Tom merasa sangat marah melihat Ansell yang ternyata tidak takut dengan ancamannya. Padahal, ia ingin membuat Ansell panas dan emosi. Sekarang malah ia yang emosi.
"Kau begitu percaya diri. Kau akan mati hari ini!" teriak Tom emosi. Kali ini ia tak ingin mengulur waktu lagi. Sepertinya Ansell tak akan bisa dibuat emosi.
Ia pun melambaikan tangan dan menyuruh preman yang telah disiapkannya untuk maju menyerang Ansell.
"Keluar kalian! Bunuh dia!" perintah Tom pada mereka.
Sekelompok orang kekar dan tegap bertato masuk ke dalam ruangan. Mereka membawa senjata masing-masing dan dipimpin oleh seorang pria seperti raksasa di depan.
Tubuh mereka begitu besar dan berotot.
"Maju!" ucap pemimpin preman itu.
Tiga puluh lebih preman pun langsung maju ingin menerjang Ansell. Mereka melayangkan senjata masing-masing. Satu persatu dari mereka lari dan melompat ke arah Ansell.
Ansell menerima kehadiran mereka sambil menggulung lengan baju. Ia menunduk dan menyeringai dingin.
Ketika para preman itu sudah semakin dekat, Ansell melompat dan menerjang mereka semua. Ia tak gentar dengan senjata-senjata yang dibawa. Ia bergerak gesit ke sana ke mari menghindari dan memberi serangan.
Ansell terlihat lincah dan lihai dalam bertarung, seolah ia hanya melawan sekelompok anak-anak yang tidak seimbang kekuatannya.
Akhirnya, seluruh preman itu berhasil dijatuhkan oleh Ansell.
Tom begitu tercengang melihat kekuatan Ansell. Padahal, semua preman yang ia pilih adalah yang terbaik dan ia sudah sangat hati-hati dalam mempersiapkan hari ini.
Namun, Ansell malah tak tersentuh sama sekali. Bahkan para preman itu pingsan. Senjata mereka tak ada harga dirinya di depan Ansell. Tubuh mereka yang besar kalah dengan Ansell. Padahal mereka tidak menyerang sendiri-sendiri, tapi Ansell tetap bisa menghadapi mereka yang keroyokan.
"Di mana Nichole?" tanya Ansell berjalan ke arah Tom. Wajah tampannya tak terlihat kelelahan sama sekali padahal baru saja bertarung melawan banyak orang.
Bahkan setetes keringat juga tidak keluar dari tubuhnya.
Bagi Ansell, para preman itu hanya latihan kecil baginya. Saat ia menjalani latihan di penjara dulu, ia harus melawan ratusan orang. Walau awalnya ia babak belur, tapi semakin hari kekuatan Ansell semakin meningkat.
Ia bisa mengalahkan ratusan orang sendirian.
"Hahaha, aku tidak akan memberitahumu," jawab Tom tertawa garing mencoba menutupi rasa terkejutnya. Ia mundur perlahan karena takut dengan Ansell.
Jika para preman yang bertubuh besar dan membawa senjata saja bisa dikalahkan oleh Ansell, apalagi ia yang tangan kosong dan tak memiliki kekuatan apa pun.
"Walau kau sangat kuat, kau tetap akan mati hari ini!" ucap Tom. Ia mengambil ponsel dan menelepon seorang master tua untuk memberi pelajaran pada Ansell.
"Halo, kau di mana? Kau sudah bisa masuk," perintah Tom. Ini adalah rencana terakhir dan cadangan jika Ansell belum juga bisa dikalahkan.
Ia tak pernah berpikir tentang hal ini jika orang di belakangnya tidak memperingatkannya. Tom adalah orang sombong yang mudah meremehkan musuh.
Untungnya Tom menuruti orang itu. Jadi, setidaknya ia masih punya harapan untuk mengalahkan Ansell.
*
Tak lama setelah itu, master tua itu datang. Wajahnya besar dan kekar. Ia membawa kapak di tangannya. Rambutnya yang panjang di kucir kuda.
Ia berjalan menuju Ansell.
Lantai agak bergetar ketika master tua itu jalan. Saat di depan Ansell, ia terlihat seperti raksasa melawan manusia.
"Aku adalah master dengan peringkat 152 dunia, hahaha. Kau akan mati dengan terhormat hari ini karena aku yang akan membunuhmu," ucap master tua itu sombong dengan peringkatnya.
