"Lepas! Aku bisa berjalan sendiri!" Luna berontak, kemudian berjalan menuju gerbang kompleks perumahan suku Canis.
Bukannya langsung pulang, Luna justru duduk di depan gerbang tersebut beralaskan jaket yang awalnya dia pakai. Luna berencana melancarkan aksi protes kepada Alarick. Dia ingin menunjukkan kekuatan cinta yang dimiliki kepada calon mertuanya itu.
Hari pun berganti, tak terasa tubuh Luna mulai terasa lemas. Dia tidak meminum seteguk air atau secuil makanan sama sekali sejak sampai di sana. Luna tertunduk lesu. Bahunya merosot.
"Wah, ada pengemis di sini!" ejek Andrea yang baru saja keluar dari kompleks perumahan itu.
Luna memilih diam. Dia ingin menyimpan energi yang tersiksa. Gadis itu tidak mau tenaganya semakin terkuras jika menanggapi mulut pedas Andrea.
"Hei! Kamu sekarang bisu? Ke mana kesombonganmu tingkat Dewa itu? Lenyap ke mana sikap congkakmu itu?"
Andrea terus berusaha menyalakan api dalam hati Luna. Akan tetapi, usahanya tidak membuahkan hasil. Luna tetap bergeming dan tidak mengeluarkan sepatah kata pun.
"Dasar j*lang!" teriak Andrea sambil menendang tubuh Luna.
Luna pun akhirnya tersungkur di atas lantai. Tenaganya menguap begitu saja. Kini tidak berdaya. Untuk sekedar membuka mata saja dia tak mampu.
Theo yang sejak tadi bersama Andrea pun segera menarik lengan gadis itu dan mengajaknya menjauh. Andrea pun berjalan pergi, mengikuti langkah kaki lelaki itu.
Langit berubah gelap seiring kepergian Andrea dan juga Theo. Air mata gadis itu mulai bercucuran bercampur dengan tetes air hujan yang turun perlahan . Titik air hujan kini berubah menjadi aliran air yang begitu deras menerpa tanah gembur Hutan La Eterno.
"Apa harus menderita begini hanya untuk bersamamu, Val? Jika memang setelah ini aku bisa bersamamu .... Aku rela." Luna pun memejamkan mata setelah tiga hari tidak berpindah ke alam mimpi.
Di kediaman Alarick, seorang penjaga gerbang yang sedang bertugas bernama David mendatangi sang kepala suku. Dia melaporkan bahwa Luna pingsan, dan kini sedang di bawa ke balai pengobatan milik Maria.
"Kami membawanya ke Tabib Maria, karena Berta tidak mau menanganinya, Tuan."
"Mungkin dia masih sibuk mengurus warga lain yang terkena wabah. Aku akan menyusulnya ke sana."
Alarick bergegas ke balai pengobatan Maria. Dia langsung melihat kondisi Luna yang kini terbaring lemas di atas ranjang. Maria mendekati Alarick dan menjelaskan kondisi Luna sekarang.
"Dia dehidrasi, Tuan. Kekurangan gizi, juga depresi parah. Berulang kali dia mengigau."
"Mengigau seperti apa?"
"Valko, Valko, kamu di mana? Aku sangat mencintaimu! Kembalilah!" Maria menirukan igauan Luna sambil melakukan gerakan untuk mendramatisi suasana.
"Dasar gadis bodoh! Sudah kubilang untuk pulang, tapi nekat seperti ini! Memangnya aku akan merestuinya begitu saja?" Alarick menyipitkan mata.
Maria berdeham beberapa kali, kemudian tersenyum geli. "Tuan, apakah Anda lupa? Dulu Anda dan juga Kak Janeta se-bucin ini! Satu tak makan, yang lain pun ikut mogok makan karena dilarang untuk menikah."
Alarick terdiam. Maria benar. Adik iparnya itu mengingatkannya lagi tentang kisah perjuangan cinta dengan sang istri, agar direstui oleh ayahnya. Alarick membuang napas kasar.
"Rawat dia sampai pulih kembali."
"Baik, Tuan."
Alarick pun segera pergi dari balai tersebut. Dia berniat untuk mengunjungi Valko. Lelaki itu tidak pernah melihat keadaan sang putra semenjak dia dikurung di penjara bawah tanah.
Alarick memutari kompleks perumahan suku Canis, dan berhenti di sebuah gua yang ada di bagian hutan terlarang dari Hutan Timur. Di mulut gua tersebut terdapat dia buah obor yang menempel di dinding.
