Bab 7. Andrea Si Kakak Tingkat

"Ini, An." Theo menyodorkan beberapa lembar foto kepada Andrea.

Gadis itu pun segera meraihnya dan mengamati lembar demi lembar foto tersebut. Andrea tersenyum licik. Berbagai rencana buruk bermunculan di otaknya. Dia menyusun beberapa rencana untuk menjauhkan Valko dari Luna.

"Namanya Luna Garcia. Seorang gadis yatim piatu dan dibesarkan oleh nenek serta pamannya."

"Menarik, mirip dengan aku." Bibir Andrea melengkung ke bawah sekilas setelah mengetahui bahwa Luna juga tidak memiliki orang tua sepertinya.

"Dia sekolah di Universitas Seni Flor."

"Baiklah, Theo. Terima kasih! Kamu memang orang yang paling bisa diandalkan." Andrea segera beranjak dari kursi, dan melangkah cepat untuk kembali ke rumah sang nenek.

Tak lama kemudian, Andrea sudah bersama dengan Berta yang sedang mengaduk ramuan dalam sebuah kuali besar. Gadis itu membantu sang nenek menyiapkan bahan yang akan dipakai untuk membuat ramuan.

Berta tersenyum geli melihat tingkah Andrea yang tidak biasa. Dia akhirnya menghentikan aktivitas, dan mengajak sang cucu duduk di sofa ruang tengah.

"Ada apa? Kalau kamu rajin, pasti ada maunya!" tebak Berta tepat pada sasaran.

Andrea meraih jemari sang nenek kemudian tersenyum lebar. "Nek, kamu sayang sama aku, 'kan?"

"Apa aku perlu mengatakan kalau aku sangat menyayangimu, An?"

"Apa kamu akan memberikan semua yang aku minta?" Andrea mengerjapkan mata berulang kali untuk mengambil hati sang nenek.

Tawa Berta pecah. Dia mengusap lembut pipi Andrea, kemudian bertanya, "Apa pun yang kamu inginkan akan kuberikan asal bisa membuat senyummu terus mengembang!"

"Nek, bisa pindahkan aku ke Flor?" tanya Andrea tanpa ragu.

"Ya?"

"Aku ingin pindah ke Universitas Flor."

"Hanya itu?"

Andrea mengangguk cepat sambil menautkan jari tangannya satu sama lain. Berta pun mengusap puncak kepala sang cucu. Dia mengangguk tanda setuju.

"Terima kasih, Nek!" seru Andrea lalu menghambur ke pelukan Berta.

Hari itu juga, Andrea mengurus kepindahannya dari Universitas Hoja ke Universitas Flor. Harapannya semakin besar untuk memisahkan Luna dari Valko. Dia tidak sabar melihat keduanya berpisah, sehingga pertunangan gadis itu dan Valko segera terwujud.

***

Andrea melangkah memasuki area kampus dan mulai mengedarkan pandangan untuk mencari keberadaan Luna. Beberapa kali dia juga menanyakan di mana gadis itu berada, kepada mahasiswa lain yang ditemuinya. Akan tetapi, belum ada satu pun dari mereka yang melihat.

"Hai, boleh aku bertanya?" tanya Andrea kepada Vanesa yang kebetulan berjalan ke arahnya.

"Boleh," jawab Vanesa sambil tersenyum datar.

"Apa kamu mengenal Luna?" Andrea menyodorkan selembar foto kepada Vanesa.

"Oh, gadis cupu ini? Tuh, dia lagi ada di perpustakaan!" Vanesa menunjuk sebuah gedung yang ada di kampus tersebut.

"Ah, baiklah kalau begitu. Terima kasih," ucap Andrea kemudian berjalan ke arah gedung yang dimaksud Vanesa.

Vanesa yang merasa penasaran, akhirnya membuntuti Andrea. Dia heran karena hampir tidak pernah ada orang selain Valko yang mencari gadis tersebut. Dia berjalan di belakang Andrea dan tetap menjaga jarak.

