Malam hari menjelang, Haura masih mengurung dirinya di dalam kamar beristirahat dokter, Haura tidak ingin keluar dari kamar itu dan mengobati pasien, karena dia masih dengan hati yang syok dan masih takut untuk menghadapi kenyataan.
Dengan menggigit jarinya, Haura terus berpikir, dia masih juga berpikir bahwa pasiennya yang dia tolong, tidak akan sadarkan diri dan dia masih berpikir, cara dia mengobati pasiennya salah, seharusnya dia tidak melakukan praktek pengobatan yang sudah lama sekali ditinggalkan oleh para dokter, tapi hanya cara itulah yang menurut Haura bisa menolong pasiennya.
Tapi setelah selesai operasi Haura dihadapkan, dengan pasien yang belum terbangun dan keluarga pasien yang terus menghakiminya dan mengklaim, bahwa pengobatan yang dia berikan itu adalah salah dan gagal. Haura tidak mau keluar dari ruangan itu karena dia masih takut menghadapi keluarga pasiennya.
Haura ... Haura ... Haura, cepat kamu keluar," kata Lidya tapi Haura tetap diam tidak menghiraukan teman yang berbicara kepadanya.
Lidya yang tadi berdiri di pintu ruangan, masuk ke dalam ruangannya dan menghampiri Haura, dia menyentuh tangan temannya dan memberikan keyakinan melalui sentuhan itu.
"Haura! aku punya kabar untuk dirimu!" kata Lidya
Haura mengangkat wajahnya dan melihat Lidya, Haura tidak tahu apa yang akan Lidya sampaikan untuk dirinya, kabar baik atau kabar buruk.
"Haura, dengarkan aku baik-baik, aku punya kabar baik untukmu, pasien yang kamu tangani dua hari lalu, tadi dia sudah sadarkan dirinya." Lidya membawa kabar baik untuk Haura.
Perkataan Lidya membuat Haura terperanjat, lalu dia mengubah posisi duduknya, dia kini menyentuh tangan Lidya untuk mendengar kembali pernyataan yang tadi Lidya katakan.
"Benarkah?" tanya Haura sambil menggenggam tangan Lidya erat.
Lidya mengangguk untuk meyakinkan Haura, senyuman mengembang di wajah Haura, membuat Lidya kembali lega dia benar-benar takut saat itu, karena melihat Haura dihakimi dan dihina oleh keluarga pasiennya.
"Ayo Haura, kita harus memeriksa pasien mu dan kita harus membuktikan, bahwa apa yang kamu lakukan itu adalah hal yang benar dan itu adalah hal yang harus dilakukan sebagai seorang dokter," kata Lidya.
Haura menghapus air matanya yang sejak tadi masih mengalir dan mereka bergegas menuju kamar pasien, Haura melihat dan memeriksa kondisi pasien, bagi Haura ini adalah kabar yang sangat baik.
Sesampainya di kamar pasien, Haura dan Lidya langsung memeriksa kondisinya dan semua kondisi pasien normal, membuat Haura sangat senang sekaligus lega, karena kini dia tidak perlu mengkhawatirkan hal-hal buruk lagi.
Melihat Haura keluarga pasien merasa malu, dia yang telah membentak, menghina, bahkan menghakimi Haura ternyata adalah suatu kesalahan.
"Dokter kami ingin meminta maaf kepadamu, karena aku telah memaki dirimu, aku bahkan menghakimimu, sebagai seorang dokter yang tidak pantas, tapi ternyata, kau memang benar-benar seorang dokter, sekali lagi, aku minta maaf." penyesalan terlihat dari wajah keluarga pasien, mereka meminta maaf kepada Haura dan Haura menerima permintaan maaf.
Haura tidak menyalahkan mereka, karena memang perasaan mereka adalah khawatir, mereka hanya takut kehilangan anggota keluarga, sehingga Haura memakluminya, Haura sekarang merasa bisa bangkit kembali menjadi seorang dokter dan bisa berpikir jernih kembali.
"Sekarang kau percaya, kan, dengan apa yang aku bilang tadi?" kata Bryan
Haura mengangguk, karena posisinya masih dalam kamar pasien dan Bryan tak tampak di mata mereka, sehingga Haura tidak bisa membalas perkataan Bryan dengan perkataan juga.
Bryan melihat Haura menjadi lebih tenang dan bisa kembali melakukan aktivitasnya, sebagai seorang dokter, kita harus yakin apa yang kita lakukan adalah yang terbaik.
"Pasiennya sudah sadarkan diri?" kata Marco yang tiba-tiba datang.
"Sudah dokter Marco, pasien dokter Haura sudah kembali sadar dan kondisinya sudah kembali normal, tidak ada yang perlu dikhawatirkan lagi," kata Lidya membalas kata-kata kakaknya.
Lidya melihat kecemasan di wajah Marco saat masuk, tapi kini dia juga melihat wajah Marco menjadi sangat tenang, Lidya merasa ada sesuatu hal yang disembunyikan kakaknya, dia merasa Marco menaruh hati terhadap Haura.
