Seharian Luna tidak fokus. Dia masih kesal kepada Valko. Gadis itu tidak menyangka sang kekasih tega menuduhnya telah melakukan hal konyol tersebut. Luna selalu membuang napas kasar setiap teringat ucapan Valko yang sukses menggores hatinya itu.
Ketika jam pelajaran usai, Luna pun bersiap pulang. Draco sudah mengirimkan pesan kepadanya untuk menunggu sebentar karena dia ada kepentingan lain. Jadi, Luna memutuskan untuk menunggunya di luar gerbang kampus sambil mencari inspirasi untuk membuat sketsa.
Setelah mengemas buku dan memasukkannya ke dalam tas, Luna segera keluar dari kampus. Ketika hampir mencapai gerbang kampus, dia melihat sosok yang sangat ingin dihindari saat ini. Ternyata Valko masih ada depan gerbang.
"Luna!" teriak Valko sambil melambaikan tangan.
"Dia ngapain masih di sini?" Luna berdecap kesal saat melihat kekasihnya itu sedang tersenyum lebar di depan gerbang.
Dia ingin menghindar, tetapi sudah tidak mungkin. Valko sudah terlanjur melihatnya. Misalkan dia kembali ke dalam kampus, pasti Valko akan mengejarnya sampai dapat.
Luna pun berjalan malas menapaki jalanan yang ada di bawahnya. Ketika sampai di depan Valko, lelaki tersebut tersenyum lebar seakan tidak terjadi apa pun di antara mereka.
"Ayo, aku antar pulang!" ajak Valko sambil mengulurkan tangan.
"Aku sudah ada janji dengan Draco." Luna hanya melirik jemari sang kekasih.
"Lelaki itu lagi? Aku penasaran, bagaimana bisa dia membuatmu begitu penurut begini!" Valko terlihat kesal sekarang, dia menggenggam lagi jemarinya, dan menelusupkan ke dalam saku celana.
Lelaki itu heran dengan sikap Luna yang menjadi penurut ketika berhadapan dengan Draco. Berbagai pikiran buruk yang dia pendam sepagian ini akhirnya kembali mencuat ke permukaan.
Entah mengapa kini otaknya membayangkan keseharian Luna di dalam rumah Draco. Dia membayangkan keduanya terus bermesraan sepanjang hari. Beruntungnya, Valko kembali menemukan akal sehatnya.
Dia menggerakkan lengan di atas kepala, berharap semua pikiran buruk tentang sang kekasih berantakan dan pergi dari otaknya yang tidak seberapa besar itu. Luna menautkan kedua alis ketika melihat tingkah sang kekasih.
"Kamu kenapa, Val? Aneh!" Luna melipat lengan di depan dada seraya mengerutkan dahi.
"Ah, tidak." Valko menggaruk kepala kemudian kembali menatap serius sang kekasih.
"Luna, maukah kamu memaafkanku? Tadi pagi Valko yang gagah perkasa ini mendadak goblok karena cemburu buta." Valko memukul kepalanya sendiri berulang kali.
Luna menarik napas panjang, lalu mengembuskannya perlahan. Dia juga tidak mau berlarut-larut dalam masalah ini. Luna akhirnya memutuskan untuk memaafkan Valko.
Toh, kekasihnya itu memang tidak sepenuhnya bersalah. Akhir-akhir ini mereka jarang menghabiskan waktu berdua karena pekerjaan Luna yang tidak pernah libur. Keluarga Vlad memang memberikan pekerjaan ringan.
Akan tetapi, dia tidak diizinkan keluar rumah selain ketika kuliah. Itu pun haruslah Draco yang mengantarnya. Luna mengacungkan jempol ke arah Valko.
"Oke," jawab Luna singkat.
"Nggak rela banget sih, kayaknya?" gerutu Valko.
"Aku memaafkanmu, Sayang. Tapi, lain kali jangan diulangi lagi. Aku harus bekerja di sana untuk membalas jasa mereka. Kamu nggak perlu cemburu. Aku akan selalu menjaga hatiku untukmu."
Ucapan Luna seperti air es yang menyiram kerongkongan Valko ketika haus melanda. Hatinya jauh lebih tenang daripada tadi pagi. Setidaknya sekarang mereka sudah berbaikan.
Mereka berdua kembali membangun kepercayaan satu sama lain. Luna berjanji akan menghubunginya begitu ada waktu senggang. Begitu juga sebaliknya.
Tiba-tiba hidung Valko kembang kempis. Dia mencium aroma yang sangat dia benci. Tanpa sadar lelaki itu menggeram. Selang beberapa menit, mobil Draco datang menjemput.
"Tuan Draco, datang! Aku pulang dulu, ya, Val? Nanti aku akan meneleponmu kalau sudah sampai Mansion!"
"Baik, aku harap kamu selalu waspada ketika berada di dekat mereka."
"Baiklah, aku pergi dulu!" Luna hanya tersenyum geli, karena menganggap sang kekasih masih cemburu.
***
"Lepaskan aku!" teriak Luna.
Dia merasa sedang dikerubungi oleh beberapa kelelawar yang berniat untuk menggigitnya. Dia terus berlari menyusuri lorong gelap itu. Luna hanya mengandalkan cahaya dari lentera yang dia genggam.
