Diego menatap sang ibu yang kini sedang memandang ke luar jendela kamarnya sambil bergumam. Kondisi Martha semakin bertambah parah. Ingatannya mundur dan berhenti di masa Diego masih berusia sepuluh tahun.
Sepanjang hari Martha selalu menanyakan keberadaan ibu Luna yang sudah meninggal sejak lama. Diego terpaksa berbohong kalau sang kakak belum pulang dari kota. Jika Diego mengungkapkan fakta bahwa sang kakak telah meninggal, Martha akan pingsan karena sudah tidak dapat mengendalikan emosi.
Melihat kondisi Martha yang semakin memburuk, membuat Diego nekat membawanya ke kota. Tanpa berbekal banyak uang, lelaki tampan itu nekat memeriksakan sang ibu.
Siang itu, Diego sedang berada di sebuah rumah sakit terbesar di Kota Flor. Dia tengah mengantre untuk mendaftarkan sang ibu. Setelah menunggu beberapa menit, kini giliran Diego yang maju ke bagian pendaftaran.
"Baik, boleh minta data diri pasien, Pak?" tanya petugas pendaftaran.
Diego langsung menyodorkan kartu tanda pengenal sang ibu kepada perempuan itu. Sang petugas pun langsung memasukkan data diri Martha ke dalam komputer.
"Nona, apakah di sini bisa dibayar dengan mencicil tagihan?" tanya Diego sambil menunggu proses pendaftaran selesai.
"Maaf, tidak bisa, Pak. Setiap yang datang ke sini juga harus mempunyai asuransi kesehatan. Jadi, berapa nomor polis asuransi ibu Anda?" tanya perempuan itu ramah.
"Kami dari pedesaan di Hutan La Eterno, tidak memiliki hal semacam itu. Jaringan telepon dan listrik saja baru masuk ke sana lima tahun terakhir."
"Maaf, Pak. Kalau begitu, Anda tidak bisa berobat di sini. Selanjutnya!" Perawat itu mengembalikan kartu identitas Martha dan memanggil pasien berikutnya.
"Tolong saya, Bu. Sekali ini saja. Saya mohon." Diego menangkupkan kedua telapak tangan, berharap mendapatkan belas kasihan dari sang petugas.
"Maaf, Pak. Tidak bisa, silakan keluar. Selanjutnya!" Wajah petugas itu berubah ketus, karena terganggu dengan desakan Diego.
Kini Diego mulai menarik lengan perempuan itu, hingga timbul kekacauan. Petugas pendaftaran itu mulai berteriak memanggil petugas keamanan. Tak lama kemudian, dua orang pria bertubuh tegap pun menghampiri Diego.
"Tolong bawa Bapak ini dan ibunya keluar! Dia menghambat proses pendaftaran!" perintah petugas itu.
"Ayo, Pak! Ikut kami!" Salah seorang petugas menggelandang Diego, dan satu lagi menuntun Martha keluar dari barisan antrean.
Diego terus berontak. Dia terus berteriak dan mengeluarkan umpatan. Keributan ini akhirnya dilihat oleh salah seorang dokter yang ada di sana. Dia adalah Vlad. Dokter bedah tersohor di Kota Flor.
Selain terkenal sebagai dokter berdarah dingin, Vlad merupakan pemilik Rumah Sakit besar yang kini didatangi oleh Diego. Dia merupakan salah seorang bangsawan Flor yang sangat dihormati. Vlad terkenal dermawan, dan suka membantu warga yang membutuhkan.
"Ada apa ini?" Suara Vlad sontak membuat semuanya terdiam.
Vlad mulai melangkah mendekati Diego yang kini sedang dicekal oleh petugas keamanan. Dia mengerutkan dahi ketika melihat lelaki itu. Tatapannya beralih pada petugas yang kini memegang lengan Diego.
"Siang, Pak. Lelaki ini telah membuat keributan! Dia ingin berobat, tetapi tidak mau membayar!" tuduh sang petugas.
"Hei! Bicara apa kamu, Brengsek! Aku bukannya tidak mau membayar! Tapi aku ingin mencicil biaya pengobatan ibuku, karena tidak memiliki polis asuransi!" teriak Diego karena tidak terima dengan ucapan sang petugas keamanan.
"Polis asuransi itu wajib di negara ini! Jadi, jika kamu tidak memilikinya, maka kamu akan ditolak semua rumah sakit yang ada di negeri ini!"
"Sudah, lepaskan dia!" perintah Vlad kepada petugas keamanan.
Petugas itu pun melepaskan cengkeraman tangannya dari lengan Diego. Diego langsung merapikan pakaian yang melekat di tubuhnya karena aksi berontaknya tadi.
