Haura yang selesai memeriksa kondisi pasiennya dan keadaan di rumah sakit kembali kondusif seperti biasa, semua pasien kecelakaan lalu lintas sudah berhasil ditangani oleh dia dan juga dokter-dokter lainnya, semua merasa kerja keras hari ini menghasilkan suatu kepuasan tersendiri, karena bisa menolong banyak orang.
Haura sendiri juga merasa puas, dengan dirinya sendiri yang mampu melawan kembali rasa ketakutan, meski dia tidak tahu apakah besok, dia bisa yakinkan dirinya untuk tidak takut kembali, karena perasaan takut itu datang dan pergi begitu saja tanpa bisa diprediksi oleh Haura.
Haura akan pulang, jam kerjanya sudah selesai, tapi tiba-tiba ada seorang wanita menghampirinya dan langsung menampar pipi Haura
Haura terkejut sambil melihat ke arah wanita itu dan memegang di pipinya yang sangat terasa perih.
"Kamu tahu suamiku, belum sadarkan diri sampai saat ini! kenapa?" wanita itu berteriak ke arah Haura.
Haura tidak tahu, apa maksudnya, namun dia berusaha menenangkan dirinya dan dia juga langsung menghampiri wanita yang menamparnya.
"maaf Bu, tapi saya sudah melakukan yang terbaik untuk suami ibu, kami semua yang mengoperasi anak ibu, sudah melakukan hal sebisanya kami lakukan sebagai seorang dokter." Haura mengingat wanita ini yang dia hari lalu, menandatangani surat persetujuan operasi.
"bohong? kamu itu ada dokter gadungan! kamu tidak bisa menyelamatkan pasien! Seharusnya kamu tidak menjadi seorang dokter! kamu tidak seharusnya bekerja di rumah sakit!" wanita itu terus meneriaki Haura dan mendorongnya.
Haura menangis karena tidak tahu harus melakukan apa, lalu tiba-tiba Marco datang menghampirinya.
"Maaf! seharusnya anda tidak bersikap seperti ini kepada dokter, bagaimanapun kondisi suami ibu, seorang dokter pasti sudah melakukan hal yang terbaik" kata Marco membela Haura dan membantu Haura untuk berdiri.
"orang seperti kalian! sesama dokter, Jadi kalian membela teman kalian, sedangkan kami dari keluarga pasien, yang berharap pasien sembuh, tapi malah belum juga sadarkan diri, ini sudah dua hari Kenapa dia belum juga bisa membuka matanya?! kata wanita itu yang terus marah dan memaki Haura.
"sebagai seorang dokter, kita punya prosedur dan sebagai seorang dokter, pasti tahu bagaimana kondisi pasiennya, kita tidak akan sembarangan menindak pasien, Pasti Kami sudah memikirkan matang-matang dan kondisi ini sangatlah umum terjadi, karena pasien mengalami sedikit trauma sehingga dia berada dalam kondisi ini, tapi tidak akan lama besok kemungkinan pasien akan segera sadarkan diri!" jelas Marco.
wanita itu langsung diam dan membalikkan badannya dengan segera, lalu dia meninggalkan Haura, mendengar pembelaan Marco Haura sedikit tenang dan Marco yang memegang tangannya merasa ada getaran di dadanya, entah mengapa tiap kali ia berada di dekat wanita ini, Marco merasakan sebuah Getaran yang berbeda.
mereka Langsung melepaskan genggaman tangan.
"sudah jangan terlalu dipikirkan, pulanglah ke rumah, jam kerjamu juga sudah diselesai" kata Marco lalu pergi.
Haura menangguk meski Marco sudah tidak ada di sampingnya lagi, Haura benar-benar masih terkejut karena dirinya kini mendapat perlakuan kasar dari keluarga pasien yang ia rawat.
******
Haura masuk ke dalam kamar yang menjadi tempat para dokter untuk beristirahat, di sana dia termenung, tentang apa yang dia lakukan dan tentang apa yang dibicarakan oleh keluarga pasien. Haura duduk di atas kasur lalu melipat kakinya, ia meletakkan kepalanya di antara kedua kakinya, dia menangis, dia merasa menjadi seorang dokter yang gagal, karena membuat pasiennya harus sadar begitu lama.
