Bab 18. Vlad Sebenarnya

Seharian Luna tidak fokus. Dia masih kesal kepada Valko. Gadis itu tidak menyangka sang kekasih tega menuduhnya telah melakukan hal konyol tersebut. Luna selalu membuang napas kasar setiap teringat ucapan Valko yang sukses menggores hatinya itu.

Ketika jam pelajaran usai, Luna pun bersiap pulang.  Draco sudah mengirimkan pesan kepadanya untuk menunggu sebentar karena dia ada kepentingan lain. Jadi, Luna memutuskan untuk menunggunya di luar gerbang kampus sambil mencari inspirasi untuk membuat sketsa.

Setelah mengemas buku dan memasukkannya ke dalam tas, Luna segera keluar dari kampus. Ketika hampir mencapai gerbang kampus, dia melihat sosok yang sangat ingin dihindari saat ini. Ternyata Valko masih ada depan gerbang.

"Luna!" teriak Valko sambil melambaikan tangan.

"Dia ngapain masih di sini?" Luna berdecap kesal saat melihat kekasihnya itu sedang tersenyum lebar di depan gerbang.

Dia ingin menghindar, tetapi sudah tidak mungkin. Valko sudah terlanjur melihatnya. Misalkan dia kembali ke dalam kampus, pasti Valko akan mengejarnya sampai dapat.

Luna pun berjalan malas menapaki jalanan yang ada di bawahnya. Ketika sampai di depan Valko, lelaki tersebut tersenyum lebar seakan tidak terjadi apa pun di antara mereka.

"Ayo, aku antar pulang!" ajak Valko sambil mengulurkan tangan.

"Aku sudah ada janji dengan Draco." Luna hanya melirik jemari sang kekasih.

"Lelaki itu lagi? Aku penasaran, bagaimana bisa dia membuatmu begitu penurut begini!" Valko terlihat kesal sekarang, dia menggenggam lagi jemarinya, dan menelusupkan ke dalam saku celana.

Lelaki itu heran dengan sikap Luna yang menjadi penurut ketika berhadapan dengan Draco. Berbagai pikiran buruk yang dia pendam sepagian ini akhirnya kembali mencuat ke permukaan.

Entah mengapa kini otaknya membayangkan keseharian Luna di dalam rumah Draco. Dia membayangkan keduanya terus bermesraan sepanjang hari. Beruntungnya, Valko kembali menemukan akal sehatnya.

Dia menggerakkan lengan di atas kepala, berharap semua pikiran buruk tentang sang kekasih berantakan dan pergi dari otaknya yang tidak seberapa besar itu. Luna menautkan kedua alis ketika melihat tingkah sang kekasih.

"Kamu kenapa, Val? Aneh!" Luna melipat lengan di depan dada seraya mengerutkan dahi.

"Ah, tidak." Valko menggaruk kepala kemudian kembali menatap serius sang kekasih.

"Luna, maukah kamu memaafkanku? Tadi pagi Valko yang gagah perkasa ini mendadak goblok karena cemburu buta." Valko memukul kepalanya sendiri berulang kali.

Luna menarik napas panjang, lalu mengembuskannya perlahan. Dia juga tidak mau berlarut-larut dalam masalah ini. Luna akhirnya memutuskan untuk memaafkan Valko.

Toh, kekasihnya itu memang tidak sepenuhnya bersalah. Akhir-akhir ini mereka jarang menghabiskan waktu berdua karena pekerjaan Luna yang tidak pernah libur. Keluarga Vlad memang memberikan pekerjaan ringan.

Akan tetapi, dia tidak diizinkan keluar rumah selain ketika kuliah. Itu pun haruslah Draco yang mengantarnya. Luna mengacungkan jempol ke arah Valko.

"Oke," jawab Luna singkat.

"Nggak rela banget sih, kayaknya?" gerutu Valko.

"Aku memaafkanmu, Sayang. Tapi, lain kali jangan diulangi lagi. Aku harus bekerja di sana untuk membalas jasa mereka. Kamu nggak perlu cemburu. Aku  akan selalu menjaga hatiku untukmu."

