Bab 9. Penculikan (2)

"Sial!" umpat Luna sambil berusaha berdiri.

James dan Ferdinand segera mencekal lengan Luna. Gadis itu terus berontak, berusaha melepaskan diri. Namun, dia kalah tenaga.

"Brengsek kalian! Beraninya sama cewek!"

"Oh, ternyata kamu berani juga, ya? Awalnya kami diminta untuk membunuhmu, tapi kami tidak segera melakukannya. Melihat tingkah sombongmu ini, membuat hasratku untuk membunuhmu semakin kuat!" Hendry memegang dagu Luna seraya tersenyum miring.

"Ikat dia lagi!" perintah Hendry kepada James dan Ferdinand.

Luna pun diseret lagi ke kursi, dan kembali diikat. Kali ini ikatan talinya semakin kencang. Luna kesulitan untuk bergerak, tidak seperti sebelumnya.

"Cepat hubungi dia! Tanyakan, bagaimana dia ingin menghabisi perempuan ini!" Hendry menatap Ferdinand, dan lelaki itu segera keluar gudang untuk menghubungi Andrea.

"Oh, jadi kalian disuruh? Cih, mau-maunya diperbudak!" ejek Luna.

"Apa kamu bilang!" teriak Hendry.

Hendry melotot, dadanya naik turun karena terbakar amarah. James berusaha menahan lengan temannya itu. Di antara tiga sekawan itu, memang Hendry adalah orang paling temperamen.

"Hendry, bersabarlah! Jangan mudah terbawa emosi."

"Gadis sialan ini yang mulai duluan!" seru Hendry seraya menunjuk Luna sambil memicingkan mata.

"Aku bilang bersabarlah. Keluar dulu sana! Cari udara segar. Biar aku yang mengurusnya."

Kali ini Hendry menuruti ucapan James, dia mulai melangkah pergi meninggalkan Luna. Akan tetapi, bukan Luna namanya jika hanya berdiam diri. Perempuan itu kembali melemparkan ejekan kepada Hendry.

"Dasar penakut!"

"Apa kamu bilang?" Hendry langsung berlari ke arah Luna.

Lelaki itu menendang kursi yang diduduki Luna, hingga benda itu terdorong ke belakang. Tubuh Luna yang masih terikat pun ikut bergerak di atas kursi tersebut. Kepala gadis itu membentur tembok, dan sukses membuat pandangannya sedikit kabur.

Luna berulang kali mengerjap untuk memfokuskan pandangan. Kepalanya terasa sedikit berputar. Setelah pandangannya kembali jelas, Luna pun tersenyum miring.

"Hanya segitu kekuatanmu? Ayo, pukul aku kalau berani!" tantang Luna.

Hendry yang tak terima segera berlari ke arah gadis tersebut. Dia mendaratkan sebuah tinju ke perut Luna. Suara teriakan kekasih Valko itu tertahan.

"Kamu sudah gila, Hendry!" teriak James kemudian menarik lengan lelaki tersebut.

"Mulutnya itu menyebalkan sekali, James!"

"Ingat, dia perempuan!" James akhirnya mendaratkan tinju ke rahang Hendry.

Mendengar keributan di dalam gudang, Ferdinand akhirnya masuk. Dia terbelalak melihat James yang baru saja memukul Hendry.

"Kalian sedang apa!"

***

[Val, tolong! Aku diculik!]

Sebuah pesan dari Luna membuat Valko langsung melompat dari ranjang. Dia mengucek mata berulang kali, berharap sudah salah baca pesan dari sang kekasih. Akan tetapi, hasilnya sama. Lelaki itu sedang tidak salah membaca.

"Diculik? Apa dia sedang bercanda?"

Valko segera mencuci muka, lalu keluar dari kamar kosnya. Di hari pertamanya bekerja, Valko terpaksa membolos. Keselamatan Luna lebih penting dari apa pun.

