Satu bulan berlalu, hubungan Luna dan Valko bermekaran layaknya bunga. Membuat siapa pun yang melihat keduanya ketika bersama ikut bahagia. Setiap akhir pekan, Valko akan mengunjungi Luna di Kota Flor sambil menjual obat-obatan serta kerajinan khas suku Canis.
"Aku akan ke sana, sekarang! Ayo, kita jalan-jalan!" ajak Valko melalui sambungan telepon.
Lelaki itu mengembangkan senyum di bibir tipisnya. Beberapa perempuan dengan pakaian minim melirik Valko seraya tersenyum genit. Namun, dia mengacuhkannya.
Tiba-tiba seorang perempuan dengan celana pendek dan kaos belahan dada rendah menghampiri Valko. Dia menempelkan sepasang jeruk bali miliknya pada lengan Valko dan bergelayut manja.
"Hai, tampan! Aku Vanesa, siapa namamu?" tanya perempuan berambut pirang sebahu itu.
Valko menarik lengannya karena risi dengan benda kenyal yang menempel di sana. Bukannya menjauh, Vanesa justru semakin gencar mendekati Valko. Bahkan kini perempuan genit itu mengusap lembut dadanya.
"Hentikan, atau kubanting!" ancam Valko.
"Uuhhh, aku takut!" Vanesa memasang wajah dengan ekspresi ketakutan yang dibuat-buat.
"Pergilah!"
"Ayolah, siapa namamu wahai, Pria Tampan?" tanya Vanesa lagi.
"Kamu tidak perlu tahu siapa namaku!"
Baru saja Valko menutup mulut agar Vanesa tidak mengetahui namanya, tetapi malah dari kejauhan Luna berteriak memanggilnya. Valko menepuk dahinya, dan mengacuhkan Luna.
"Valko! Apa kamu tuli?" teriak Luna sambil berlari ke arah sang kekasih.
Valko mengedipkan mata berulang kali, sambil komat-kamit untuk memberi kode kepada Luna. Akan tetapi, gadis cerdas yang tidak peka itu hanya mengernyitkan dahi.
"Apa matamu kemasukan debu?"
"Kamu mengenalnya?" tanya Vanesa.
"Ah, dia pacarku, Kak."
"Apa?" Sontak Vanesa terkejut dan menatap Luna serta Valko bergantian.
"Apa kamu tidak takut terkena sanksi karena berpacaran dalam periode ini? Jika ketahuan Dewan Kampus, kamu akan dihukum, bahwa dihentikan beasiswamu!" Vanesa melipat lengan seraya tersenyum licik.
"Aku rasa tidak ada peraturan seperti itu? Sana pergilah! Jangan mendekati kekasihku lagi! Dia lebih suka kue yang dikemas rapi dan higienis, daripada kue yang dibiarkan terbuka dan terkena debu!" ejek Luna.
"Kamu!" Vanesa mengentakkan kaki ke atas aspal kemudian berlalu dengan kekesalan tingkat akut.
Valko menawan tawa karena ucapan Luna. Perempuan itu memang ahli dalam membuat lawan bicaranya kesal. Valko langsung menelan kembali tawanya setelah Luna melemparkan tatapan tajam. Tiba-tiba gadis itu mencubit perut samping Valko.
"Aduh! Ampun!" Valko berusaha melepaskan jepitan maut jemari Luna dari perutnya.
"Siapa suruh main mata sama cewek murahan! Lihat dia, lebih miskin daripada aku! Pakaiannya saja kekurangan bahan begitu!"
"Kamu cemburu?"
"Cemburu? Ha! Nggaklah!" Luna melepaskan jemarinya lalu melipat lengan sambil mengerucutkan bibir.
Akhirnya tawa Valko pecah karena melihat tingkah Luna yang begitu menggemaskan. Mendengar Valko tertawa, membuat Luna semakin kesal. Akhirnya dia memukul pelan lengan atas sang kekasih.
"Haha ... sudah! Ayo kita ke Festival Bunga!"
Seketika perasaan kesal yang bercokol di hati Lina lenyap. Festival Bunga adalah salah satu momen tahunan yang paling dia sukai. Luna langsung menggandeng jemari Valko dan berjalan beriringan dengan kekasihnya itu.
Sepanjang jalan menuju Taman Kota, mata mereka berdua dimanjakan dengan pepohonan yang mulai bersemi. Bunga Jacaranda membuat nuansa kota menjadi ungu. Tidak hanya Luna dan juga Valko, banyak pasangan dari berbagai usia memadati jalanan.
Mereka semua bersuka cita menyambut datangnya musim semi. Beberapa dari mereka mengambil foto di tengah jalanan dengan pemandangan pohon Jacaranda, dan sebagian lagi hanya menikmati waktu bersama keluarga atau pasangan sambil memakan es krim.
"Valko, apa kita bisa melihat bunga-bunga ini bermekaran setiap tahun, ya?" Luna menatap sendu bunga berwarna ungu di atasnya.
Valko melirik gadisnya itu sekilas, lalu ikut mendongak. Keindahan kelopak bunga Jacaranda yang berwarna ungu itu membuat hatinya damai. Valko tersenyum lembut, kemudian kembali menatap Luna penuh cinta.
