Bab 3. Bulan Purnama

Diego melirik jam yang menempel pada dinding kamarnya. Seharian ini dia sama sekali tidak melihat keponakannya di dalam rumah. Lelaki paruh baya itu pun melangkah menuju kamar sang ibu, hendak menanyakan keberadaan Luna.

"Bu, di mana Luna?" tanya Diego kepada sang ibu yang sedang duduk di kursi goyangnya sembari menatap langit malam melalui jendela kamar.

"Langit malam ini begitu indah. Lihat di luar bulan terlihat malu mengintip makhluk bumi di balik kabut."

Diego mengusap wajahnya kasar. Penyakit sang ibu mulai kambuh lagi. Akhir-akhir ini perempuan berusia renta itu memang sering kehilangan memorinya karena demensia. Diego akhirnya memutuskan untuk menghubungi Luna melalui ponsel.

Namun, Luna tidak mengangkat panggilannya. Setelah menajamkan pendengaran, sayup terdengar suara deringan ponsel. Diego melangkah pelan menaiki anak tangga untuk mencari sumber suara. Ternyata suara itu berasal dari dalam kamar sang keponakan.

Diego masuk ke kamar Luna. Ternyata gadis itu tidak membawa serta ponselnya ketika pergi. Dia pun meraih benda pipih tersebut, dan mengecek beberapa pesan di dalamnya. Setelah tidak menemukan pesan mencurigakan, akhirnya dia meletakkan kembali benda pipih tersebut.

"Ke mana kamu, Luna?"

Ketika hendak keluar dari kamar, Diego melihat siluet dua orang yang keluar dari hutan. Lelaki itu pun mendekati jendela dan menajamkan penglihatan. Betapa terkejutnya dia saat mengetahui bahwa Luna sedang berjalan bersama seorang lelaki berambut putih.

"Siapa dia?" gumam Diego sambil terus menyipitkan mata.

Saat jarak keduanya semakin dekat dengan rumah, Diego terbelalak. Ternyata lelaki yang sedang bersama Luna adalah putra pertama dari ketua suku Canis yang tinggal di Hutan La Eterno bagian timur. Diego langsung melangkah cepat menuruni anak tangga dan menghentikan langkahnya di teras rumah.

"Dari mana kalian?" tanya Diego tegas.

"Ah, kami dari hutan, Paman. Aku membutuhkan inspirasi lebih banyak untuk melukis. Dan Valko mengajakku masuk ke hutan untuk mendapat beberapa pemandangan untuk digambar."

"Kamu pulanglah, sudah malam! Jangan sampai keluarga kami terkena masalah karena hal ini!" Diego menatap tajam ke arah Valko yang menatapnya datar.

Valko tidak mengeluarkan suara sepatah katapun. Rahangnya terlihat mengeras, dia juga memicingkan mata terlihat tidak suka dengan sikap Diego. Tak lama kemudian dia langsung beringsut meninggalkan Luna.

Luna yang merasa tidak enak hati pun hanya bisa menatap Valko yang kembali berjalan masuk ke hutan untuk pulang. Setelah tubuh lelaki itu tertelan oleh ratusan pohon pinus yang menjulang, dia masuk ke rumah dan mengikuti Diego duduk di depan perapian.

"Luna, apa kamu tidak tahu seberapa bahayanya dia?"

Luna menyipitkan mata, kemudian menggeleng. Diego menghela napas kasar kemudian meraih cangkir berisi coklat panas di atas meja. Lelaki itu meniupnya perlahan, lalu menyesapnya.

"Dia adalah putra pertama dari ketua suku Canis."

"Dia baik. Aku rasa tidak memiliki tanda bahaya sebagai seorang lelaki."

Mendengar ucapan sang keponakan, membuat Diego naik pitam. Dia meletakkan cangkir berisi coklat itu secara kasar. Mata lelaki itu membulat sempurna.

"Kamu tidak tahu apa pun mengenai suku Canis! Sekarang naik ke atas dan cepatlah tidur! Jangan sampai kamu menemuinya lagi, atau kamu akan menyesal seumur hidup!"

Luna pun segera naik ke kamarnya sesuai perintah sang paman. Rasa jengkel pun merayap di hati gadis cantik itu. Dia tidak suka cara Diego menilai Valko. Walaupun Luna baru mengenal lelaki itu, dia tahu betul bahwa Valko adalah lelaki baik dan bertanggungjawab. Jadi, tidak mungkin dia disakiti oleh lelaki tampan tersebut.

***

Setelah kejadian hari itu, Luna tetap nekat berburu setiap tiga hari sekali bersama Valko. Mereka memutuskan untuk berburu pada malam hari agar tidak ketahuan oleh sang paman. Luna akan membawa lentera dan juga buku sketsa untuk mengabadikan isi hutan larangan. Ternyata hutan tersebut memiliki ragam tanaman indah, dan beberapa hewan liar yang sangat mengagumkan.

Malam itu, adalah malam terakhir liburan musim dingin. Luna mempersiapkan semua keperluan untuk melukis sembari menunggu sang paman terlelap. Langit terlihat begitu terang karena bulan yang membulat sempurna.

