Di ruang rapat perusahaan.
Nichole merasa lelah fisik dan mental. Kantung matanya terlihat sedikit jelas. Wajahnya agak kusam dan bibirnya sedikit pucat. Pikirannya juga sangat kacau.
Ia benar-benar hampir depresi.
"Progres perusahaan terus menurun. Jika aku membiarkan hal ini dan tidak mengambil tindakan, maka perusahaan akan bangkrut. Aku tidak mungkin menyia-nyiakan perusahaan yang sudah aku kelola selama 5 tahun. Terlebih lagi Ansell akan kecewa jika aku gagal melakukan ini," lirih Nichole.
Ia menghela napas berat.
Tidak hanya memikirkan masalah keluarga, Nichole juga masih harus memikirkan masalah perusahaan. Walau Ansell sudah kembali, tetap saja semua tanggung jawab masih berada di tangan Nichole.
Sebenarnya beban Nichole di perusahaan begitu banyak. Ia harus mengurus segala hal, mulai dari hal kecil sampai hal besar. Nichole benar-benar berusaha keras agar perusahaan yang ia bangun bisa berkembang pesat.
Oleh karena itu, ia sibuk mencari kerja sama dengan banyak perusahaan yang bisa mendongkrak perusahaan mereka. Ia benar-benar bertekad agar perusahaan ini maju. Ia tak ingin mengecewakan Ansell yang sudah memercayakan perusahaan padanya.
"Aku harus lebih bekerja keras kali ini. Aku tidak akan menyerah karena sudah sejauh ini," ucap Nichole menyemangati dirinya sendiri.
Di ruangan, seorang direktur perusahaan koperasi akan bernegosiasi dengan Nichole. Ia adalah mitra bisnis yang dikenalkan oleh paman keduanya.
"Pasti sulit menghadapi orang ini. Kiriman paman kedua tidak pernah ada yang baik," gumam Nichole.
Setelah membereskan beberapa berkas, Nichole menghampiri direktur itu dengan sopan. Ia duduk dengan anggun dan bertanya, "Selamat datang, direktur, di perusahaan kecil kami ini."
Direktur itu tertawa, "Jangan merendahkan diri. Aku merasa terhormat bisa datang ke tempat ini."
"Lalu, apa kita akan membicarakan bisnis hari ini?" tanya Nichole tersenyum lembut. Ia masih bisa menghadapi direktur itu dengan sopan.
Direktur menjawab dengan kalimat penuh pujian, “Nona, Anda adalah wanita yang cerdas dan berprestasi. Bakat Anda diakui di manapun. Anda pasti bisa melihat peluang besar jika bekerjasama dengan kami. Jadi, sebaiknya Anda menerima tawaran kami.”
Direktur menjelaskan tawaran dari perusahaan mereka panjang lebar. Ia juga memberikan dokumen tebal ke Nichole. Kemudian, ia kembali menceritakan detail tawarannya.
Nichole membaca semua dokumen itu dengan teliti sambil tetap mendengarkan penjelasan direktur.
Awalnya ia masih bisa senyum membaca halam pertama. Namun, semakin banyak ia membaca dan mendengar, semakin berkerut pula dahinya.
Tawaran ini benar-benar merugikan!
Nichole memijat pelipisnya dan menjawab, “Jika aku menerima tawaranmu, maka kami tidak akan mendapat apa-apa selama dua tahun. Hal itu akan merugikan perusahaan kami. Aku tidak bisa menerima kerja sama yang malah akan menjatuhkan perusahaan. Namun, jika Anda masih mau merubah tawaran, maka bisa jadi aku bersedia.”
"Aku tetap pada penawaranku. Itu adalah penawaran terbaik yang pernah aku buat. Jika aku mengubah penawaran, kerja sama ini tak bisa terjadi. Aku juga tidak ingin memaksa perusahaanmu," jawab direktur itu.
"Kami juga bukan perusahaan yang akan menerima kerugian dengan sukarela. Coba Anda pikirkan berapa banyak kerugian yang kami terima jika bekerjasama dengan perusahaan Anda," tegas Nichole tetap pada penolakannya.
"Aku sudah bilang jika itu adalah penawaran terbaik. Jika perusahaan kalian merasa rugi, maka target kerja sama kami bukan kalian," ucap direktur sombong.
"Jika memang target kalian bukan perusahaan kami, lalu untuk apa penawaran merugikan ini kalian berikan pada kami?" tanya Nichole langsung.