Keduanya kini sudah berada dalam perpustakaan. Aroma kayu serta buku menguar memenuhi ruangan itu. Andrea mengibaskan telapak tangannya di depan hidung untuk mengusir aroma yang dia benci itu. Gadis itu bahkan menutup lubang hidungnya dengan jari telunjuk, untuk menghalau aroma kayu dan kertas masuk ke rongga hidungnya.

Deretan rak tinggi berjajar sehingga menciptakan lorong-lorong kecil. Langkah Andrea kini berhenti di lorong ke-empat deretan rak buku tersebut. Di tempat itu, Luna tampak fokus memilih buku.

"Sok pintar! Sok rajin!" seru Andrea sinis.

Gadis itu melangkah cepat kemudian menabrak bahu Luna, sehingga buku yang tadi ada dalam pelukannya jatuh ke atas lantai. Luna memunguti buku-buku tersebut satu per satu. Ketika hendak mengambil buku sketsanya, Andrea menginjak benda tersebut.

Luna pun mendongak karena merasa tingkah gadis yang ada di depannya itu tidak sopan. Sebuah tatapan tajam dia lemparkan kepada Andrea. Luna pun meminta Andrea untuk menyingkirkan kakinya dari atas buku sketsa.

"Tolong angkat kakimu, Kak. Kamu mengotori buku sketsaku," pinta Luna dengan sopan.

"Kalau aku nggak mau?" Andrea melipat lengan sambil menatap sinis ke arah Luna.

"Tolong angkat kakimu, Kak." Luna masih berusaha meredam amarahnya, dan meminta Andrea mengangkat kaki dengan sopan.

"Nggak!" Andrea semakin menekan buku itu dengan ujung kaki lalu menggerakkan pergelangan kakinya.

"Maaf, aku sudah cukup bersabar!" Rahang Luna mengeras. Dia menatap tajam Andrea kemudian menarik paksa buku sketsanya yang diinjak oleh gadis itu.

"Aaakkk!" pekik Andrea karena kehilangan keseimbangan.

Gadis itu pun tersungkur di atas lantai dengan posisi terduduk. Vanesa yang sedari tadi mengintai keduanya dari celah rak di lorong sebelah, segera berlari menghampiri Andrea. Dia membantu gadis itu untuk berdiri.

Luna mengabaikan dua perempuan yang sama jahatnya itu. Dia segera mengambil buku sketsanya kemudian menyapu sampulnya dengan permukaan tangan. Gadis itu hendak balik badan dan meninggalkan Andrea serta Vanesa, tetapi lengannya ditarik oleh Vanesa.

"Mau ke mana kamu? Minta maaf dulu sama Kakak ini!"

"Minta maaf? Harusnya dia yang minta maaf sama aku! Dia sudah menginjak buku sketsaku!"

"Nggak! Kamu yang mulai terlebih dahulu! Kamu sudah rebut tunanganku!" teriak Andrea.

"Tunanganmu yang mana? Aku bahkan tidak mengenalnya!"

"Dasar pembohong!" Andrea melipat lengan sambil tersenyum miring.

"Valko! Dia adalah tunanganku! Kamu merebutnya dariku!"

Mendengar ucapan Andrea, membuat Luna terbelalak. Dadanya terasa sesak. Dia menjadi ragu dengan cinta  Valko. Berbagai pikiran buruk mulai berputar di dalam otaknya.

Di sisi lain, Vanesa yang sama terkejutnya dengan Luna pun menatap Andrea. Dia tahu betul bagaimana sorot mata Valko ketika menatap Luna. Walaupun hanya melihatnya sekilas, Vanesa paham bahwa Luna adalah gadis yang dicintai Valko.

"Tidak mungkin! Kamu jangan bohong!"

"Aku tidak bohong! Dasar perebut tunangan orang!" Andrea mulai mengangkat lengannya ke udara, dan bersiap mendaratkannya ke pipi Luna.

Akan tetapi, ada tangan lain yang kini menahannya. Ketika mendongak, alangkah terkejutnya Andrea. Tangan kekar itu adalah milik Valko.

