Alexia masih membeku. Ia tak mengerti mengapa ayahnya bisa sampai semarah ini. Bahkan ucapannya juga begitu kasar dan menyakiti hati.
“Kau jangan pernah ikut campur lagi dalam masalah ini! Aku sendiri yang akan pergi ke rumahnya untuk meminta maaf,” ucap Harry dan memutuskan panggilan sepihak.
Alexia menatap nanar ponselnya, "Mengapa ayah tega melakukan ini? Hanya demi seorang narapidana? Siapa pria sialan itu sampai bisa membuat ayahku marah hebat?"
Alexia membanting ponselnya ke tanah dengan emosi.
Ia menarik napas dalam-dalam dan masuk ke dalam mobil. Ia membanting pintu dan membawa mobil pergi dengan kencang.
*
Ansell menghela napas pelan. Ia baru saja keluar dari penjara dan langsung dipertemukan dengan wanita seperti Alexia.
Untungnya Ansell bisa menanganinya.
Ansell mengecek ponsel yang baru saja ia dapat dari seseorang. Orang pertama yang ingin di cek Ansell adalah tunangannya.
Beberapa bulan sebelum ia keluar dari penjara, Ansell sudah menyuruh orang untuk meletakkan pelacak untuk tunangannya.
"Kau baik-baik saja, kan?" gumam Ansell lirih. Ia begitu merindukan tunangannya yang telah ia tinggalkan selama 5 tahun.
Namun, mata Ansell langsung membelalak melihat posisi tunangannya. Ia memiliki firasat buruk tentang hal itu dan langsung menyuruh supir taksi buru-buru ke lokasi itu.
*
Di dalam sebuah rumah.
Makanan mewah tersaji di meja makan. Anggur lezat juga tak ketinggalan berada di sana. Seorang pria dan wanita muda makan bersama dengan didampingi orang tua si pria.
Kedua orang tua itu adalah paman kedua dan tante kedua Ansell. Sedangkan pria muda itu adalah sepupu Ansell.
Lima tahun lalu, wanita muda yang bernama Nichole itu merupakan tunangan Ansell. Ia adalah wanita yang cantik dengan perawakan tinggi dan bertubuh ideal. Mereka adalah pasangan yang serasi dan sering membuat iri orang-orang.
Sejak Ansell masuk penjara, ia yang membantu mengurus perusahaan Ansell. Ia adalah wanita yang cerdas dan mampu mengurus perusahaan Ansell dengan baik.
Ia melakukannya tanpa pamrih. Ia membantu Ansell karena tulus mencintainya. Lagipula, Nichole tak ingin melihat Ansell hancur jika perusahaan ini dipegang oleh saudaranya yang serakah.
Ansell merasa sangat beruntung memilikinya.
Tante kedua Ansell, Jill, meletakkan sendoknya, “Nichole, apakah kau sudah punya jawaban? Apa kau akan menerima Julian anak tante?”
Jill mengelap mulutnya dengan tisu. Ia sudah cukup lama mengenal Nichole. Melihat sikap dan kepribadiannya, Nichole adalah menantu idamannya. Jadi, ia sangat tidak sabar menantikan Nichole akan menjadi istri anaknya.
Walaupun Nichole sudah bertunangan dengan keponakannya, ia tak peduli hal itu. Bagi Jill, Ansell hanyalah narapidana dan Nichole tidak pantas dengannya.
Nichole yang sebenarnya sudah sering ditanya tentang hal ini, ia masih tetap menolak dengan sopan, “Maaf, Tante. Aku sudah memiliki tunangan, yaitu Ansell. Kami saling mencintai. Walau ia di penjara sekarang, aku akan tetap menunggunya. Aku tidak bisa menerima Julian.”
Wajah paman kedua Ansell, Tom, dan Jill suram.
Walau bukan pertama kalinya Nichole mengatakan ini, tetap saja mereka memiliki harapan setiap kali bertanya. Yang mereka inginkan adalah Nichole menerima Julian.
“Nichole, kapan kau akan membuka matamu? Ansell itu tidak pantas bersanding denganmu. Julianlah yang pantas menjadi suamimu! Tinggalkan saja Ansell. Apalagi ini adalah momen yang paling pas karena ia sedang berada di penjara sekarang,” ucap paman Ansell tidak senang.
Ia sudah lama menunggu momen ini. Jika Nichole menikah dengan anaknya, perusahaan Ansell yang saat ini berada di tangan Nichole bisa mereka ambil menjadi hak milik.
Mereka benar-benar ingin sekali mendayung, dua tiga pulau terlampaui.
“Benar. Ia adalah tahanan. Ia adalah seorang penjahat! Jangan jadikan penjahat sepertinya menjadi suamimu. Hidupmu tidak akan tenang dan damai,” imbuh Julian yang tidak terima dirinya ditolak.