Bryan yang tak terlihat oleh mereka semua kecuali oleh Haura, Bryan masih terus berada di ruangan itu dan memperhatikan sikap Marco, dia melihat sepertinya Marco menaruh hati terhadap Haura.
"Haura adalah istriku! walaupun kami menikah bukan di dunia nyata, tapi dia tetaplah milikku!" kata Brian didekat telinga Marco.
Marco yang seperti merasa telinganya terkena hembusan udara, menyentuh telinga dan mengusapnya.
Semua dokter yang berada di ruangan itu termasuk Haura, keluar dari ruangan mereka semua bangga kepada Haura.
"Aku bangga kepadamu, Haura." Lidya memeluk Haura.
Haura memang sahabat dari Lidya, tapi dia tidak ingin Haura memiliki hubungan dengan kakaknya, karena dia tahu kakaknya mencintai wanita lain, dia tidak mau kakaknya memberikan harapan palsu kepada sahabatnya yang sangat ia sayangi.
Lidya menatap tajam ke arah Marco dan Marco mengerti tatapan yang diberikan adiknya untuk dirinya.
"Jangan kau bermain-main dengan sahabatku! aku tidak akan menerima itu meski kau adalah kakakku!" batin Lidya
Lidya dan Marco adalah adik dan kakak, meski mereka adik dan kakak, Lidya dan Marco memiliki sifat yang berbeda, Lidya dia adalah sosok yang sangat pengertian dan lembut, sedangkan Marco adalah sosok yang sangat ambisius dan juga dia terkadang kasar terhadap orang lain jika ia dihalangi.
"Kayaknya kamu mesti istirahat dulu Haura, kamu bisa pulang ke rumahmu," kata Maroko memberikan Haura izin untuk pulang.
Haura mengangguk, dia menerima saran dari Marco, Haura pun bersiap-siap, saat Haura bersiap-siap dan berada di ruang loker dokter tiba-tiba Bryan muncul.
"Kamu sudah mau pulang?" tanya Bryan kepada Haura.
"Iya benar, aku mau pulang! jawab Haura singkat dengan wajah menggemaskan bagi Bryan.
"Sebelum kita pulang, aku ingin menunjukkan sesuatu kepadamu!" kata Brian
Haura bingung, apa yang akan Bryan tunjukkan kepadanya tapi dia tetap mengikuti langkah Bryan.
Sebuah lorong menuju pintu di tempat yang sangat tidak terjangkau oleh orang lain. Haura bingung mengapa Bryan mengajaknya ke tempat seperti itu, ruangan ini masih ada di sekitar rumah sakit, tapi Haura tidak pernah melihat ada tempat seperti ini selama ini.
"Apa yang akan dia lakukan? Apa dia akan melakukan hal yang tidak sopan kepadaku?" ujar Haura dalam hatinya.
"Tidak perlu berpikir macam-macam! Aku bisa mendengarmu!" keluh Bryan.
Mereka sampai di sebuah pintu, Bryan dan Haura berhenti tepat di depan ruangan yang belum pernah didatangi oleh Haura selama bekerja di rumah sakit.
"Masuklah! di dalam sana ada yang harus kau lihat," kata Bryan.
Haura membuka pintu dengan ragu, saat pintu sudah terbuka, di dalam ruangan itu, terdapat banyak sekali alat-alat canggih yang menurutnya belum pernah dia lihat di rumah sakit ini.
Ketika Haura masuk dan melihat sekitar ruangan ada sebuah tempat tidur, yang di atasnya ada seseorang yang sedang tergeletak tak berdaya dan tak sadarkan diri.
"Siapa dia?" tanya Haura kepada Bryan.
"Itu adalah aku, lebih tepatnya itu adalah jasadku aku mengalami koma selama bertahun-tahun, karena sebuah kecelakaan, keluargaku berusaha untuk mencari dokter ahli bedah yang kemampuannya sama dengan diriku, maka dari itu, aku memilihmu untuk menjadi dokter ahli bedah yang kemampuannya selevel denganku." Bryan menatap tubuhnya sendiri.
Haura begitu terkejut mendengar penjelasan dari Bryan, dia sama sekali tidak menyangka tujuan Bryan membuatnya menjadi dokter ahli bedah, bukan hanya sekedar untuk menolong para pasien koma, beberapa bulan lalu bahkan setahun yang lalu, di rumah sakit tempat dia bekerja, ada beberapa yang mengalami koma, Bryan saat pertama kali bertemu Haura, meminta dirinya untuk menjadi dokter ahli bedah yang akan mengoperasi beberapa pasien itu, namun Haura tidak menyangka dia juga akan mengoperasi tubuh Bryan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 159 Episodes
Comments
neng ade
ayo lah Haura .. tolonglah Bryan .. karena km udh diberi kepercayaan maka lakukanlah sebaik mungkin ..
2023-06-21
1
Dianti Rahayu
aku suka dg ceritanya..❤️
2023-01-23
0
Tita Puspita Dewi
jadi curiga sama marco...
2022-12-25
0