Sore itu Luna mencoba menghubungi Valko berulang kali. Sudah lebih dari sepuluh kali dia mengirimkan pesan serta menelepon Valko, tetapi tidak ada jawaban.
Gadis itu mondar-mandir di kamar asramanya sambil menggigit kuku tangan. Hatinya gusar karena sejak semalam Valko sama sekali tidak membalas pesan ataupun mengangkat panggilannya.
"Ke mana kamu, Val?" tanya Luna cemas.
Luna pun duduk pasrah di atas ranjang, dan mencoba untuk berpikir tentang keberadaan Valko sekarang. Tak lama kemudian mata gadis itu terasa begitu berat. Dia pun merebahkan tubuh ke atas kasur kemudian terlelap.
Dalam keadaan terlelap, Luna tiba-tiba bermimpi aneh. Ini adalah mimpi paling aneh sepanjang hidupnya. Dia bisa merasakan angin yang menerpa kulit. Aroma bunga dahlia pun menyeruak menyapa penciumannya.
Semua terasa begitu nyata. Luna bahkan bisa merasakan permukaan dari setiap benda yang dia sentuh. Dalam mimpi tersebut, Luna melihat Valko yang sedang berjalan menjauhi asrama sama seperti malam sebelumnya.
"Valko!" panggil Luna.
Akan tetapi, pria itu tidak menoleh. Tak lama kemudian ada sosok laki-laki yang Luna tahu dia adalah Theo. Theo mengendap-endap mendekati Valko dengan balok kayu di tangannya. Dia melayangkan kayu tersebut ke udara dan bersiap untuk mendaratkan pada leher Valko.
"Valko, awas!"
Lagi-lagi Valko tidak mendengar teriakan Luna. Alhasil, lelaki tersebut terpukul dan jatuh ke atas tanah yang masih basah. Luna langsung berlari mendekati Valko.
Akan tetapi, ketika dia hendak menyentuhnya, Theo menyeret tubuh besar Valko. Theo memasukkan tubuh Valko ke bak mobil pengangkut barang. Kemudian mengendarai mobil itu menjauh dari asrama.
"Mau dibawa kemana Valko?" Luna mencoba berlari mengikuti mobil yang dikendarai Theo.
Ketika berlari langkah Luna terasa begitu ringan. Rasanya seperti melayang. Luna melesat secepat angin dan terus mengikuti mobil tersebut.
"Hutan La Eterno?" Luna mengerutkan dahi setelah mobil tersebut berhenti di tepi hutan La Eterno.
Namun, ketika Luna hendak mengikuti mereka masuk ke dalam hutan, dia terpelanting. Seakan ada perisai yang melindungi hutan itu. Luna terlempar lumayan jauh. etika tubuh gadis itu hendak bertumbukkan dengan tanah, matanya kembali terbuka.
"Astaga!" pekik Luna sambil terduduk di atas ranjang.
Luna melirik jam yang menempel pada dinding, lalu mengusap kasar wajahnya. Cahaya matahari mulai menerobos jendela kamar. Luna mulai menggeliat dan turun dari ranjang. Dia segera bersiap untuk berangkat kuliah.
Sepanjang jam pelajaran, Luna tidak fokus. Kepalanya dipenuhi oleh bayangan mimpi semalam. Setelah selesai mengikuti kelas, dia langsung menuju ruang Abraham.
"Permisi, Pak."
"Masuk!"
Luna segera melangkah masuk dan duduk di kursi depan meja kerja Sang Dekan. Abraham menghentikan pekerjaannya. Kini tatapannya fokus pada Luna yang terlihat ragu.
"Apa, kamu mengalami kesulitan, Luna?"
"Iya, Prof. Saya tidak bisa fokus belajar hari ini. Apa boleh saya mengambil ijin selama beberapa hari ke depan, Prof? Saya ingin pulang ke La Eterno."
"Jika memang mendesak, aku ijinkan. Kuberikan waktu satu minggu. Segeralah kembali!"
"Baik, Prof!" Luna beranjak dari kursi, lalu segera keluar dari ruangan itu.
***
Mentari sudah berganti dengan bulan yang masih malu mengintip di balik awan. Luna berjalan menyusuri hutan pinus yang sudah sebulan lebih dia tinggalkan itu. Tidak ada yang berubah. Hanya tanah serta pepohonan pinus yang tampak bersih dari tumpukan salju, tidak seperti terakhir dia datang.
Luna kembali mengingat-ingat jalan yang harus di lalui untuk menuju hutan bagian timur. Tidak sulit bagi gadis itu, karena dia memang memiliki daya ingat yang luar biasa. Seumur hidup Luna, dia tidak pernah tersesat sekali pun.