"Pak, mari ikut ke ruangan saya!" Vlad meminta Diego untuk ikut ke ruangan dokter tersebut.
Setelah sampai di ruangan Vlad, dokter itu menanyakan permasalahan yang dialami oleh Diego. Diego pun menceritakan semua yang sedang dia alami. Vlad mendengarkan semua yang diucapkan Diego dengan saksama. Setelah lelaki itu selesai bercerita, Vlad menarik napas panjang dan mengembuskannya perlahan.
"Jadi, kamu ingin mengobati ibumu, tapi tidak memiliki biaya?" tanya Vlad.
"Iya, Dok." Diego tertunduk lesu dengan jemari yang saling bertautan.
"Baiklah, aku akan membantumu!" ujar Vlad.
Sontak Diego mendongak, menatap sang dokter. Matanya berbinar karena merasa akan mendapatkan jalan untuk kesembuhan sang ibu. Diego tersenyum lebar menyambut niat baik Vlad.
"Tapi, dengan satu syarat." Vlad mengacungkan telunjuk di depan wajah Diego.
"Apa itu, Dok?" tanya Diego dengan dahi yang mengerut.
"Aku ingin kamu menyiapkan seorang gadis untuk dinikahkan dengan putraku. Apa kamu memiliki putri yang masih perawan?"
Diego kembali tertunduk lesu. Dia tidak pernah menikah selama ini, jadi tidak memiliki anak. Lelaki itu menggeleng pelan. Namun, sedetik kemudian bayangan Luna terlintas di pikiran lelaki tersebut.
"Tapi, saya memiliki keponakan yang masih gadis, Dok! Dia masih kuliah di Universitas Flor."
"Baiklah, bisa bawa dia kepadaku secepatnya? Aku ingin melihat langsung, dan memperkenalkannya kepada Draco, putraku."
"Saya akan mengusahakannya!" ujar Diego penuh keyakinan.
Vlad tersenyum lebar. Tak lama kemudian, dia membuka laci meja kerja, dan mengeluarkan secarik kertas dari sana. Dokter berwajah pucat itu pun menyodorkan kertas yang ternyata berisi surat perjanjian itu.
"Bacalah, dan bubuhkan tanda tangan di sini menggunakan tetesan darahmu." Vlad menunjuk sebuah kolom yang haris ditandatangani oleh Diego.
Diego pun membaca surat itu dengan teliti. Dia tidak mau karena pengobatan sang ibu, justru harus membawa Luna dalam bahaya. Setelah selesai membaca isi perjanjian dan dilihat semua poinnya aman dan tidak merugikan, Diego langsung mengangguk mantap.
"Baik, Dok. Saya setuju! Tapi tolong beri saya waktu untuk meyakinkan keponakan saya."
"Baiklah, aku akan memberimu waktu untuk membawa keponakanmu itu ke rumahku. Kemarikan tanganmu!"
Diego langsung mengulurkan tangan. Vlad menusukkan jarum pada jari Diego, hingga kini keluar darah dari ujung telunjuknya. Vlad pun mengarahkan jari tersebut ke atas kertas dan menempelkannya di atas kertas tersebut.
"Kamu bisa pergi, aku akan langsung meminta pihak rumah sakit untuk merawat ibumu."
"Baik, Dok. Terima kasih bantuannya." Diego sedikit lebih lega sekarang. Paling tidak, sang ibu bisa segera mendapat perawatan.
Tugasnya sekarang adalah meyakinkan Luna untuk mau menikah dengan putra dari Draco. Dia memikirkan hal itu sepanjang perjalanan menuju asrama Luna. Setelah sampai di asrama sang keponakan, Diego langsung menelepon gadis tersebut.
"Bisa temui aku di bawah?" pinta Diego melalui sambungan telepon.
"Tunggu sebentar, Paman."
Tak lama kemudian, terlihat Luna yang keluar dari pintu asrama. Dia berlari ke arah Diego dengan wajah heran.
"Ada apa, Paman? Tumben sekali ke sini tanpa kabar sebelumnya."
"Nenekmu, semakin parah. Memorinya berhenti di masa saat aku berusia sepuluh tahun."
"Maaf, Paman. Aku belum bisa membantu nenek untuk berobat." Luna tertunduk lesu, menatap ujung sepatunya yang usang.
"Aku bertemu dengan orang baik hari ini. Dia bersedia untuk membiayai pengobatan ibu."
"Benarkah?" Luna langsung menatap sang paman dengan tatapan berbinar.
"Tapi ...."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 59 Episodes
Comments