Tom mengenal master itu dari orang di belakangnya. Tom yang baru tahu jika ada peringkat-peringkat seperti itu awalnya terkejut. Apalagi peringkat ini memang diakui banyak orang.
Namun, bayaran master itu tentu lebih mahal. Lebih tinggi 10 kali lipat daripada membayar 30 preman. Tom benar-benar habis-habisan uang kali ini demi membunuh Ansell.
Master tua itu juga baru-baru saja mendapat peringkat. Sejak muda, ia selalu kalah dengan orang-orang di generasinya. Setiap ada pertandingan dunia, ia tak pernah absen mengikutinya.
Namun, ia tak pernah lolos 200 besar. Ini adalah peringkat tertinggi yang pernah ia dapat selama hidup.
Ansell hanya menggaruk telinganya seolah ucapan master tua itu tidak penting. Padahal, ia hanya berada di peringkat 152. Sangat jauh jika dibandingkan dengan peringkat Ansell.
Namun, dia masih berani menyombongkan diri di depan Ansell.
Pada saat ini, Julian datang dan menghampiri ayahnya. Ia sudah menunggu saat ini tiba dengan tidak sabar. Jika Ansell mati, tidak hanya perusahaan yang akan menjadi miliknya, tapi Nichole juga.
Tetapi ia terkejut melihat Ansell baik-baik saja.
"Ayah, mengapa dia belum mati juga?" tanya Julian yang melihat Ansell masih berdiri santai. Bahkan tak ada lecet sedikitpun di badannya.
Padahal, para preman sudah tergeletak pingsan di lantai.
"Halo, sepupuku. Kita bertemu lagi," sapan Ansell sambil menyeringai.
Emosi Julian memuncak melihat kesombongan Ansell, "Kau beruntung kali ini!"
Julian kembali bicara pada ayahnya.
"Apa dia mengalahkan semua preman?" tanya Julian tidak percaya. Para preman di lantai terlihat mengenaskan. Sepertinya ada beberapa di antara mereka yang sudah mati, tapi kebanyakan pingsan.
Ia sudah setuju dengan ayahnya jika ia tak akan turun tangan sendiri kali ini. Ia juga mengagumi rencana ayahnya dan sangat yakin jika Ansell akan mati.
Namun pemandangan yang dilihatnya sekarang, Ansell belum mati dan benar-benar terlihat sangat santai.
"Dia memang mengalahkan semua preman, tapi aku sudah mengundang master peringkat dunia. Kau jangan khawatir," jawab Tom santai.
"Lalu, apa lagi yang ditunggu? Mengapa tidak langsung membunuhnya saja?" tanya Julian tidak sabaran. Ia terpana melihat master tua yang membawa kapak itu. Bahkan ia sedikit takut walau master itu tidak akan membunuhnya.
"Aku tak akan langsung membunuhnya. Aku akan membiarkannya setengah hidup agar ia bisa melihat kau memanjakan Nichole, hahaha. Bukankah itu yang kau inginkan, Julian?" jawab Tom licik. Ia juga punya banyak rencana lain yang telah dipersiapkan.
Selain ingin membuat Ansell mati perlahan, ia juga ingin membuat Ansell menderita sebelum mati. Rencananya begitu kejam dan sadis.
"Hahaha, rencana ayah memang selalu yang terbaik," ucap Julian puas dengan jawaban ayahnya. Ayahnya memang selalu tahu apa yang diinginkan anaknya.
Selama Nichole bisa bersama dirinya, Julian akan tetap berusaha keras. Ia akan menjadikan Nichole miliknya seutuhnya. Selain menyukai Nichole, ia juga ingin membalas dendam pada Ansell.
Sekarang, ambisinya untuk mengalahkan Ansell akan tercapai. Ia tak perlu turun tangan langsung untuk bisa membunuhnya. Selagi ia memiliki uang, ia bisa mengendalikan orang dengan uang.
"Ayah, aku akan kembali. Aku tunggu kabar baik di sini," ucap Julian pergi.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 93 Episodes
Comments
"@Lv
#mantulauthor
2023-04-19
3
"@Lv
#authormantul
2023-04-19
2
mama yuhu
keluarga lucknut.. gara-gara harta saling membunuh
2023-03-03
3