"Nek, tolong jangan bercanda. Ini aku, Luna ... cucumu!" Suara Luna meninggi karena tidak terima dengan sikap sang nenek.
"Luna siapa? Cepat, sana pergi!" teriak Martha dengan telunjuk mengarah ke tengah hutan.
Tak lama kemudian terdengar suara derap langkah yang sedang menuruni anak tangga. Seorang pria berkumis dan berjanggut lebat menghampiri dua perempuan beda usia itu. Dia adalah Diego, paman Luna.
"Ada apa ini? Luna? Sejak kapan kamu pulang?" tanya Diego dengan mata terbelalak.
"Nenek kenapa, Paman?" tanya Luna kebingungan.
"Nanti aku jelaskan. Ayo, masuk dulu."
Mereka bertiga pun melangkah memasuki rumah tersebut. Aroma kayu yang menguar dari dinding serta lantai rumah itu menyapa indra penciuman Luna. Ketiganya kini duduk di ruang tengah dengan api dalam tungku perapian yang menyala.
"Kenapa tidak bilang kalau kamu pulang hari ini?" tanya Diego.
"Niatnya aku mau memberikan kejutan untuk kalian. Tapi, ternyata ...." Luna menatap sedih sang nenek yang kini melemparkan tatapan tajam ke arahnya.
"Ibu mengalami demensia. Aku ingin sekali membawanya ke kota untuk perawatan intensif. Tapi, kamu tahu sendiri keadaan ekonomi kita."
Bahu Luna merosot. Memang benar yang dikatakan sang paman. Luna pun bisa sekolah karena beasiswa yang dia dapatkan. Selain itu, gadis tersebut juga bekerja paruh waktu untuk mendapatkan uang jajan.
"Iya, aku paham. Aku akan bekerja lebih keras lagi dan membawa nenek berobat ke kota."
"Istirahatlah, aku akan membawa Ibu ke kamarnya. Ini sudah larut malam."
Luna mengangguk kemudian tersenyum lebar. Dia terus menatap punggung nenek dan juga sang paman hingga menghilang di balik pintu. Setelah itu, barulah Luna masuk ke kamarnya.
Keesokan harinya, Luna terbangun karena ketukan pada permukaan pintu kamar. Gadis cantik itu mulai menggeliat dan mengumpulkan kesadaran. Mulutnya pun terbuka lebar saat menguap untuk mengeluarkan sisa kantuk.
Perlahan dia melangkah turun dari ranjang dan berjalan ke arah pintu. Dibukanya kenop pintu itu. Sekarang sang nenek berdiri di hadapannya dengan senyum merekah. Sontak Luna langsung menghambur ke pelukan sang nenek.
"Nenek!" seru gadis cantik itu sambil menyusupkan wajah ke pelukan Martha.
"Kamu kenapa tidak menemui Nenek saat datang! Aku sangat merindukanmu, Luna!"
Luna tersenyum kecut di balik punggung sang nenek. Demensia benar-benar telah merenggut memori Martha, dan membuat ingatannya timbul tenggelam. Martha melepas pelukannya kemudian merangkum wajah cucu kesayangannya itu.
"Cepat cuci muka! Nenek sudah menyiapkan Enchiladas kesukaanmu!"
Mendengar nama makanan itu, membuat air liur Luna meleleh. Dia langsung membayangkan gurihnya potongan ayam yang dibalut dengan tortilla dan disiram saus tomat. Gadis itu menelan ludah berulang kali.
"Wah, aku sudah lama tidak makan enchiladas! Tunggu aku di meja makan, Nek!" Luna langsung berlari ke kamar mandi dan mencuci muka.
Setelah sarapan, Luna memutuskan untuk keluar rumah dengan membawa buku sketsa. Dia mengisi waktu luang untuk melukis pemandangan di sekitar rumah sang nenek.
Gadis cantik itu mulai menggoreskan pensil ke atas kertas. Mengamati lebat dan tingginya pohon pinus di hadapan mata, lalu menuangkan visual yang dua tangkap ke dalam buku sketsa.
"Aku memang pelukis handal!" seru Luna seraya menatap hasil goresan pensilnya dengan senyum jemawa.
Ketika Luna hendak mengamati lagi pepohonan di depannya. Seorang lelaki bertubuh tegap tengah berdiri sembari menodongkan senapan ke atas pohon. Lelaki itu agaknya sedang berburu tupai.
Gerombolan tupai melompat dari dahan satu ke dahan lain, sehingga membuat pepohonan bergoyang tak beraturan. Tumpukan salju pun turun ke atas tanah karena ulah hewan insektivora tersebut.
Luna terpesona seketika. Lelaki tampan di depannya itu memiliki garis wajah tegas. Rambut lurusnya berwarna putih dan terurai panjang dan diikat separuh bagian. Tanpa sadar jemari Luna bergerak dan menggambar sosok lelaki tersebut.
"Sedang apa kamu?" tanya lelaki itu dengan suara datar.
"A-aku sedang ...."
Luna menelan ludah kasar, merasa tertangkap basah karena menggambar lelaki itu tanpa ijin. Dia segera menutup kembali buku sketsanya agar tidak ketahuan.