Ucapan Luna seperti air es yang menyiram kerongkongan Valko ketika haus melanda. Hatinya jauh lebih tenang daripada tadi pagi. Setidaknya sekarang mereka sudah berbaikan.

Mereka berdua kembali membangun kepercayaan satu sama lain. Luna berjanji akan menghubunginya begitu ada waktu senggang. Begitu juga sebaliknya.

Tiba-tiba hidung Valko kembang kempis. Dia mencium aroma yang sangat dia benci. Tanpa sadar lelaki itu menggeram. Selang beberapa menit, mobil Draco datang menjemput.

"Tuan Draco, datang! Aku pulang dulu, ya, Val? Nanti aku akan meneleponmu kalau sudah sampai Mansion!"

"Baik, aku harap kamu selalu waspada ketika berada di dekat mereka."

"Baiklah, aku pergi dulu!" Luna hanya tersenyum geli, karena menganggap sang kekasih masih cemburu.

***

"Lepaskan aku!" teriak Luna.

Dia merasa sedang dikerubungi oleh beberapa kelelawar yang berniat untuk menggigitnya. Dia terus berlari menyusuri lorong gelap itu. Luna hanya mengandalkan cahaya dari lentera yang dia genggam.

Tak lama kemudian terlihat cahaya dari ujung tempat itu. Luna mempercepat langkah kakinya untuk menuju cahaya tersebut. Di ujung jalan itu, Valko tengah menunggunya sambil merentangkan kedua tangan.

Tangis Luna pecah, ketika berhasil masuk ke dalam pelukan Valko. Namun, dia kembali terbelalak setelah menyadari dia sudah salah sangka. Orang yang dipeluknya bukanlah Valko, melainkan Vlad. Lelaki paruh baya itu terlihat begitu pucat. Sudut bibirnya terdapat noda darah.

"Tuan?"

"Tertangkap!" Vlad menyeringai sehingga terlihat taringnya yang tampak begitu tajam.

Luna pun berteriak histeris dan kembali ke alam nyata. Dia langsung terduduk. Napasnya tersengal-sengal dan keringat kini bercucuran membasahi sekujur tubuh.

"Astaga, mimpi apa aku?" Luna mengusap wajah kasar, lalu melirik botol minum yang ada di atas nakas.

Dia meraih botol tersebut dan meneguk air yang ada di sana secara perlahan. Namun, rasa hausnya tidak segera terobati. Akhirnya, Luna berniat untuk turun ranjang dan mengisi lagi botol tersebut.

Luna membuka pintu kamar perlahan, kemudian menuruni satu per satu anak tangga. Rumah itu terlihat begitu sunyi. Hanya terdengar suara langkah kaki Luna yang beradu dengan lantai yang dia pijak.

Langkah Luna berhenti ketika dia mulai memasuki area ruang makan keluarga. Dia mengerutkan dahi karena melihat seorang gadis terbaring di atas meja dengan lilin yang mengelilinginya.

"Eh, bukannya itu Clara? Kenapa dia tiduran di sana?" gumam Luna.

Luna hendak melangkah untuk membangunkan gadis itu. Namun, baru saja dia melangkah. Tiba-tiba Vlad, Rosella, dan beberapa kerabat lain yang baru datang tadi pagi memasuki ruangan itu.

Mereka semua memutari meja, dan mengambil posisi masing-masing. Vlad mulai komat-kamit seperti sedang berdoa. Seiring gerakan bibir lelaki itu, angin dingin berembus meniup lilin, hingga api yang menyala bergoyang.

Apa-apaan ini?

Setelah selesai berdoa, Vlad menyayat pergelangan tangan Clara. Darah mulai mengalir dari sayatan yang dibuat oleh Vlad. Orang-orang yang ada di ruangan itu mendadak terlihat buas.

Mata mereka berubah merah. Taring runcing mereka mulai memanjang dan keluar dari mulut. Mereka mendekati Clara satu persatu dan menghisap darah gadis tersebut dengan rakus.