Ia berhenti sejenak dan melanjutkan, “Biar aku tebak. Pasti paman keduaku telah memberikan tawaran besar padamu sehingga Anda mau membuat kesepakatan ini."
Ia sudah bisa membaca taktik mereka. Hal ini biasa ia temui selama berbisnis. Apalagi paman keduanya adalah orang yang picik.
Menebak langkahnya adalah hal yang mudah.
Dari awal pamannya mengenalkannya pada direktur itu, Nichole sudah memiliki firasat buruk. Dan ternyata firasat buruknya itu benar.
Direktur itu tersenyum dan langsung mengakui, “Benar. Kau memang benar-benar wanita cerdas. Aku dan paman keduamu sudah bekerjasama dan dia memberikan penawaran besar padaku. Jika kau diberi ikan gratis, tentu tidak akan menolak, kan?”
Sebelumnya, direktur sudah bicara pada paman kedua Nichole. Mereka adalah rekan lama. Paman kedua Nichole meminta bantuannya agar perusahaannya bisa bekerjasama dengan Nichole.
Awalnya direktur menolak ajakan itu. Ia merasa perusahaan Nichole terlalu kecil dan tidak akan memberi manfaat untuk perusahaannya.
Namun, tawaran yang diberikan paman kedua Nichole begitu menggiurkan. Hal inilah yang membuat direktur menyetujui rencana paman kedua Nichole.
Jika bukan karena paman kedua Nichole, direktur itu tidak akan bekerjasama dengan perusahaan mereka. Bahkan, direktur tidak pernah tahu tentang perusahaan Nichole.
"Jadi, Anda sudah menerima tawaran besar, tapi masih juga ingin menguras perusahaan kecil kami ini? Anda terlalu serakah. Atau mungkin Anda tidak mampu bekerjasama dengan perusahaan besar karena itu menggerogoti perusahaan kecil?" Nichole tidak ingin kalah dengan ucapan tajam direktur.
"Kau bisa berkata apa pun yang kau mau. Terakhir kali aku katakan, aku tidak akan mengubah penawaran. Jika kau tidak mau menerima tawaran, artinya kau tidak ingin bekerjasama," ucap direktur tetap tersenyum, seolah tidak terpengaruh dengan ucapan Nichole.
"Sekali lagi aku juga mengatakan padamu jika aku tidak akan menerima kerja sama yang merugikan perusahaan kami," tegas Nichole.
Senyum memuji direktur berubah menjadi ejekan, “Aku pikir kau sangat cerdas. Namun, setelah aku berpikir ulang, kau itu bukan wanita cerdas melainkan wanita licik. Kau hanya memikirkan keuntungan untuk perusahaanmu sendiri. Kau juga tak bisa melihat peluang besar ini. Pola pikirmu benar-benar bodoh. Dulu aku ingin bekerjasama denganmu karena kau cantik. Namun, kecantikanmu itu tidak ada artinya lagi bagiku jika kau menolak tawaranku."
Setelah mengatakan itu, ia bersiap pergi.
"Jika kau tak bisa menerima tawaran kami, maka jangan harap kerja sama ini akan terjalin. Kami tak ingin bekerjasama dengan pemimpin perusahaan egois yang hanya memikirkan keuntungan sendiri, tidak memedulikan tawaran mitra bisnis," ucap direktur sinis.
Direktur dengan mudah memujinya di awal dan melontarkan hinaan tanpa malu di akhir. Ia benar-benar manusia bermuka dua yang sangat berpengalaman.
Ia berpikir Nichole akan menghentikannya dan memohon agar mereka bekerjasama. Ia selalu percaya diri dengan cara ini.
Namun, Saat direktur akan keluar ruangan, ia melihat Ansell berdiri di ambang pintu.
Nichole terkejut sekaligus senang melihat kehadirannya. Ia berkata dengan suara agak lantang, “Ansell, bagaimana kau bisa ada di perusahaan?”
Ansell menjawab dengan tenang, “Aku selalu beruntung selama bertahun-tahun.”
Direktur menatap Ansell lekat-lekat, menunjukkan aura permusuhan. Ansell pun membalas dingin tatapannya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 93 Episodes
Comments
Awaludin Amrun
Nice 🤩
2023-04-26
2
"@Lv
#mantulauthor
2023-04-19
2
"@Lv
#authormantul 👍
2023-04-18
3