Cerita Masalalu

Menjadi seorang dokter bukanlah cita-cita Haura sebenarnya, tetapi itu adalah keinginan orang tua Haura, sehingga Haura ingin mewujudkannya. Selama menjadi seorang dokter, Haura tidak pernah sama sekali membedah karena dia sangat takut dengan pembedahan, terlebih lagi dia takut dengan darah

Hari ini Haura mengikuti seminar yang menyiarkan operasi jantung terbuka. Dia bisa mengikuti seminar ini karena tidak berhadapan langsung saat pengoperasian, setiap kali ada acara seminar Haura selalu mendaftarkan dirinya, ini semua dia lakukan bertujuan untuk menghilangkan traumanya, namun ternyata saat di ruang operasi dia tetap tidak baik-baik saja.

Haura menyaksikan setiap detail operasi, seorang pria yang sedang membedah saat ini adalah dokter bedah yang paling terkenal di Asia, cara pembedahannya yang hebat membuatnya sangat terlihat keren dimata Haura, bahkan saat ini pria itu melakukan pembedahan, tubuh pasiennya tidak mengeluarkan darah ini adalah teknik yang sangat langka sehingga, membuat dia menjadi seorang pembedah handal yang memiliki kemampuan yang unik, dia disebut Dokter tangan hantu, bagaikan hantu tangannya saat operasi seperti menembus tubuh pasien sehingga tidak mengeluarkan darah.

Saat ini Haura benar-benar sedang menyaksikan pembedahan yang sangat luar biasa, pembedahan yang berbeda dengan pembedahan lainnya, biasanya saat melakukan pembedahan secara terbuka ada saja sedikit permasalahan di dalamnya, tetapi saat ini dokter bedah itu benar-benar sangat lihai dalam mengoperasi pasiennya tanpa sedikit kesalahan.

"Wuaaah keren sekali dia," kata Haura yang sedang terkesima.

"Bisakah aku seperti dia?" Harap Haura.

Setiap kali Haura ingin mendampingi dokter seniornya melakukan operasi, sebelumnya dia akan meminum obat penenang, dia melakukan itu agar dirinya menjadi lebih tenang karena dia harus menghadapi operasi dan darah.

Kriiiing Kriiing Kriiing

Dering ponsel Haura terdengar setelah dia keluar dari ruang seminar.

"Kamu dimana?" tanya temannya.

"Aku baru saja seleasi melihat seminar operasi terbuka," jelas Haura sambil terus berjalan.

"Lagi?" pekik Lidya

"Hmm ... benar, kali ini dokternya berbeda, dia sangat keren sekali" jawabnya santai.

"Segera kemari, dokter senior sedang mencarimu!" kata Lidya yang sedikit berbisik karena ada dokter senior di hadapannya.

Haura yang tadinya berjalan santai kini dengan sekuat tenaga, Haura berlari menuju rumah sakit yang masih dalam satu kawasan dengan gedung kampus di mana dia dulu kuliah.

"Hah ... Hah ... Hah ...." Haura mengatur nafasnya sebelum masuk kedalam ruangan dokter seniornya.

"Huft" Haura menghembuskan nafasnya perlahan dan menarik handle pintu.

Brak

Sesuatu mengenai kepala Haura yang saat pintu sudah terbuka dan akan masuk ke dalam ruangan.

"Dari mana saja kamu Haura!" teriaknya sehingga memekikkan telinga Haura

"A-Aku baru selesai dari ruang seminar," jelasnya

"Lagi?" tanyanya heran

Haura hanya bisa tersenyum malu, setiap orang yang mengetahui dia sering kali menghadiri seminar hanya bisa geleng-geleng kepala.

"Percuma kau melakukan itu, kau tetap tidak kompeten!" katanya sambil mengenakan jas rumah sakit.

"Segera ikut aku ke ruang operasi, dua puluh menit lagi, operasi akan dimulai." Daniel berjalan keluar ruangannya.

Haura yang mendengar kata operasi, langsung bulu kuduknya berdiri, dia bagaikan akan pergi ke sebuah makam yang angker pada malam hari, bahkan mungkin dia lebih memilih uji nyali di makam angker dari pada di ruang operasi.

Saat di ruang operasi maka Haura akan merasa seperti orang yang sedang kepusingan, dia tidak fokus dan dia sering merasa mual ketika berhadapan langsung dengan operasi.

Menjadi dokter memang bukanlah hal yang mudah bagi Haura, di satu sisi dia sosok seorang yang tidak tahan dengan darah dan seringkali saat operasi dia tergeletak pingsan.

