"Permisi, Tuan." Martin memasuki ruang keluarga Vlad dengan tubuh membungkuk penuh hormat.
"Ya, ada apa, Martin?"
"Tuan Diego sudah datang, Tuan."
"Baiklah, kamu keluar terlebih dahulu. Perintahkan para koki untuk menghidangkan steak terbaik kita. Layani mereka sebaik mungkin!" titah Vlad.
"Baik, Tuan." Martin pun meninggalkan ruangan itu dengan berjalan mundur hingga sampai di pintu.
Setelah Martin keluar dari ruang keluarga Vlad, lelaki itu segera memanggil Rosella dan juga Draco. Rosella adalah istri Vlad, dan Draco adalah putranya.
"Rose, bersiaplah. Kita kedatangan tamu istimewa."
"Aku penasaran siapa tamu kita kali ini." Rosella tersenyum miring kemudian masuk ke kamarnya.
"Draco, bersiaplah!"
"Baik, Dady."
Setelah mereka selesai bersiap-siap, ketiganya langsung keluar dari ruang keluarga yang langsung terhubung dengan ruang makan mansion tersebut. Dari kejauhan, Draco langsung terpesona akan kecantikan Luna.
Gadis itu terlihat sangat bersinar. Aroma manis menguar dari tubuh Luna sampai tercium oleh hidung Draco. Aroma itu juga tercium oleh Vlad dan juga Rosella.
"Manis," gumam Rosella seraya menatap tajam Luna.
Mereka bertiga akhirnya duduk dan menikmati makan malam. Setelah selesai, Diego langsung membuka perbincangan. Dia memperkenalkan Luna kepada anggota keluarga Vlad.
Draco hanya bisa menutup hidung karena aroma manis yang menguar dari tubuh Luna. Aroma itu berhasil membuat air liurnya menetes seketika. Di sisi lain, Rosella terus menatap sinis ke arah Luna karena dia tidak suka dengan tatapan aneh yang tadi sempat dilayangkan kepadanya.
Dia istimewa. Dia adalah gadis yang selama ini kami cari.
"Jadi, Tuan. Apa pekerjaan saya di rumah ini?" tanya Luna sehingga membuyarkan lamunan tiga orang asing di hadapannya itu.
"Kamu hanya perlu menemani putraku, ke mana pun dia mau. Ya, bisa dikatakan kalau kamu akan menjadi pengasuh Draco." Vlad mencebikkan bibir seraya mengangkat bahu.
"Hanya itu, Tuan?" tanya Luna kebingungan.
"Iya, kamu bebas melakukan apa pun di rumah ini, jika Draco sudah tidak membutuhkanmu. Setiap hari kamu akan diantar dan dijemput oleh sopir pribadi kami atau Draco."
"Baiklah, Tuan."
"Selain mendapatkan biaya pengobatan nenekmu, kami juga akan menggajimu."
"Tidak perlu, Tuan. Anda sudah bersedia membantu pengobatan nenek saja, saya sudah sangat bersyukur. Anda tidak perlu menggaji saya lagi. Ini bentuk dari bakti saya kepada keluarga Tuan Vlad."
"Hahaha, gadis yang unik. Baiklah, terserah kamu. Tapi, aku tidak menerima penolakan dalam bentuk apa pun!" Vlad menyipitkan mata.
Luna langsung menunduk karena merasa bahwa Vlad sedang tersinggung. Akhirnya mau tidak mau, gadis itu menyetujui apa pun yang Vlad mau. Setelah mengantar sang paman keluar dari mansion. Dia diantar oleh salah seorang pelayan ke kamar di lantai dua.
"Terima kasih," ucap Luna sopan sembari tersenyum lembut.
Luna kembali terkejut karena melihat kamar yang sudah disiapkan untuknya. Kamar itu begitu luas dengan ranjang ukuran raja. Furnitur yang digunakan pun terlihat sangat berkelas.
"Aku serasa masuk ke dunia dongeng melihat ini semua!" seru Luna seraya berdecap kagum.
Gadis itu membuka tirai jendela dan menatap langit yang masih menitikkan air hujan. Dia menengadahkan tangan dan merasakan tetes air yang menerpa kulit. Dingin, tetapi Luna menyukainya.
"Semoga semua baik-baik saja. Nek, cepatlah sembuh."
***
Tak terasa sudah seminggu, Luna tinggal di Mansion Vlad. Setiap hari dia diantar dan dijemput oleh Draco menggunakan mobil mewahnya. Di sela kesibukannya kuliah, dia kan menghabiskan banyak waktu dengan Draco. Keakraban pun mulai terjalin di antara mereka.
Beberapa di antara teman kuliah Luna mencibir gadis itu. Dia bahkan dituding sudah jual diri, karena sekarang sering memakai pakaian mahal. Padahal itu semua pemberian Rosella.
Hari itu, Valko sedang menunggu Luna di depan gerbang kampus. Dia merasa bahwa akhir-akhir ini Luna sangat sulit dihubungi. Terlebih lagi banyak desas-desus yang beredar mengenai Luna. Valko ingin melihat sendiri, apakah yang dikatakan mahasiswi kampus benar adanya.
