Luna menatap langit yang sedang menumpahkan air untuk mengguyur bumi dari balik jendela kamar. Semua teman sekamarnya sedang berkencan dengan pasangan masing-masing karena ini memang akhir pekan.
"Seandainya Valko ada di sini," keluh Luna sambil menatap langit yang masih sibuk menangis.
Gadis itu tiba-tiba teringat pesan sang kekasih. Dia mengusap gelang pemberian Valko, lalu tersenyum tipis. Luna mulai menyebut nama Valko tiga kali, kemudian mencium gelang tersebut.
"Hah, apa benar melakukan hal konyol ini akan mengurangi rasa rinduku padamu, Val?" Luna tersenyum kecut sembari mengusap gelang yang terbuat dari batu turmalin elbaite berwarna hijau itu.
Tak lama kemudian, terdengar ketukan pada jendela Luna. Luna melongok ke luar jendela, dan mendapati Valko yang tengah berdiri di luar sambil mendongak.
"Kenapa dia hujan-hujanan malam-malam begini?" gumam Luna.
Luna segera mengambil ponsel dan mengirimkan pesan untuk Valko. Setelah pesan terkirim, gadis itu membawa mantel tebal, dan juga payung. Dia menuruni satu per satu anak tangga dengan terburu-buru.
Setelah sampai di depan asrama, Luna langsung menghampiri Valko. Dia menyodorkan mantel kepada Valko, dan memayunginya. Dia mengajak lelaki itu masuk ke asrama.
Mereka berdua duduk di sebuah ruangan yang memang dipakai untuk menerima kunjungan keluarga atau kerabat. Di dalam ruangan itu terdapat tungku perapian yang menyala. Tubuh Valko menggigil dengan bibir yang mulai membiru karena kedinginan.
"Kamu kenapa ke mari hujan-hujan begini? Ini juga sudah tengah malam."
"Aku pergi dari rumah." Suara Valko bergetar karena menahan dingin yang mulai menusuk tulang.
"Kenapa?"
"Ayah memintaku untuk tidak menemuimu lagi."
Jantung Luna seakan berhenti berdetak mendengar penuturan sang kekasih. Dia tertunduk lesu dengan jemari yang saling bertautan satu sama lain. Melihat perubahan sikap Luna, membuat Valko meraih tangan gadisnya itu.
"Aku sudah memutuskan untuk mempertahankan cinta kita. Aku tidak mau menikah dengan Andrea! Dia dan neneknya adalah perempuan yang sangat jahat! Aku benci mereka berdua." Rahang Valko mengeras seketika karena teringat bagaimana keduanya membongkar hubungannya dengan Luna.
Valko memang belum mengatakan kepada sang ayah kalau sudah memiliki pilihan hati. Dia melakukan hal ini karena mengetahui sikap keras sang ayah. Valko berencana untuk mengenalkan Luna secara bertahap.
"Luna, apa kamu mau terus berjuang bersama?"
"Tapi ... aku ragu, Val. Aku takut perjuangan kita akan sia-sia." Luna tertunduk lesu dengan bahu merosot.
"Lihatlah aku!" Valko merangkum wajah sang kekasih dan menatap dalam manik mata hazel milik Luna.
Luna pun menatap mata Valco sendu. Dada gadis itu terasa sesak. Mereka berdua memang memutuskan untuk menjalin hubungan secara diam-diam. Alasannya klise, jika paman Luna tahu sudah pasti dia akan dilarang sama halnya ketika Alarick melarang Valko menemuinya.
"Apa kamu percaya dengan kekuatan cinta?" Valko tersenyum lembut seraya mengusap pipi Luna penuh cinta.
"Kekuatan Cinderella dan Pangeran, dapat menyatukan mereka walaupun ibu dan kakak tirinya menghalangi. Kekuatan cinta Pangeran Stefan, bisa membangunkan Putri Tidur dari tidur panjangnya. Dan satu lagi, Bella dapat mematahkan kutukan Adam karena ketulusan dan kekuatan cinta."
"Val, tapi ... semua itu hanyalah dongeng. Apa kisah cinta kita akan berakhir bahagia seperti kisah mereka semua?"
"Jadi ... kamu meragukan kekuatan cinta kita? Aku tidak menyangka cintamu selemah ini, Luna."
"Bukannya begitu, Val." Mata Luna mulai berkaca-kaca, membayangkan harus berpisah dengan Valko ternyata sangat menyakitkan.
Valko akhirnya menarik lengan sang kekasih. Tangis Luna semakin pecah. Dia menumpahkan semua kesedihannya detik itu juga. Valko terus mengusap punggung Luna, sesekali dia mengecup puncak kepala gadis itu.
