"Ini, An." Theo menyodorkan beberapa lembar foto kepada Andrea.
Gadis itu pun segera meraihnya dan mengamati lembar demi lembar foto tersebut. Andrea tersenyum licik. Berbagai rencana buruk bermunculan di otaknya. Dia menyusun beberapa rencana untuk menjauhkan Valko dari Luna.
"Namanya Luna Garcia. Seorang gadis yatim piatu dan dibesarkan oleh nenek serta pamannya."
"Menarik, mirip dengan aku." Bibir Andrea melengkung ke bawah sekilas setelah mengetahui bahwa Luna juga tidak memiliki orang tua sepertinya.
"Dia sekolah di Universitas Seni Flor."
"Baiklah, Theo. Terima kasih! Kamu memang orang yang paling bisa diandalkan." Andrea segera beranjak dari kursi, dan melangkah cepat untuk kembali ke rumah sang nenek.
Tak lama kemudian, Andrea sudah bersama dengan Berta yang sedang mengaduk ramuan dalam sebuah kuali besar. Gadis itu membantu sang nenek menyiapkan bahan yang akan dipakai untuk membuat ramuan.
Berta tersenyum geli melihat tingkah Andrea yang tidak biasa. Dia akhirnya menghentikan aktivitas, dan mengajak sang cucu duduk di sofa ruang tengah.
"Ada apa? Kalau kamu rajin, pasti ada maunya!" tebak Berta tepat pada sasaran.
Andrea meraih jemari sang nenek kemudian tersenyum lebar. "Nek, kamu sayang sama aku, 'kan?"
"Apa aku perlu mengatakan kalau aku sangat menyayangimu, An?"
"Apa kamu akan memberikan semua yang aku minta?" Andrea mengerjapkan mata berulang kali untuk mengambil hati sang nenek.
Tawa Berta pecah. Dia mengusap lembut pipi Andrea, kemudian bertanya, "Apa pun yang kamu inginkan akan kuberikan asal bisa membuat senyummu terus mengembang!"
"Nek, bisa pindahkan aku ke Flor?" tanya Andrea tanpa ragu.
"Ya?"
"Aku ingin pindah ke Universitas Flor."
"Hanya itu?"
Andrea mengangguk cepat sambil menautkan jari tangannya satu sama lain. Berta pun mengusap puncak kepala sang cucu. Dia mengangguk tanda setuju.
"Terima kasih, Nek!" seru Andrea lalu menghambur ke pelukan Berta.
Hari itu juga, Andrea mengurus kepindahannya dari Universitas Hoja ke Universitas Flor. Harapannya semakin besar untuk memisahkan Luna dari Valko. Dia tidak sabar melihat keduanya berpisah, sehingga pertunangan gadis itu dan Valko segera terwujud.
***
Andrea melangkah memasuki area kampus dan mulai mengedarkan pandangan untuk mencari keberadaan Luna. Beberapa kali dia juga menanyakan di mana gadis itu berada, kepada mahasiswa lain yang ditemuinya. Akan tetapi, belum ada satu pun dari mereka yang melihat.
"Hai, boleh aku bertanya?" tanya Andrea kepada Vanesa yang kebetulan berjalan ke arahnya.
"Boleh," jawab Vanesa sambil tersenyum datar.
"Apa kamu mengenal Luna?" Andrea menyodorkan selembar foto kepada Vanesa.
"Oh, gadis cupu ini? Tuh, dia lagi ada di perpustakaan!" Vanesa menunjuk sebuah gedung yang ada di kampus tersebut.
"Ah, baiklah kalau begitu. Terima kasih," ucap Andrea kemudian berjalan ke arah gedung yang dimaksud Vanesa.
Vanesa yang merasa penasaran, akhirnya membuntuti Andrea. Dia heran karena hampir tidak pernah ada orang selain Valko yang mencari gadis tersebut. Dia berjalan di belakang Andrea dan tetap menjaga jarak.
Keduanya kini sudah berada dalam perpustakaan. Aroma kayu serta buku menguar memenuhi ruangan itu. Andrea mengibaskan telapak tangannya di depan hidung untuk mengusir aroma yang dia benci itu. Gadis itu bahkan menutup lubang hidungnya dengan jari telunjuk, untuk menghalau aroma kayu dan kertas masuk ke rongga hidungnya.
Deretan rak tinggi berjajar sehingga menciptakan lorong-lorong kecil. Langkah Andrea kini berhenti di lorong ke-empat deretan rak buku tersebut. Di tempat itu, Luna tampak fokus memilih buku.
"Sok pintar! Sok rajin!" seru Andrea sinis.
Gadis itu melangkah cepat kemudian menabrak bahu Luna, sehingga buku yang tadi ada dalam pelukannya jatuh ke atas lantai. Luna memunguti buku-buku tersebut satu per satu. Ketika hendak mengambil buku sketsanya, Andrea menginjak benda tersebut.
Luna pun mendongak karena merasa tingkah gadis yang ada di depannya itu tidak sopan. Sebuah tatapan tajam dia lemparkan kepada Andrea. Luna pun meminta Andrea untuk menyingkirkan kakinya dari atas buku sketsa.
