"Jadi, ritual itu tidak boleh disaksikan oleh anak-anak?" tanya Luna setelah selesai mendengar cerita Valko.
"Iya, dan aku yang bandel ini melanggarnya." Valko tersenyum kecut seraya mengusap tengkuk.
"Kalau begitu jangan pernah temui aku lagi!"
"Apa?" Valko terbelalak mendengar ucapan Luna.
Ada rasa kecewa yang kini bercokol di dalam hati lelaki tampan tersebut. Valko tertunduk lesu. Dia mengusap wajah kasar kemudian menatap sedih ke arah Luna.
"Maaf, sudah mengganggumu selama ini. Mungkin makhluk sepertiku tidak pantas memiliki teman." Valko balik badan, kemudian berjalan gontai ke arah jendela kamar.
"Tunggu!" cegah Luna.
Valko langsung menghentikan langkah. Dia membalikkan badan lagi, sehingga kini tatapannya bertemu dengan Luna. Gadis itu pun segera melangkah mendekati Valko.
"Jangan pernah temui aku lagi ketika bulan purnama, kamu terlihat sangat galak dan menyeramkan! Astaga, jantungku lama-lama tidak sehat jika hal itu sering terjadi!" Luna mengusap dadanya seraya menggeleng.
"Jadi, mari kita bertemu selain pada malam bulan purnama." Luna mengulurkan tangan seraya tersenyum lebar.
Valko menatap sekilas jemari lentik Luna. Perlahan dia menyambut uluran tangan gadis itu dan mereka pun bersalaman. Setelah melepaskan tangan, Luna terlihat sedikit sedih.
"Kenapa?" tanya Valko seraya mengerutkan dahi.
"Besok lusa aku harus kembali ke kota. Mungkin kita akan lama bertemu lagi." Luna menunduk menatap lantai kayu di bawahnya.
Gadis cantik itu memainkan ujung kaki yang terbalut kaos kaki di atas lantai. Dia melipat lengan ke belakang tubuh dan kepalanya tak berhenti bergerak seiring dengan kaki yang tidak bisa diam.
"Mau ikut aku? Kita berburu untuk terakhir kalinya di musim ini!" ajak Valko.
Tanpa menunggu persetujuan dari Luna, lelaki itu pun menarik lengannya dan meminta gadis itu turun terlebih dulu. Kali ini Luna tidak membawa buku sketsa. Dia ingin fokus menghabiskan malam terakhirnya bersama Valko.
Sepanjang perjalanan, Luna banyak bercerita tentang dirinya. Begitu juga dengan Valko yang menceritakan kisah semasa kecilnya. Kenyamanan mulai terbangun di hati dua insan beda jenis itu.
"Mengenai kutukan itu ... apa tidak ada cara untuk mematahkannya?" tanya Luna penasaran.
"Kata Nenek Berta, kutukan itu hanya bisa dipatahkan jika sudah menemukan gadis titisan Dewi Artemis."
Dewi Artemis merupakan putri dari Dewa Zeus dan Leto. Ia dipercaya sebagai dewi pemburu, alam liar, kesucian, dan Bulan. Menurut kepercayaan suku Canis keberadaan titisan Dewi Artemis mampu menangkal kutukan tersebut.
"Lalu bagaimana caranya?"
"Aku juga belum tahu. Nenek Berta hanya mengatakan bahwa aku bisa menjadi manusia seutuhnya dengan bantuan dari gadis tersebut."
"Di mana kita bisa menemuinya? Ayo kita ke sana!" seru Luna penuh semangat.
Valko menghentikan langkah, kemudian menyentil dahi Luna. Sontak gadis itu pun mengerucutkan bibir dan mengusap bekas sentilan Valko. Lelaki tampan itu pun terkekeh melihat Luna yang terus memasang wajah kesal.
"Aku juga tidak tahu dia ada di mana sekarang." Valko mengedikkan bahu sambil tersenyum miring.
"Ah, semoga segera bertemu dengannya! Agar kamu bisa menjadi manusia seutuhnya!" seru Luna seraya mengepalkan tangan di depan dada.
Keduanya kembali melanjutkan perjalanan. Malam ini mereka tidak bertemu dengan hewan apa pun. Jadi, Valko memutuskan untuk mengajak Luna pulang.
Akan tetapi, tiba-tiba Luna merasa seperti tersengat sesuatu. Dia mengaduh, dan melihat ke arah kaki. Betapa terkejutnya Luna saat mengetahui seekor ular baru saja menjauh darinya.
"U-ular!" pekik Luna.
Valko pun melihat arah Luna yang sedang menunjuk sesuatu. Valko terbelalak saat mengetahui ular yang dimaksud oleh Luna adalah ular karang. Ular itu memiliki warna sisik yang cerah dengan perpaduan warna merah, hitam, dan kuning.
"Apa kamu digigit?" tanya Valko panik.
"Sepertinya iya!" Luna meringis menahan sakit.
Valko langsung menunduk dan memeriksa keadaan kaki Luna. Benar saja, darah mulai mengalir membasahi kaos kaki gadis itu. Ular karang tidak hanya menggigit mangsanya, tetapi dia juga mengunyah kulit mangsa untuk menyemburkan semakin banyak racun.
Luna merasakan nyeri pada bekas gigitan ular tersebut. Keringat dingin pun mulai mengucur membasahi dahi gadis itu. Valko segera menggendong tubuh Luna dan berlari membelah hutan yang gelap.