Setelah Luna kembali tenang, Valko melepaskan pelukannya. Dia kembali merangkum wajah kekasihnya itu. Sebuah senyum penuh cinta mengembang di bibir Valko.
"Sekarang, istirahatlah. Kita bertemu lagi besok. Aku mau pulang ke kamar sewaanku."
"Maaf, karena sempat meragukan kekuatan cinta. Mari kita berjuang bersama untuk mendapatkan restu."
Valko tersenyum lebar. Laki-laki tampan itu kini mengangguk mantap. Dia mengecup puncak kepala Luna kemudian keluar dari bangunan asrama itu.
Baru beberapa meter melangkah, tiba-tiba kepala tengkuk Valko dipukul oleh seseorang. Pandangan Valko pun menjadi tidak fokus. Kepalanya serasa berputar. Tubuh Valko akhirnya ambruk ke atas tanah yang becek karena sisa guyuran hujan.
Ketika membuka mata, Valko sudah berpindah tempat. Kini dia berada di sebuah ruangan gelap dengan dinding batu. Jeruji besi memisahkannya dengan ruangan lain di tempat itu. Hanya terdapat beberapa buah obor yang menyala sebagai sumber cahaya.
Valko yang mulai tersadar mengangkat kepala. Kaki serta tangannya dibelenggu menggunakan rantai, sehingga dia kesulitan untuk bergerak. Tak lama kemudian terdengar derap langkah seseorang. Valko menyipitkan mata berusaha mengenali wajah lelaki itu, di tengah pencahayaan yang minim.
"Bagaimana rasanya dibelenggu?"
Valko terbelalak melihat siapa yang kini ada di depannya itu. Dia adalah Theo, salah satu orang kepercayaan sang ayah. Dia juga sering meminta bantuan lelaki itu jika menghadapi masalah, termasuk ketika Luna diculik beberapa waktu lalu.
"Theo!"
"Maafkan aku, tapi sejujurnya aku sangat senang kamu berada di dalam sini!"
"Kamu!"
"Ayahmu memang orang yang sangat bijaksana, sekaligus BODOH!" Theo tertawa terbahak-bahak.
"Berani-beraninya kamu menghinaku!" teriak Valko penuh amarah.
Theo membuka jeruji besi, kemudian mendekati Valko. Dia menepuk pipi lelaki tersebut beberapa kali sambil tersenyum penuh ejekan. Valko meludah tepat mengenai wajah Theo.
Theo memejamkan mata sekilas, kemudian mengusap ludah Valko menggunakan mantel bulu yang melekat di tubuhnya. Rahang Valko langsung mengeras. Dia mencengkeram wajah lelaki di depannya penuh amarah.
"Dalam kondisi begini, kamu masih berani bertingkah? Sekarang aku yang memegang kendali atas dirimu!" Theo mendaratkan pukulan pada rahang Valko hingga wajah lelaki tampan itu berpaling.
"Kenapa bisa aku ada di sini?"
"Kepala suku yang menyuruhku. Dia ingin kamu merenung, karena telah melanggar pertunangan yang sudah ditetapkan oleh leluhur."
"Aku tidak yakin, kalau perjodohan ini benar-benar atas kehendak para leluhur!"
"Ah, aku ingin menyampaikan sebuah rasa sakit hati Andrea kepadamu!"
Theo mengambil ancang-ancang. Lalu lelaki itu melompat dan menendang perut Valko sekuat tenaga. Valko mengerang kesakitan. Perutnya terasa begitu nyeri hingga ulu hati.
"Aku tidak rela karena kamu telah membuat Andrea menangis hari itu! Bahkan kamu sampai mengancam Andrea dengan mengarahkan tubuh kecilnya ke jurang!"
"Jadi, kamu mengikuti kami waktu itu?" tanya Valko sambil tersenyum miring.
"Apa kamu menyukai Andrea?" tebak Valko.
"Cih, apa urusanmu?"
"Jika memang kamu menyukai seseorang, bukankah seharusnya kamu mengambil hatinya. Berusaha sekuat hati untuk mendapatkan cintanya? Bukannya menyakiti orang lain yang tidak ada hubungannya dengan Andrea. Dasar pecundang!"
Theo yang gelap mata langsung menghujani Valko dengan pukulan. Tubuh Valko seakan tidak memiliki kekuatan karena hari itu adalah awal bulan, sehingga sinar rembulan tidak tampak sedikit pun.
Valko mendapatkan pukulan di banyak tempat. Wajahnya mulai dipenuhi luka lebam, dan sudut bibirnya sedikit sobek. Lengan lelaki tampan itu pun mulai membengkak. Agaknya ada tulangnya yang retak karena pukulan Theo yang membabi buta.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 59 Episodes
Comments