Ansell tak menghiraukan pertengkaran mereka. Ia hanya tahu jika tugasnya sekarang sudah selesai. Jenderal tua sudah disembuhkan. Obat yang diberikan Ansell akan memberi efek penyembuhan yang cepat.
Ia menghadap ke Reynard dan berkata, "Jaga ayahmu baik-baik. Jangan sampai membuat kondisinya menurun lagi. Jangan lupa untuk minum obat tepat waktu."
Kondisi jenderal tua sudah lebih baik sekarang. Ansell sudah menguraikan serangga ganda di dalam tubuh jenderal tua. Selama jenderal tua rutin meminum obat, serangga ganda itu akan larut.
Setelah serangga ganda itu hilang, jenderal tua akan sadarkan diri dan kekuatan fisiknya perlahan akan kembali.
Karena serangga ganda di tubuh jenderal tua adalah serangga ganda inti, maka serangga ganda lain tidak akan jatuh. Jika jenderal tua mati, yang lain tidak akan teracuni.
"Tentu saja, Tuan. Tentu aku akan melakukannya dengan baik," jawab Reynard sungguh-sungguh. Tidak mungkin ia akan menyia-nyiakan keberuntungan seperti ini.
Ayahnya yang tadi dinyatakan akan meninggal saat malam, sekarang memiliki harapan hidup lagi. Bahkan kemungkinan sembuh juga besar.
"Jangan lupa juga untuk mencari tahu siapa yang dibunuh ayahmu akhir-akhir ini," ucap Ansell lagi. Orang ini pasti tidak sederhana. Selain memiliki latar belakang kuat, kemampuannya juga tidak bisa diremehkan.
"Baik, Tuan. Aku akan melakukannya dengan baik," jawab Reynard. Ia juga tidak terima melihat ayahnya sakit karena orang lain. Tentu ia tak akan melepaskan orang itu.
Setelah itu, Ansell pun bersiap pergi. Ia ingin menemui Nichole dan mengajaknya makan bersama. Ia sudah memiliki janji ini sejak semalam.
Namun, belum sempat Ansell melangkah, ponselnya berdering. Paman keduanya, Tom, menelepon.
Ia menatap lama nama kontak Tom. Gambaran buruk tentang Nichole dan Julian kembali muncul di kepalanya. Ia masih tidak terima jika Nichole disakiti sampai seperti itu.
Setelah itu, Ansell mengangkat panggilan tepat sebelum panggilan berakhir. Ia berbicara sambil berjalan pulang.
"Ada apa?" tanya Ansell ketus. Ia punya firasat buruk dengan panggilan ini. Karena sangat jarang Tom memanggilnya dan mengabari hal baik.
"Jangan terlalu tegang, keponakanku. Aku hanya ingin mengundangmu makan malam. Kita ini saudara. Kita tidak boleh bermusuhan berlarut-larut. Ayo kita semua berkumpul. Aku, kau, tantemu, dan Julian. Kita harus menjaga hubungan keluarga ini jangan sampai pecah," ucap Tom dengan suara ramah yang dibuat-buat. Terdengar juga ia sedang menahan tawanya.
"Tidak. Selain tidak tertarik makan malam dengan kalian, aku sudah memiliki janji makan malam dengan Nichole," tolak Ansell mentah-mentah. Ia tak ingin meladeni permainan Tom lagi. Lagipula, ia memang memiliki janji makan malam dengan Nichole.
Namun, Tom malah terkekeh, "Ah, sayangnya Nichole tak punya waktu untuk makan malam denganmu. Lebih baik kau makan malam saja dengan kami. Nichole juga ada di sini. Jangan pikirkan Nichole. Aku sudah merencanakan semua dengan baik."
Mendengar jawaban itu, Ansell langsung menyadari jika Tom menculik Nichole. Ia tak menyangka Tom akan melangkah sejauh ini.
Sepertinya Tom belum melihat perbedaan yang ada di diri Ansell. Mereka tidak menyadari hal itu. Jika saja mereka tahu Ansell lebih kuat dari sebelumnya, pasti mereka akan berpikir ribuan kali sebelum menculik Nichole.
Belum sempat Ansell bicara lagi, Tom mengakhiri panggilan.
"Sial!" gumam Ansell. Lagi-lagi ia merasa gagal menjaga Nichole. Padahal ia sudah kembali, tapi Nichole masih saja tetap tidak aman.
"Sekarang aku akan melacak lokasimu, Tom," ucap Ansell.
Ia membuka ponsel dan melihat daftar panggilan. Tom terlalu bodoh karena menelpon pakai nomor asli yang tidak dilindungi. Hal ini mempermudah Ansell untuk melacak lokasinya.
