Satu minggu kemudian, Luna yang sedang libur seharian berada di kamarnya. Dia benar-benar enggan bertemu dengan keluarga Vlad sejak malam itu. Bayangan bagaimana mereka menghisap darah Clara masih jelas terbayang di pelupuk mata.
Dia hanya bersikap biasa terhadap para pelayan dan juga Draco. Walau kemungkinan besar lelaki itu juga makhluk pengisap darah, paling tidak dia tak tertangkap mata oleh Luna malam itu.
"Hah ... bosan!" keluh Luna lalu menenggelamkan wajah pada bantal.
Di saat yang bersamaan, terdengar ketukan pintu. Luna beranjak dari ranjang dan membuka pintu kamarnya. Draco sudah berdiri gagah di depan pintu dengan senyum tipisnya.
"Sore, mau temani aku jalan-jalan? Aku rasa cuaca hari ini sangat cerah."
"Baik, Tuan Muda. Tunggu sebentar, ya? Saya siap-siap dulu." Luna kembali menutup pintu dan bergegas bersiap-siap.
Lima belas menit kemudian, Luna sudah siap dalam balutan celana jeans serta kardigan rajut lengan panjang berwarna merah tua. Gadis cantik itu menggerai rambut dan memasang pita kecil pada mahkotanya itu.
"Baiklah, aku rasa begini saja sudah cukup." Luna tersenyum manis di depan cermin, kemudian beranjak menemui Draco.
Langkah kakinya terasa ringan, sembari bersenandung lirih. Ketika sampai di depan rumah, mobil mewah Draco sudah terparkir di sana. Dia tersenyum lebar kemudian berlari kecil menuju kendaraan tersebut. Luna mengangguk ketika Draco menatapnya sambil tersenyum lembut.
"Jadi, kita mau ke mana, Tuan Muda?"
"Sebelum kita pergi, bolehkah aku meminta sesuatu?"
"Apa, Tuan?"
"Berhenti memanggilku dengan sebutan Tuan Muda. Aku kurang nyaman dengan sebutan itu," pinta Draco.
"Eh, bukankah pelayan lain juga memanggil Anda seperti itu, Tuan?" Luna mengerutkan dahi dan menggaruk kepala karena permintaan sang majikan yang menurutnya aneh.
"Aku sudah terbiasa dengan mereka. Kamu berbeda, Luna."
"Ya?" Luna memiringkan kepala karena semakin bingung dengan sikap Draco.
Suasana di antara mereka mendadak canggung. Draco berdeham beberapa kali kemudian mengalihkan tatapannya ke depan. Dia mulai menyalakan mesin mobil dan melajukannya perlahan.
Alunan musik milik Ed Sheeran menemani mereka sepanjang perjalanan. Sesekali Luna bersenandung mengikuti lirik lagi romantis bertajuk 'Perfect' itu. Draco menyembunyikan senyumnya sedari tadi.
Bisa berdua dengan Luna seperti ini adalah salah satu hal yang dia nanti setiap hari. Setiap dia selesai berpura-pura tidur, dan orang lain menyebutnya bangun, Draco selalu mengawali harinya dengan senyum. Nama Luna langsung memenuhi kepala lelaki itu.
"Aku mau membeli kopi dulu, sebelum kita pergi ke pameran lukisan di Hoja."
"Apa? Kita akan ke Hoja?" Luna terbelalak. Dia tidak menyangka Draco akan membawanya ke pameran lukisan terbesar di negeri ini.
"Kau senang?"
Luna mengangguk cepat. Matanya sampai basah karena terharu dengan sikap Draco yang diam-diam begitu perhatian kepadanya. Senyuman gadis itu terus mereka sepanjang perjalanan menuju kafe. Setelah berkendara selama sepuluh menit, akhirnya mereka sampai di sebuah kafe bernuansa merah muda.
"Kamu mau dibawakan apa?"
"Apa ya?" Luna menggerakkan bola mata sembari mengetuk dagu dengan jari telunjuk.
"Caramel Macchiato!" seru Lina setelah memikirkan apa yang dia mau.
"Baiklah, tunggu di sini sebentar." Draco tersenyum lebar kemudian keluar dari mobil.
Setelah selesai memesan kopi dan roti bakar kesukaan Luna, Draco masuk lagi ke mobil. Luna sempat mengerutkan dahi, karena hanya dia yang dibelikan kopi dan roti.
"Mana punyamu, Tuan?" tanya Luna.
"Ah, kopi yang aku mau habis."
"Ooo ...." Luna mengangguk-angguk seraya menyeruput kopinya.
