Setelah Luna dan Valko keluar dari perpustakaan, Andrea dan Vanesa mengobrol berdua. Vanesa menceritakan beberapa hal tentang Luna, termasuk beasiswa yang dia dapatkan. Usai mendengar cerita dari Vanesa, Andrea langsung meminta gadis itu untuk mengantarnya ke ruangan Rektor.
"Permisi, Bu," sapa Vanesa kepada sekretaris pimpinan universitas.
"Ya, ada keperluan apa kalian ke sini?" tanya Bella.
"Begini, Bu. Saya ingin melaporkan kalau salah satu mahasiswi yang mendapatkan beasiswa telah melakukan tindakan kekerasan kepada teman saya ini." Vanesa menoleh ke arah Andrea.
"Bisa diceritakan kronologinya?"
Vanesa dan Andrea pun menceritakan semua kejadian di perpustakaan. Tentunya mereka sudah mengubah alur cerita, sehingga Luna dibuat seperti antagonisnya. Mereka mengatakan bahwa Luna membuat Andrea terjatuh hanya karena menabrak gadis itu tanpa sengaja.
"Oh ya, Bu. Selain itu, selama ini Luna selalu pacaran di area kampus." Vanesa mengungkapkan apa yang dia tahu mengenai hubungan Luna dengan Valko.
"Benarkah? Kalau begitu aku akan menghubungi Dekan fakultas Seni Rupa untuk meminta data skor Luna. Sementara ini kalian boleh pergi."
"Baik, Bu," jawab Andrea dan Vanesa serempak.
Mereka berdua akhirnya keluar dari ruangan sang rektor sambil tersenyum licik. Tak lama kemudian, Bella menghubungi Luna dan Dekan Fakultas Seni Rupa untuk menghadap.
Luna yang baru saja mendapat panggilan dari sekretaris Rektor, langsung berjalan ke arah gedung Rektorat ditemani oleh Valko. Gadis cantik itu segera mengetuk pintu setelah sampai di depan ruang Rektor.
"Permisi, Bu," sapa Luna.
"Ya, duduklah!" Bella menunjuk sofa kosong di samping Dekan.
Luna segera melangkah dan duduk di atas sofa. Dia menundukkan kepala sekilas kepada Abraham, sang Dekan Fakultas Seni Rupa. Bella ikut duduk di sofa yang masih kosong.
"Aku mendapatkan laporan bahwa kamu telah menyakiti seorang mahasiswi hanya karena masalah sepele, apa itu benar?"
Luna terbelalak. Dia mengerutkan dahi, dan menatap Abraham yang kini sedang tertunduk lesu.
"Maaf, Bu. Itu tidak benar, saya tidak pernah melakukan hal itu," kilah Luna.
"Aku hanya ingin memperingatkanmu. Jangan sampai ada laporan kedua, ketiga, dan seterusnya. Masalah pacaran itu hakmu. Aku tidak melarangnya, asal skor mata kuliahmu sesuai syarat untuk tetap mendapat beasiswa."
Luna terbelalak. Bagaimana bisa Bella mengetahui urusan pribadinya? Sedangkan sangat sedikit teman kampusnya yang tahu bahwa Valko sering menemuinya di kampus. Toh, keduanya tidak pernah melakukan hal tak senonon di lingkungan universitas.
"Baik, Bu."
"Tadi, aku sudah melihat laporan skormu. Semua nilaimu sempurna. Pertahankan itu! Sekarang kamu boleh keluar."
Luna pun beranjak dari sofa dan keluar kantor. Valko yang sedari tadi duduk di atas lantai langsung berdiri, dan mendekati Luna. Wajahnya terlihat begitu panik.
"Bagaimana?"
"Hanya peringatan untuk bersikap lebih baik lagi," ucap Luna kesal.
"Ini pasti ulah Andrea! Mulai hari ini aku akan mencoba mencari pekerjaan di sini untuk menjagamu! Aku tidak mau dia melakukan hal lain yang lebih jahat!"
Hati Luna tersentuh melihat niat tulus sang kekasih untuk selalu menjaganya. Sebuah senyum lebar terukir di bibir gadis itu. Rasa kesalnya pada Valko beberapa waktu lalu seketika sirna. Keduanya pun berjalan seraya menautkan jemari satu sama lain.
Tanpa mereka sadari, ternyata Andrea dan Vanesa masih berada di dekat kantor Rektor. Andrea merapatkan gigi saat mengetahui ulahnya kali ini justru membuat Valko ingin semakin dekat dengan Luna. Jemari gadis itu mengepal kuat lalu memukul dinding yang ada di sampingnya.
"Mari kita lihat seberapa besar kadar cintamu pada Luna!" seru Andrea seraya tersenyum sinis.
...****************...
Langit sudah berubah gelap ketika Luna berjalan menyusuri jalanan sempit di antara gedung perkantoran dan sebuah pusat perbelanjaan. Gadis itu baru saja pulang kerja ketika jam menunjukkan pukul 22:00. Dia bekerja paruh waktu di sebuah minimarket 24 jam.
Semilir angin musim semi membawa aroma bunga dahlia yang sedang bermekaran. Jalanan itu terlihat lengang. Temaram lampu merkuri menemani Luna sepanjang perjalanan kembali ke asrama.