Alarick mengambilnya satu, dan dipergunakan untuk menyinari jalan menuju penjara bawah tanah yang ada dalam gua tersebut. Dia menuruni satu per satu anak tangga, menuju jeruji besi yang dipergunakan untuk mengurung Valko.
"Valko!" teriak Alarick ketika sudah berada di depan penjara.
Dia terbelalak mendapati kondisi Valko yang sudah tidak sadarkan diri. Samar terlihat dalam kegelapan, putranya itu mengalami banyak luka memar. Wajah dan tubuhnya dipenuhi oleh darah yang sudah mengering.
"Apa-apaan ini!" seru Alarick penuh amarah.
Dia pun segera menghubungi Theo, agar lelaki yang diberi tanggung jawab untuk menjaga Valko itu datang. Tak lama kemudian, Theo datang dengan wajah panik.
"Tu-Tuan! Bagaimana Anda bisa ...."
Rahang Alarick mengeras seketika. Dia melayangkan sebuah tatapan tajam kepada pemuda itu. Theo bergidik ngeri, karena baru kali ini menyaksikan Alarick terlihat begitu marah.
"A-aku bisa jelaskan semuanya, Tuan!" Theo terus mendekati Alarick. Akan tetapi, setiap dia melangkah maju, Alarick akan mundur satu langkah.
Tak lama kemudian petugas keamanan suku Canis pun datang. Mereka menyergap Theo dan membawanya ke balai desa untuk diadili, sebagian lagi dari mereka membantu Alarick untuk membawa Valko keluar dari penjara tersebut.
Satu jam kemudian ....
Alarick menatap dua orang yang sedang terbaring di atas ranjang balai pengobatan. Valko dan Luna sama-sama masih memejamkan mata. Lelaki itu merasa bersalah karena telah berusaha memisahkan dia sejoli yang saling mencintai itu.
"Mereka mungkin memang ditakdirkan bersama, Tuan." Maria tiba-tiba menghampiri Alarick dan membawakannya secangkir kopi.
"Entahlah. Aku merasa buruk melihat mereka berdua berakhir seperti ini." Alarick mengusap wajah kasar, dan kembali menatap Luna serta Valko secara bergantian.
"Masih bisa diperbaiki. Kamu hanya cukup memberikan restu untuk mereka, Tuan. Dengan restu dari orang tua, maka perjalanan cinta mereka akan lebih mudah."
"Aku harap begitu. Apa Luna juga bisa menerima keadaan Valko? Kamu tahu sendiri, 'kan? Kalau dia mendapatkan kutukan dari leluhur?"
"Aku sudah tahu semuanya, Pak," ucap Luna lemah.
Maria dan Alarick langsung menoleh ke arah Luna yang mulai membuka mata. Dia juga berusaha untuk bangun. Maria segera beranjak dan membantu Luna untuk duduk bersandar pada kepala ranjang.
"Apa yang kamu rasakan? Mau makan atau minum?" tanya Maria lembut.
"Tidak, Bu. Aku hanya ingin bertemu Valko." Luna belum menyadari kalau sekarang dia berada satu ruangan bersama Valko.
"Dia juga ada di sini," kata Alarick sambil menatap Valko yang masih terbaring dengan tubuh dibalut perban.
Luna mengikuti arah sorot mata Alarick. Betapa terkejutnya dia, ketika mendapati Alarick sudah tergolek tak berdaya di atas ranjang. Luna bangkit dari ranjang dan berusaha turun.
Gadis itu berjalan tertatih mendekati Valko. Air matanya bercucuran melihat kondisi Valko yang sangat memprihatinkan. Luna pun meraih jemari Valko dan mencium punggung tangannya.
"Val, apa yang terjadi? Kenapa kamu bisa menjadi seperti ini?"
"Maaf, aku yang salah." Alarick tertunduk lesu. Jemarinya saling bertautan. Dada lelaki itu terasa seperti diimpit dengan batu besar ketika mengingat lagi bagaimana dia meminta Theo untuk mengawasi Valko dan membawanya pulang jika nekat bertemu dengan Luna.
Alarick merasa bahwa dirinya adalah ayah paling egois di dunia. Dia mengusap wajah kasar, lalu menatap lagi gadis yang sekarang tengah bercucuran air mata karena melihat kondisi menyedihkan Valko.
"Mulai hari ini, aku merestui hubunganmu dengan Valko. Aku harap kalian mendapatkan kebahagiaan selama ini. Maaf, karena telah berusaha memisahkan kalian berdua. Aku sangat menyesal."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 59 Episodes
Comments