Haura sering kali menangis, ketika dia gagal menjalani tugasnya sebagai dokter dan selalu dia harus menyesali segala sesuatunya, menyesal karena dirinya yang tidak bisa menghilangkan trauma di masa kecilnya dulu.

Flashback Off

Haura kini berada di atas ranjang rumah sakit, dia masih merenungi perbuatannya tadi, dia tidak percaya bahwa dia melakukan operasi sendiri untuk pertama kalinya, meski dikendalikan oleh arwah Bryan yang masuk ke dalam tubuhnya, tetap saja tubuhnya yang menyentuh semua alat operasi itu dan membedahnya serta menjahitnya.

Haura memperhatikan kedua tangannya, tangan itu masih gemetar, kepalanya juga masih terasa sedikit pusing.

"Sekarang kamu percayakan?" tanya Byran yang ternyata sejak tadi ada bersamanya.

"Apa benar aku melakukanya?" tanya Haura masih dengan menatap kedua tangannya dan membolak-balikkannya.

"Bukan kamu! aku yang melakukannya" elak Bryan.

"Tapi tetap tubuhku yang menyentuh semuanya, tanpa tubuhku kamu tidak akan bisa melakukannya" tandasnya.

"Ya ... ya, memang semua itu tubuhmu yang melakukannya tapi tanpa kemampuanku, semua itu tidak akan terjadi, bahkan kamu hampir saja menggagalkannya!" cibirnya karena kesal mengingat apa yang terjadi di ruang operasi tadi.

*****

"Kalian lihat, kan, tadi? si Haura membedah pasien itu, kemampuan bedahnya bahkan di atas kemampuan mereka semua, bahkan Marcopun kalah!" kata seorang Dokter anastesi yang menyaksikan semuanya.

"Benar, kemampuannya sama persis seperti dokter senior kita yang hilang entah kemana itu!" ujar salah satu perawat.

"Tapi sayang, Haura sekarang pingsan, jika tidak ada satu pasien lagi yang bisa dia tangani tadi, tapi untungnya dokter Marco langsung mengambil alih operasi" kata Perawat lainnya.

Mereka kini sedang asik berbisik membicarakan Haura, Lidya yang menguping, ikut merasa takjub dan tidak percaya bahwa sahabatnya kini bisa mengoperasi seorang pasien.

"Bagus Haura, tidak sia-sia dulu kamu mengikuti seminar-seminar itu, terutama seminar Kak Bryan, tapi sayang belum sempat aku mengenalkannya denganmu, entah kemana perginya kakak sepupuku itu" batinnya.

Disela-sela mereka sedang sibuk membicarakan Haura dan kemampuan barunya, di ruangan operasi Marco sedang menolong seorang pasien.

"Apa benar, Haura sudah bisa mengendalikan dirinya dan tadi melakukan operasi?" tanya Marco sambil menjahit kulit pasien.

"Benar dokter, tadi saya sendiri yang membantu Haura ke ruangan dokter magang, dia pingsan setelah selesai melakukan operasi" jawab salah satu perawat.

"Benar dok, bahkan saya mendengar, kemampuan Haura setingkat dengan kemampuan Si tangan hantu"

Mendengar kata 'Tangan Hantu', seketika Marco menghentikan aktivitas menjahitnya selama dua detik.

"Apa benar, Haura memiliki kemampuan itu?" batinnya dan melanjutkan menjahit.

*****

Haura kembali bekerja, kini dia sudah sedikit merasa lebih baik, dia membantu beberapa rekan kerjanya untuk mengurus pasien.

"Kamu sudah lebih baik?" tanya Lidya ketika mereka bertemu di Emergency room

"Aku sudah cukup baik" jawab Haura.

"Haura!" panggil Lidya dan Haura menoleh.

"Kamu memang terbaik." Lidya melompat kearah Haura, membuat sahabatnya itu terkejut.

"Keyakinanku selama ini tidak sia-sia, aku selalu yakin, kamu bisa melakukannya" lanjutnya dengan masih memeluk Haura.

Haura mengembangkan senyumnya dengan ragu-ragu, dia tidak tau harus mengakui itu dia yang melakukannya atau Bryan yang melakukannya.

"Ayo, kembali bekerja" kata Haura sambil kembali memeriksa data pasien.

beberapa yang melihat Haura masih asik berbisik, ada juga yang datang menghampiri Haura untuk mengucapkan kekagumannya.

"Aku sangat mengagumi kemampuanmu" kata Jack yang saat ini berada di samping Haura.

