Haura sedang berusaha menyembuhkan salah seorang pria yang mengalami kecelakaan akibat penusukan saat diacara pesta pernikahan.
Haura awalnya sangat ragu karena dia baru pertama kali ini menangani kasus penusukan, Haura mencari-cari sosok Bryan namun yang dicarinya tak kunjung terlihat sejak tadi, Haura panik, untuk membersihkan lukanya saja dia merasa sangat tidak mampu, apalagi jika harus melakukan operasi pastinya dia tidak akan siap.
"Di mana kamu?" tanya Haura dengan berbisik.
Mata Haura terus menjelajah keseluruhan sudut rumah sakit, dia sangat ingin menolong pria itu, Haura melirik kearah wanita yang mengenakan gaun pengantin berwarna peach, gaun wanita itu ternoda oleh darah, wanita itu terus berteriak sambil memegang tangan Haura.
"Selamatkan suamiku! selamatkan dia! aku mohon!" dia bersujud dikaki Haura, membuat dokter wanita itu tak berdaya menahan rasa ibanya.
"Saya akan berusaha yang terbaik, tunggulah dan tenanglah" pinta Haura sambil membawa pengantin wanita duduk di kursi tunggu.
"Berdoalah" kata Haura sebelum meninggalkan wanita yang sangat dia kasihani itu.
Haura berjalan menuju kearah pintu rumah sakit, dengan kaki gemetar dia berjalan, sampai satu kakinya menekuk ke dalam, tubuhnya menjadi tak seimbang.
"Aku menangkapmu" kata Bryan yang sudah berada di belakang Haura sambil menopang tubuh mungil Haura.
"Dari mana saja kamu? aku sangat ketakutan, aku sangat ingin menolongnya, tapi aku begitu ketakutan" kata Haura dengan marah-marah.
"Sudah di tolong, malahan marahin orang, bukan bilang terima kasih" kata Bryan kesal.
Bukan maksud Haura ingin marah kepada Bryan, semua yang dia luapkan adalah bentuk kekhawatiran dan ketakutannya.
"A ... Aku ..." gugup Haura.
"Sudah, ayo kita masuk, aku akan menolong mu, fokuslah pada niatmu, yang ingin menolongnya" kata Bryan dan Haura meyakinkan dirinya untuk mengumpulkan keberanian.
Perawat membersihkan darah yang ada disekitar luka, perawat juga yang berusaha menghentikan pendarahannya, Haura melihat darah itu membuat dirinya kembali mengalami trauma, namun Bryan terus bersamanya, Bryan terus memberikan dorongan kuat kepadanya sehingga dia berusaha kembali menguatkan hatinya.
"Berusahalah dan percaya" kata Bryan sebelum Haura memulai operasi pertamanya sendiri tanpa Bryan merasuki tubuhnya.
"Tidak bisakah, kamu masuk?" kata Haura dengan berbisik dan perawat merasa aneh dengan sikap Haura.
"Tidak bisa, aku tidak bisa selalu menggunakan cara itu, jika aku menggunakannya aku akan kehabisan waktuku!" kata Bryan.
Haura tidak mengerti, tapi dia tau, Bryan tidak akan merasukinya meski dia memohon saat ini, dan dia juga harus secepatnya menolong pria yang terkena tusukan pisau ini.
"Bersiaplah, kita akan memulainya" kata Haura kepada perawat yang ada di hadapannya, hanya ada dia dan perawat di ruangan operasi ini, jika dia melakukan kesalahan, maka jelas nyawa pria ini akan dalam bahaya, bisa jadi kematiannya bukan akibat luka tusuk namun karena ketidak kompetenan dokter yang merawatnya dan bisa menjadi hal buruk untuknya sebagai seorang dokter, Haura bisa terjerat kasus malpraktek.
Haura memfokuskan diri dan Bryan membantunya menggerakkan jari-jarinya yang akan melakukan tindakan operasi.
"Jahit perlahan, dan tarik perlahan jangan sampai salah" Bryan memperingati Haura
Haura berusaha mengikuti arahan dari Bryan, dia berusaha selembut mungkin menjahit bagian perut yang terluka.
"Gunting"
"Gunting" kata Haura mengikuti perintah Bryan.
Perawat langsung mengambil gunting dan mulai menggunting benang yang digunakan untuk menjahit bagian tubuh manusia.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 159 Episodes
Comments