Ia sudah lama mengejar Nichole, tapi tetap penolakan yang ia dapat. Ia juga merasa tak kalah tampan dan kaya dari Ansell, tapi Nichole tak terlihat tergoda dengannya.
Wajah Nichole suram. Ia tak ingin berlama-lama menghadapi orang tua dan anak itu. Ia memilih berpamitan dengan sopan, “Kalau tidak ada yang akan dibicarakan lagi, aku akan pulang dulu. Sampai jumpa.”
Nichole membereskan tas dan menyudahi makannya. Selera makannya benar-benar hilang saat ini. Tiga orang ini selalu membuatnya muak.
Namun, Julian menahan kepergiannya dan berkata, “Nichole, aku sudah menunggumu selama 5 tahun! Mengapa kau tetap tidak menyukaiku? Apa yang belum kulakukan untukmu? Aku sudah melakukan semua yang terbaik agar kau bisa membalas cintaku! Aku melakukan segalanya agar kau bisa melihat ketulusanku!”
Nichole hanya diam dan perlahan melepaskan cengkraman tangan Julian. Ia sudah muak dengan sikap Julian. Padahal ia sudah menolaknya berkali-kali, tapi Julian tetap tidak menyerah.
Selain itu, Nichole juga tak pernah menerima kebaikannya yang memiliki maksud lain. Ia tak ingin Julian berpikir Nichole menyukainya.
"Aku sudah bilang, aku tidak menyukaimu. Aku juga tidak akan menikahimu. Aku hanya mencintai Ansell dan akan menikah dengannya, bukan denganmu," jawab Nichole dengan kesal.
“Apa kau tidak ingat? Kau tidak akan menjadi apa-apa jika tidak ada keluarga kami! Kau tidak akan menjadi wanita berprestasi tanpa bantuan kami! Kau hanyalah wanita biasa, seorang tunangan narapidana yang tidak tahu tentang bisnis. Kau jangan jadi orang yang lupa diri! Kau harus ingat siapa yang membantumu!” teriak Julian marah. Cengkramannya pada tangan Nichole semakin kuat.
Nichole yang tidak bisa lagi menahan diri pun menjawab, “Kalau memang begitu yang kau pikirkan, sepertinya sekarang lebih enak untuk membahasnya.”
Ia tersenyum sinis ke arah Julian.
“Aku tidak akan pernah berkencan denganmu!” Nichole menekan setiap kata yang ia ucapkan. Kali ini ia menolak dengan lebih tegas.
Ia benar-benar tak ingin lagi diganggu oleh mereka.
Lalu, ia menatap ke arah Tom, “Kerja sama kita ini adil dan saling menguntungkan. Semua yang dikatakan Julian adalah omong kosong! Kita memang sepakat untuk kerja sama dan kau tidak berhak mengungkit keuntungan yang kudapatkan. Aku juga tidak akan mengungkit keuntungan yang kalian dapatkan. Jadi, jangan berkata aku tidak tahu diri.”
Nichole kembali menatap sinis Julian, “Aku juga memperingatkanmu jangan terlalu berlebihan. Aku tidak akan pernah menyukaimu. Camkan itu dalam pikiranmu!”
Jill yang tidak terima melihat suami dan anaknya dihina, ia berkata, “Nichole, apa kau begitu bangga karena ia menyukaimu? Kau pikir kau begitu cantik dan pintar? Julian menyukaimu hanya karena ayahmu! Jangan jadi wanita yang tidak tahu diuntung! Jangan merasa menjadi wanita yang paling dikejar-kejar.”
Jill meluapkan semua emosinya. Ia menghina Nichole dan menjelek-jelekkannya. Padahal selama ini Jill selalu bersikap seolah Nichole adalah putrinya.
“Aku wanita yang tidak tahu diuntung?” tanya Nichole sambil tersenyum meremehkan. Hatinya sedikit tersentak, tapi ia tak ingin menghiraukan itu.
“Jika bukan aku yang mengurus perusahaan Ansell, perusahaan ini pasti akan kalian telan habis-habisan,” ucap Nichole telak.
Ansell begitu kasihan memiliki saudara yang begitu serakah. Tom dan Jill selalu mengincar harta Ansell. Sedangkan anaknya mengincar tunangan Ansell.
Nichole tidak bodoh. Ia tahu apa tujuan mereka.
Ia pun melanjutkan, “Aku tahu bagaimana sifat kalian. Selama ini aku masih menghargai kalian hanya karena Ansell. Sekarang aku sudah memutuskan untuk tidak bekerja sama lagi dengan kalian!”
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 93 Episodes
Comments
AR
baru mulai baca, vote untukmu
2023-06-01
2
"@Lv
#mantulauthor 👍👍
2023-04-18
4
Ricardo Chandra
ok
2023-03-09
3