"Bulan purnama! Indahnya ...." Luna menatap kagum benda langit berwarna putih kemerahan itu.

Luna ingat betul bagaimana dirinya pertama kali datang ke hutan itu sebulan lalu. Sosok Dire wolf itu kembali terlintas di benaknya. Ada sedikit perasaan was-was, karena takut nantinya akan bertemu dengan makhluk itu lagi.

"Ah, lagi pula aku kan bersama Valko! Dia akan membunuh serigala raksasa itu dalam sekali tembak jika datang mengganggu!"

Tak lama kemudian terdengar suara ketukan pada permukaan jendela kamar Luna. Ketukan itu berasal dari kayu panjang yang sengaja disiapkan Luna untuk Valko. Lelaki itu akan mengetuk jendela kamarnya dengan benda tersebut jika sudah datang.

Gadis cantik itu segera menggendong tas ransel kecilnya dan turun melalui jendela kamar. Dia tersenyum lebar melihat Valko yang kini tampak gagah dengan pakaian kasual serta senapan di punggungnya.

"Ayo!" seru Luna sembari meninjukan kepalan tangan ke udara.

Keduanya mulai masuk ke dalam hutan dan memulai perburuan. Kali ini Valko melihat rusa berukuran besar. Rusa itu memiliki tanduk yang berbentuk seperti tangan terbuka. Bulu rusa itu berwarna hitam dan ada yang berwarna putih pada bagian perutnya.

"Bull!"

"Ya?" Luna mengerutkan dahi karena tidak mengerti ucapan Valko.

"Bull itu sebutan untuk Rusa Besar Jantan. Diamlah di sini, aku mau mendekatinya perlahan. Jangan berisik!" Valko menempelkan telunjuk pada bibir, kemudian mulai mengendap-endap mendekati rusa tersebut.

Luna duduk di balik pohon sambil mengintip Valko yang masih fokus dengan buruannya. Tak lupa dia juga mengeluarkan buku sketsa untuk mengabadikan momen ini. Sebenarnya gadis itu tidak hanya menggambar pemandangan atau hewan yang ada di hutan itu, tetapi juga menggambar Valko yang sedang berburu.

Valko menjadi daya tarik tersendiri bagi Luna. Matanya selalu tertuju pada lelaki tersebut. Gadis itu mulai menggoreskan pensil ke atas kertas, dan mengamati Valko yang masih fokus menunggu sang rusa jantan lengah.

Suasana hutan begitu hening. Salju sudah tidak setebal biasanya. Sinar bulan purnama menerobos daun jarum pohon pinus dan menyinari Valko yang masih mematung sembari menyodorkan senapannya ke arah rusa besar.

Tak lama kemudian terdengar suara letusan senjata api yang menggema. Valko berhasil menembak rusa itu tepat di kakinya. Rusa besar itu pun roboh dan tersungkur ke atas tanah.

"Berhasil!" teriak Luna kegirangan karena melihat keberhasilan lelaki di hadapannya itu.

Luna segera beranjak dari tempatnya duduk dan mendekati Valko. Namun, dia melihat ada hal aneh pada diri Valko. Lelaki itu mematung dengan bahu sedikit gemetar. Dia juga menutup wajah dengan kedua telapak tangan.

"Valko, kamu baik-baik saja?" tanya Luna panik sembari berusaha menyentuh lengan lelaki itu.

Valko menepis tangan Luna, dan memintanya pergi menjauh. "Pergilah! Lari sejauh mungkin! Pulanglah ke rumah, cepat!"

"Kamu kenapa?"

"Aku bilang pergi!" teriak Valko.

Tiba-tiba Valko melolong layaknya serigala. Perlahan ukuran tubuhnya membesar, bulu-bulu putih panjang mendadak tumbuh dan menutup seluruh permukaan kulitnya. Tak hanya itu, wajahnya berubah layaknya serigala.

"Val-valko!" pekik Luna.

Gadis itu pun terbelalak. Tubuhnya seakan kehilangan kekuatan. Dia ambruk ke atas tanah. Dia tahu betul makhluk yang ada di hadapannya ini. Ia adalah Dire Wolf yang ditemuinya satu bulan yang lalu.

