Haura yang terjatuh karena ditarik oleh Bryan, kini posisi mereka sangat dekat, bahkan wajah keduanya hampir menempel.
"Jangan pernah melepas cincin itu!" kata Bryan sambil memajukan kembali wajahnya.
"Apa yang akan dia lakukan? apakah benar ini adalah sentuhannya? mengapa seorang arwah bisa menyentuh manusia? bahkan dia bisa memasak untukku!" batin Haura.
Haura memejamkan matanya, dia benar-benar tidak tau apa yang akan dilakukan oleh Bryan.
"Menjauh dariku" seketika Bryan mendorong tubuh Haura hingga dia tersungkur.
Bryan melakukan itu semua karena dia tiba-tiba merasakan degup jantungnya berdetak begitu cepat dari biasanya.
"Aduh"
Haura mengaduh kesakitan, dia mengelus-elus bagian tubuh yang sakit sambil melihat ke arah Bryan yang hanya menatapnya tanpa rasa bersalah.
"Dasar pria aneh" cibirnya.
Haura bangun dan dia menuju dapur.
"hei, wanita penakut! aku ingin bicara sesuatu denganmu! duduklah" Bryan menepuk-nepuk sofa sambil memanggil Haura.
Haura mendekat dengan rasa ragu, dia tidak mau kejadian tadi terulang lagi, perasaannya saja sampai sekarang masih berdebar kencang.
"Hmmm ... katakan, mau bicara apa?" tanya Haura sambil melipat tangan dan diletakkan di dadanya.
"Aku ingin bertanya, apa kamu tau apa tujuan menjadi seorang dokter?" tanya Bryan.
"Tau! untuk menolong orang yang sedang sakit" jawabnya.
"Apa kamu tau, setiap detik yang pasien miliki itu sangatlah berharga?" tanya Bryan lagi.
"Tentu aku tau! semua dokter pasti tau," jawab Haura tanpa tau apa tujuan Bryan menanyakan hal seperti itu kepadanya.
"lalu, kenapa kamu masih juga mementingkan perasaan takutmu, dibandingkan dengan keselamatan pasien?" tanya
Haura hanya bisa diam ketika Bryan melemparkan pertanyaan yang sulit untuk dia jawab.
"Itu ... itu karna...," Haura menghapus tetesan air yang terjatuh tak sengaja dari matanya.
Bryan yang melihat hal itu, merasa ada hal berat yang disembunyikan oleh wanita itu.
"Kenapa?" meski merasa iba, tapi Bryan terus bertanya, dia ingin tau sebab sesungguhnya.
Bryan sebagai arwah terpilih, bisa membaca pikiran Haura tapi, dia tidak bisa menembus masalalu, selama ini dia mengamati Haura selama di rumah sakit dan juga di rumah Haura, sebelum mereka resmi bertemu.
Haura menarik nafas panjang, dan ingatannya tentang kejadian beberapa tahun lalu kembali datang.
Ingatan masa lalu Haura.
Pada hari dimana Haura dan kedua orang tuanya, hendak merayakan hari di mana dia lulus di akademi kedokteran dan akan menjadi dokter magang, Haura yang menunggu disebuah Cafe mendapati kedua orang tuanya hendak pergi menyebrang jalan, dia kemudian keluar dari cafe dan kedua orang tuanya melambaikan tangan tanpa memperhatikan jalan, sebuah mobil melaju dengan kecepatan tinggi, tiba-tiba menabrak kedua orang tuanya sekaligus.
tubuh kedua orang tuanya terpelanting, sedangkan tubuh ibunya terkoyak akibat benturan yang sangat kuat.
Haura menyaksikan semua itu dengan mata kepalanya sendiri, dia bahkan saat itu tidak bisa menyelamatkan nyawa kedua orang tuanya, kedua orang tua Haura meninggal ditempat kejadian.
Haura melihat betapa banyaknya darah kedua orang tuanya membanjiri aspal jalanan, bahkan tubuh ibunya sedikit hancur, sebelum di makamkan jasad kedua orang tuanya harus dilarikan kerumah sakit untuk diperbaiki terlebih dahulu, Haura benar-benar tak berdaya, dia hanya bisa menangisi semuanya.
kenangan itu terus menghantui Haura, itulah mengapa dia tidak bisa melihat darah dan luka sejak saat itu.
Haura menangis tersedu-sedu, dia bahkan tak bisa membuka matanya saat menangis dan menyesali semua kejadian itu.
"Andai aku menyetujui ajakan Bunda untuk makan malam dirumah, andai aku tidak memintanya datang ke cafe, mungkin semua hal buruk itu tidak akan pernah terjadi" Haura semakin menangis menggerung.
