Bab 12. Mengambil Cuti

Sore itu Luna mencoba menghubungi Valko berulang kali. Sudah lebih dari sepuluh kali dia mengirimkan pesan serta menelepon Valko, tetapi tidak ada jawaban.

Gadis itu mondar-mandir di kamar asramanya sambil menggigit kuku tangan. Hatinya gusar karena sejak semalam Valko sama sekali tidak membalas pesan ataupun mengangkat panggilannya.

"Ke mana kamu, Val?" tanya Luna cemas.

Luna pun duduk pasrah di atas ranjang, dan mencoba untuk berpikir tentang keberadaan Valko sekarang. Tak lama kemudian mata gadis itu terasa begitu berat. Dia pun merebahkan tubuh ke atas kasur kemudian terlelap.

Dalam keadaan terlelap, Luna tiba-tiba bermimpi aneh. Ini adalah mimpi paling aneh sepanjang hidupnya. Dia bisa merasakan angin yang menerpa kulit. Aroma bunga dahlia pun menyeruak menyapa penciumannya.

Semua terasa begitu nyata. Luna bahkan bisa merasakan permukaan dari setiap benda yang dia sentuh. Dalam mimpi tersebut, Luna melihat Valko yang sedang berjalan menjauhi asrama sama seperti malam sebelumnya.

"Valko!" panggil Luna.

Akan tetapi, pria itu tidak menoleh. Tak lama kemudian ada sosok laki-laki yang Luna tahu dia adalah Theo. Theo mengendap-endap mendekati Valko dengan balok kayu di tangannya. Dia melayangkan kayu tersebut ke udara dan bersiap untuk mendaratkan pada leher Valko.

"Valko, awas!"

Lagi-lagi Valko tidak mendengar teriakan Luna. Alhasil, lelaki tersebut terpukul dan jatuh ke atas tanah yang masih basah. Luna langsung berlari mendekati Valko.

Akan tetapi, ketika dia hendak menyentuhnya, Theo menyeret tubuh besar Valko. Theo memasukkan tubuh Valko ke bak mobil pengangkut barang. Kemudian mengendarai mobil itu menjauh dari asrama.

"Mau dibawa kemana Valko?" Luna mencoba berlari mengikuti mobil yang dikendarai Theo.

Ketika berlari langkah Luna terasa begitu ringan. Rasanya seperti melayang. Luna melesat secepat angin dan terus mengikuti mobil tersebut.

"Hutan La Eterno?" Luna mengerutkan dahi setelah mobil tersebut berhenti di tepi hutan La Eterno.

Namun, ketika Luna hendak mengikuti mereka masuk ke  dalam hutan, dia terpelanting. Seakan ada perisai yang melindungi hutan itu. Luna terlempar lumayan jauh. etika tubuh gadis itu hendak bertumbukkan dengan tanah, matanya kembali terbuka.

"Astaga!" pekik Luna sambil terduduk di atas ranjang.

Luna melirik jam yang menempel pada dinding, lalu mengusap kasar wajahnya. Cahaya matahari mulai menerobos jendela kamar. Luna mulai menggeliat dan turun dari ranjang. Dia segera bersiap untuk berangkat kuliah.

Sepanjang jam pelajaran, Luna tidak fokus. Kepalanya dipenuhi oleh bayangan mimpi semalam. Setelah selesai mengikuti kelas, dia langsung menuju ruang Abraham.

"Permisi, Pak."

"Masuk!"

Luna segera melangkah masuk dan duduk di kursi depan meja kerja Sang Dekan. Abraham menghentikan pekerjaannya. Kini tatapannya fokus pada Luna yang terlihat ragu.

"Apa, kamu mengalami kesulitan, Luna?"

"Iya, Prof. Saya tidak bisa fokus belajar hari ini. Apa boleh saya mengambil ijin selama beberapa hari ke depan, Prof? Saya ingin pulang ke La Eterno."

"Jika memang mendesak, aku ijinkan. Kuberikan waktu satu minggu. Segeralah kembali!"

"Baik, Prof!" Luna beranjak dari kursi, lalu segera keluar dari ruangan itu.

***

Mentari sudah berganti dengan bulan yang masih malu mengintip di balik awan. Luna berjalan menyusuri hutan pinus yang sudah sebulan lebih dia tinggalkan itu. Tidak ada yang berubah. Hanya tanah serta pepohonan pinus yang tampak bersih dari tumpukan salju, tidak seperti terakhir dia datang.

Luna kembali mengingat-ingat jalan yang harus di lalui untuk menuju hutan bagian timur. Tidak sulit bagi gadis itu, karena dia memang memiliki daya ingat yang luar biasa. Seumur hidup Luna, dia tidak pernah tersesat sekali pun.

Setelah berjalan membelah sunyinya hutan seorang diri, dari kejauhan tampak kawasan perumahan semi modern milik suku Canis. Rumah-rumah mereka tertata rapi dan terbuat dari kayu-kayu besar yang dibelah menjadi beberapa bagian.