Tak lama kemudian terlihat cahaya dari ujung tempat itu. Luna mempercepat langkah kakinya untuk menuju cahaya tersebut. Di ujung jalan itu, Valko tengah menunggunya sambil merentangkan kedua tangan.
Tangis Luna pecah, ketika berhasil masuk ke dalam pelukan Valko. Namun, dia kembali terbelalak setelah menyadari dia sudah salah sangka. Orang yang dipeluknya bukanlah Valko, melainkan Vlad. Lelaki paruh baya itu terlihat begitu pucat. Sudut bibirnya terdapat noda darah.
"Tuan?"
"Tertangkap!" Vlad menyeringai sehingga terlihat taringnya yang tampak begitu tajam.
Luna pun berteriak histeris dan kembali ke alam nyata. Dia langsung terduduk. Napasnya tersengal-sengal dan keringat kini bercucuran membasahi sekujur tubuh.
"Astaga, mimpi apa aku?" Luna mengusap wajah kasar, lalu melirik botol minum yang ada di atas nakas.
Dia meraih botol tersebut dan meneguk air yang ada di sana secara perlahan. Namun, rasa hausnya tidak segera terobati. Akhirnya, Luna berniat untuk turun ranjang dan mengisi lagi botol tersebut.
Luna membuka pintu kamar perlahan, kemudian menuruni satu per satu anak tangga. Rumah itu terlihat begitu sunyi. Hanya terdengar suara langkah kaki Luna yang beradu dengan lantai yang dia pijak.
Langkah Luna berhenti ketika dia mulai memasuki area ruang makan keluarga. Dia mengerutkan dahi karena melihat seorang gadis terbaring di atas meja dengan lilin yang mengelilinginya.
"Eh, bukannya itu Clara? Kenapa dia tiduran di sana?" gumam Luna.
Luna hendak melangkah untuk membangunkan gadis itu. Namun, baru saja dia melangkah. Tiba-tiba Vlad, Rosella, dan beberapa kerabat lain yang baru datang tadi pagi memasuki ruangan itu.
Mereka semua memutari meja, dan mengambil posisi masing-masing. Vlad mulai komat-kamit seperti sedang berdoa. Seiring gerakan bibir lelaki itu, angin dingin berembus meniup lilin, hingga api yang menyala bergoyang.
Apa-apaan ini?
Setelah selesai berdoa, Vlad menyayat pergelangan tangan Clara. Darah mulai mengalir dari sayatan yang dibuat oleh Vlad. Orang-orang yang ada di ruangan itu mendadak terlihat buas.
Mata mereka berubah merah. Taring runcing mereka mulai memanjang dan keluar dari mulut. Mereka mendekati Clara satu persatu dan menghisap darah gadis tersebut dengan rakus.
Astaga!
Luna terus melangkah mundur. Matanya terbelalak melihat kejadian itu. Dia langsung balik badan, dan berlari secepat mungkin kembali ke kamarnya. Setelah sampai di kamar, dia menyandarkan punggung pada daun pintu.
Tubuh Luna langsung merosot ke atas lantai. Keringat bercucuran membasahi dahinya. Dia tidak menyangka, bahwa keluarga bangsawan tempat dia mengabdi sekarang adalah kumpulan makhluk pengisap darah.
"Aku harus bagaimana? Apa aku juga akan berakhir seperti Clara? Tapi, jika aku pergi ... bagaimana dengan nenek?"
Luna dirundung dilema. Akhirnya dia menghubungi Valko. Dia ingin menceritakan semuanya kepada sang kekasih.
Rasa sesal kini menyelubungi hati Pradha. Dia menyesal tidak mendengar ucapan Valko yang sudah mengingatkan untuk segera keluar dari kediaman keluarga Vlad. Namun, tidak semudah itu. Dia merasa berjasa kepada keluarga tersebut.
"Halo," sapa Valko melalui sambungan telepon.
"Val, aku harus bagaimana?" tanya Luna dengan suara bergetar karena menahan tangis.
"Apa maksudmu."
"Kau tahu, ternyata keluarga Vlad adalah sekumpulan makhluk pengisap darah! Mereka adalah vampir!" Luna mengusap wajah kasar.
Obrolan mereka pun berlanjut. Bahkan keduanya sempat membicarakan cara agar Luna bisa keluar dari rumah itu dengan selamat.
Tanpa sepengetahuan keduanya, ternyata ada sepasang telinga lain yang mendengarkan pembicaraan mereka diam-diam. Draco berada di balik pintu dan menempelkan telinga pada daun pintu.
Lelaki berwajah pucat itu menajamkan pendengaran. Dia jadi tahu bahwa Luna sudah mengetahui siapa keluarganya mereka sebenarnya. Draco berniat untuk melenyapkan rasa takut Luna, dan meyakinkan kalau mereka hanya meminum darah manusia di saat tertentu saja.
"Aku harus melakukan sesuatu," gumam Draco, kemudian beringsut dari depan kamar Luna.
...****************...
Mampir yukkk ke karya sahabat Chika ❤❤❤
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 59 Episodes
Comments