Ketika hampir sampai di ujung gang, Luna merasa ada seseorang yang mengikutinya. Dia masih berpikir positif karena gang itu memang sering dilalui orang lain untuk memotong jalan. Namun, perasaan Luna mendadak buruk karena suara langkah kaki yang mengikutinya semakin cepat.
Siapa pun itu, semoga tidak memiliki niat buruk kepadaku.
Luna semakin mempercepat langkah. Akan tetapi, usahanya sia-sia. Pikiran buruk yang dari tadi berusaha ditepiskan, justru terjadi. Seseorang menutup mulut Luna menggunakan telapak tangan.
Rasa kantuk mulai bergelayut manja pada sepasang mata Luna. Pandangannya perlahan kabur. Badan Luna mendadak lemas tak bertenaga. Luna akhirnya kehilangan kesadaran.
Satu jam kemudian ...
Di sebuah gudang tua, tiga orang laki-laki bernama Hendry, James, dan Ferdinand sedang bercengkerama. Mereka bercanda sambil memainkan kartu poker untuk mengusir rasa bosan. Di sisi lain dari ruangan itu, Luna masih tak sadarkan diri dengan posisi terduduk serta kaki tangan yang diikat.
"Gimana Andrea? Udah ada kabar lagi belum? Cewek itu mau diapakan?" tanya Ferdinand seraya menghisap lintingan tembakau.
"Belum ada kabar, entahlah," jawab James.
"Aku ngantuk, boleh aku tidur terlebih dulu? Nanti gantian." Hendry menguap, lalu berjalan ke arah tumpukan kardus bekas yang ada di sudut ruangan.
"Huh, dasar tukang tidur!" gerutu James.
Ferdinand hanya terkekeh melihat tingkah dua orang temannya yang kini saling melemparkan tatapan tajam itu. Hendry mengabaikan James, dan segera merebahkan diri, lalu menutup mata. Saat Ferdinand dan James masih sibuk dengan kartu-kartu mereka, Luna tersadar.
Gadis itu perlahan membuka mata. Luna awalnya terbelalak melihat apa yang sedang dia alami. Namun, Luna adalah perempuan yang cerdas. Dia berusaha tetap tenang dalam keadaan tak terduga ini.
Di mana ini?
Luna memindai sekeliling untuk mencari tahu di mana dia berada saat ini. Namun, Luna tidak menemukan petunjuk apa pun mengenai tempat di mana dia berada sekarang. Luna hanya tahu kalau itu adalah sebuah gudang yang tidak terlalu besar, tetapi masih terhitung bersih.
"Ada-ada saja gadis itu! Aku rasa dia sudah gila! Sampai meminta kita membunuh gadis secantik dia!" ujar James.
"Wanita itu kalau sudah punya kemauan melebihi psikopat, Bro! Aku tidak tega jika harus sampai membunuhnya." Ferdinand kini melemparkan tatapannya kepada Luna, yang kini sedang berpura-pura tidur.
Luna tetap memejamkan mata sambil menggerakkan secara perlahan agar tali yang mengikat tangannya terlepas. Dia berencana kabur, setelah dua orang yang berjaga itu lengah. Benar saja, tak lama kemudian James dan Ferdinand mulai menguap dan menyandarkan tubuhnya pada kursi.
Dalam hitungan detik, meraka terlelap. Luna yang merasa situasi mulai kondusif, segera melepaskan tali tambang pada pergelangan tangannya. Tak membutuhkan banyak waktu atau pun tenaga untuk melakukannya. Kurang dari satu menit, Dia sudah berhasil melepas tali-tali yang mengikat kaki serta tangannya.
Luna segera meraih tasnya, dan mengambil ponsel dari dalam sana. Dia mengirimkan pesan kepada Valko, agar segera datang menolong. Ketika gadis itu hendak membagikan lokasi terkini kepada Valko, tiba-tiba bayangan besar menutupi tubuhnya.
"Kenapa tidak lari saja?" tanya Hendry yang kini sudah terjaga dan berdiri di depan Luna.
Luna mendongak, lalu menelan ludah kasar. Jantungnya berdetak begitu kencang karena rasa takut yang luar biasa. Hendry tersenyum miring kemudian mendekatkan wajahnya ke telinga Luna.
"Tetap tenang, aku beri kamu waktu dua menit untuk keluar dari gudang ini. Jika kamu berhasil, aku akan melepaskanmu!" tantang Hendry.
Luna segera bangkit, dan tidak menyia-nyiakan kesempatan ini. Dia segera berlari ke arah pintu gudang. Sialnya pintu itu terkunci. Luna memutar kenop pintu berulang kali, tetapi usahanya gagal.
Gadis itu menoleh ke arah Hendry yang kini tersenyum licik seraya memperlihatkan kunci yang ada di tangannya. Hendry terkekeh. Luna kembali berlari untuk merebut kunci tersebut dari Hendry.
Naasnya, ketika berlari menghampiri lelaki itu, kaki Luna tersandung kaki meja sehingga membuatnya tersungkur ke atas lantai. James dan Ferdinand pun terbangun karena mendengar keributan yang Luna timbulkan.
"Sial!" umpat gadis cantik itu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 59 Episodes
Comments