Seketika Haura kemgernyitkan keningnya dan merasa jijik dengan tatapan yang ditunjukkan oleh Jack untuknya.

"Apa, kamu selama ini menunjukkan kemampuanmu, agar aku kembali mengejarmu?" kata Jack dengan terlalu percaya diri.

Haura menjadi bergidik kali ini dengan kata yang dituturkan oleh dokter seniornya, dia tidak menyangka, karena kejadian ini, membuat dirinya menjadi popular dan Jack kembali mengincarnya.

"Tinggalkan saja dia." Lidya menarik tangan Haura agar menjauh dari Jack, Dokter yang terkenal mesum.

"Ke-kenapa dia menjadi aneh lagi?" tanya Haura kepada Lidya.

"Karena kamu dokter yang sedang naik daun sekarang, itu akan menjadi kesempatan untuknya mendekati mu lagi, dia hanya ingin menumpang ketenaran saja! dasar dokter cabul," hardik Lidya sambil menoleh kembali ke Jack.

*****

"Lelahnya aku hari ini" Haura merebahkan tubuhnya di atas sofa dan dia tertidur.

Bryan yang mengikuti Haura pulang ke rumah, kini tengah memperhatikan wajah Haura yang sedang ketiduran karena kelelahan bekerja.

"Ternyata, wajahmu cantik juga, wajah yang sangat polos tanpa polesan Make up, tapi cukup menggemaskan, tipe wajah ini sesuai dengan kriteria wanitaku" ujarnya sambil terus menatap wajah Haura.

Bryan dulu pernah menjalin hubungan dengan seorang wanita, wanita itu bukan berasal dari keluarga terpandang, namun dia bisa sukses sebagai pengacara handal, saat kekasihnya itu melakukan perjalanan dinas, Bryan yang memiliki waktu libur langsung menyusulnya ke Paris, namun dia tidak menyangka, kepergian kekasihnya bukan untuk perjalanan bisnis, namun itu adalah liburan bersama kekasih gelapnya, pria yang sangat dikenal oleh Bryan dan setelah kejadian itulah Bryan dengan pria itu bertengkar hebat.

"Hoaaaam" Haura terbangun dari tidurnya.

"Ah ... ternyata aku ketiduran di sofa" katanya sambil menggaruk-garuk rambutnya untuk mengumpulkan nyawanya.

"Sudah bangun?" tanya Bryan dan kembali Haura terkejut.

"Aduh ... Aku selalu terkejut saat mendengar suaramu!"

Haura yang terbiasa hidup sendirian dan kini Bryan ikut tinggal di rumahnya, kerap kali membuat Haura merasa kaget.

"Aku buatkan, makan malam untukmu." Bryan selesai dengan aktifitasnya di dapur dan menyediakan beberapa menu hidangan untuk Haura.

"Aku hanya bisa masak seadanya, karena isi kulkasmu sangat minim," ujarnya.

Haura langsung beranjak dari sofa dan berjalan menuju meja makan, rumah Haura hanya berukuran kecil, di dalamnya hanya ada satu kamar tidur, dapur, kamar mandi, dan ruang tamu, mirip dengan sebuah appartemen one bedroom.

"Wuaaaah ... Hmmm harumnya." Haura langsung meraih piring dan mengisinya dengan nasi serta lauk yang sudah disajikan oleh Bryan.

"Hmmm ... ini benar-benar masakan sederhana dengan rasa bintang lima" puji Haura dan dia melahap makanannya.

Melihat Haura makan dengan sangat lahap, membuat Bryan tersenyum, baru kali ini dia melihat wanita makan dihadapan pria dengan tidak menjaga imagenya.

"Makan perlahan, nanti tersedak" pesan Bryan sambil melepas celemek yang dia gunakan.

"Aku sudah lama tidak makan, masakan selezat ini," kata Haura dengan mulut yang penuh makanan.