Terpopuler

Comments

Kaisar Naga

Kaisar Naga

aku salah tebak🥲

2022-11-05

2

lihat semua
Episodes
1 Bab 1. Dire Wolf Seputih Salju
2 Bab 2. Berburu bersama Valko
3 Bab 3. Bulan Purnama
4 Bab 4. Valko The Dire Wolf
5 Bab 5. Perburuan Cinta
6 Bab 6. Pertemuan Keluarga
7 Bab 7. Andrea Si Kakak Tingkat
8 Bab 8. Penculikan (1)
9 Bab 9. Penculikan (2)
10 Bab 10. Wabah
11 Bab 11. Backstreet
12 Bab 12. Mengambil Cuti
13 Bab 13. Ijin
14 Bab 14. Adu Domba
15 Bab 15. Perjanjian dengan Vlad
16 Bab 16. Penipuan
17 Bab 17. Kecemburuan Valko
18 Bab 18. Vlad Sebenarnya
19 Bab 19. Langkah Pertama Draco
20 Visual
21 Bab 20. Pertunangan
22 Bab 21 . Negosiasi Antar Ras
23 Bab 22. Duka Luna
24 Bab 23. Canis Guildayi
25 Bab 24. Azura Kembali Datang
26 Bab 25. Padang Bunga Baby Blue Eyes
27 Bab 26. Bukit Arcoíris
28 Bab 27. Paman Catz dan Smilodon
29 Bab 28. Permainan Paman Catz
30 Bab 29. Sebuah Sketsa
31 Bab 30. Melanjutkan Permainan
32 Bab 31. Akhir Ujian Berujung Duka
33 Bab 32. Ijin untuk Melintas
34 Bab 33. Daphne or Karina
35 Bab 34. Memulai Ritual
36 Bab 35. Jiwanya Telah Kembali
37 Bab 36. Petunjuk
38 Bab 37. Pulang Ke Tempat Asal
39 Bab 38. Pendant of Arthemis
40 Bab 39. Mencari Kalung Arthemis
41 Bab 40. Pencarian Selanjutnya
42 Bab 41. Kembalinya Pendant of Arthemis
43 Bab 42. Mencari Aroma Terapi
44 Bab 43. Suku Nuevo
45 Bab 44. Catz yang Keji Kembali
46 Bab 45. Mimpi Penutup
47 Bab 46. Ingin Melakukan Hal Menyenangkan
48 Bab 47. Berkemah Bersama
49 Bab 48. Tangisan Tengah Malam
50 Bab 49. Mana yang Asli?
51 Bab 50. Terbongkar
52 Bab 51. Melanjutkan Tugas
53 Bab 52. Melukis Diri Sendiri
54 Bab 53. Lukisan Terakhir
55 Bab 54. Pasca Ritual
56 Bab 55. Kehidupan Kedua
57 Kepingan Hati di Langit Qatar
58 Rahasia Kehamilan Violetta
59 Revenge of The Ugly Lily
Episodes

Updated 59 Episodes

1
Bab 1. Dire Wolf Seputih Salju
2
Bab 2. Berburu bersama Valko
3
Bab 3. Bulan Purnama
4
Bab 4. Valko The Dire Wolf
5
Bab 5. Perburuan Cinta
6
Bab 6. Pertemuan Keluarga
7
Bab 7. Andrea Si Kakak Tingkat
8
Bab 8. Penculikan (1)
9
Bab 9. Penculikan (2)
10
Bab 10. Wabah
11
Bab 11. Backstreet
12
Bab 12. Mengambil Cuti
13
Bab 13. Ijin
14
Bab 14. Adu Domba
15
Bab 15. Perjanjian dengan Vlad
16
Bab 16. Penipuan
17
Bab 17. Kecemburuan Valko
18
Bab 18. Vlad Sebenarnya
19
Bab 19. Langkah Pertama Draco
20
Visual
21
Bab 20. Pertunangan
22
Bab 21 . Negosiasi Antar Ras
23
Bab 22. Duka Luna
24
Bab 23. Canis Guildayi
25
Bab 24. Azura Kembali Datang
26
Bab 25. Padang Bunga Baby Blue Eyes
27
Bab 26. Bukit Arcoíris
28
Bab 27. Paman Catz dan Smilodon
29
Bab 28. Permainan Paman Catz
30
Bab 29. Sebuah Sketsa
31
Bab 30. Melanjutkan Permainan
32
Bab 31. Akhir Ujian Berujung Duka
33
Bab 32. Ijin untuk Melintas
34
Bab 33. Daphne or Karina
35
Bab 34. Memulai Ritual
36
Bab 35. Jiwanya Telah Kembali
37
Bab 36. Petunjuk
38
Bab 37. Pulang Ke Tempat Asal
39
Bab 38. Pendant of Arthemis
40
Bab 39. Mencari Kalung Arthemis
41
Bab 40. Pencarian Selanjutnya
42
Bab 41. Kembalinya Pendant of Arthemis
43
Bab 42. Mencari Aroma Terapi
44
Bab 43. Suku Nuevo
45
Bab 44. Catz yang Keji Kembali
46
Bab 45. Mimpi Penutup
47
Bab 46. Ingin Melakukan Hal Menyenangkan
48
Bab 47. Berkemah Bersama
49
Bab 48. Tangisan Tengah Malam
50
Bab 49. Mana yang Asli?
51
Bab 50. Terbongkar
52
Bab 51. Melanjutkan Tugas
53
Bab 52. Melukis Diri Sendiri
54
Bab 53. Lukisan Terakhir
55
Bab 54. Pasca Ritual
56
Bab 55. Kehidupan Kedua
57
Kepingan Hati di Langit Qatar
58
Rahasia Kehamilan Violetta
59
Revenge of The Ugly Lily

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!