Setelah berlari selama tiga puluh menit, akhirnya Valko sampai di kompleks perumahan suku Canis. Dia langsung mengetuk pintu rumahnya. Sang ayah pun keluar dari rumah tersebut.
"Ada apa, Valko?" tanya Alarick kebingungan karena melihat sang anak membawa pulang gadis yang sudah setengah sadar.
"Tolong dia, Yah. Dia digigit ular karang!"
"Astaga! Bagaimana bisa? Cepat dibaringkan dia. Ikat bagian atas tubuhnya yang tergigit! Aku akan menemui Berta untuk meminta bantuan!" Alarick segera berlari menuju rumah Berta.
Valko pun segera masuk ke rumah dan membaringkan Luna dengan posisi kepala lebih tinggi daripada kaki. Valko mencuci luka bekas gigitan dengan air sabun, lalu membilasnya dan mengeringkan luka tersebut dengan handuk.
Tak lama kemudian, Berta datang dengan membawa kotak berisikan beberapa ramuan obat-obatan. Dia pun segera membalut luka bekas gigitan dengan kain bersih. Setelah itu, Berta meracik beberapa ramuan yang biasa digunakan suku Canis untuk anti-bisa.
"Berikan ini pada gadis itu!" perintah Berta kepada Valko.
"Baik, Nek."
Valko pun segera menyuapkan cairan pekat itu kepada Luna menggunakan sendok. Perlahan gadis tersebut menelan ramuan yang diberikan Valko. Rasa kantuk kini mulai menghampiri Luna. Dia pun tertidur.
"Lun, Luna! Bangun!" seru Valko seraya mengguncang tubuh gadis cantik itu.
"Tenanglah, Valko. Tidak apa-apa. Dia akan baik-baik saja. Tolong terus awasi kondisi vitalnya beberapa jam ke depan. Jika gadis ini mengalami kejang, segera panggil aku." Berta pun meninggalkan rumah Alarick.
Alarick mengantar perempuan sepuh itu pulang, dan kembali menemui sang putra. Dia baru kali ini mendapati Valko terlihat panik. Sebelumnya Valko tidak pernah bersikap begini meski saudarinya sendiri yang terluka.
"Siapa dia?" tanya Alarick dengan tatapan tertuju pada Luna.
"Teman yang baru kutemui beberapa waktu lalu, Yah."
"Baiklah, segera antarkan dia pulang jika sudah sadar nanti." Alarick keluar dari kamar sang putra.
Selepas kepergian sang ayah, Valko menatap nanar Luna yang menutup rapat matanya. Rasa bersalah hinggap di hati lelaki tampan itu. Dia menyesal karena sudah mengajak Luna keluar malam ini.
"Maaf, karena sudah membawamu ke dalam bahaya."
Valko menggenggam jemari Luna kemudian mencium punggung tangannya. Rasa sayang untuk gadis itu semakin kuat. Dia ingin selalu melindungi gadis kesayangannya tersebut. Tanpa terasa Valko tertidur di samping Luna, setelah lelah bergelut dengan hatinya sendiri.
...****************...
Sinar matahari mulai menerobos jendela kamar Valko melalui tirai yang menutupnya. Suara cuit burung bersahutan sehingga menciptakan melodi yang menenangkan. Luna perlahan membuka mata dan mengerjap menyesuaikan cahaya yang masuk ke netranya.
"Valko?" ucap Luna lirih ketika mendapati lelaki tampan itu tertidur di tepi ranjang dengan posisi telungkup.
Mendengar namanya dipanggil, perlahan Valko membuka mata. Jemarinya masih menggenggam erat tangan Luna. Sontak lelaki tampan itu menatap Luna dan bangkit dari atas kursi.
"Bagian mana yang sakit? Aku akan panggilkan Nenek Berta!" Valko terlihat begitu panik karena melihat air muka Lina yang masih pucat.
"Hey, tenanglah. Aku sudah merasa lebih baik."
"Luna, aku panik setengah mati melihat dirimu sekarat! Maafkan aku karena telah membawamu ke dalam bahaya."
"Sssttt ... jangan menyalahkan diri sendiri. Semua ini sudah jadi kehendak Tuhan."
"Aku menyadari satu hal sekarang. Kamu sudah menjadi heroin bagiku," ucap Valko penuh kesungguhan.
"Candu? Val, heroin memang membuatmu melayang. Tapi, kelamaan zat itu akan membuat sel otak serta sarafmu mati. Jadi, maksudmu aku ini orang yang seperti itu?" tanya Luna seraya tersenyum kecut.
"Bu-bukan begitu maksudku. Intinya aku benar-benar tidak bisa hidup tanpa kamu, Luna." Valko menarik napas panjang dan mengembuskannya perlahan.
"Luna, aku mencintaimu. Izinkan aku menjadi orang pertama yang selalu ada untukmu."
Luna menutup mulutnya yang terbuka lebar dengan telapak tangan. Dia tidak menyangka kalau Valko akan mengungkapkan perasaannya sekarang. Sebuah rasa yang selalu membuat jantungnya berdebar lebih kencang ketika bersama Valko.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 59 Episodes
Comments
nowitsrain
nggak gitu konsepnya, Luna sayang 😌
2022-11-18
0