Setelah sampai di Kota Hoja, mereka langsung masuk ke ruang pameran. Mata Luna melebar melihat berbagai macam lukisan yang terpajang di dinding. Jika Luna antusias menatap lukisan yang ikut pameran, lain halnya dengan Draco.
Lelaki tampan tersebut terus mencuri pandang ke arah Luna yang terlihat serius mengamati lukisan. Draco ikut tersenyum simpul saat Luna juga mengukir senyuman di bibir.
Luna adalah dunia Draco sekarang. Dia akan melakukan apa saja agar gadis cantik itu selalu tersenyum bahagia. Luna tiba-tiba teringat tentang kejadian malam itu, ketika melihat sebuah lukisan beberapa orang yang sedang makan mengitari meja panjang.
"Tuan Muda, apa boleh aku bertanya sesuatu?" tanya Luna sedikit ragu.
"Kenapa?"
"Aku melihat sesuatu beberapa waktu lalu, dan ini menyangkut Tuan Vlad dan Nyonya Rosella."
Draco sudah paham dengan apa yang akan ditanyakan oleh Luna. Namun, dia berpura-pura tidak tahu. Dia tetap diam dan mencurahkan perhatian kepada Luna. Menatap gadis itu tanpa berkedip.
"Aku melihat Tuan Vlad, Nyonya Rose, dan beberapa kerabat kalian meminum darah Clara. Apa kalian bukan manusia?" tanya Luna dengan wajah sedikit ketakutan.
"Ya, kami bukan manusia." Draco menjawabnya ringan tanpa terdapat beban di sana.
Draco mengalihkan pandangan pada lukisan yang ada di hadapannya, kemudian tersenyum miring. Dia menarik napas panjang dan mengembuskannya perlahan.
"Kamu tahu? Di dunia ini kita berdampingan dengan banyak kehidupan lain. Manusia, hewan, tumbuhan, dan makhluk seperti kami, selalu hidup berdampingan disadari ataupun tidak." Draco kembali menatap lembut Luna yang kini sedang mengamati setiap perkataan yang keluar dari bibirnya.
"Apa kamu juga sama seperti mereka?"
"Sama, tapi sedikit istimewa."
Luna mengerutkan dahi. Draco yang pandai membaca situasi, akhirnya kembali buka suara. Dia menjelaskan arti dari perkataannya barusan.
"Aku satu jenis dengan ayah dan ibu. Dulu ayahku manusia normal, dan ibu vampir yang datang dari Ice City."
"Lalu?"
"Mereka menikah, karena ibu tidak ingin berpisah dengan ayah yang memiliki umur terbatas, akhirnya mereka sepakat untuk mengubahnya menjadi vampir setelah aku lahir ke dunia."
"Jadi, kamu berdarah campuran?"
Draco mengangguk mantap. "Tapi, aku tidak seperti mereka. Aku masih bisa bertahan walau hanya menghisap darah binatang. Ibu dan ayah tidak bisa. Paling tidak dua purnama sekali harus menghisap darah manusia."
"Jika tidak, apa yang akan terjadi?"
"Mereka akan menjadi lebih buas, kehilangan akal, dan tidak akan puas menghisap darah manusia. Mereka akan berburu manusia pada akhirnya."
Luna bergidik ngeri mendengar penjelasan Draco. Dia tidak bisa membayangkan jika hal itu benar-benar terjadi. Sudah dapat dipastikan akan terjadi peperangan antara manusia dan vampir.
"Ah, sepertinya kita harus pulang sekarang. Besok aku ada kuliah pagi. Jika terlalu malam, aku tidak bisa bangun pagi." Luna melirik jam yang melingkar pada pergelangan tangan.
"Baiklah, ayo pulang!" ajak Draco.
Keduanya pun berjalan keluar gedung. Tanpa sengaja, kulit tangan mereka saling bersentuhan. Luna sempat terkejut karena merasakan suhu tubuh Draco yang begitu dingin. Draco pun sama kagetnya.
Hanya dengan menyentuh tangan Luna, dia merasa sangat segar. Akhirnya lelaki itu menautkan jemarinya pada jemari Luna.
"Sebentar saja, aku mau mengisi daya." Draco tersenyum miring.
Luna tak kuasa menolak. Dia hanya bisa menatap Draco yang sedang memejamkan mata. Gadis itu seperti melihat cahaya keemasan mengalir dari tangannya, kemudian menyelubungi tubuh Draco.
"Indah," gumam Luna.
Beberapa detik kemudian, tiba-tiba Draco dipukul oleh seseorang. Lelaki itu sampai tersungkur ke atas tanah. Luna segera membantu Draco kembali berdiri.
"Jadi, ini yang kamu maksud dengan bekerja?"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 59 Episodes
Comments