Lelaki tampan itu berjalan menuju asrama Luna. Dia menanyakan keberadaan sang kekasih. Benar saja, gadis cantik tersebut tidak pulang. Bahkan hari ini tidak masuk kuliah pagi.

Setelah itu, Valko segera berjalan ke arah toko tempat Luna bekerja paruh waktu. Partner kerjanya semalam mengatakan bahwa Luna langsung pulang setelah pergantian shift.

"Sial! Aku harus mencarinya ke mana lagi?" Valko mengusap wajah frustrasi.

Sedetik kemudian, Valko seperti mencium aroma parfum yang biasa dipakai Luna. Dia mengedarkan pandangan ke seluruh toko. Berharap sang kekasih hanya ingin mengerjainya.

Akan tetapi, Valko tidak menemukan sosok Luna. Lelaki itu akhirnya menajamkan penciuman. Aroma parfum Luna tercium semakin kuat ketika dia menghadap ke arah pintu keluar.

"Baiklah, aku akan memanfaatkan indra penciumanku untuk menemukanmu, Luna!" Valko pun segera melangkah mengikuti aroma parfum yang masih tersisa di udara.

Jika Valko manusia normal, dia tidak akan mungkin melakukan hal ini. Tak terasa Valko sudah berjalan selama dua jam. Langkahnya berhenti di depan sebuah gudang. Di depan sana, aroma Luna tercium sangat kuat.

Kini Valko menajamkan pendengaran. Terdengar suara Luna yang sepertinya sedang marah-marah. Valko mundur beberapa langkah, kemudian mendobrak pintu di hadapannya.

Pintu kayu itu langsung roboh. Empat orang yang ada di dalam gudang pun menoleh ke arah Valko. Luna kini terlihat begitu pucat, sudut bibirnya berdarah, dan area bawah mata gadis itu lebam.

"Kalian ... berani-beraninya menyentuh Luna-ku!" geram Valko.

Jemari Valko mengepal kuat. Mata lelaki tersebut berubah merah, bulu-bulu panjang berwarna putih mulai keluar dari pori-pori kulit Valko. Tak lama kemudian, Valko berubah wujud menjadi seekor serigala putih. Dia terlihat menyeramkan, walaupun ukurannya tidak sebesar ketika menjadi Dire Wolf.

"Makhluk apa dia!" pekik Ferdinand.

Hendry meraih senapan laras panjang yang tergantung pada dinding gudang. Dia menodongkan senjata tersebut ke arah Valko, dan bersiap untuk menarik pelatuknya. Akan tetapi, Luna dengan sigap berdiri lalu mendorong tubuh Hendry.

Luna dan Hendry pun tersungkur ke atas lantai. Tanpa sengaja, Hendry menekan pelatuk senapan itu dan malah mengenai kaki Ferdinand. James segera mendekati Ferdinand yang kini tergeletak di atas lantai sambil meringis kesakitan.

Valko yang gelap mata, langsung menyerang kawanan penculik itu. Ketiganya tak luput dari cakaran Valko. Darah mereka bercucuran, membuat lantai gudang itu berubah menjadi berwarna merah. Beruntungnya Luna berhasil membuat Valko tenang.

"Val, hentikan! Mereka akan terbunuh!" teriak Luna.

Valko kini menatap ke arah Luna. Kekasihnya itu pun sedang terluka. Wajah gadis cantik tersebut semakin pucat. Perlahan sosok Valko berubah kembali ke wujud manusia. Dia segera berlari menghampiri Luna.

"Kamu nggak apa-apa?" tanya Valko panik.

"Bagaimana mereka? Jika tidak segera ditolong, mereka semua akan mati."

Valko sangat kagum dengan sikap mulia kekasihnya ini. Gadis itu benar-benar gadis yang murni. Saat ini dia sendiri sedang terluka dan kesakitan, tetapi masih sempat memikirkan orang lain. Terlebih mereka adalah orang jahat yang telah menculiknya.

"Aku akan menghubungi Theo untuk membereskan semua kekacauan ini."

