Tanpa sepengetahuan Maria, Alarick, Luna, dan juga Valko, ternyata ada sepasang mata lain yang sedang menyaksikan bersatunya cinta mereka karena restu sang kepala suku. Dia adalah Andrea.
Perempuan licik itu mengepalkan jemari, kemudian segera berlari kembali ke rumah sang nenek. Dia mengadukan semua yang dia lihat sembari bercucuran air mata. Berta pun geram mendengar cerita dari cucu kesayangannya.
"Ayo, kita ke sana!" ajak Berta.
Mereka berdua berjalan penuh amarah menuju balai pengobatan, tempat Luna dan Valko dirawat. Tanpa permisi Berta dan Andrea masuk ke dalam bilik balai pengobatan, sehingga membuat semua yang ada dalam ruangan tersebut terperanjat.
"Alarick!" teriak Berta, kemudian langsung menghampiri sang kepala suku.
"Ada apa?" tanya Alarick santai.
"Kamu tidak ingat perjanjian leluhur yang harus dilaksanakan? Bisa-bisanya kamu memberikan restumu untuk cinta monyet mereka!" seru Berta seraya menunjuk Luna dan juga Valko yang masih terpejam.
"Kita bicarakan semua di luar. Putraku butuh istirahat."
"Tidak! Biarkan dia bangun!" Bukannya pergi, Berta justru mendekati Valko.
Perempuan tua itu mengguncangkan tubuh Valko tanpa rasa kasihan sedikit pun. Berta layaknya orang yang sedang kesetanan. Maria dan Alarick mencegahnya dan menyeret tubuh renta wanita itu keluar dari balai pengobatan.
"Aku sudah menghargaimu selama ini! Jika bukan karena seorang tetua di suku ini, mungkin kamu akan aku usir sekarang juga!"
"Dasar kamu, B*jingan! Apa kamu tidak memikirkan nasib rakyatmu? Lihatlah, semakin banyak orang yang mati karena wabah itu!" seru Berta dengan mata berapi-api.
"Begitukah? Aku tidak yakin mereka semua mati karena wabah yang berasal dari kutukan!" Alarick bersedekap kemudian tersenyum miring.
"Apa maksudmu?"
"Beberapa hari lalu, Valko mengatakan bahwa ada yang aneh dengan air sungai yang menjadi sumber utama perairan suku Canis! Dia mengatakan, kemungkinan ada seseorang yang meracuni air tersebut!"
"Mana buktinya? Itu semua hanya rekayasa Valko untuk menghindari pernikahan dengan Andrea!"
"Terserah apa katamu. Aku tidak peduli dengan kutukan itu! Ah, mengenai perjanjian leluhur. Aku sempat terkejut ketika kamu menyampaikannya kepadaku, Berta!" Alarick tersenyum miring kemudian menatap tajam perempuan tua itu.
"Aku terkejut, karena tidak pernah mendengar mengenai perjanjian pernikahan yang kamu karang itu! Setelah berpikir selama berhari-hari ... aku rasa itu semua hanya bualanmu semata!"
Berta semakin terlihat marah. Dia menatap tajam Alarick, kemudian rahangnya mengeras. Jemarinya mengepal kuat.
"Kamu akan menyesali hal ini! Ayo, Andrea, kita pulang!" ajak Berta.
Kedua perempuan jahat itu akhirnya meninggalkan balai pengobatan. Namun, niat jahat keduanya tidak surut begitu saja. Sepanjang perjalanan, mereka menyebarkan gosip tentang wabah dan penolakan Valko. Dia menyebar fitnah kalau wabah terjadi, akibat Valko menolak perjodohannya yang sudah ditentukan oleh para leluhur.
Berta menghasut semua warga untuk mendatangi rumah Alarick dan memintanya untuk turun jabatan, karena dianggap tidak becus menjadi pemimpin. Benar saja, tidak sedikit warga yang percaya. Mereka semua berkumpul di balai desa, bersiap untuk melakukan aksi protes kepada Alarick.
Di sisi lain, Valko yang sudah sadar pun dibawa pulang. Valko menceritakan semua hal yang dialaminya ketika berada di penjara bawah tanah. Alarick semakin murka setelah mendengar semua yang sudah diceritakan oleh Valko.
"Harusnya aku menghukum Theo dengan hukuman lebih berat. Aku rasa kurungan selama 10 tahun tidaklah cukup," sesal Alarick.
"Biar saja, Yah. Aku diperbolehkan untuk menjalin kasih dengan Luna saja, sudah merasa sangat beruntung." Valko menggenggam jemari sang kekasih semakin kuat, seiring cintanya kepada Luna yang juga semakin kuat.
"Baiklah, selanjutnya kalian mau bagaimana?"
"Aku mau melanjutkan kuliahku dulu, Pak," jelas Luna.