"Tolong angkat kakimu, Kak. Kamu mengotori buku sketsaku," pinta Luna dengan sopan.
"Kalau aku nggak mau?" Andrea melipat lengan sambil menatap sinis ke arah Luna.
"Tolong angkat kakimu, Kak." Luna masih berusaha meredam amarahnya, dan meminta Andrea mengangkat kaki dengan sopan.
"Nggak!" Andrea semakin menekan buku itu dengan ujung kaki lalu menggerakkan pergelangan kakinya.
"Maaf, aku sudah cukup bersabar!" Rahang Luna mengeras. Dia menatap tajam Andrea kemudian menarik paksa buku sketsanya yang diinjak oleh gadis itu.
"Aaakkk!" pekik Andrea karena kehilangan keseimbangan.
Gadis itu pun tersungkur di atas lantai dengan posisi terduduk. Vanesa yang sedari tadi mengintai keduanya dari celah rak di lorong sebelah, segera berlari menghampiri Andrea. Dia membantu gadis itu untuk berdiri.
Luna mengabaikan dua perempuan yang sama jahatnya itu. Dia segera mengambil buku sketsanya kemudian menyapu sampulnya dengan permukaan tangan. Gadis itu hendak balik badan dan meninggalkan Andrea serta Vanesa, tetapi lengannya ditarik oleh Vanesa.
"Mau ke mana kamu? Minta maaf dulu sama Kakak ini!"
"Minta maaf? Harusnya dia yang minta maaf sama aku! Dia sudah menginjak buku sketsaku!"
"Nggak! Kamu yang mulai terlebih dahulu! Kamu sudah rebut tunanganku!" teriak Andrea.
"Tunanganmu yang mana? Aku bahkan tidak mengenalnya!"
"Dasar pembohong!" Andrea melipat lengan sambil tersenyum miring.
"Valko! Dia adalah tunanganku! Kamu merebutnya dariku!"
Mendengar ucapan Andrea, membuat Luna terbelalak. Dadanya terasa sesak. Dia menjadi ragu dengan cinta Valko. Berbagai pikiran buruk mulai berputar di dalam otaknya.
Di sisi lain, Vanesa yang sama terkejutnya dengan Luna pun menatap Andrea. Dia tahu betul bagaimana sorot mata Valko ketika menatap Luna. Walaupun hanya melihatnya sekilas, Vanesa paham bahwa Luna adalah gadis yang dicintai Valko.
"Tidak mungkin! Kamu jangan bohong!"
"Aku tidak bohong! Dasar perebut tunangan orang!" Andrea mulai mengangkat lengannya ke udara, dan bersiap mendaratkannya ke pipi Luna.
Akan tetapi, ada tangan lain yang kini menahannya. Ketika mendongak, alangkah terkejutnya Andrea. Tangan kekar itu adalah milik Valko.
"Berani menyentuh Luna seujung kuku saja, kamu akan mati!" ancam Valko.
Jemari lelaki itu semakin kuat meremas pergelangan tangan Andrea, sehingga membuatnya meringis kesakitan. Luna yang menyadari bahwa Valko sudah menyakiti lengan Andrea akhirnya menarik lengan atas sang kekasih.
"Val, lepaskan! Kamu sudah menyakitinya," pinta Luna karena melihat Andrea yang sudah meringis kesakitan.
Suara Luna membuat hati Valko seakan melembut. Dia perlahan melepaskan cengkeraman tangannya dari Andrea. Luna segera menarik lengan sang kekasih dan mengajaknya keluar dari perpustakaan.
Keduanya berjalan beriringan menuju taman kampus yang tak jauh dari perpustakaan. Mereka duduk di bawah pohon besar. Luna menatap nanar buku sketsanya yang kini terlihat kumal.
"Sudah, biar nanti aku belikan yang baru."
"Val, ini tidak sesederhana itu! Buku ini memiliki banyak kenangan, terutama denganmu!"
"Hanya sampulnya, kan yang lusuh? Bukankah isinya masih tetap utuh?"
"Kamu tidak akan mengerti perasaanku! Melihat buku ini diinjak-injak orang lain, rasanya seperti ada yang merusak hubunganku dengan kekasihku!" Luna menatap Valko penuh amarah karena sang kekasih seakan meremehkan arti dari buku itu.
"Oh ya, mengenai perempuan itu ... dia bilang kalian sudah bertunangan! Apa itu benar?" Luna tersenyum kecut dan menatap dalam mata Valko.
Valko terdiam. Dia menarik napas panjang dan membuangnya perlahan. Lelaki itu mendongak menatap langit biru di atasnya.
"Dia memang dijodohkan denganku. Tapi, aku menolak perjodohan itu."
"Kenapa kamu tidak menceritakannya padaku, Val?" cecar Luna.
"Ah, itu ...."
Belum sampai Valko menjelaskan alasannya, sebuah panggilan masuk ke ponsel Luna. Gadis itu mengerutkan dahi karena yang menghubunginya adalah sekretaris Rektor Universitas. Dia segera menggeser tombol hijau dan menempelkan benda pipih itu ke telinga.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 59 Episodes
Comments