"apa aku pantas disebut seorang dokter? apakah aku harus meneruskan profesi ini?" Haura bertanya kepada dirinya sendiri, dia tidak tahu harus bagaimana sekarang setelah menerima perlakuan itu.
Bryan yang melihatnya secara diam-diam, merasa iba kembali terhadap situasi Haura saat ini. perlahan ia mendekati Haura, lalu ia mengelus kepala Haura dan berkata.
"hargailah dirimu sendiri, kemampuanmu itu sangat jarang dimiliki oleh orang lain, kamu belajar dengan baik di fakultas kedokteran dan kini kamu membuktikan pelajaran itu berguna untukmu dan pelajaran itu bisa kamu pakai untuk menolong orang lain jangan berkecil hati," kata Bryan
"tapi pasien itu tidak bangun pasien, tidak sadarkan diri," kata Haura sambil menangis
"dia bukan tidak bangun, operasi dengan cara itu memang membutuhkan waktu untuk pasien sadar, kamu mengambil langkah tepat, meski sangat sulit, kamu tetap menolong pasien mu, mereka tidak tahu betapa sulitnya menjadi seorang dokter, mereka hanya ingin tahu keluarganya sembuh, jadi jangan pernah menyalahkan dirimu, kamu sudah melakukan yang terbaik," ujar Bryan.
"benarkah? benarkah aku sudah melakukan yang terbaik atau sebaliknya! aku telah melakukan yang buruk, untuk pasienku." Haura menelungkupkan kepalanya diantara kedua kakinya dan masih menangis.
"kamu tahu! sebelum aku bisa menjadi seorang dokter yang hebat, ahli bedah yang sangat sukses dan terkenal di Asia, seringkali aku mendapatkan perlakuan yang lebih dari ini, karena mereka hanya berpikir seorang dokter haruslah menyelamatkan, tapi tidak bisa berpikir bahwa takdir itu ada di tangan Tuhan, bukan di tangan dokter." Bryan kembali memberi pencerahan terhadap Haura.
tapi saat ini semua yang dikatakan orang-orang, bahkan semua yang dikatakan Bryan, tidak mempan Haura, tetap merasa bersalah, hatinya masih tidak tenang, dia masih merasa takut gagal untuk menolong pasiennya.
Bryan akhirnya pergi dan ia melihat kondisi pasien yang ditangani oleh Haura, setelah Bryan sampai di kamar pasien Bryan mulai memeriksa kondisi pasien dan benar,semua tanda vital pasien benar-benar dalam kondisi normal, hanya saja pasien belum sadarkan diri.
Bryan kembali ke kamar di mana Haura sedang beristirahat dan menenangkan diri. sesampainya dia di sana, Bryan menghampiri Haura dan meminta Haura untuk melihat dirinya, melihat kedua matanya.
"kamu lihat mataku, dengarkan aku baik-baik, setelah kamu mendengarkan ini, kamu harus berjanji padaku, apapun yang kamu hadapi, kamu harus lebih kuat, kamu harus bisa lebih menghargai dirimu sendiri, melawan keluarga pasien, memanglah tidak baik, tapi jika untuk mempertahankan keyakinanmu, bahwa kamu bisa dan sudah melakukan yang terbaik, maka kamu jangan pernah takut!" Bryan menegakkan wajah Haura agar melihat dirinya.
"aku beritahu kepadamu, bahwa pasien akan segera sadar, mungkin malam ini dia akan membuka matanya dan keluarga pasien pasti akan berterima kasih kepadamu, karena telah menolong keluarganya!"
Haura menatap brayn rasanya Haura ingin percaya akan kata-kata Bryan, sebenarnya dia bukan tidak percaya kepada Bryan, tapi dia lebih tidak percaya kepada kemampuannya sendiri, dia tahu dia sangat cepat mempelajari semua pelajaran, yang diberikan saat ia masih kuliah dulu, tapi dia belum pernah mempraktekkannya sedikitpun, itulah yang membuat dirinya ragu akan kemampuannya, ragu akan dirinya dan ragu bahwa takdir baik akan bersama dengan dirinya, itulah yang membuat Haura saat ini merasa ketakutan dan tidak percaya diri.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 159 Episodes
Comments