Haura berjalan selangkah demi selangkah, sampai akhirnya dia sampai di sisi ranjang di mana tubuh Brayan diletakkan, Haura benar-benar tak percaya, dia melihat sosok Bryan dengan nyata, karena yang selama ini dia lihat adalah sosok seorang arwah, yang terus mengikuti kemanapun dia pergi dan memberikan pelajaran berharga untuknya sebagai seorang dokter, tanpa terasa air mata menetes ke pipinya, entah mengapa dia merasa terluka melihat kondisi Bryan saat ini.
"Apa? aku bisa menyelamatkanmu?" tanya Haura kepada arwah Bryan.
"Kamu pasti bisa menyelamatkanku! yakinlah dengan kemampuanmu!" kata Bryan menjawab pertanyaan Haura.
"Tapi sayangnya, Aku tidak yakin dan aku tidak memiliki kemampuan selevel dirimu," kata Haura
"Kamu pasti bisa? aku akan mengajarkanmu lebih banyak lagi, aku akan membuatmu menjadi dokter dengan kemampuan tangan hantu!" kata Bryan.
Tangan hantu yang melekat pada diri Bryan akan diwariskan kepada Haura, karena dengan cara itulah, ia bisa kembali bangkit menjadi Bryan, yang nyata di kehidupan ini dan dengan bantuan Haura, ini akan menjadi kesempatan untuk Bryan mengungkap siapa dibalik kecelakaannya, dia juga ingin wajah seseorang yang selama ini tertutupi oleh topeng dan keburukannya, tidak dapat terlihat oleh mereka semua.
"Tolong selamatkan aku? lihatlah dia, dia tidak bisa berbuat apa-apa, dia bagaikan mayat yang hanya bisa hidup karena bantuan alat-alat medis ini!" kata Bryan penuh permohonan.
Haura mengepalkan tangannya sekuat yang ia bisa, entah mengapa ia merasakan sakit hatinya padahal dia sama sekali tidak mengenal Bryan, tapi entah mengapa rasanya dia ingin menangis dan ingin memeluk tubuh yang berbaring tak berdaya itu.
"Aku akan berusaha sekuat tenaga, untuk bisa menjadi seorang dokter ahli bedah, sesuai dengan keinginanmu Bryan," Haura bicara dalam hatinya
Bryan dapat mendengar suara hati Haura dan Bryan merasa, Haura pasti bisa menjadi dokter ahli bedah dengan kemampuan yang selevel dengan dia, Bryan sudah memperhatikan Haura sejak awal bertemu Haura di rumah sakit, dia tertarik dengan kemampuan Haura dan juga keunikan Haura yang takut akan darah, di situlah dia merasa tertantang, untuk membuat Haura menjadi seorang dokter yang kompeten.
"Terima kasih Haura, aku yakin kamu pasti bisa menjadi dokter ahli bedah yang sempurna, dengan kemampuan di atas rata-rata dokter lainnya," bisik Bryan dalam hatinya.
Saat Haura membalikkan badannya, ingin keluar dari kamar rahasia itu, tiba-tiba seorang wanita berdiri di hadapannya, dia terkejut melihat Haura bisa masuk ke dalam ruangan yang tidak pernah bisa dimasuki oleh orang sembarangan.
"Siapa kamu?" tanya wanita paruh baya yang kini berdiri tegak didepannya.
"Sa- saya Haura, dokter bedah di rumah sakit ini," Haura memperkenalkan dirinya
"Dokter bedah di rumah sakit ini? dari mana kamu bisa tahu ruangan ini? siapa yang membawamu ke ruangan ini?" tanya wanita itu lagi.
Haura bingung apa yang harus dia katakan kepada wanita itu, di satu sisi dia dibawa oleh arwahnya Bryan tapi di satu sisi lain, tidak mungkin wanita itu akan percaya dengan apa yang dia katakan.
"Ma- Ma- maaf sepertinya ... aku tersasar kemari, sehingga aku menemukan ruangan ini," kata Haura memberi alasan yang mungkin bisa diterima oleh wanita itu
"Tidak mungkin! kamu tidak mungkin tersasar kalau kamu adalah dokter rumah sakit ini! kamu pasti tahu tidak ada ruangan ini di rumah sakit!" kata wanita yang berpenampilan sangat nyentrik.