"Berani menyentuh Luna seujung kuku saja, kamu akan mati!" ancam Valko.

Jemari lelaki itu semakin kuat meremas pergelangan tangan Andrea, sehingga membuatnya meringis kesakitan. Luna yang menyadari bahwa Valko sudah menyakiti lengan Andrea akhirnya menarik lengan atas sang kekasih.

"Val, lepaskan! Kamu sudah menyakitinya," pinta Luna karena melihat Andrea yang sudah meringis kesakitan.

Suara Luna membuat hati Valko seakan melembut. Dia perlahan melepaskan cengkeraman tangannya dari Andrea. Luna segera menarik lengan sang kekasih dan mengajaknya keluar dari perpustakaan.

Keduanya berjalan beriringan menuju taman kampus yang tak jauh dari perpustakaan. Mereka duduk di bawah pohon besar. Luna menatap nanar buku sketsanya yang kini terlihat kumal.

"Sudah, biar nanti aku belikan yang baru."

"Val, ini tidak sesederhana itu! Buku ini memiliki banyak kenangan, terutama denganmu!"

"Hanya sampulnya, kan yang lusuh? Bukankah isinya masih tetap utuh?"

"Kamu tidak akan mengerti perasaanku! Melihat buku ini diinjak-injak orang lain, rasanya seperti ada yang merusak hubunganku dengan kekasihku!" Luna menatap Valko penuh amarah karena sang kekasih seakan meremehkan arti dari buku itu.

"Oh ya, mengenai perempuan itu ... dia bilang kalian sudah bertunangan! Apa itu benar?" Luna tersenyum kecut dan menatap dalam mata Valko.

Valko terdiam. Dia menarik napas panjang dan membuangnya perlahan. Lelaki itu mendongak menatap langit biru di atasnya.

"Dia memang dijodohkan denganku. Tapi, aku menolak perjodohan itu."

"Kenapa kamu tidak menceritakannya padaku, Val?" cecar Luna.

"Ah, itu ...."

Belum sampai Valko menjelaskan alasannya, sebuah panggilan masuk ke ponsel Luna. Gadis itu mengerutkan dahi karena yang menghubunginya adalah sekretaris Rektor Universitas. Dia segera menggeser tombol hijau dan menempelkan benda pipih itu ke telinga.

Episodes
1 Bab 1. Dire Wolf Seputih Salju
2 Bab 2. Berburu bersama Valko
3 Bab 3. Bulan Purnama
4 Bab 4. Valko The Dire Wolf
5 Bab 5. Perburuan Cinta
6 Bab 6. Pertemuan Keluarga
7 Bab 7. Andrea Si Kakak Tingkat
8 Bab 8. Penculikan (1)
9 Bab 9. Penculikan (2)
10 Bab 10. Wabah
11 Bab 11. Backstreet
12 Bab 12. Mengambil Cuti
13 Bab 13. Ijin
14 Bab 14. Adu Domba
15 Bab 15. Perjanjian dengan Vlad
16 Bab 16. Penipuan
17 Bab 17. Kecemburuan Valko
18 Bab 18. Vlad Sebenarnya
19 Bab 19. Langkah Pertama Draco
20 Visual
21 Bab 20. Pertunangan
22 Bab 21 . Negosiasi Antar Ras
23 Bab 22. Duka Luna
24 Bab 23. Canis Guildayi
25 Bab 24. Azura Kembali Datang
26 Bab 25. Padang Bunga Baby Blue Eyes
27 Bab 26. Bukit Arcoíris
28 Bab 27. Paman Catz dan Smilodon
29 Bab 28. Permainan Paman Catz
30 Bab 29. Sebuah Sketsa
31 Bab 30. Melanjutkan Permainan
32 Bab 31. Akhir Ujian Berujung Duka
33 Bab 32. Ijin untuk Melintas
34 Bab 33. Daphne or Karina
35 Bab 34. Memulai Ritual
36 Bab 35. Jiwanya Telah Kembali
37 Bab 36. Petunjuk
38 Bab 37. Pulang Ke Tempat Asal
39 Bab 38. Pendant of Arthemis
40 Bab 39. Mencari Kalung Arthemis
41 Bab 40. Pencarian Selanjutnya
42 Bab 41. Kembalinya Pendant of Arthemis
43 Bab 42. Mencari Aroma Terapi
44 Bab 43. Suku Nuevo
45 Bab 44. Catz yang Keji Kembali
46 Bab 45. Mimpi Penutup
47 Bab 46. Ingin Melakukan Hal Menyenangkan
48 Bab 47. Berkemah Bersama
49 Bab 48. Tangisan Tengah Malam
50 Bab 49. Mana yang Asli?
51 Bab 50. Terbongkar
52 Bab 51. Melanjutkan Tugas
53 Bab 52. Melukis Diri Sendiri
54 Bab 53. Lukisan Terakhir
55 Bab 54. Pasca Ritual
56 Bab 55. Kehidupan Kedua
57 Kepingan Hati di Langit Qatar
58 Rahasia Kehamilan Violetta
59 Revenge of The Ugly Lily
Episodes

