Bab 19. Langkah Pertama Draco

Satu minggu kemudian, Luna yang sedang libur seharian berada di kamarnya. Dia benar-benar enggan bertemu dengan keluarga Vlad sejak malam itu. Bayangan bagaimana mereka menghisap darah Clara masih jelas terbayang di pelupuk mata.

Dia hanya bersikap biasa terhadap para pelayan dan juga Draco. Walau kemungkinan besar lelaki itu juga makhluk pengisap darah, paling tidak dia tak tertangkap mata oleh Luna malam itu.

"Hah ... bosan!" keluh Luna lalu menenggelamkan wajah pada bantal.

Di saat yang bersamaan, terdengar ketukan pintu. Luna beranjak dari ranjang dan membuka pintu kamarnya. Draco sudah berdiri gagah di depan pintu dengan senyum tipisnya.

"Sore, mau temani aku jalan-jalan? Aku rasa cuaca hari ini sangat cerah."

"Baik, Tuan Muda. Tunggu sebentar, ya? Saya siap-siap dulu." Luna kembali menutup pintu dan bergegas bersiap-siap.

Lima belas menit kemudian, Luna sudah siap dalam balutan celana jeans serta kardigan rajut lengan panjang berwarna merah tua. Gadis cantik itu menggerai rambut dan memasang pita kecil pada mahkotanya itu.

"Baiklah, aku rasa begini saja sudah cukup." Luna tersenyum manis di depan cermin, kemudian beranjak menemui Draco.

Langkah kakinya terasa ringan, sembari bersenandung lirih. Ketika sampai di depan rumah, mobil mewah Draco sudah terparkir di sana. Dia tersenyum lebar kemudian berlari kecil menuju kendaraan tersebut. Luna mengangguk ketika Draco menatapnya sambil tersenyum lembut.

"Jadi, kita mau ke mana, Tuan Muda?"

"Sebelum kita pergi, bolehkah aku meminta sesuatu?"

"Apa, Tuan?"

"Berhenti memanggilku dengan sebutan Tuan Muda. Aku kurang nyaman dengan sebutan itu," pinta Draco.

"Eh, bukankah pelayan lain juga memanggil Anda seperti itu, Tuan?" Luna mengerutkan dahi dan menggaruk kepala karena permintaan sang majikan yang menurutnya aneh.

"Aku sudah terbiasa dengan mereka. Kamu berbeda, Luna."

"Ya?" Luna memiringkan kepala karena semakin bingung dengan sikap Draco.

Suasana di antara mereka mendadak canggung. Draco berdeham beberapa kali kemudian mengalihkan tatapannya ke depan. Dia mulai menyalakan mesin mobil dan melajukannya perlahan.

Alunan musik milik Ed Sheeran menemani mereka sepanjang perjalanan. Sesekali Luna bersenandung mengikuti lirik lagi romantis bertajuk 'Perfect' itu. Draco menyembunyikan senyumnya sedari tadi.

Bisa berdua dengan Luna seperti ini adalah salah satu hal yang dia nanti setiap hari. Setiap dia selesai berpura-pura tidur, dan orang lain menyebutnya bangun, Draco selalu mengawali harinya dengan senyum. Nama Luna langsung memenuhi kepala lelaki itu.

"Aku mau membeli kopi dulu, sebelum kita pergi ke pameran lukisan di Hoja."

"Apa? Kita akan ke Hoja?" Luna terbelalak. Dia tidak menyangka Draco akan membawanya ke pameran lukisan terbesar di negeri ini.

"Kau senang?"

Luna mengangguk cepat. Matanya sampai basah karena terharu dengan sikap Draco yang diam-diam begitu perhatian kepadanya. Senyuman gadis itu terus mereka sepanjang perjalanan menuju kafe. Setelah berkendara selama sepuluh menit, akhirnya mereka sampai di sebuah kafe bernuansa merah muda.

"Kamu mau dibawakan apa?"

"Apa ya?" Luna menggerakkan bola mata sembari mengetuk dagu dengan jari telunjuk.

"Caramel Macchiato!" seru Lina setelah memikirkan apa yang dia mau.

"Baiklah, tunggu di sini sebentar." Draco tersenyum lebar kemudian keluar dari mobil.

Setelah selesai memesan kopi dan roti bakar kesukaan Luna, Draco masuk lagi ke mobil. Luna sempat mengerutkan dahi, karena hanya dia yang dibelikan kopi dan roti.

"Mana punyamu, Tuan?" tanya Luna.

"Ah, kopi yang aku mau habis."

"Ooo ...." Luna mengangguk-angguk seraya menyeruput kopinya.

Setelah sampai di Kota Hoja, mereka langsung masuk ke ruang pameran. Mata Luna melebar melihat berbagai macam lukisan yang terpajang di dinding. Jika Luna antusias menatap lukisan yang ikut pameran, lain halnya dengan Draco.

Lelaki tampan tersebut terus mencuri pandang ke arah Luna yang terlihat serius mengamati lukisan. Draco ikut tersenyum simpul saat Luna juga mengukir senyuman di bibir.

