Luna tertunduk lesu, menatap ujung sepatunya yang usang. Rasa bersalah kembali memenuhi hatinya. Dia merasa menjadi cucu yang tidak berguna karena belum bisa membantu sang nenek berobat.
"Aku bertemu dengan orang baik hari ini. Dia bersedia untuk membiayai pengobatan ibu."
"Benarkah?" Luna langsung menatap sang paman dengan tatapan berbinar.
"Tapi ...." Diego terlihat ragu mengungkapkan persyaratan apa yang ada dalam perjanjian itu.
Diego berpikir keras untuk menyamarkan syarat dari perjanjian tersebut. Akhirnya, Diego merangkai sebuah kebohongan agar Luna mau bertemu dengan Vlad dan putranya. Dia menarik napas panjang kemudian mengembuskannya kasar.
"Tapi, kenapa, Paman?" tanya Luna penasaran.
"Tapi, dia mau kamu bekerja di rumah mereka sebagai ganti biaya pengobatan."
"Hanya itu?"
"Iya," bohong Diego.
"Baiklah! Aku mau!" Luna mengepalkan tangannya penuh keyakinan.
"Baiklah, aku akan mengatur waktu dan mempertemukan kamu dengan dokter Vlad."
Mata Luna membulat sempurna mendengar nama lelaki itu. Dia tidak menyangka bahwa orang yang bersedia membantu keluarga mereka adalah Vlad. Seorang bangsawan terkenal di Kota Flor.
"Paman sedang tidak bercanda, 'kan?"
"Bercanda? Tentu saja tidak!" Sampai detik ini Diego masih belum tahu kalau Vlad adalah bangsawan terpandang di sana.
"Dokter Vlad itu adalah orang paling kaya di Kota Flor! Bagaimana Paman bisa bertemu dengannya?"
"Kami bertemu di Rumah Sakit, dan dia menawarkan bantuan bersyarat," jelas Diego.
"Baiklah kalau begitu, segera kabari aku, kapan beliau mau bertemu. Aku berangkat kerja dulu, ya?" pamit Luna kemudian mencium pipi sang paman.
Selepas kepergian Luna, Diego langsung kembali ke Rumah Sakit. Dia menjenguk sang ibu yang sudah mendapat perawatan di bangsal dan sedang mendapatkan terapi. Di saat yang bersamaan, Vlad juga mengunjungi Martha.
"Malam, Dok," sapa Diego.
"Malam, bagaimana Dokter Chris, keadaan Nyonya Martha?"
"Baru tahap awal, jadi kita belum tahu perkembangannya sejauh mana. Kita perlu melakukan CT Scan seminggu ke depan untuk melihat perkembangannya."
"Baiklah, tolong lakukan yang terbaik!"
"Pasti, Dok. Kalau begitu, saya permisi dulu," pamit dokter Chris.
Chris pun keluar dari ruangan itu. Setelah tubuh dokter tersebut menghilang di balik pintu, Vlad kembali membuka perbincangan. Dia duduk di sofa yang ada di sudut ruangan tersebut, dan Diego pun menyusulnya.
"Bagaimana keponakanmu? Apa dia mau menikah dengan Draco?" tanya Vlad tanpa basa-basi.
"Begini, Dok. Luna adalah seorang gadis modern yang pastinya akan sulit untuk menerima sebuah perjodohan. Bagaimana kalau dekatkan dulu dia dengan putra Anda. Biarkan mereka saling terbiasa satu sama lain, dan berakhir dengan jatuh cinta." Diego mengungkapkan pendapatnya kepada Vlad.
"Lalu, apa kamu memiliki rencana untuk membuat mereka berdua menjadi dekat?"
"Maaf sebelumnya, Dok. Aku sudah berbohong kepada Luna, agar dia mau bertemu dengan kalian. Aku mengatakan bahwa kalian mau menolong, tetapi dengan syarat dia mau bekerja di rumah Anda."
"Baiklah, tidak masalah. Aku juga akan menggajinya untuk itu." Vlad mengangguk tanda setuju.
"Selanjutnya terserah Anda, Dok. Mungkin dia harus tinggal di kediaman keluarga Anda untuk menjalin kedekatan dengan Tuan Draco?"
"Ide yang bagus! Lalu kapan kamu akan membawa Luna datang ke rumah?"
"Bagaimana kalau ...."
***
Gerimis pertengahan musim semi sedang turun membasahi jalanan Kota Flor. Sebuah taksi melaju kencang dengan dua orang penumpang di dalamnya. Mereka adalah Luna dan Diego.
"Kamu tenang saja, mereka orang yang baik. Pasti kamu betah tinggal di sana." Diego kembali meyakinkan Luna.
"Iya, Paman. Semoga," ucap Luna lirih.
Luna merasa ada sesuatu yang mengganjal di hati, meskipun dia tahu keluarga dokter Vlad adalah keluarga bangsawan yang terpandang dan dermawan. Kali ini dia berpasrah pada Tuhan. Baik buruknya keputusan kali ini tidak lain karena kehendak-Nya.