Episodes
1 Kecelakaan
2 Halusinasi
3 Aku bisa melihat hal ghaib
4 Penguntit
5 Berteman dengan hantu
6 Siapa kau sebenarnya?
7 Cerita Masalalu
8 Pernikahan
9 Sentuhan yang nyata
10 Ruang Rahasia
11 Aku harus menolongnya
12 Terima kasih
13 Ulang tahun persahabatan
14 Yakinlah dengan kemampuanmu
15 Hargailah dirimu
16 Kemampuan seorang Dokter
17 Lihat Aku dan selamatkan
18 Menatapmu
19 merasa nyaman
20 Hantu Wanita
21 Hadiah yang cantik
22 Kalung penghalang
23 Dinding pembatas
24 Kamu dimana?
25 Rindu yang terpendam
26 Ancaman antar hantu
27 Ada apa denganku?
28 Kesedihan Haura
29 Wanita cuek
30 Persahabatan
31 Keadaan darurat
32 Memelukmu
33 Ancaman Hantu
34 Misteri terungkap
35 Hantu yang tahu terima kasih
36 Pria lembut berhati busuk
37 Terbawa ke dunia hantu
38 Musibah membawa berkah
39 Dokter
40 Monster
41 Monster yang menakutkan
42 Terpojok
43 Peringatan Keras
44 Aku tidak menyangka
45 Visual tokoh Doctor Ghost
46 Mencari bukti
47 Mengintai
48 Ambisi
49 Pengecut
50 Waktu yang tak banyak
51 Semakin lemah
52 Segara lakukan operasi.
53 Kekuatan cinta
54 Enam bulan berlalu
55 Menemui
56 Mencari cara
57 Bantu Aku
58 Awal pertemuan
59 Menatapmu membuatku sakit
60 Dokter tampan yang dingin
61 Rasa yang takkan hilang
62 Rasa tak biasa
63 Surat dinas
64 Prolog
65 Rasa yang menggelitik
66 Perjalanan dinas
67 Perjalanan dinas 2
68 Perjalanan Ghaib
69 Manusia vs Hantu
70 Kesepakatan dengan kakek
71 Kembali
72 Mengagumi diam-diam
73 anak spesial
74 Perasaaan yang tak biasa
75 rasa penasaran
76 Pewaris tunggal dan pebisnis hebat
77 Pertanyaan tanpa jawaban
78 Mimpi yang tak dipercaya
79 Dokter Haura vs dokter Bryan
80 Cemburu itu ada
81 Mencari marco
82 Mimpi yang menjadi nyata
83 Menggali masalalu
84 Duniaku tanpamu
85 Pertemuan kita
86 Kewajiban seorang dokter
87 Bayangan yang kembali muncul
88 Rasa khawatir yang mengacaukan hari
89 Ingatan yang bermunculan
90 Misi LiDi
91 Rindu yang datang
92 kehadiran yang tak diharapkan
93 Pertanda lewat mimpi
94 Aku yang akan melindunginya
95 Hubungan yang menyedihkan
96 Kiki dan permintaannya
97 Kembali beraktivitas
98 Pertemuan Bagas dan mamanya
99 Luka di hati kita
100 Aku ingin sendiri
101 misi lanjutan bryan
102 Rintik hujan
103 Sikap keras kepala
104 Pesta pembukaan
105 Rindu sikap hangatmu
106 Badai dihati kita
107 kenyataan yang disembunyikan
108 Pergi ke rumah pacar
109 Bermalam di rumah haura
110 I love u haura
111 Ketahuan Sefya
112 Rengekan Sefya
113 Pembukaan pengobatan tradisional
114 Ketahuan sama Lidya
115 Cerita hari itu
116 Cerita kita
117 Kencan pertama
118 Mengunjungi nenek
119 Gusar
120 Rencana Marco
121 Saling menunggu
122 Negeri sakura
123 op
124 besok semua direvisi, maaf ya
125 Tangisan Lidya
126 belum revisi
127 sedang sakit
128 Bandara
129 Dari kejauhan
130 Jepang
131 Direktur Rumah Sakit
132 Direktur Atamaka
133 Trauma center
134 Dunia itu sempit
135 Menahan Rindu
136 Makan malam
137 Cemburu
138 Kamu cantik hari ini.
139 Kekonyolan dua pria
140 Bersembunyi
141 Membujuk
142 Wanita bar bar
143 Aku tidak akan mengalah
144 Kecemburuan Marco
145 Kecelakaan lalu lintas
146 Tak tertolong
147 Bisik-bisik
148 Santi
149 Pasangan bahagia
150 Diremehkan
151 Pulang ke Indonesia
152 Kumpul sahabat
153 Lidya dan kiki
154 Harus bagaimana?
155 Wanitaku
156 Sepi tanpamu
157 Setitik harapan
158 Dengarkan aku
159 Seru lanjut
Episodes