"Kau pikir aku akan datang telat lagi, huh?" gumam Ansell. Ia sudah mendapatkan lokasi tempat penculikan kurang dari 2 menit.
Ia langsung berlari ke mobil dan menuju ke lokasi yang telah dia lacak. Lokasi itu cukup jauh dari kediaman mereka, tapi sangat dekat dari vila Reynard.
Sepertinya Tom terlalu meremehkan Ansell. Ia tak pernah memperhitungkan keadaan tidak terduga saat membuat rencana.
*
Akhirnya Ansell pun tiba.
Namun, gedung tempat penculikan itu berada di sudut dan jalannya sempit. Semak belukar juga tumbuh dengan lebat. Mobil tidak bisa masuk ke dalam.
Ansell pun parkir jauh dari gedung. Sepertinya Tom sengaja melakukan ini. Ia tak ingin Ansell langsung masuk saat sudah tahu lokasinya.
Ansell berlari sekencang-kencangnya agar ia bisa segera menyelamatkan Nichole.
Namun, perjalanan Ansell ke dalam gedung tidak mudah. Selain hanya melewati jalan tikus, semak belukar juga menghalangi pandangan. Ansell harus tetap berhati-hati karena berpikir Tom pasti membuat jebakan di antaranya.
Untungnya, Ansell bisa sampai dengan selamat. Melewati ini tidak sulit baginya. Ia hanya perlu memikirkan jebakan yang mungkin dibuat Tom.
Saat Ansell masuk ke tempat itu, ia melihat Tom sedang duduk di tengah barang rongsokan. Ia terlihat memutar-mutar korek di tangannya.
Ansell masih mencoba menahan diri. Melihat muka Tom saja hampir menyulut emosi.
"Aku tak berpikir ternyata kau begitu peduli dengan Nichole. Gerakanmu cepat juga," ucap Tom tertawa kecil. Tadinya ia hanya coba-coba untuk menculik Nichole. Itu dilakukannya untuk memancing Ansell keluar.
Ternyata, pancingannya tepat sasaran.
Ia juga sengaja menelepon menggunakan nomor asli agar Ansell bisa melacaknya. Namun, ia tak berpikir Ansell sudah tiba dalam beberapa menit setelah ia menelepon.
Jebakan yang dipasangnya juga terlihat tidak melukai Ansell sedikitpun. Tom sedikit terkejut dengan hal-hal ini.
Namun, ia tetap menyembunyikan rasa terkejutnya.
"Di mana Nichole? Apa yang kau lakukan padanya?" tanya Ansell tanpa basa-basi. Ia benar-benar ingin langsung membunuh orang di depannya. Jika Tom tidak menyentuh Nichole, pasti ia tak akan seemosi ini.
"Apa aku harus memberitahumu? Kau tidak perlu tahu apa yang telah aku lakukan padanya," ucap Tom tertawa. Ia ingin membuat Ansell panas dan emosi. Dengan begitu, Ansell bisa lebih mudah dibunuh.
"Cepat beritahu aku atau kau akan mati!" ancam Ansell. Ia sedikit terpancing dengan ucapan Tom karena ini menyangkut tentang Nichole.
Ia juga sudah mengamati ruangan ini. Ia bisa menebak jumlah seluruh orang dengan auranya. Ansell memperkirakan ada lebih dari 30 orang dalam ruangan ini.
Tom tersenyum dan berkata, "Kau sangat mirip seperti ayahmu dan selalu terlihat sepertiku satu-satunya."
Ia sedikit bernostalgia dengan masa lalu. Tom dan ayah Ansell tidak terlalu akur. Tom selalu merasa ia sering dibandingkan dengan ayah Ansell. Ia serasa hidup di bayang-bayang ayah Ansell.
Kemudian, ia kembali menatap Ansell.
"Oh, aku juga tidak akan mengembalikan satu pun propertimu. Hari ini aku sudah menyewa lebih dari 30 preman. Bukan aku yang akan mati hari ini, tapi kau! Selain kau, sepertinya Nichole juga akan menjadi korban selanjutnya, tapi setelah para preman itu puas bermain dengannya. Hahaha," ucap Tom tertawa kencang.
Sesuai dugaanku, batin Ansell.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 93 Episodes
Comments
Fia Toria
bunuh sja la tu paman tommu .. astagaaaaaaaa kasih tinggal bkin kacau thor yg kusut
2023-06-09
1
"@Lv
#mantulauthor
2023-04-19
3
"@Lv
#authormantul
2023-04-19
2