"Dia adalah ibuku," kata Bryan
Haura terkejut dengan pengakuan Bryan, dia tidak menyangka seorang wanita berkelas, berwajah cantik dan berpenampilan nyentrik, adalah ibu dari pria yang kaku, galak dan semena-mena, meski galaknya sama persis.
Haura mengernyitkan bibirnya, dia masih tidak menyangka dengan apa yang di lihatnya.
"katakan, kalau kamu dokter yang ditugaskan untuk membantuku!" kata Bryan.
"apa maksudmu? apa aku harus bilang kalau aku bertemu arwahmu? kamu pikir wanita ini akan percaya?" Haura bergumam dalam hati, dia ingat bahwa Bryan bisa mendengar suara hatinya.
"sudah katakan saja, aku punya sesuatu untuknya, di bawah tanganku, ada sesuatu yang bisa membuktikan perkataan mu!" Bryan menunjukkan sesuatu dan Haura melihatnya.
"Maaf, Tante, maaf, Ibu maksud saya." Haura terbata-bata.
"Ada apa?" jawabnya dengan tatapan galak.
"Begini, saya di sini, diminta untuk menyelamatkan Bryan," jelasnya
"Menyelamatkan? dan kenapa kamu bisa tahu nama anak saya?" tanya wanita itu.
"Ka ... re ... na..., karena kami dekat baru-baru ini!" Haura bicara dengan sedikit tertawa ragu.
Haura mulai memainkan jemarinya, dia merasa takut dan juga merasa tidak tau harus berkata apa, siapa yang percaya kalau dia berteman dengan seorang arwah.
"Dekat? baru-baru ini? kamu bercanda? dia sudah dua tahun terbaring koma di sana!" tegasnya dengan menyipitkan matanya.
"Bagaimana aku menjelaskannya ya?!" Haura terlihat kebingungan.
"Ambil suratnya!" bisik Bryan.
Haura menoleh ke arah tangan Bryan, yang memegang kertas yang menurut Bryan itu adalah surat untuk ibunya.
Haura menyentuh tangan Bryan, kali ini dia benar-benar menyentuh tangan pria yang menikahinya, tangan yang nyata, tangan yang hangat dan tangan itu begitu lentik.
"*P*ria yang beruntung, dengan wajah pas-pasan saja dia sudah bisa terlihat menarik, apalagi tampan pasti semua pasiennya rela sakit demi melihat wajahnya" kata Haura
"aku mendengarmu!" teriak Bryan.
Haura mencibikkan bibirnya dan menariknya ke salah satu sisi, karena kesal mendengar kata-kata Bryan.
Haura tidak bisa terlepas dari Bryan, di manapun dia berada dan apapun isi hatinya, semuanya bisa dia lihat dan dengar, jadi mustahil untuknya kabur dari arwah dokter yang tampan ini.
"Ini, ada surat dari Bryan." Haura memberikan secarik kertas kepada ibu Bryan.
Naomi membuka amplop surat yang diberikan oleh Haura. Naomi membaca surat ibu, tulisan tangan yang ada di dalam kertas sudah sangat pasti adalah tulisan dark Bryan.
"Tidak mungkin!" Naomi melihat tanggal yang tertera di pojok kertas
Sepuluh april dua ribu dua puluh tiga, Bryan menuliskan tanggal ketika dia menulis surat ini.
Naomi kembali memperjelas penglihatannya dengan kaca matanya, kini Naomi sudah menggunakan kaca matanya, dia memperhatikan setiap tulisan Bryan.
"ini benar adalah tulisannya! tapi, bagaimana bisa?" Naomi mengira-ngira siapa orang yang bisa dengan tepat menulis seperti anaknya.
"itu adalah tulisan Bryan, aku tidak berbohong, bahkan dia juga berada di ruangan ini,!" kata Haura memberi tahukan ibu Bryan.
wanita itu melihat ke arah Haura dan bertanya.
"siapa orang yang bisa dengan pintar meniru tulisan sepersis ini!?" tanya Naomi.
"Bu, percayalah itu adalah tulisan Bryan sendiri, suatu hari aku akan menunjukkannya," kata Haura
Bryan terus membisikkan sesuatu kepada Haura dan Haura mengutarakannya kepada Ibu Bryan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 159 Episodes
Comments
Dianti Rahayu
cie..ketemu mertua..
2023-01-23
1