"Sedang apa?" tanya lelaki itu lagi.
"Menggambar pepohonan di sana!" Luna menunjuk deretan pohon pinus yang bergerak pelan ditiup angin.
"Siapa kamu? Aku baru melihatmu. Seingatku rumah ini hanya ditinggali seorang perempuan tua dan lelaki paruh baya."
"Oh, aku cucunya. Memang sudah lama tidak pulang sejak menginjak usia sekolah, karena tinggal di asrama sekolah. Selama ini nenek dan paman yang selalu mengunjungiku."
"Siapa namamu?"
"Luna, Luna Garcia." Luna mengulurkan tangan sambil tersenyum ramah.
Namun, lelaki itu hanya melirik tangan Luna sekilas. Kemudian menatapnya lagi dengan tatapan datar. Luna mengerutkan dahi, dan menarik kembali uluran tangannya.
"Maaf, kalau membuatmu tidak nyaman. A-aku masuk saja kalau begitu." Luna tersenyum kecut, lalu beranjak dari kursi.
"Aku Valko Martinez. Mau ikut masuk ke hutan?"
"Ya?"
"Mau ikut aku berburu dan masuk lebih jauh ke hutan itu?" Valko menunjuk ke arah hutan dengan ibu jarinya.
Luna terdiam. Dia berpikir sejenak. Sebenarnya dia sangat tertarik untuk memasuki hutan di sisi selatan, dan mengabadikan isi hutan itu ke dalam buku sketsanya. Namun, selama ini Luna dilarang ke sana karena masih banyak hewan buas yang berkeliaran.
"Boleh," jawab Luna.
Valko tersenyum miring. Dia tidak menyangka bahwa gadis itu begitu cepat mengiyakan ajakannya. "Kalau begitu, ayo!"
Luna langsung berjalan mengekor di belakang Valko. Dia berusaha terus membuka pembicaraan dengan lelaki itu. Awalnya Valko hanya menjawabnya dengan sepatah dua patah kata. Akan tetapi, lama-kelamaan lelaki itu terbawa suasana yang diciptakan Luna. Keakraban pun kini mulai tercipta di antara keduanya.
"Kamu tinggal di mana?"
"Aku tinggal di hutan bagian timur."
"Pekerjaanmu?"
"Aku? Pemburu?"
"Berapa umurmu?"
Mendengar pertanyaan terakhir Valko membuat langkahnya terhenti. Dia menatap tajam ke arah Luna dengan menyipitkan mata. Valko terlihat tidak suka mendapat pertanyaan itu dari Luna.
"Apa kamu itu petugas sensus yang sedang menyamar?"
"Ya?" Kedua alis Luna naik.
"Cerewet sekali, ingin mengetahui semua tentangku. Jika sudah tahu semuanya, maka kamu akan menyesal karena sudah mengenalku." Valko mendekati Luna berusaha mengintimidasi gadis itu.
"Ah, bu-bukan itu maksudku. Aku takut berbicara tidak sopan jika tidak mengetahui umurmu." Luna tersenyum canggung dan kakinya terus melangkah mundur.
Valko terus melangkah maju, dan terus mengintimidasi Luna dengan tatapan serta senyum miringnya. Nyali gadis bermata coklat terang itu pun menciut. Dia terus melangkah mundur untuk menjaga jarak dengan Valko. Sampai akhirnya punggung Luna menempel pada pohon Oak besar di belakangnya.
"Apa aku perlu membungkam bibirmu itu agar tidak cerewet?" Valko mengungkung Luna di antara kedua lengan kokohnya, dan mendekatkan wajah ke muka gadis cantik tersebut.
Napas Valko langsung menyapu permukaan kulit putih Luna. Gadis itu menelan ludah kasar ketika menatap mata biru Valko. Dia seperti melihat keajaiban Tuhan yang begitu sempurna. Ketampanan Valko sukses membuat jantungnya berdegup semakin kencang.
Tanpa sadar gadis itu memejamkan mata karena tiba-tiba Valko mendekatkan bibirnya. Sedetik kemudian, dia terbelalak karena bisikan lelaki tampan tersebut.
"Bibirmu cerewet, sehingga membuat binatang buruanku kabur semua," bisik Valko kemudian menjauhkan tubuhnya dari Luna.
"Ayo, kita pulang! Lihatlah langit sudah berubah gelap!"
Akhirnya mereka berdua kembali menyusuri jalanan setapak hutan dan kembali ke rumah. Valko mengantar Luna pulang, sebelum dia kembali ke rumahnya. Ketika sampai di kediaman nenek Luna, sang paman menatap tajam dua sejoli yang baru keluar dari rimbunan pepohonan pinus itu.
"Dari mana kalian?" tanya Diego tegas.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 59 Episodes
Comments
Wiwin Handayani
org barat i2 paling anti Pati klo ditsnya umur,i2 adl pertanyaan yg amat sangat tdk sopan
2022-12-31
1
Ayu Andila
jangan* Valko itu hewan yg mau nyerang Luna? 🤔
2022-12-19
1
pentin
🌹🌹🌹🌹🌹
2022-12-03
1