Updated 159 Episodes

1
Kecelakaan
2
Halusinasi
3
Aku bisa melihat hal ghaib
4
Penguntit
5
Berteman dengan hantu
6
Siapa kau sebenarnya?
7
Cerita Masalalu
8
Pernikahan
9
Sentuhan yang nyata
10
Ruang Rahasia
11
Aku harus menolongnya
12
Terima kasih
13
Ulang tahun persahabatan
14
Yakinlah dengan kemampuanmu
15
Hargailah dirimu
16
Kemampuan seorang Dokter
17
Lihat Aku dan selamatkan
18
Menatapmu
19
merasa nyaman
20
Hantu Wanita
21
Hadiah yang cantik
22
Kalung penghalang
23
Dinding pembatas
24
Kamu dimana?
25
Rindu yang terpendam
26
Ancaman antar hantu
27
Ada apa denganku?
28
Kesedihan Haura
29
Wanita cuek
30
Persahabatan
31
Keadaan darurat
32
Memelukmu
33
Ancaman Hantu
34
Misteri terungkap
35
Hantu yang tahu terima kasih
36
Pria lembut berhati busuk
37
Terbawa ke dunia hantu
38
Musibah membawa berkah
39
Dokter
40
Monster
41
Monster yang menakutkan
42
Terpojok
43
Peringatan Keras
44
Aku tidak menyangka
45
Visual tokoh Doctor Ghost
46
Mencari bukti
47
Mengintai
48
Ambisi
49
Pengecut
50
Waktu yang tak banyak
51
Semakin lemah
52
Segara lakukan operasi.
53
Kekuatan cinta
54
Enam bulan berlalu
55
Menemui
56
Mencari cara
57
Bantu Aku
58
Awal pertemuan
59
Menatapmu membuatku sakit
60
Dokter tampan yang dingin
61
Rasa yang takkan hilang
62
Rasa tak biasa
63
Surat dinas
64
Prolog
65
Rasa yang menggelitik
66
Perjalanan dinas
67
Perjalanan dinas 2
68
Perjalanan Ghaib
69
Manusia vs Hantu
70
Kesepakatan dengan kakek
71
Kembali
72
Mengagumi diam-diam
73
anak spesial
74
Perasaaan yang tak biasa
75
rasa penasaran
76
Pewaris tunggal dan pebisnis hebat
77
Pertanyaan tanpa jawaban
78
Mimpi yang tak dipercaya
79
Dokter Haura vs dokter Bryan
80
Cemburu itu ada
81
Mencari marco
82
Mimpi yang menjadi nyata
83
Menggali masalalu
84
Duniaku tanpamu
85
Pertemuan kita
86
Kewajiban seorang dokter
87
Bayangan yang kembali muncul
88
Rasa khawatir yang mengacaukan hari
89
Ingatan yang bermunculan
90
Misi LiDi
91
Rindu yang datang
92
kehadiran yang tak diharapkan
93
Pertanda lewat mimpi
94
Aku yang akan melindunginya
95
Hubungan yang menyedihkan
96
Kiki dan permintaannya
97
Kembali beraktivitas
98
Pertemuan Bagas dan mamanya
99
Luka di hati kita
100
Aku ingin sendiri
101
misi lanjutan bryan
102
Rintik hujan
103
Sikap keras kepala
104
Pesta pembukaan
105
Rindu sikap hangatmu
106
Badai dihati kita
107
kenyataan yang disembunyikan
108
Pergi ke rumah pacar
109
Bermalam di rumah haura
110
I love u haura
111
Ketahuan Sefya
112
Rengekan Sefya
113
Pembukaan pengobatan tradisional
114
Ketahuan sama Lidya
115
Cerita hari itu
116
Cerita kita
117
Kencan pertama
118
Mengunjungi nenek
119
Gusar
120
Rencana Marco
121
Saling menunggu
122
Negeri sakura
123
op
124
besok semua direvisi, maaf ya
125
Tangisan Lidya
126
belum revisi
127
sedang sakit
128
Bandara
129
Dari kejauhan
130
Jepang
131
Direktur Rumah Sakit
132
Direktur Atamaka
133
Trauma center
134
Dunia itu sempit
135
Menahan Rindu
136
Makan malam
137
Cemburu
138
Kamu cantik hari ini.
139
Kekonyolan dua pria
140
Bersembunyi
141
Membujuk
142
Wanita bar bar
143
Aku tidak akan mengalah
144
Kecemburuan Marco
145
Kecelakaan lalu lintas
146
Tak tertolong
147
Bisik-bisik
148
Santi
149
Pasangan bahagia
150
Diremehkan
151
Pulang ke Indonesia
152
Kumpul sahabat
153
Lidya dan kiki
154
Harus bagaimana?
155
Wanitaku
156
Sepi tanpamu
157
Setitik harapan
158
Dengarkan aku
159
Seru lanjut

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!