Pada bagian depan kompleks perumahan itu, terdapat sebuah gerbang yang juga terbuat dari deretan kayu. Pagar itu dirambati oleh tanaman rumput liar dengan bunga berwarna merah. Meskipun hanya rumput liar, agaknya para penduduk merawatnya dengan baik karena terlihat begitu cantik dan justru memperindah penampakan kompleks perumahan tersebut.

"Indahnya ...." Luna tersenyum tipis ketika menatap pemandangan di depannya.

Dia terus melangkah, dan berhenti ketika sudah sampai di gerbang perumahan tersebut. Dua orang lelaki paruh baya tampak berjaga di sana. Keduanya saling menatap, lalu salah satu di antara mereka melangkah maju dan menyapa Luna.

"Ada kepentingan apa malam-malam begini, Nona?"

"Saya ingin bertemu dengan Valko, Pak. Bisakah Anda memanggilkannya untukku?"

Lelaki itu mengerutkan dahi, kemudian menoleh ke arah rekannya. Keduanya berbicara dengan bahasa asing, yang tidak akrab di telinga Luna. Setelah berbincang selama lima menit, lelaki itu kembali membuka obrolan dengan Luna.

"Mari ikut saya!" ajak lelaki yang ternyata bernama Daniel itu.

Luna pun mengekor di belakang Daniel. Langkahnya berhenti di sebuah gazebo berukuran sedang dekat dengan gerbang perumahan. Dia disuguhi dengan secangkir teh Chamomile dan beberapa potong kue keju.

Tak lama kemudian, Alarick datang menemuinya bersama lelaki yang tadi menjaga gerbang. Ayah dari Valko tersebut menatap tajam Luna. Dia tidak suka melihat kehadiran gadis tersebut.

"Mau apa kamu ke sini?" tanya Alarick ketus.

"Pak, bolehkah saya bertemu Valko?"

"Dia tidak ada di sini! Pergilah!" usir Alarick.

Lelaki itu langsung balik badan dan meninggalkan Luna. Luna yang kesal pun akhirnya beranjak dari tempatnya duduk sekarang. Dia menarik napas panjang, lalu mengembuskannya perlahan.

"Aku tahu Anda sedang berbohong, Pak!" teriak Luna.

Mendengar teriakan Luna, membuat kaki Alarick keakan terpaku di atas tanah. Dia kembali membalikkan badan dan menatap Luna dengan tatapan elang.

"Aku tahu, siapa yang membawanya kembali ke La Eterno! Dia adalah Theo!" seru Luna dengan suara gemetar karena marah dengan kebohongan yang diucapkan oleh Alarick.

"Theo memukul tengkuk Valko, lalu menyeretnya ke mobil! Dan dia membawa Valko pulang ke hutan ini!"

Alarick terperangah. Dia tidak menyangka bahwa Luna mengetahui detail kejadian malam itu. Bahkan dirinya tidak tahu kalau Theo membawanya dengan cara kekerasan.

"Pergilah! Jangan pernah cari Valko lagi!"

"Apa Bapak tidak pernah memiliki orang yang Anda cintai?"

Alarick terdiam. Ucapan Luna membuatnya teringat sosok sang istri, yang lebih dulu menghadap pada Yang Maha Kuasa. Perasaannya mendadak goyah.

"Apa Anda bisa menjalani hidup tanpa mengetahui kabar sedikit pun dari orang yang Anda cintai?" Luna mulai berkaca-kaca.

Hatinya risau, ada perasaan tidak tenang setelah mengalami mimpi aneh kemarin malam. Dia merasa ada suatu hal buruk yang terjadi pada Valko.

"Pak, tolong ijinkan saya bertemu dengan Valko. Sekali ini saja." Luna menangkupkan kedua telapak tangan, untuk memohon kepada lelaki di hadapannya itu.

Alarick terdiam sejenak. Dia sempat berpikir untuk mempertemukan Luna dengan sang putra. Akan tetapi, tiba-tiba dia teringat dengan wabah yang menyerang penduduk sukunya. Para tetua mengatakan bahwa ini adalah kutukan, karena Valko sudah mengingkari perjanjian leluhur.

"Pergilah! Percuma kamu memohon sekuat apa pun! Aku akan melindungi wargaku dengan segenap kemampuan yang aku miliki!" Alarick segera beringsut dari hadapan Luna.

Dua penjaga gerbang pun menggiring gadis itu ke luar kompleks perumahan suku Canis. Luna pasrah. Dia mengikuti keduanya keluar dengan perasaan kecewa kepada Alarick.

