Haura berusaha keras untuk melawan rasa ketakutannya, dia mengobati beberapa pasien dengan luka ringan, dia masih terasa takut hanya saja dia berusaha mengendalikannya, saat mengobati, sesekali Haura memejamkan matanya lalu kembali fokus dengan tugasnya.
"jangan terlalu banyak berfikir, kerjakan dengan santai agar tugasmu cepat selesai!" bisik Bryan.
Haura sedikit cemberut, karena merasa Bryan sama sekali tidak menghiraukannya, dia hanya fokus untuk membuat Haura menjadi seorang dokter saja.
Haura kembali berpindah ke pasien lainnya, kini kondisi pasien yang terdapat luka yang mengakibatkan kebocoran, dengan kondisi seperti ini berarti mengharuskannya menjahit kulit pasiennya.
"aku harus bagaimana? aku belum pernah melakukannya!" panik Haura dengan tangan gemetar.
Bryan menyentuh tangan Haura dan berusaha untuk membuat wanita itu tenang dan tetap fokus.
"tarik nafas yang dalam, dan bayangkan kau sedang menjahit kain!" kata Bryan.
Haura memejamkan matanya dan membuat ancang-ancang untuk mulai menjahit pelipis pasiennya yang sobek.
Haura mulai menjahit meski dengan perasaan yang tidak karuan, dia berusaha sekuat mungkin agar tidak tumbang, hanya menjahit luka saja dia harus mengumpulkan banyak keberanian.
"Terima kasih dokter" kata pria itu ketika Haura selesai dengan tugasnya.
Haura tersenyum, terbesit rasa haru karena mendengan seorang pasien berterima kasih kepadanya, ada kepuasan sendiri sehingga membuatnya senyum+senyum sendiri, dia bahkan merasa bangga kepada dirinya karena bisa melakukan itu.
"kerja yang bagus!" puji Bryan yang berjalan mundur demi memandang wajah Haura.
Haura hanya tersenyum girang tanpa menghiraukan pujian yang diberikan Bryan untuk dirinya.
"haiiish... bocah nakal! kini kamu merasa puas sudah bisa melakukannya? aku rasa dia akan besar kepala jika berhasil mengoperasi seorang pasien!" Bryan menggerutu tentang tingkah Haura.
Haura duduk di bangkunya dan Lidya menghampirinya.
"Aku rasa, kini kamu bisa mengendalikan rasa takutmu!" puji Lidya.
"Semua ini berkatnya," Haura tersenyum sambil menatap Lidya.
"Berkatnya?" tanya Lidya tidak faham.
"Berkat si tangan hantu!"
Lidya semakin tidak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh sahabatnya itu.
"Tangan hantu? siapa?" tanya Lidya semakin penasaran.
"Hmmm ... tidak, aku hanya bercanda!" Haura mengedipkan matanya dan membuat Lidya menjadi semakin penasaran dibuatnya.
Haura berbaring di tempat tidur, dia membayangkan bagaimana dirinya tadi mengobati pasiennya, Haura masih terus tersenyum meski tak ada yang lucu.
"Kau tau tangan, kau sangat membantuku hari ini!" Haura membolak-balik tangannya sambil terus memandangi.
Lidya yang melihat tingkah aneh sahabatnya menjadi khawatir, dia khawatir jika sahabatnya mengalami shock akibat kecelakaan yang dialaminya tempo hari.
Lidya kemudian beranjak dan duduk disamping Haura, dia mengecek suhu tubuh Haura, bahkan sampai mengecek detak jantungnya.
"Ada apa? kenapa kamu memeriksaku?" tanya Haura
"Aku hanya ingin memastikan kondisimu! aku takut terjadi sesuatu?!"
*****
Bryan memandangi sebuah pintu yang terkunci, tak ada seorangpun yang berani menyentuh pintu ruangan itu, hanya ada beberapa orang yang diperbolehkan masuk kesana.
"Bagaimana? apa kondisinya stabil?"
"Kondisinya stabil karena semua alat bantu ini, tapi kita tidak bisa menunggu lebih lama lagi, kita harus mencari dokter ahli bedah secepatnya, jika tidak kita akan menerima kenyataan pahit!" saran seorang pria.
Bryan mendengar percakapan mereka dari balik pintu, dia menjadi sangat sedih mendengarnya. sudah sangat lama tubuhnya terbaring disana tanpa suatu kepastian.
Bryan pernah berkata kepada keluarganya, jika sesuatu terjadi kepada dirinya, carilah dokter yang setidaknya memiliki kemampuan delapan puluh persen dari kemampuan yang dimilikinya.
"Mama, tunggulah sebentar lagi, dokter itu akan datang kepadamu dan akan menyelamatkanku! aku mohon jangan menyerah dulu!" ujarnya lirih.
ibu Bryan dengan seorang pria yang mengenakan jas dokter keluar dari ruangan itu, dan dia masuk kedalam ruangan.
Bryan memandangi tubuhnya yang sangat tak berdaya, berbagai macam alat terpasang di tubuhnya agar bisa membantunya hidup.
"Bertahanlah! jangan menyerah! dia pasti akan memberikan pertolongan untukmu!" ujarnya sambil menangis.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 159 Episodes
Comments
neng ade
semoga Harus bisa membantu Bryan yg terbaring koma
2023-06-21
1
Dianti Rahayu
oh...brian koma ...
sudah ada clue nya..
2023-01-23
0