Luna tersenyum lembut. Valko segera melepas ikatan tangan dan kaki yang membelenggu sang kekasih. Kemudian dia menggendong Luna dan segera berlari menuju rumah sakit.

***

"Kamu istirahatlah, aku sudah memberitahu pihak kampus dan juga toko bahwa kamu baru saja mengalami penculikan."

"Astaga, rasanya aku seperti kembali menjadi anak kecil. Apa untungnya mereka menculikku? Aku ini cerewet, makanku banyak! Bukankah mereka akan rugi jika menjadikanku tawanan?"

Valko tersenyum geli mendengar ucapan Luna. Di balik sikapnya yang keras dan galak, ternyata sang kekasih menyimpan sisi polos yang keterlaluan. Dia bahkan tidak tahu siapa yang sudah menjadi dalang di balik insiden penculikan ini.

"Aku harus pergi sekarang. Kamu jangan keluar dari asrama seorang diri, mengerti?" pesan Valko.

Luna mengangguk pelan. Valko mendaratkan bibirnya di atas kening sang kekasih, kemudian keluar dari kamar asrama. Setelah itu, dia bergegas pergi ke kantor polisi untuk melaporkan kasus penculikan ini.

Sesampainya di kantor polisi, Valko harus menelan kekecewaan karena laporannya ditolak dengan alasan bukti yang kurang. Di sisi lain, dia tidak bisa menghadirkan para pelaku karena saat ini mereka sedang terluka.

Jika sampai polisi tahu, justru dia yang akan terseret dalam kasus penyerangan. Akhirnya Valko memilih untuk membawa rasa kecewa dalam hati. Dia merasakan kegagalan yang kedua kalinya. Valko merasa gagal, karena tidak bisa melindungi sang kekasih dari bahaya.

Tak lama setelah keluar dari kantor polisi, sebuah panggilan masuk ke ponsel lelaki tersebut. Nama Alarick tertera pada layar ponsel yang berkedip.

"Ayah?" Valko mengerutkan dahi.

Tanpa menunggu lebih lama benda pipih itu menjerit, Valko langsung mengangkat panggilan sang ayah. Suara Alarick terdengar begitu panik. Valko terbelalak seketika saat mengetahui alasan kenapa sang ayah terdengar panik.

"Baiklah, Ayah. Aku akan pulang sekarang!"

Episodes
1 Bab 1. Dire Wolf Seputih Salju
2 Bab 2. Berburu bersama Valko
3 Bab 3. Bulan Purnama
4 Bab 4. Valko The Dire Wolf
5 Bab 5. Perburuan Cinta
6 Bab 6. Pertemuan Keluarga
7 Bab 7. Andrea Si Kakak Tingkat
8 Bab 8. Penculikan (1)
9 Bab 9. Penculikan (2)
10 Bab 10. Wabah
11 Bab 11. Backstreet
12 Bab 12. Mengambil Cuti
13 Bab 13. Ijin
14 Bab 14. Adu Domba
15 Bab 15. Perjanjian dengan Vlad
16 Bab 16. Penipuan
17 Bab 17. Kecemburuan Valko
18 Bab 18. Vlad Sebenarnya
19 Bab 19. Langkah Pertama Draco
20 Visual
21 Bab 20. Pertunangan
22 Bab 21 . Negosiasi Antar Ras
23 Bab 22. Duka Luna
24 Bab 23. Canis Guildayi
25 Bab 24. Azura Kembali Datang
26 Bab 25. Padang Bunga Baby Blue Eyes
27 Bab 26. Bukit Arcoíris
28 Bab 27. Paman Catz dan Smilodon
29 Bab 28. Permainan Paman Catz
30 Bab 29. Sebuah Sketsa
31 Bab 30. Melanjutkan Permainan
32 Bab 31. Akhir Ujian Berujung Duka
33 Bab 32. Ijin untuk Melintas
34 Bab 33. Daphne or Karina
35 Bab 34. Memulai Ritual
36 Bab 35. Jiwanya Telah Kembali
37 Bab 36. Petunjuk
38 Bab 37. Pulang Ke Tempat Asal
39 Bab 38. Pendant of Arthemis
40 Bab 39. Mencari Kalung Arthemis
41 Bab 40. Pencarian Selanjutnya
42 Bab 41. Kembalinya Pendant of Arthemis
43 Bab 42. Mencari Aroma Terapi
44 Bab 43. Suku Nuevo
45 Bab 44. Catz yang Keji Kembali
46 Bab 45. Mimpi Penutup
47 Bab 46. Ingin Melakukan Hal Menyenangkan
48 Bab 47. Berkemah Bersama
49 Bab 48. Tangisan Tengah Malam
50 Bab 49. Mana yang Asli?
51 Bab 50. Terbongkar
52 Bab 51. Melanjutkan Tugas
53 Bab 52. Melukis Diri Sendiri
54 Bab 53. Lukisan Terakhir
55 Bab 54. Pasca Ritual
56 Bab 55. Kehidupan Kedua
57 Kepingan Hati di Langit Qatar
58 Rahasia Kehamilan Violetta
59 Revenge of The Ugly Lily
Episodes