Luna adalah dunia Draco sekarang. Dia akan melakukan apa saja agar gadis cantik itu selalu tersenyum bahagia. Luna tiba-tiba teringat tentang kejadian malam itu, ketika melihat sebuah lukisan beberapa orang yang sedang makan mengitari meja panjang.

"Tuan Muda, apa boleh aku bertanya sesuatu?" tanya Luna sedikit ragu.

"Kenapa?"

"Aku melihat sesuatu beberapa waktu lalu, dan ini menyangkut Tuan Vlad dan Nyonya Rosella."

Draco sudah paham dengan apa yang akan ditanyakan oleh Luna. Namun, dia berpura-pura tidak tahu. Dia tetap diam dan mencurahkan perhatian kepada Luna. Menatap gadis itu tanpa berkedip.

"Aku melihat Tuan Vlad, Nyonya Rose, dan beberapa kerabat kalian meminum darah Clara. Apa kalian bukan manusia?" tanya Luna dengan wajah sedikit ketakutan.

"Ya, kami bukan manusia." Draco menjawabnya ringan tanpa terdapat beban di sana.

Draco mengalihkan pandangan pada lukisan yang ada di hadapannya, kemudian tersenyum miring. Dia menarik napas panjang dan mengembuskannya perlahan.

"Kamu tahu? Di dunia ini kita berdampingan dengan banyak kehidupan lain. Manusia, hewan, tumbuhan, dan makhluk seperti kami, selalu hidup berdampingan disadari ataupun tidak." Draco kembali menatap lembut Luna yang kini sedang mengamati setiap perkataan yang keluar dari bibirnya.

"Apa kamu juga sama seperti mereka?"

"Sama, tapi sedikit istimewa."

Luna mengerutkan dahi. Draco yang pandai membaca situasi, akhirnya kembali buka suara. Dia menjelaskan arti dari perkataannya barusan.

"Aku satu jenis dengan ayah dan ibu. Dulu ayahku manusia normal, dan ibu vampir yang datang dari Ice City."

"Lalu?"

"Mereka menikah, karena ibu tidak ingin berpisah dengan ayah yang memiliki umur terbatas, akhirnya mereka sepakat untuk mengubahnya menjadi vampir setelah aku lahir ke dunia."

"Jadi, kamu berdarah campuran?"

Draco mengangguk mantap. "Tapi, aku tidak seperti mereka. Aku masih bisa bertahan walau hanya menghisap darah binatang. Ibu dan ayah tidak bisa. Paling tidak dua purnama sekali harus menghisap darah manusia."

"Jika tidak, apa yang akan terjadi?"

"Mereka akan menjadi lebih buas, kehilangan akal, dan tidak akan puas menghisap darah manusia. Mereka akan berburu manusia pada akhirnya."

Luna bergidik ngeri mendengar penjelasan Draco. Dia tidak bisa membayangkan jika hal itu benar-benar terjadi. Sudah dapat dipastikan akan terjadi peperangan antara manusia dan vampir.

"Ah, sepertinya kita harus pulang sekarang. Besok aku ada kuliah pagi. Jika terlalu malam, aku tidak bisa bangun pagi." Luna melirik jam yang melingkar pada pergelangan tangan.

"Baiklah, ayo pulang!" ajak Draco.

Keduanya pun berjalan keluar gedung. Tanpa sengaja, kulit tangan mereka saling bersentuhan. Luna sempat terkejut karena merasakan suhu tubuh Draco yang begitu dingin. Draco pun sama kagetnya.

Hanya dengan menyentuh tangan Luna, dia merasa sangat segar. Akhirnya lelaki itu menautkan jemarinya pada jemari Luna.

"Sebentar saja, aku mau mengisi daya." Draco tersenyum miring.

Luna tak kuasa menolak. Dia hanya bisa menatap Draco yang sedang memejamkan mata. Gadis itu seperti melihat cahaya keemasan mengalir dari tangannya, kemudian menyelubungi tubuh Draco.

"Indah," gumam Luna.

Beberapa detik kemudian, tiba-tiba Draco dipukul oleh seseorang. Lelaki itu sampai tersungkur ke atas tanah. Luna segera membantu Draco kembali berdiri.

"Jadi, ini yang kamu maksud dengan bekerja?"