Setelah berjalan membelah sunyinya hutan seorang diri, dari kejauhan tampak kawasan perumahan semi modern milik suku Canis. Rumah-rumah mereka tertata rapi dan terbuat dari kayu-kayu besar yang dibelah menjadi beberapa bagian.
Pada bagian depan kompleks perumahan itu, terdapat sebuah gerbang yang juga terbuat dari deretan kayu. Pagar itu dirambati oleh tanaman rumput liar dengan bunga berwarna merah. Meskipun hanya rumput liar, agaknya para penduduk merawatnya dengan baik karena terlihat begitu cantik dan justru memperindah penampakan kompleks perumahan tersebut.
"Indahnya ...." Luna tersenyum tipis ketika menatap pemandangan di depannya.
Dia terus melangkah, dan berhenti ketika sudah sampai di gerbang perumahan tersebut. Dua orang lelaki paruh baya tampak berjaga di sana. Keduanya saling menatap, lalu salah satu di antara mereka melangkah maju dan menyapa Luna.
"Ada kepentingan apa malam-malam begini, Nona?"
"Saya ingin bertemu dengan Valko, Pak. Bisakah Anda memanggilkannya untukku?"
Lelaki itu mengerutkan dahi, kemudian menoleh ke arah rekannya. Keduanya berbicara dengan bahasa asing, yang tidak akrab di telinga Luna. Setelah berbincang selama lima menit, lelaki itu kembali membuka obrolan dengan Luna.
"Mari ikut saya!" ajak lelaki yang ternyata bernama Daniel itu.
Luna pun mengekor di belakang Daniel. Langkahnya berhenti di sebuah gazebo berukuran sedang dekat dengan gerbang perumahan. Dia disuguhi dengan secangkir teh Chamomile dan beberapa potong kue keju.
Tak lama kemudian, Alarick datang menemuinya bersama lelaki yang tadi menjaga gerbang. Ayah dari Valko tersebut menatap tajam Luna. Dia tidak suka melihat kehadiran gadis tersebut.
"Mau apa kamu ke sini?" tanya Alarick ketus.
"Pak, bolehkah saya bertemu Valko?"
"Dia tidak ada di sini! Pergilah!" usir Alarick.
Lelaki itu langsung balik badan dan meninggalkan Luna. Luna yang kesal pun akhirnya beranjak dari tempatnya duduk sekarang. Dia menarik napas panjang, lalu mengembuskannya perlahan.
"Aku tahu Anda sedang berbohong, Pak!" teriak Luna.
Mendengar teriakan Luna, membuat kaki Alarick keakan terpaku di atas tanah. Dia kembali membalikkan badan dan menatap Luna dengan tatapan elang.
"Aku tahu, siapa yang membawanya kembali ke La Eterno! Dia adalah Theo!" seru Luna dengan suara gemetar karena marah dengan kebohongan yang diucapkan oleh Alarick.
"Theo memukul tengkuk Valko, lalu menyeretnya ke mobil! Dan dia membawa Valko pulang ke hutan ini!"
Alarick terperangah. Dia tidak menyangka bahwa Luna mengetahui detail kejadian malam itu. Bahkan dirinya tidak tahu kalau Theo membawanya dengan cara kekerasan.
"Pergilah! Jangan pernah cari Valko lagi!"
"Apa Bapak tidak pernah memiliki orang yang Anda cintai?"
Alarick terdiam. Ucapan Luna membuatnya teringat sosok sang istri, yang lebih dulu menghadap pada Yang Maha Kuasa. Perasaannya mendadak goyah.
"Apa Anda bisa menjalani hidup tanpa mengetahui kabar sedikit pun dari orang yang Anda cintai?" Luna mulai berkaca-kaca.
Hatinya risau, ada perasaan tidak tenang setelah mengalami mimpi aneh kemarin malam. Dia merasa ada suatu hal buruk yang terjadi pada Valko.
"Pak, tolong ijinkan saya bertemu dengan Valko. Sekali ini saja." Luna menangkupkan kedua telapak tangan, untuk memohon kepada lelaki di hadapannya itu.
Alarick terdiam sejenak. Dia sempat berpikir untuk mempertemukan Luna dengan sang putra. Akan tetapi, tiba-tiba dia teringat dengan wabah yang menyerang penduduk sukunya. Para tetua mengatakan bahwa ini adalah kutukan, karena Valko sudah mengingkari perjanjian leluhur.
"Pergilah! Percuma kamu memohon sekuat apa pun! Aku akan melindungi wargaku dengan segenap kemampuan yang aku miliki!" Alarick segera beringsut dari hadapan Luna.
Dua penjaga gerbang pun menggiring gadis itu ke luar kompleks perumahan suku Canis. Luna pasrah. Dia mengikuti keduanya keluar dengan perasaan kecewa kepada Alarick.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 59 Episodes
Comments