Updated 59 Episodes

1
Bab 1. Dire Wolf Seputih Salju
2
Bab 2. Berburu bersama Valko
3
Bab 3. Bulan Purnama
4
Bab 4. Valko The Dire Wolf
5
Bab 5. Perburuan Cinta
6
Bab 6. Pertemuan Keluarga
7
Bab 7. Andrea Si Kakak Tingkat
8
Bab 8. Penculikan (1)
9
Bab 9. Penculikan (2)
10
Bab 10. Wabah
11
Bab 11. Backstreet
12
Bab 12. Mengambil Cuti
13
Bab 13. Ijin
14
Bab 14. Adu Domba
15
Bab 15. Perjanjian dengan Vlad
16
Bab 16. Penipuan
17
Bab 17. Kecemburuan Valko
18
Bab 18. Vlad Sebenarnya
19
Bab 19. Langkah Pertama Draco
20
Visual
21
Bab 20. Pertunangan
22
Bab 21 . Negosiasi Antar Ras
23
Bab 22. Duka Luna
24
Bab 23. Canis Guildayi
25
Bab 24. Azura Kembali Datang
26
Bab 25. Padang Bunga Baby Blue Eyes
27
Bab 26. Bukit Arcoíris
28
Bab 27. Paman Catz dan Smilodon
29
Bab 28. Permainan Paman Catz
30
Bab 29. Sebuah Sketsa
31
Bab 30. Melanjutkan Permainan
32
Bab 31. Akhir Ujian Berujung Duka
33
Bab 32. Ijin untuk Melintas
34
Bab 33. Daphne or Karina
35
Bab 34. Memulai Ritual
36
Bab 35. Jiwanya Telah Kembali
37
Bab 36. Petunjuk
38
Bab 37. Pulang Ke Tempat Asal
39
Bab 38. Pendant of Arthemis
40
Bab 39. Mencari Kalung Arthemis
41
Bab 40. Pencarian Selanjutnya
42
Bab 41. Kembalinya Pendant of Arthemis
43
Bab 42. Mencari Aroma Terapi
44
Bab 43. Suku Nuevo
45
Bab 44. Catz yang Keji Kembali
46
Bab 45. Mimpi Penutup
47
Bab 46. Ingin Melakukan Hal Menyenangkan
48
Bab 47. Berkemah Bersama
49
Bab 48. Tangisan Tengah Malam
50
Bab 49. Mana yang Asli?
51
Bab 50. Terbongkar
52
Bab 51. Melanjutkan Tugas
53
Bab 52. Melukis Diri Sendiri
54
Bab 53. Lukisan Terakhir
55
Bab 54. Pasca Ritual
56
Bab 55. Kehidupan Kedua
57
Kepingan Hati di Langit Qatar
58
Rahasia Kehamilan Violetta
59
Revenge of The Ugly Lily

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!