Bagi Luna yang terpenting sekarang adalah kesembuhan sang nenek. Dia tidak peduli lagi apa yang harus dikorbankan. Asal neneknya kembali sembuh, dia rela melakukan apa pun.
Tak lama kemudian, taksi yang Luna tumpangi masuk ke sebuah halaman rumah yang begitu luas. Banyak sekali pepohonan tinggi serta beraneka macam bunga di sana. Rumah di depannya terlihat begitu mewah layaknya rumah bangsawan dalam cerita dongeng.
"Besar sekali rumahnya," gumam Luna seraya menatap kagum pada bangunan megah di hadapannya.
"Ayo, kita turun, Luna!" ajak Diego kemudian membukakan pintu untuk sang keponakan.
Luna pun turun sambil menggendong tas ransel yang berisi beberapa keperluannya. Dia sengaja tidak membawa banyak barang karena ingin melihat bagaimana sikap calon majikannya. Meskipun Luna sudah setuju untuk bekerja di sana, dia masih mempertimbangkan lagi, dan meminta kelonggaran jika pekerjaannya terlalu berat sehingga mengganggu aktifitas kuliah.
Keduanya terus melangkah ke arah pintu besar pada bagian depan rumah mewah tersebut. Mulut Luna menganga lebar karena melihat kemewahan yang terpampang di hadapannya itu. Pintu besar itu terbuka lebar setelah Diego menekan bel yang menempel pada dinding.
"Saya Diego. Bisa bertemu dengan dokter Vlad?" tanya Diego kepada seorang pelayan laki-laki bernama Martin.
"Mari ikuti saya, Tuan."
Diego dan Luna pun melangkah masuk ke rumah. Lagi-lagi Luna dibuat kagum oleh interior rumah tersebut. Pernak-pernik rumah tersebut berbau klasik dan terlihat sangat mewah.
Dari sekian banyak benda antik, hanya deretan lukisan terkenal saja yang membuat Luna tertarik dan berdecap kagum. Mulai dari lukisan Salvator Mundi karya Leonardo da Vinci hingga lukisan abstrak karya Jayson Pollock yang ditaksir seharga 163 juta dolar.
Luna tak berhenti berdecap kagum melihat lukisan dengan harga selangit itu. Langkah mereka berhenti di sebuah ruangan besar dengan meja panjang di tengahnya. Meja tersebut dikelilingi oleh beberapa buah kursi dengan ukiran yang terlihat begitu indah.
"Mohon tunggu di sini, Tuan." Martin menunduk kemudian masuk ke sebuah ruangan lain di rumah itu.
"Paman, aku rasa dokter Vlad memang bingung mau dipergunakan untuk apa uangnya. Makanya dia banyak membantu orang," ucap Luna lirih.
"Sssttt!" Diego menempelkan telunjuk pada bibir, enggan menanggapi ucapan sang keponakan.
Tak lama kemudian, Vlad keluar dari ruangan yang tadi dimasuki oleh sang pelayan. Vlad tidak keluar sendirian. Dia keluar bersama seorang laki-laki berwajah tampan dengan bibir merah, dan bermata dalam. Selain itu, ada seorang perempuan paruh baya yang terlihat begitu cantik dengan gaun jaman Victoria.
Luna mengerutkan dahi melihat penampilan perempuan itu. Sikapnya itu ternyata tertangkap mata oleh perempuan berpakaian jaman dulu tersebut. Alhasil, sebuah tatapan tajam harus Luna terima. Luna yang menyadari bahwa perempuan itu tidak menyukainya pun menundukkan pandangan.
"Tuan Diego, silakan duduk!" titah Vlad.
Diego pun duduk di atas kursi, dan Luna pun mengikutinya. Vlad serta dua orang lain ikut bergabung di meja makan itu. Tak lama kemudian, beberapa pelayan datang dan menyuguhkan steak, serta wine.
"Silakan dinikmati." Vlad tersenyum ramah, dan mulai menyuapkan potongan daging panggang ke dalam mulutnya.
Mereka berlima makan dengan tenang. Hanya terdengar denting garpu dan pisau yang beradu dengan piring. Waktu begitu cepat berlalu, acara makan malam itu pun selesai. Kini Diego mulai membuka pembicaraan dan memperkenalkan Luna kepada Vlad.
"Dokter, dia adalah Luna keponakanku yang nantinya akan bekerja di sini." Diego melirik Luna sekilas, kemudian kembali menatap Vlad.
"Kecantikanmu tidak pernah pudar, Arthemis," gumam Vlad sambil tersenyum penuh arti.
...****************...
Halooo, mampir juga yaaa ke karya sahabat Chika. 😍😍😍
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 59 Episodes
Comments
Luzi
kyknya Luna si wanita istimewa ,jd rebutan nih.. menarik
2023-02-12
1