"Sudah jam berapa, ini? Kenapa dia belum juga sampai?" gumam Valko sambil melirik jam yang melingkar pada pergelangan tangan.
Tak lama kemudian, sebuah mobil mewah berwarna hitam berhenti tepat di depannya. Valko mengerutkan kening sesaat, kemudian terbelalak saat mengetahui siapa yang keluar dari mobil tersebut.
"Luna?" Valko langsung berjalan cepat menghampiri sang kekasih.
"Val, apa kabar? Aku sangat merindukanmu!" seru Luna kemudian melompat ke pelukan Valko.
"Siapa dia?" Valko melepaskan pelukan Luna seraya menatap mobil Draco yang semakin menjauh.
"Ah, dia majikanku. Namanya Draco, putra tunggal dari keluarga Vlad. Aku sekarang bekerja di mansion keluarga Vlad."
"Oh, jadi benar yang mereka katakan? Kamu menjual diri kepada keluarga itu?"
Luna terbelalak. Dia tidak menyangka Valko tega menuduhnya demikian. Gadis itu menarik napas panjang dan membuangnya perlahan.
"Bagaimana bisa kamu menyimpulkan kalau aku adalah gadis yang semudah itu, Val?" Luna tersenyum tipis dan menatap tajam Valko.
"Nggak usah berpura-pura. Aku tahu, aku ini hanyalah pemuda miskin. Jaman sekarang, mana ada perempuan yang mau diajak berjuang dari nol?" Valko tersenyum miring dengan lengan dilipat di depan dada.
"Tunggu, aku rasa kamu salah paham, Val."
"Salah paham bagaimana? Sejak kamu bekerja di rumah keluarga busuk itu, kita jarang bertemu! Mereka menyita banyak waktu yang seharusnya kamu berikan untukku!" teriak Valko penuh emosi.
"Val, aku melakukan ini semua demi kesembuhan nenek! Kamu jangan salah paham!"
"Berapa biaya pengobatan nenekmu? Biar aku yang urus! Kamu cukup fokus kuliah dan luangkan sedikit saja waktumu untukku."
"Aku tidak mau merepotkanmu, Val. Kamu tidak perlu melakukan itu. Aku masih bisa mengatasi semua ini sendiri." Luna mengusap lengan atas sang kekasih, berusaha meredam amarah yang bercokol di hati Valko.
Valko mengusap wajah kasar. Niat baiknya ditolak mentah-mentah oleh sang kekasih. Hal itu tentu saja membuat Valko merasa diabaikan dan tidak berguna. Sebuah dugaan buruk tiba-tiba terlintas di otak Valko.
"Luna, jangan-jangan kamu sudah berselingkuh dengan majikanmu itu?" terka Valko.
"Apa maksudmu, Val?" Luna menautkan kedua alis karena heran dengan sikap Valko yang mendadak berubah menjadi sangat pencemburu itu.
"Aku memang ditugaskan untuk melayani kebutuhan Tuan Draco! Tapi ...."
"Ah, berarti termasuk kebutuhan hasratnya, bukan?" Valko tersenyum miring.
Sontak mata Luna terasa panas karena ucapan sang kekasih. Dia tidak menyangka bahwa Valko sudah berpikiran terlalu jauh tentang dirinya. Kaca-kaca di mata gadis cantik itu mulai terlihat.
Dadanya begitu sesak mendapat tuduhan dari sang kekasih. Sedih dan amarah kini bercampur dalam hati Luna. Rahangnya mengeras seketika. Luna menguatkan hati untuk membalas perkataan sang kekasih.
"Aku tidak tahu apa yang ada dalam otakmu sekarang, Val! Tapi, asal kamu tahu. Aku tidak serendah itu!" seru Luna dengan suara bergetar.
"Sementara ini, jangan temui aku dulu! Pikirkanlah kesalahan apa yang membuat sikapku jadi begini!"
Gadis itu pun beranjak pergi dari hadapan Valko. Dia setengah berlari masuk ke dalam gerbang kampus. Air mata kini membanjiri pipi Luna. Hatinya terasa begitu nyeri mendengar tuduhan dari orang yang sangat dia cintai itu.
Di sisi lain, Valko menendang udara dengan ujung sepatunya. Berbagai kata umpatan kini terlontar dari bibir lelaki tampan itu. Valko mengacak rambut frustrasi. Dia berteriak sekencang mungkin untuk meluapkan emosi yang tak terbendung lagi.
"Luna, kamu sudah salah tempat! Harusnya kamu tidak ke sana!" geram Valko.
...****************...
Mampir ke karya sahabat Chika juga, Yuk!
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 59 Episodes
Comments
Ilan Irliana
kluarga vampire putih pucat mh..hihi
2023-03-07
1
Ummi_ Qiadina
jangan2 kluarga vmpir lagi...
hduuh knpa hari ini aq d hantui am mnusia srigala n vmpir truz y..jdoh kali y...
smngat thor
2022-11-21
1