Episodes
1 Bab 1. Dire Wolf Seputih Salju
2 Bab 2. Berburu bersama Valko
3 Bab 3. Bulan Purnama
4 Bab 4. Valko The Dire Wolf
5 Bab 5. Perburuan Cinta
6 Bab 6. Pertemuan Keluarga
7 Bab 7. Andrea Si Kakak Tingkat
8 Bab 8. Penculikan (1)
9 Bab 9. Penculikan (2)
10 Bab 10. Wabah
11 Bab 11. Backstreet
12 Bab 12. Mengambil Cuti
13 Bab 13. Ijin
14 Bab 14. Adu Domba
15 Bab 15. Perjanjian dengan Vlad
16 Bab 16. Penipuan
17 Bab 17. Kecemburuan Valko
18 Bab 18. Vlad Sebenarnya
19 Bab 19. Langkah Pertama Draco
20 Visual
21 Bab 20. Pertunangan
22 Bab 21 . Negosiasi Antar Ras
23 Bab 22. Duka Luna
24 Bab 23. Canis Guildayi
25 Bab 24. Azura Kembali Datang
26 Bab 25. Padang Bunga Baby Blue Eyes
27 Bab 26. Bukit Arcoíris
28 Bab 27. Paman Catz dan Smilodon
29 Bab 28. Permainan Paman Catz
30 Bab 29. Sebuah Sketsa
31 Bab 30. Melanjutkan Permainan
32 Bab 31. Akhir Ujian Berujung Duka
33 Bab 32. Ijin untuk Melintas
34 Bab 33. Daphne or Karina
35 Bab 34. Memulai Ritual
36 Bab 35. Jiwanya Telah Kembali
37 Bab 36. Petunjuk
38 Bab 37. Pulang Ke Tempat Asal
39 Bab 38. Pendant of Arthemis
40 Bab 39. Mencari Kalung Arthemis
41 Bab 40. Pencarian Selanjutnya
42 Bab 41. Kembalinya Pendant of Arthemis
43 Bab 42. Mencari Aroma Terapi
44 Bab 43. Suku Nuevo
45 Bab 44. Catz yang Keji Kembali
46 Bab 45. Mimpi Penutup
47 Bab 46. Ingin Melakukan Hal Menyenangkan
48 Bab 47. Berkemah Bersama
49 Bab 48. Tangisan Tengah Malam
50 Bab 49. Mana yang Asli?
51 Bab 50. Terbongkar
52 Bab 51. Melanjutkan Tugas
53 Bab 52. Melukis Diri Sendiri
54 Bab 53. Lukisan Terakhir
55 Bab 54. Pasca Ritual
56 Bab 55. Kehidupan Kedua
57 Kepingan Hati di Langit Qatar
58 Rahasia Kehamilan Violetta
59 Revenge of The Ugly Lily
Episodes

Updated 59 Episodes

1
Bab 1. Dire Wolf Seputih Salju
2
Bab 2. Berburu bersama Valko
3
Bab 3. Bulan Purnama
4
Bab 4. Valko The Dire Wolf
5
Bab 5. Perburuan Cinta
6
Bab 6. Pertemuan Keluarga
7
Bab 7. Andrea Si Kakak Tingkat
8
Bab 8. Penculikan (1)
9
Bab 9. Penculikan (2)
10
Bab 10. Wabah
11
Bab 11. Backstreet
12
Bab 12. Mengambil Cuti
13
Bab 13. Ijin
14
Bab 14. Adu Domba
15
Bab 15. Perjanjian dengan Vlad
16
Bab 16. Penipuan
17
Bab 17. Kecemburuan Valko
18
Bab 18. Vlad Sebenarnya
19
Bab 19. Langkah Pertama Draco
20
Visual
21
Bab 20. Pertunangan
22
Bab 21 . Negosiasi Antar Ras
23
Bab 22. Duka Luna
24
Bab 23. Canis Guildayi
25
Bab 24. Azura Kembali Datang
26
Bab 25. Padang Bunga Baby Blue Eyes
27
Bab 26. Bukit Arcoíris
28
Bab 27. Paman Catz dan Smilodon
29
Bab 28. Permainan Paman Catz
30
Bab 29. Sebuah Sketsa
31
Bab 30. Melanjutkan Permainan
32
Bab 31. Akhir Ujian Berujung Duka
33
Bab 32. Ijin untuk Melintas
34
Bab 33. Daphne or Karina
35
Bab 34. Memulai Ritual
36
Bab 35. Jiwanya Telah Kembali
37
Bab 36. Petunjuk
38
Bab 37. Pulang Ke Tempat Asal
39
Bab 38. Pendant of Arthemis
40
Bab 39. Mencari Kalung Arthemis
41
Bab 40. Pencarian Selanjutnya
42
Bab 41. Kembalinya Pendant of Arthemis
43
Bab 42. Mencari Aroma Terapi
44
Bab 43. Suku Nuevo
45
Bab 44. Catz yang Keji Kembali
46
Bab 45. Mimpi Penutup
47
Bab 46. Ingin Melakukan Hal Menyenangkan
48
Bab 47. Berkemah Bersama
49
Bab 48. Tangisan Tengah Malam
50
Bab 49. Mana yang Asli?
51
Bab 50. Terbongkar
52
Bab 51. Melanjutkan Tugas
53
Bab 52. Melukis Diri Sendiri
54
Bab 53. Lukisan Terakhir
55
Bab 54. Pasca Ritual
56
Bab 55. Kehidupan Kedua
57
Kepingan Hati di Langit Qatar
58
Rahasia Kehamilan Violetta
59
Revenge of The Ugly Lily

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!