Bryan menyentuh Haura dan membawanya kedalam pelukan, Bryan kini tau apa yang menyebabkan wanita ini mengalami trauma, dan kini tugasnya adalah menghilangkan trauma dari sisi Haura.
"Masa depan, tidak akan pernah diketahui manusia, itu semua adalah rahasia Tuhan, kehidupan kita adalah sebuah titipan, jodoh, maut, rezeki semua sudah diatur, meski kamu tidak meminta mereka datang, mereka tetap ditakdirkan kehilangan nyawa mereka di hari itu." Bryan memberikan pemahaman tentang kehidupan kepada Haura, dia tidak mau Haura menyalahkan dirinya sendiri.
"jangan salahkan dirimu, ini semua bukan kesalahanmu, semua sudah ada didalam ketentuannya, jadi sekarang kamu harus menepis semua itu, kembalilah dengan tujuanmu menjadi dokter, maka hari esok akan lebih baik," ujar Bryan sambil terus memeluk Haura yang masih terus terisak.
"Hiks ... Hiks ... aku ... aku"
Bryan menaruh telunjuknya tepat di bibir Haura.
"tidak perlu bicara, sekarang, istirahatlah" Bryan memapah tubuh Haura menuju kamarnya, dia mengantarkan Haura hanya sampai depan pintu kamarnya saja.
Bryan adalah sosok pria yang menjaga kehormatan perempuan, meski dia kini adalah seorang arwah, tapi dia masih memiliki etika.
*****
Saat pagi hari menyinari bumi dan membangunkan setiap makhluk hidup di seluruh alam semesta, Haura membuka matanya menyambut hari dimana dia harus kembali berjuang sebagai seorang dokter.
"Aku harus bisa!" tekad Haura kini sudah bulat.
Haura bangkit dari tempat tidur dan bersiap untuk bekerja, selama bersiap di dalam hati Haura terus menyemangati dirinya sendiri agar bisa menjadi seorang dokter sesungguhnya.
.
.
.
.
Haura kini sudah sampai didepan pintu rumah sakit, dia kembali merenungi apa yang semalam dikatakan oleh Bryan.
"Tuhan, bantu aku menghilangkan trauma ini"
Flashback on
"Bunda, Haura mau masuk ke akademi kedokteran, bunda dan ayah setuju kan?" tanyanya yang kini masih duduk di bangku sekolah menengah atas kelas sebelas atau kelas dua.
"tentu sayang, tapi kenapa kamu mau menjadi seorang dokter?" tanya bunda Haura.
"bunda ingat, saat nenek pertama kali sakit? mungkin jika diantara kita ada seorang dokter penyakit nenek bisa ditangani dengan cepat, aku tidak mau kejadian serupa terjadi kepada ayah dan bunda, jadi aku harus menjadi seorang dokter" kata Haura menjabarkan tentang kenapa dia ingin menjadi seorang dokter.
"hanya untuk menolong ayah dan bunda saja?" tanya ayah.
"Tentu semua orang, bahkan aku akan dengan cepat menolong mereka, menyelamatkan nyawa mereka yang begitu berharga" ujarnya.
Flashback off
"Semangat Haura! kamu pasti bisa!" Haura menyemangati dirinya tanpa sadar orang-orang ternyata memperhatikannya.
Haura melangkahkan kakinya dengan mantap masuk ke dalam rumah sakit tempatnya bekerja.
"Kamu sudah siap?" tanya Bryan yang muncul disampinya.
"Aku siap!" jawabnya mantap.
"Baiklah, kita akan belajar mengendalikan traumamu, obati mereka yang cedera ringan terlebih dahulu, baru nanti kita akan naik setahap demi setahap" Bryan terus berjalan disamping Haura.
Haura masuk ke dalam ruangan dokter magang.
"Aaaaah!" teriak Haura dan menutup matanya.
Haura yang sudah sangat geram dengan kelakuan Jack si dokter mesum, masuk dan memukulinya bahkan dia mencubitnya.
"Haura! jika kau cemburu dan ingin merasakan sentuhan ku, jangan seperti ini! hentikan Haura!" pinta Jack sambil terus berusaha menangkis serangan Haura.
"Jangan berharap aku ingin kau sentuh! melihat dirimu saja aku sudah merasa jijik! keluar kau dari ruangan ini! kau juga!" teriak Haura kepada suster magang yang ketahuan sedang bercumbu dengan Jack.
"Kenapa masih ada saja wanita yang mau diajak mesum olehnya!" Haura bicara dengan nafas tersengal-sengal.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 159 Episodes
Comments
Oka Derza
baru ngeh loh aku...
kenapa sepupunya mencari keberadaan Bryan yah??
klw memang dia di RS yg sama
kan tadi ada ibu nya yg menjaga Bryan
ada apa yah ???
kok disembunyikan???
2024-10-22
0