Episodes
1 Bab 1. Dire Wolf Seputih Salju
2 Bab 2. Berburu bersama Valko
3 Bab 3. Bulan Purnama
4 Bab 4. Valko The Dire Wolf
5 Bab 5. Perburuan Cinta
6 Bab 6. Pertemuan Keluarga
7 Bab 7. Andrea Si Kakak Tingkat
8 Bab 8. Penculikan (1)
9 Bab 9. Penculikan (2)
10 Bab 10. Wabah
11 Bab 11. Backstreet
12 Bab 12. Mengambil Cuti
13 Bab 13. Ijin
14 Bab 14. Adu Domba
15 Bab 15. Perjanjian dengan Vlad
16 Bab 16. Penipuan
17 Bab 17. Kecemburuan Valko
18 Bab 18. Vlad Sebenarnya
19 Bab 19. Langkah Pertama Draco
20 Visual
21 Bab 20. Pertunangan
22 Bab 21 . Negosiasi Antar Ras
23 Bab 22. Duka Luna
24 Bab 23. Canis Guildayi
25 Bab 24. Azura Kembali Datang
26 Bab 25. Padang Bunga Baby Blue Eyes
27 Bab 26. Bukit Arcoíris
28 Bab 27. Paman Catz dan Smilodon
29 Bab 28. Permainan Paman Catz
30 Bab 29. Sebuah Sketsa
31 Bab 30. Melanjutkan Permainan
32 Bab 31. Akhir Ujian Berujung Duka
33 Bab 32. Ijin untuk Melintas
34 Bab 33. Daphne or Karina
35 Bab 34. Memulai Ritual
36 Bab 35. Jiwanya Telah Kembali
37 Bab 36. Petunjuk
38 Bab 37. Pulang Ke Tempat Asal
39 Bab 38. Pendant of Arthemis
40 Bab 39. Mencari Kalung Arthemis
41 Bab 40. Pencarian Selanjutnya
42 Bab 41. Kembalinya Pendant of Arthemis
43 Bab 42. Mencari Aroma Terapi
44 Bab 43. Suku Nuevo
45 Bab 44. Catz yang Keji Kembali
46 Bab 45. Mimpi Penutup
47 Bab 46. Ingin Melakukan Hal Menyenangkan
48 Bab 47. Berkemah Bersama
49 Bab 48. Tangisan Tengah Malam
50 Bab 49. Mana yang Asli?
51 Bab 50. Terbongkar
52 Bab 51. Melanjutkan Tugas
53 Bab 52. Melukis Diri Sendiri
54 Bab 53. Lukisan Terakhir
55 Bab 54. Pasca Ritual
56 Bab 55. Kehidupan Kedua
57 Kepingan Hati di Langit Qatar
58 Rahasia Kehamilan Violetta
59 Revenge of The Ugly Lily
Episodes

Updated 59 Episodes

1
Bab 1. Dire Wolf Seputih Salju
2
Bab 2. Berburu bersama Valko
3
Bab 3. Bulan Purnama
4
Bab 4. Valko The Dire Wolf
5
Bab 5. Perburuan Cinta
6
Bab 6. Pertemuan Keluarga
7
Bab 7. Andrea Si Kakak Tingkat
8
Bab 8. Penculikan (1)
9
Bab 9. Penculikan (2)
10
Bab 10. Wabah
11
Bab 11. Backstreet
12
Bab 12. Mengambil Cuti
13
Bab 13. Ijin
14
Bab 14. Adu Domba
15
Bab 15. Perjanjian dengan Vlad
16
Bab 16. Penipuan
17
Bab 17. Kecemburuan Valko
18
Bab 18. Vlad Sebenarnya
19
Bab 19. Langkah Pertama Draco
20
Visual
21
Bab 20. Pertunangan
22
Bab 21 . Negosiasi Antar Ras
23
Bab 22. Duka Luna
24
Bab 23. Canis Guildayi
25
Bab 24. Azura Kembali Datang
26
Bab 25. Padang Bunga Baby Blue Eyes
27
Bab 26. Bukit Arcoíris
28
Bab 27. Paman Catz dan Smilodon
29
Bab 28. Permainan Paman Catz
30
Bab 29. Sebuah Sketsa
31
Bab 30. Melanjutkan Permainan
32
Bab 31. Akhir Ujian Berujung Duka
33
Bab 32. Ijin untuk Melintas
34
Bab 33. Daphne or Karina
35
Bab 34. Memulai Ritual
36
Bab 35. Jiwanya Telah Kembali
37
Bab 36. Petunjuk
38
Bab 37. Pulang Ke Tempat Asal
39
Bab 38. Pendant of Arthemis
40
Bab 39. Mencari Kalung Arthemis
41
Bab 40. Pencarian Selanjutnya
42
Bab 41. Kembalinya Pendant of Arthemis
43
Bab 42. Mencari Aroma Terapi
44
Bab 43. Suku Nuevo
45
Bab 44. Catz yang Keji Kembali
46
Bab 45. Mimpi Penutup
47
Bab 46. Ingin Melakukan Hal Menyenangkan
48
Bab 47. Berkemah Bersama
49
Bab 48. Tangisan Tengah Malam
50
Bab 49. Mana yang Asli?
51
Bab 50. Terbongkar
52
Bab 51. Melanjutkan Tugas
53
Bab 52. Melukis Diri Sendiri
54
Bab 53. Lukisan Terakhir
55
Bab 54. Pasca Ritual
56
Bab 55. Kehidupan Kedua
57
Kepingan Hati di Langit Qatar
58
Rahasia Kehamilan Violetta
59
Revenge of The Ugly Lily

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!