Astaga!

Luna terus melangkah mundur. Matanya terbelalak melihat kejadian itu. Dia langsung balik badan, dan berlari secepat mungkin kembali ke kamarnya. Setelah sampai di kamar, dia menyandarkan punggung pada daun pintu.

Tubuh Luna langsung merosot ke atas lantai. Keringat bercucuran membasahi dahinya. Dia tidak menyangka, bahwa keluarga bangsawan tempat dia mengabdi sekarang adalah kumpulan makhluk pengisap darah.

"Aku harus bagaimana? Apa aku juga akan berakhir seperti Clara? Tapi, jika aku pergi ... bagaimana dengan nenek?"

Luna dirundung dilema. Akhirnya dia menghubungi Valko. Dia ingin menceritakan semuanya kepada sang kekasih.

Rasa sesal kini menyelubungi hati Pradha. Dia menyesal tidak mendengar ucapan  Valko yang sudah mengingatkan untuk segera keluar dari kediaman keluarga Vlad. Namun, tidak semudah itu. Dia merasa berjasa kepada keluarga tersebut.

"Halo," sapa Valko melalui sambungan telepon.

"Val, aku harus bagaimana?" tanya Luna dengan suara  bergetar karena menahan tangis.

"Apa maksudmu."

"Kau tahu, ternyata keluarga Vlad adalah sekumpulan makhluk pengisap darah! Mereka adalah vampir!" Luna mengusap wajah kasar.

Obrolan mereka pun berlanjut. Bahkan keduanya sempat membicarakan cara agar Luna bisa keluar dari rumah itu dengan selamat.

Tanpa sepengetahuan keduanya, ternyata ada sepasang telinga lain yang mendengarkan pembicaraan mereka diam-diam. Draco berada di balik pintu dan menempelkan telinga pada daun pintu.

Lelaki berwajah pucat itu menajamkan pendengaran. Dia jadi tahu bahwa Luna sudah mengetahui siapa keluarganya mereka sebenarnya. Draco berniat untuk melenyapkan rasa takut Luna, dan meyakinkan kalau mereka hanya meminum darah manusia di saat tertentu saja.

"Aku harus melakukan sesuatu," gumam Draco, kemudian beringsut dari depan kamar Luna.

...****************...

Mampir yukkk ke karya sahabat Chika ❤❤❤

Episodes
1 Bab 1. Dire Wolf Seputih Salju
2 Bab 2. Berburu bersama Valko
3 Bab 3. Bulan Purnama
4 Bab 4. Valko The Dire Wolf
5 Bab 5. Perburuan Cinta
6 Bab 6. Pertemuan Keluarga
7 Bab 7. Andrea Si Kakak Tingkat
8 Bab 8. Penculikan (1)
9 Bab 9. Penculikan (2)
10 Bab 10. Wabah
11 Bab 11. Backstreet
12 Bab 12. Mengambil Cuti
13 Bab 13. Ijin
14 Bab 14. Adu Domba
15 Bab 15. Perjanjian dengan Vlad
16 Bab 16. Penipuan
17 Bab 17. Kecemburuan Valko
18 Bab 18. Vlad Sebenarnya
19 Bab 19. Langkah Pertama Draco
20 Visual
21 Bab 20. Pertunangan
22 Bab 21 . Negosiasi Antar Ras
23 Bab 22. Duka Luna
24 Bab 23. Canis Guildayi
25 Bab 24. Azura Kembali Datang
26 Bab 25. Padang Bunga Baby Blue Eyes
27 Bab 26. Bukit Arcoíris
28 Bab 27. Paman Catz dan Smilodon
29 Bab 28. Permainan Paman Catz
30 Bab 29. Sebuah Sketsa
31 Bab 30. Melanjutkan Permainan
32 Bab 31. Akhir Ujian Berujung Duka
33 Bab 32. Ijin untuk Melintas
34 Bab 33. Daphne or Karina
35 Bab 34. Memulai Ritual
36 Bab 35. Jiwanya Telah Kembali
37 Bab 36. Petunjuk
38 Bab 37. Pulang Ke Tempat Asal
39 Bab 38. Pendant of Arthemis
40 Bab 39. Mencari Kalung Arthemis
41 Bab 40. Pencarian Selanjutnya
42 Bab 41. Kembalinya Pendant of Arthemis
43 Bab 42. Mencari Aroma Terapi
44 Bab 43. Suku Nuevo
45 Bab 44. Catz yang Keji Kembali
46 Bab 45. Mimpi Penutup
47 Bab 46. Ingin Melakukan Hal Menyenangkan
48 Bab 47. Berkemah Bersama
49 Bab 48. Tangisan Tengah Malam
50 Bab 49. Mana yang Asli?
51 Bab 50. Terbongkar
52 Bab 51. Melanjutkan Tugas
53 Bab 52. Melukis Diri Sendiri
54 Bab 53. Lukisan Terakhir
55 Bab 54. Pasca Ritual
56 Bab 55. Kehidupan Kedua
57 Kepingan Hati di Langit Qatar
58 Rahasia Kehamilan Violetta
59 Revenge of The Ugly Lily
Episodes