Updated 59 Episodes

1
Bab 1. Dire Wolf Seputih Salju
2
Bab 2. Berburu bersama Valko
3
Bab 3. Bulan Purnama
4
Bab 4. Valko The Dire Wolf
5
Bab 5. Perburuan Cinta
6
Bab 6. Pertemuan Keluarga
7
Bab 7. Andrea Si Kakak Tingkat
8
Bab 8. Penculikan (1)
9
Bab 9. Penculikan (2)
10
Bab 10. Wabah
11
Bab 11. Backstreet
12
Bab 12. Mengambil Cuti
13
Bab 13. Ijin
14
Bab 14. Adu Domba
15
Bab 15. Perjanjian dengan Vlad
16
Bab 16. Penipuan
17
Bab 17. Kecemburuan Valko
18
Bab 18. Vlad Sebenarnya
19
Bab 19. Langkah Pertama Draco
20
Visual
21
Bab 20. Pertunangan
22
Bab 21 . Negosiasi Antar Ras
23
Bab 22. Duka Luna
24
Bab 23. Canis Guildayi
25
Bab 24. Azura Kembali Datang
26
Bab 25. Padang Bunga Baby Blue Eyes
27
Bab 26. Bukit Arcoíris
28
Bab 27. Paman Catz dan Smilodon
29
Bab 28. Permainan Paman Catz
30
Bab 29. Sebuah Sketsa
31
Bab 30. Melanjutkan Permainan
32
Bab 31. Akhir Ujian Berujung Duka
33
Bab 32. Ijin untuk Melintas
34
Bab 33. Daphne or Karina
35
Bab 34. Memulai Ritual
36
Bab 35. Jiwanya Telah Kembali
37
Bab 36. Petunjuk
38
Bab 37. Pulang Ke Tempat Asal
39
Bab 38. Pendant of Arthemis
40
Bab 39. Mencari Kalung Arthemis
41
Bab 40. Pencarian Selanjutnya
42
Bab 41. Kembalinya Pendant of Arthemis
43
Bab 42. Mencari Aroma Terapi
44
Bab 43. Suku Nuevo
45
Bab 44. Catz yang Keji Kembali
46
Bab 45. Mimpi Penutup
47
Bab 46. Ingin Melakukan Hal Menyenangkan
48
Bab 47. Berkemah Bersama
49
Bab 48. Tangisan Tengah Malam
50
Bab 49. Mana yang Asli?
51
Bab 50. Terbongkar
52
Bab 51. Melanjutkan Tugas
53
Bab 52. Melukis Diri Sendiri
54
Bab 53. Lukisan Terakhir
55
Bab 54. Pasca Ritual
56
Bab 55. Kehidupan Kedua
57
Kepingan Hati di Langit Qatar
58
Rahasia Kehamilan Violetta
59
Revenge of The Ugly Lily

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!