Bryan mengatakan kepada Haura bahwa dia memiliki sebuah syarat.
"Syarat? Maksudnya?" Tanya Haura yang tidak mengerti alur pembicaraan pria itu.
"Syarat jika kau mau menjadi seorang dokter hebat kau juga harus menikahi dokter hebat!"
"Siapa dokter hebat itu?" Tanya Haura penasaran.
"Aku" pria itu menunjuk dirinya sendiri.
Haura tertawa mendengar kata-kata Bryan.
"Hahahaha, aku bahkan tidak percaya kau seorang dokter senior" geli Haura.
"Kau akan tahu suatu hari nanti"
"Tidak, aku tidak mau menikahi dirimu, dokter sombong!" Kata Haura dengan tegas.
"Jadi bagaimana? Apakah kau masih mau menjadi seorang dokter yang sesungguhnya? Memiliki tangan penyelamat?" Desak Bryan.
Haura terdiam, berusaha terus mencerna semua yang Bryan katakan, karena menurutnya itu hal yang tidak mungkin.
"Kamu mau menikah denganku dan menjadi seorang dokter sesungguhnya atau tetap menjadi dokter muda selamanya yang selalu dikecilkan oleh rekan kerja?"
"Tidaaaak" jerit Haura dan tersadar.
Haura terbangun dan langsung terduduk, dilihatnya Sefya yang duduk disisi ranjang.
"Fy" panggil Haura.
Sefya yang sedang duduk terkejut ketika mendengar teriakan haura, dia langsung menaruh bukunya di atas meja.
"Syukurlah kamu sudah sadar Ra, aku sangat khawatir." Sefya memeluk Haura dengan cepat.
"Auwh." jerit Haura ketika Sefya memeluknya.
"Maaf ... Maaf aku tidak sengaja, sangking senangnya." Ujar Sefya.
"Aku hubungi Lydia dulu" Sefya merogoh kantung celananya dan mengeluarkan ponselnya.
******
"Nanti di chek setelah dua puluh menit, karena infusannya harus segera diganti lagi" perintah Lydia kepada salah satu perawat jaga.
Kriiiing kriiiing
Ponsel Lydia berdering.
"Sefya!" Kata Lidya saat melihat layar ponselnya
Lydia langsung berlari tanpa mengangkat panggilan telepon dari Sefya.
"Haura!" Teriaknya saat membuka pintu ruang perawatan yang ditempati oleh Haura.
"Kamu baik-baik saja?" Peluk Lydia.
"Aauuuuw sakit" keluh Haura untuk kedua kalinya.
"Ah, maaf aku lupa"
Mereka semua saling berpandangan dan kemudian saling berpelukan, kali ini pelukan dilakukan dengan sangat hati-hati agar Haura tidak kesakitan.
"Haura, apa yang membuatmu bisa sampai seperti ini?" Tanya Sefya.
"Tadi aku hendak masuk keruang ganti untuk mengganti baju ku, tapi disana seseorang sedang membicarakan ketidak mampuanku sebagai seorang dokter." Cerita Haura yang mengundang rasa iba kedua sahabatnya.
"Siapa mereka? Biar aku beri pelajaran!" Kesal Lydia yang selain seorang dokter, dia juga seorang yang jago berkelahi.
"Sudahlah apa yang mereka katakan memang benar tentangku!" Haura tertunduk.
"Semangat Hauraaa, kamu pasti bisa menjadi seorang dokter yang diandalkan suatu hari nanti" Sefya memberi semangat sebagai seorang sahabat.
Lidya langsung menyikut Sefya yang asal bicara, Sefya memang memiliki karakter yang sedikit lola, suka ceplas-ceplos meski memang ucapannya benar tapi tidak pada waktu yang tepat, tapi disisi lain Sefya memiliki kecerdasan di atas rata-rata.
Ceklek
pintu ruangan terbuka dan datang seorang pria dengan buket bunga menutupi wajahnya.
"Huh, selalu saja terlambat!" Kesal Sefya yang tau siapa pria yang datang menemui mereka bertiga.
"Hauraaaa." Kiki merentangkan tangannya hendak memeluk Haura.
"Jangaaaaan" cegah ketiga sahabatnya dan dia pun berhenti, karena kaget dengan teriakan ketiga wanita itu.
"Kenapa?" tanya Kiki.
"Haura masih sakit-sakit badannya, jangan sampai dia berteriak untuk ke-tiga kalinya." Jelas Lydia dan diangguki oleh Sefya.
"Huuh! Selalu aku yang tidak pernah mendapat kesempatan" cemberut Kiki.
"Sudah jangan ribut, Ki kenapa bawanya buket bunga? Bukannya makanan, laper niih." Haura protes karena sahabatnya tidak membawa makanan.
"Jangan kaya orang susah deh, tinggal pesen lewat aplikasi, terus makanan dateng." Kiki langsung mengeluarkan ponsel miliknya dan memesan beberapa makanan untuk mereka berempat.
******
Haura beristirahat diatas ranjangnya, kini dia sendirian di kamar perawatan setelah sahabatnya pulang.
Haura merasakan hawa dingin ditubuhnya.
"Brrrrrrrr, dingin" Haura menggigil kedinginan.
Haaaaaah
Terdengar suara-suara yang membuat Haura sedikit ketakutan.
"Comeon Haura, jangan berfikir aneh-aneh, ini rumah sakit yang biasa kamu datangi dan kamu terbiasa sendiri" Haura menenangkan dirinya sendiri.
Haura sesekali merasa ada sosok yang sekelebat jalan di sampingnya atau di depannya.
Haura kembali merasa ada sesosok makhluk yang mengganggu dirinya.
"Si ... Siapa?" Panggil Haura pada sosok yang ia lihat lewat didepan pintu kamarnya.
Haura memberanikan diri turun dari ranjangnya dan membuka pintu kamarnya.
Haura melihat kearah kanan dan kiri bergantian untuk memastikan siapa yang tadi berada didepan pintu namun ternyata tidak ada orang dan lampu rumah sakitpun sebagian sudah dipadamkan karena memang sudah malam.
Bersambung ...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 159 Episodes
Comments
Dianti Rahayu
baru baca..kok aku ikut merinding..
seolah olah aku ada dan ngelihat haura langsung...hiii...😀
2023-01-23
1
Aditya HP/bunda lia
calon suamimu hauraaaaa .... 🤭🤭
2022-12-23
0