Updated 59 Episodes

1
Bab 1. Dire Wolf Seputih Salju
2
Bab 2. Berburu bersama Valko
3
Bab 3. Bulan Purnama
4
Bab 4. Valko The Dire Wolf
5
Bab 5. Perburuan Cinta
6
Bab 6. Pertemuan Keluarga
7
Bab 7. Andrea Si Kakak Tingkat
8
Bab 8. Penculikan (1)
9
Bab 9. Penculikan (2)
10
Bab 10. Wabah
11
Bab 11. Backstreet
12
Bab 12. Mengambil Cuti
13
Bab 13. Ijin
14
Bab 14. Adu Domba
15
Bab 15. Perjanjian dengan Vlad
16
Bab 16. Penipuan
17
Bab 17. Kecemburuan Valko
18
Bab 18. Vlad Sebenarnya
19
Bab 19. Langkah Pertama Draco
20
Visual
21
Bab 20. Pertunangan
22
Bab 21 . Negosiasi Antar Ras
23
Bab 22. Duka Luna
24
Bab 23. Canis Guildayi
25
Bab 24. Azura Kembali Datang
26
Bab 25. Padang Bunga Baby Blue Eyes
27
Bab 26. Bukit Arcoíris
28
Bab 27. Paman Catz dan Smilodon
29
Bab 28. Permainan Paman Catz
30
Bab 29. Sebuah Sketsa
31
Bab 30. Melanjutkan Permainan
32
Bab 31. Akhir Ujian Berujung Duka
33
Bab 32. Ijin untuk Melintas
34
Bab 33. Daphne or Karina
35
Bab 34. Memulai Ritual
36
Bab 35. Jiwanya Telah Kembali
37
Bab 36. Petunjuk
38
Bab 37. Pulang Ke Tempat Asal
39
Bab 38. Pendant of Arthemis
40
Bab 39. Mencari Kalung Arthemis
41
Bab 40. Pencarian Selanjutnya
42
Bab 41. Kembalinya Pendant of Arthemis
43
Bab 42. Mencari Aroma Terapi
44
Bab 43. Suku Nuevo
45
Bab 44. Catz yang Keji Kembali
46
Bab 45. Mimpi Penutup
47
Bab 46. Ingin Melakukan Hal Menyenangkan
48
Bab 47. Berkemah Bersama
49
Bab 48. Tangisan Tengah Malam
50
Bab 49. Mana yang Asli?
51
Bab 50. Terbongkar
52
Bab 51. Melanjutkan Tugas
53
Bab 52. Melukis Diri Sendiri
54
Bab 53. Lukisan Terakhir
55
Bab 54. Pasca Ritual
56
Bab 55. Kehidupan Kedua
57
Kepingan Hati di Langit Qatar
58
Rahasia Kehamilan Violetta
59
Revenge of The Ugly Lily

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!