Diego melirik jam yang menempel pada dinding kamarnya. Seharian ini dia sama sekali tidak melihat keponakannya di dalam rumah. Lelaki paruh baya itu pun melangkah menuju kamar sang ibu, hendak menanyakan keberadaan Luna.
"Bu, di mana Luna?" tanya Diego kepada sang ibu yang sedang duduk di kursi goyangnya sembari menatap langit malam melalui jendela kamar.
"Langit malam ini begitu indah. Lihat di luar bulan terlihat malu mengintip makhluk bumi di balik kabut."
Diego mengusap wajahnya kasar. Penyakit sang ibu mulai kambuh lagi. Akhir-akhir ini perempuan berusia renta itu memang sering kehilangan memorinya karena demensia. Diego akhirnya memutuskan untuk menghubungi Luna melalui ponsel.
Namun, Luna tidak mengangkat panggilannya. Setelah menajamkan pendengaran, sayup terdengar suara deringan ponsel. Diego melangkah pelan menaiki anak tangga untuk mencari sumber suara. Ternyata suara itu berasal dari dalam kamar sang keponakan.
Diego masuk ke kamar Luna. Ternyata gadis itu tidak membawa serta ponselnya ketika pergi. Dia pun meraih benda pipih tersebut, dan mengecek beberapa pesan di dalamnya. Setelah tidak menemukan pesan mencurigakan, akhirnya dia meletakkan kembali benda pipih tersebut.
"Ke mana kamu, Luna?"
Ketika hendak keluar dari kamar, Diego melihat siluet dua orang yang keluar dari hutan. Lelaki itu pun mendekati jendela dan menajamkan penglihatan. Betapa terkejutnya dia saat mengetahui bahwa Luna sedang berjalan bersama seorang lelaki berambut putih.
"Siapa dia?" gumam Diego sambil terus menyipitkan mata.
Saat jarak keduanya semakin dekat dengan rumah, Diego terbelalak. Ternyata lelaki yang sedang bersama Luna adalah putra pertama dari ketua suku Canis yang tinggal di Hutan La Eterno bagian timur. Diego langsung melangkah cepat menuruni anak tangga dan menghentikan langkahnya di teras rumah.
"Dari mana kalian?" tanya Diego tegas.
"Ah, kami dari hutan, Paman. Aku membutuhkan inspirasi lebih banyak untuk melukis. Dan Valko mengajakku masuk ke hutan untuk mendapat beberapa pemandangan untuk digambar."
"Kamu pulanglah, sudah malam! Jangan sampai keluarga kami terkena masalah karena hal ini!" Diego menatap tajam ke arah Valko yang menatapnya datar.
Valko tidak mengeluarkan suara sepatah katapun. Rahangnya terlihat mengeras, dia juga memicingkan mata terlihat tidak suka dengan sikap Diego. Tak lama kemudian dia langsung beringsut meninggalkan Luna.
Luna yang merasa tidak enak hati pun hanya bisa menatap Valko yang kembali berjalan masuk ke hutan untuk pulang. Setelah tubuh lelaki itu tertelan oleh ratusan pohon pinus yang menjulang, dia masuk ke rumah dan mengikuti Diego duduk di depan perapian.
"Luna, apa kamu tidak tahu seberapa bahayanya dia?"
Luna menyipitkan mata, kemudian menggeleng. Diego menghela napas kasar kemudian meraih cangkir berisi coklat panas di atas meja. Lelaki itu meniupnya perlahan, lalu menyesapnya.
"Dia adalah putra pertama dari ketua suku Canis."
"Dia baik. Aku rasa tidak memiliki tanda bahaya sebagai seorang lelaki."
Mendengar ucapan sang keponakan, membuat Diego naik pitam. Dia meletakkan cangkir berisi coklat itu secara kasar. Mata lelaki itu membulat sempurna.
"Kamu tidak tahu apa pun mengenai suku Canis! Sekarang naik ke atas dan cepatlah tidur! Jangan sampai kamu menemuinya lagi, atau kamu akan menyesal seumur hidup!"
Luna pun segera naik ke kamarnya sesuai perintah sang paman. Rasa jengkel pun merayap di hati gadis cantik itu. Dia tidak suka cara Diego menilai Valko. Walaupun Luna baru mengenal lelaki itu, dia tahu betul bahwa Valko adalah lelaki baik dan bertanggungjawab. Jadi, tidak mungkin dia disakiti oleh lelaki tampan tersebut.
***
Setelah kejadian hari itu, Luna tetap nekat berburu setiap tiga hari sekali bersama Valko. Mereka memutuskan untuk berburu pada malam hari agar tidak ketahuan oleh sang paman. Luna akan membawa lentera dan juga buku sketsa untuk mengabadikan isi hutan larangan. Ternyata hutan tersebut memiliki ragam tanaman indah, dan beberapa hewan liar yang sangat mengagumkan.
