja rasanya lebih berat dari hari itu. Master tua benar-benar tak bisa bertahan lama.
Ansell menghajarnya tanpa ampun.
Akhirnya, ia memuntahkan darah dan pingsan. Tubuh master tua terlempar dan membuat para preman pingsan yang ada di sana juga pada berterbangan karena kuatnya energi pertarungan Ansell.
Setelah selesai bertarung, Ansell menghampiri Tom dan menanyakan di mana keberadaan Nichole.
"Kau sudah puas melihat orang-orang ini jatuh, kan? Di mana Nichole?" tanya Ansell dingin sambil menatapnya tajam.
Ia sudah terlalu membuang-buang waktu menghadapi mereka semua. Nichole harus ia selamatkan sekarang.
"Di ... di sana ...," Tom gemetar sambil menunjuk ke arah keberadaan Nichole. Ia tak berani lagi mengulur waktu, apalagi tidak memberitahu tempat Nichole dikurung. Jika ia melakukan itu lagi, mungkin ia akan menjadi target Ansell selanjutnya.
Ia benar-benar tak habis pikir dengan kekuatan Ansell. Tadi ia bisa mengalahkan 30 lebih preman yang memakai senjata dengan tangan kosong. Sekarang, ia bisa mengalahkan seorang master yang berada di peringkat 152 dunia.
Seberapa kuat Ansell sebenarnya?
Apakah Ansell menjadi lebih kuat setelah keluar dari penjara? Namun, mengapa itu bisa terjadi? Apa yang di hadapi di penjara?
Sedangkan Ansell pun dengan segera berlari untuk menyelamatkan Nichole. Tom yang tidak tahu malu malah mengikuti Ansell.
"Ansell, tunggu aku!" teriak Tom. Ia mencampakkan kapak yang ada di dekatnya dan berlari tertatih-tatih.
Ia tidak ingin rencananya gagal total. Walau Ansell sudah mengalahkan seluruh orang yang dia sewa, tetap saja ia tak ingin Ansell mengambil Nichole juga.
Ia sudah sampai sejauh ini dan kehilangan banyak uang. Jika sampai gagal, maka semuanya jadi sia-sia.
Salahnya juga karena terlalu meremehkan Ansell. Namun, ia juga sudah menyewa master peringkat dunia untuk kemungkinan terburuk. Tapi tetap juga kalah.
Sedangkan Julian yang baru saja kembali, ia melihat sudah banyak orang yang pingsan dan bersimbah darah. Ia berpikir salah satu orang itu adalah Ansell.
"Hahaha, kau sudah mati, Ansell! Sekarang aku sudah bisa memiliki Nichole seutuhnya," gumam Julian sambil tertawa kencang. Ia pun segera menuju ke ruangan tempat Nichole ditahan tanpa mengecek yang mana tubuh Ansell.
Yang ia tahu sekarang, Nichole sudah di genggamannya. Namun, ia melupakan kata-kata ayahnya jika ia tak akan langsung membunuh Ansell.
Jika ia menganggap Ansell terbunuh, maka ia salah.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 93 Episodes
Comments
"@Lv
#mantulauthor
2023-04-19
3
"@Lv
#authormantul
2023-04-19
2
MyOne
Ⓜ️🫣🤣🫣Ⓜ️
2023-02-11
1