"Aku yakin, kita akan bertemu musim ini lagi tahun depan."
"Val, apa kita bisa terus bersama?"
"Asal kamu mau menerima keadaanku yang begini, aku akan selalu menjadi pelindungmu, dan senantiasa menemanimu setiap waktu, Luna."
Luna mengalihkan pandangannya dari bunga-bunga indah itu, kemudian menatap manik mata biru milik Valco. Luna tersenyum lembut. Hatinya langsung menghangat mendengar ucapan Valko.
"Val, aku mencintaimu."
Valko tidak bisa lagi menahan gelora cintanya untuk Luna. Lelaki itu langsung mendekatkan bibir ke arah bibir Luna, dan menempelkannya sejenak. Sentuhan lembut yang mereka rasakan membuat dua sejoli itu terbuai.
Ciuman sekilas itu, berlanjut menjadi ciuman penuh cinta dan hasrat. Keduanya saling memagut dan menikmati kelembutan itu. Harapan mereka semakin kuat untuk tetap bersama, meski ada perbedaan yang menghalangi.
***
Valko kembali ke hutan La Eterno keesokan harinya. Dia membawa stok cinta Luna untuk sebulan ke depan. Langit sudah berubah menjadi gelap ketika lelaki tampan itu sampai di rumahnya.
Suasana rumah itu tampak berbeda. Rumahnya terlihat lebih ramai dari biasanya. Ketika Valko melangkah masuk, dia dikejutkan oleh hadirnya Berta beserta keluarganya.
"Kamu sudah datang?" tanya Alarick dengan suara baritonnya.
"Ada apa, Yah?"
"Duduklah sebentar." Alarick menepuk sofa kosong di sampingnya, dan meminta sang putra untuk duduk.
"Begini, Nak. Kami sedang membicarakan pertunanganmu dengan Andrea, cucuku."
"Maaf, Nek. Pertunangan apa, ya?"
"Kalian sudah ditakdirkan bersama oleh leluhur. Jadi, dalam waktu dekat ini kalian akan bertunangan untuk melaksanakan perjanjian leluhur di masa lalu."
Valko menatap sang ayah untuk meminta penjelasan. Alarick menarik napas panjang dan mengembuskannya perlahan. Lelaki tersebut memutar otak untuk menyampaikan kabar mendadak yang juga membuat Alarick terkejut di awal.
"Kakek buyut kalian telah membuat sebuah perjanjian. Mereka ingin memperkuat kekerabatan dengan menikahkan cucu dari generasi ketiga. Menurut ramalan, pasangan generasi ketika kepala suku dan tetua akan membuat suku Canis dalam kejayaan." Alarick menjelaskan semua yang sebenarnya terjadi.
"Aku lelah. Bisa kita bicarakan lain waktu?" Valko keluar rumah, lalu berjalan menuju hutan.
Lelaki itu ingin meluapkan kekesalan dengan berteriak sekencang mungkin. Valko terus melangkah masuk ke dalam hutan, lalu menghentikan langkah ketika sampai di sebuah jurang. Dia menarik napas panjang kemudian berteriak sekuat tenaga.
"Aaa!" teriak Valko hingga suara lelaki itu menggema dan terdengar hampir di seluruh penjuru hutan.
"Wah! Hebat!" seru Andrea seraya bertepuk tangan.
"Aku rasa teriakanmu mampu membuat nyali serigala abu-abu raksasa menciut?" Andrea tersenyum miring sambil menaikkan satu alis.
"Untuk apa kemari?" tanya Valko ketus.
"Aku ingin tahu bagaimana sikap calon suamiku dari dekat." Andrea berjalan mendekati Valko dan melingkarkan lengannya pada pinggang lelaki tersebut.
Valko yang tidak suka menepis lengan Andrea. Tidak sampai di situ. Dia membanting tubuh gadis cantik itu ke arah jurang. Perutnya terasa mual mendengar ocehan Andrea.
"Valko, apa kamu sudah gila? A-aku bisa mati!"
"Aku tidak peduli!"
"Tolong, jangan seperti ini!"
"Ah, berarti kamu mau aku melepaskanmu?"
"Jangan! Aku mohon!" Mata Andrea mulai panas.
Sesekali dia mengintip jurang curam di bawahnya. Gadis itu pun menelan ludah kasar. Akhirnya Valko mengangkat Andrea lagi ke permukaan tanah.
"Aku paling benci wanita berisik!"
Valko pun meninggalkan Andrea yang kini terduduk lemas. Air mata gadis itu menetes karena rasa takut yang disebabkan oleh Valko. Dia menatap tajam punggung lelaki itu penuh dendam.
"Lihat saja! Aku akan membuatmu bertekuk lutut di kakiku!" geram Andrea sambil mengusap air mata.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 59 Episodes
Comments
nowitsrain
tidak semudah itu sayang, sainganmu Luna soalnya
2022-11-18
1
nowitsrain
Humorku sebatas jeruk bali 🤣🤣 receh banget yaolo
2022-11-18
1