Malam itu, adalah malam terakhir liburan musim dingin. Luna mempersiapkan semua keperluan untuk melukis sembari menunggu sang paman terlelap. Langit terlihat begitu terang karena bulan yang membulat sempurna.
"Bulan purnama! Indahnya ...." Luna menatap kagum benda langit berwarna putih kemerahan itu.
Luna ingat betul bagaimana dirinya pertama kali datang ke hutan itu sebulan lalu. Sosok Dire wolf itu kembali terlintas di benaknya. Ada sedikit perasaan was-was, karena takut nantinya akan bertemu dengan makhluk itu lagi.
"Ah, lagi pula aku kan bersama Valko! Dia akan membunuh serigala raksasa itu dalam sekali tembak jika datang mengganggu!"
Tak lama kemudian terdengar suara ketukan pada permukaan jendela kamar Luna. Ketukan itu berasal dari kayu panjang yang sengaja disiapkan Luna untuk Valko. Lelaki itu akan mengetuk jendela kamarnya dengan benda tersebut jika sudah datang.
Gadis cantik itu segera menggendong tas ransel kecilnya dan turun melalui jendela kamar. Dia tersenyum lebar melihat Valko yang kini tampak gagah dengan pakaian kasual serta senapan di punggungnya.
"Ayo!" seru Luna sembari meninjukan kepalan tangan ke udara.
Keduanya mulai masuk ke dalam hutan dan memulai perburuan. Kali ini Valko melihat rusa berukuran besar. Rusa itu memiliki tanduk yang berbentuk seperti tangan terbuka. Bulu rusa itu berwarna hitam dan ada yang berwarna putih pada bagian perutnya.
"Bull!"
"Ya?" Luna mengerutkan dahi karena tidak mengerti ucapan Valko.
"Bull itu sebutan untuk Rusa Besar Jantan. Diamlah di sini, aku mau mendekatinya perlahan. Jangan berisik!" Valko menempelkan telunjuk pada bibir, kemudian mulai mengendap-endap mendekati rusa tersebut.
Luna duduk di balik pohon sambil mengintip Valko yang masih fokus dengan buruannya. Tak lupa dia juga mengeluarkan buku sketsa untuk mengabadikan momen ini. Sebenarnya gadis itu tidak hanya menggambar pemandangan atau hewan yang ada di hutan itu, tetapi juga menggambar Valko yang sedang berburu.
Valko menjadi daya tarik tersendiri bagi Luna. Matanya selalu tertuju pada lelaki tersebut. Gadis itu mulai menggoreskan pensil ke atas kertas, dan mengamati Valko yang masih fokus menunggu sang rusa jantan lengah.
Suasana hutan begitu hening. Salju sudah tidak setebal biasanya. Sinar bulan purnama menerobos daun jarum pohon pinus dan menyinari Valko yang masih mematung sembari menyodorkan senapannya ke arah rusa besar.
Tak lama kemudian terdengar suara letusan senjata api yang menggema. Valko berhasil menembak rusa itu tepat di kakinya. Rusa besar itu pun roboh dan tersungkur ke atas tanah.
"Berhasil!" teriak Luna kegirangan karena melihat keberhasilan lelaki di hadapannya itu.
Luna segera beranjak dari tempatnya duduk dan mendekati Valko. Namun, dia melihat ada hal aneh pada diri Valko. Lelaki itu mematung dengan bahu sedikit gemetar. Dia juga menutup wajah dengan kedua telapak tangan.
"Valko, kamu baik-baik saja?" tanya Luna panik sembari berusaha menyentuh lengan lelaki itu.
Valko menepis tangan Luna, dan memintanya pergi menjauh. "Pergilah! Lari sejauh mungkin! Pulanglah ke rumah, cepat!"
"Kamu kenapa?"
"Aku bilang pergi!" teriak Valko.
Tiba-tiba Valko melolong layaknya serigala. Perlahan ukuran tubuhnya membesar, bulu-bulu putih panjang mendadak tumbuh dan menutup seluruh permukaan kulitnya. Tak hanya itu, wajahnya berubah layaknya serigala.
"Val-valko!" pekik Luna.
Gadis itu pun terbelalak. Tubuhnya seakan kehilangan kekuatan. Dia ambruk ke atas tanah. Dia tahu betul makhluk yang ada di hadapannya ini. Ia adalah Dire Wolf yang ditemuinya satu bulan yang lalu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 59 Episodes
Comments
Kaisar Naga
aku salah tebak🥲
2022-11-05
2