"Baguslah, biar Valko tetap berada di kota untuk selalu menjagamu. Tapi ...." Ucapan Valko tertahan karena terdengar teriakan dari luar rumah.
"Keluar! Keluar! Turun dari jabatan!"
Suara tersebut terus bersahutan dengan nada penuh amarah. Akhirnya Alarick keluar dari kamar Valko dan berjalan menuju teras rumah. Di halaman rumah sang kepala suku tersebut, sudah ada puluhan warga yang terlihat sedang marah.
"Ada apa ini?" tanya Alarick dengan suara baritonnya.
"Turun dari jabatan kepala suku!" teriak seorang warga.
"Apa aku melakukan kesalahan terhadap kalian? Apa aku bersikap tidak adil? Atau aku bersikap acuh ketika kalian kesusahan? Sehingga kalian memintaku untuk lengser dari jabatan kepala suku?" cecar Alarick.
"Karena putra bodohmu itu, banyak dari warga Canis yang mati karena wabah itu! Wabah itu adalah kutukan akibat ulah Valko!" teriak warga lain.
"Putra bodoh yang mana maksud kalian?" Valko berjalan perlahan dengan bantuan Luna dan Maria.
"Kalian dibodohi oleh Nenek Berta! Beliau adalah dalang di balik wabah yang melanda tempat ini!" serunya lagi.
"Jangan asal tuduh kamu!" teriak Berta yang kini muncul dari balik kerumunan bersama Andrea.
Valko akhirnya merogoh saku, dan menunjukkan rekaman yang dia ambil beberapa waktu lalu saat menyelidiki air sungai Hutan Timur La Eterno. Di sana tampak jelas bagaimana Berta menuangkan satu botol cairan ke arah sungai. Setelah selesai, perempuan tua itu membuka tudung mantel dan tertawa terbahak-bahak.
"Itu bukan aku!" teriak Berta, masih berusaha menyangkal.
"Semua orang yang ada di sini pasti memiliki penglihatan yang masih bagus, bukan?" Valko menaikkan satu alisnya.
Semua warga yang mendatangi rumah Alarick saling tatap dan semuanya mundur satu langkah secara serempak. Berta dan Andrea mulai terlihat panik. Kini mereka bersimpuh dan berusaha memohon pengampunan kepada Alarick.
"Tolong ampuni kami, Tuan."
"Iya, mohon beri kami kesempatan sekali lagi untuk memperbaiki diri," Andrea menangkupkan kedua telapak tangan, berharap mendapat pengampunan dari Alarick.
"Aku akan menyerahkan semuanya kepada warga suku Canis. Wahai, para wargaku tercinta. Apa kalian mau memaafkan Berta yang sudah menyebarkan wabah penyakit di desa kita ini?"
"Nyawa harus dibayar dengan nyawa, Tuan!" seru seorang warga yang tadi protes pertama kali.
"Betul!" sahut warga lain serempak.
"Lalu, hukuman apa yang ingin kalian lakukan untuk Berta?"
"Bakar dia hidup-hidup!" Seluruh warga kompak menyerukan hukuman mengerikan itu.
Berta seakan kehilangan pijakan. Dia terduduk lemas di atas tanah. Air mata kini bercucuran membasahi wajahnya. Keberaniannya beberapa waktu lalu seakan menguap ke udara, tak bersisa sedikit pun.
"Nek, Nenek!" Andrea mengguncangkan tubuh sang nenek, agar perempuan itu kembali bangkit.
Andrea akhirnya berdiri tegap. Dia menatap tajam Semua orang yang ada di tempat itu. Tatapannya berakhir pada Alarick.
"Tuan, di mana belas kasihan Anda? Apakah Anda akan membiarkan nenekku benar-benar dibakar oleh warga?" tanya Andrea frustrasi.
"Lalu, di mana belas kasihan Berta ketika menumpahkan racun untuk menyebarkan wabah penyakit di desa ini? Dia sudah membunuh banyak nyawa! Dia melakukan ini semua demi kepentingan pribadinya!" geram Alarick.
"Kuserahkan mereka pada kalian! Untuk Andrea, aku juga akan menghukummu, karena dianggap ikut terlibat dengan kejahatan yang diperbuat nenekmu!" Alarick menunjuk wajah Andrea dengan telunjuknya.
"Kamu akan diasingkan seumur hidup di hutan larangan ujung timur!"
Seluruh warga bersorak puas dengan kebijakan yang diambil oleh Alarick. Mereka langsung menyeret tubuh Berta dan membawanya ke alun-alun. Luna hanya bisa terdiam melihat insiden hari itu.
Detik itu juga, dia menyadari bahwa ucapan sang paman tidak salah. Suku Canis adalah salah satu suku terkejam di daratan benua itu. Namun, semua terjadi karena ada alasannya.
'Setiap kejahatan akan berbuah hal buruk, dan setiap kebaikan akan berbuah hal yang indah. Aku yakin itu ....'
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 59 Episodes
Comments