Haura sudah kembali bekerja di rumah sakit, hari ini kebetulan jadwal piket pagi, dia bersiap dan mengunci pintu rumahnya.
"kamu sudah mau berangkat?"
"Astaga!" Haura terkejut ketika berbalik badan, sosok Bryan sudah ada dihadapannya.
"Kenapa kau mengagetkanku?!"teriak Haura sambil memedang dadanya.
"Aku hanya bertanya saja, tidak mengagetkanmu!" kata Bryan dengan polosnya.
"Kemunculanmu yang tiba-tiba, membuatku terkejut!" kata Haura, dia berjalan meninggalkan Bryan.
"Kapan kau mau menerima tawaranku?" tanya Byran yang terus mengikuti Haura.
"diamlah, jangan banyak bicara, aku tidak mau orang akan menganggapku gila karena bicara sendirian" jelas Haura yang bicara dengan merapatkan giginya.
"Tenang saja, saat ini mereka bisa melihatku," kata Byran yang berjalan santai disamping Haura.
"Dengan pakaian, Doktermu?" tanya Haura.
"Hmmm ... Tidak, aku memakai setelan jas."
"Yang benar saja, mana bisa arwah berganti pakaian!"
Haura menoleh kesampingnya dan betapa dia dikejutkan dengan penampilan super stylish dari Bryan.
"Woooaaa ... cukup keren, dilihat dari segala sisi, gayanya sangat kekinian!" Haura mulai mengeker penampilan Bryan dengan tangannya.
Bryan bergaya saat Haura memuji penampilannya, dia bahkan berputar memamerkan betapa kerennya dia.
"Tidak perlu pamer, banyak diluar sana yang jauh lebih keren daripada dirimu." Haura yang semula menerbangkan Bryan kini menjatuhkannya hingga kedasar bumi dan kembali tidak menghiraukan dirinya.
Haura dan Bryan masuk kedalam bus yang sama, bus yang menjadi langganan Haura ketika berangkat bekerja.
"Kamu selalu naik bus ini? Tidak bosan? Tidak ingin punya mobil sendiri seperti yang lainnya?" Bryan terus mencecarnya dengan berbagai pertanyaan yang tak berguna.
"DIAAAAAM!" Hautra berteriak, seketika orang-prang di bus berdiri dan melihat kearahnya.
Haura terkejut karena panjangan mereka tertuju kepadanya.Haura menoleh kebangku yang ada di sampinya, dia dapati bangku itu kosong.
"Haaah ... Dasar bodoh, kenapa aku harus terus merespon apa yang dia katakan!" Haura merutuki dirinya sendiri setelah turun dari Bus.
Haura menahan rasa kesalnya dan kembali berusaha agar menjadi waras kembali, karena dia butuh pekerjaan ini, dia harus memnuhi kebutuhan dirinya sendiri.
"kau sudah datang?"
Saat di tanya, Haura tidak merespon, dia tidak mau meladeni suara-suara yang tak perlu.
"Ra ... Kok enggak dijawab sih?" kesal Lidya dan menarik tubuh Haura sehingga kini mereka saling berhadapan.
"Oh, Maaf Lid, fikiranku sedang tidak fokus!" kata Haura.
"Ada apa? Apa ada yang mengganggumu lagi?" tanya Lidya
"Tidak, mereka kini sudah berhenti merundungku," kata Haura.
Lidya merasa tenang kali ini, karena apayang dia upayakan tempo hari berhasil.
Flashback Lidya.
"Hei!" kata Lidya yang memanggil teman-temannya yang ada diruang ganti.
"Aku peringatkan kepada kalian, berhenti berkata kasar, meremehkan dan menghina temanku, Haura!" tegasnya sambil sedikit bergaya seperli seorang preman.
"Jika kalian tidak mengindahkan ucapanku, maka aku akan mengajukan surat pengunduran diri kalian ke ketua!" kata Lidya sambil menunjuk memutar kearah teman-temannya.
"siapa dia berani mengancam kita?" kata salah seorang, ketika Lidya sudah pergi.
Lidya yang masih menunggu dibelakang loker, mendengar protes teman yang tidak suka dengan sikapnya, dia langsung kembali dan menghentakkan tangannya di lemari loker.
"kalian ingin tau aku siapa?" tanya Lidya.
"Aku adalah adik dari senior kita, Marco!" ujar Lidya.
Mereka semua kemudian menganga mendengar pengakuan Lidya, mereka tidak percaya, seorang dokter senior yang sangat tampan dan lembut, memiliki seorang adik yang sangat garang dan bertingkah seperti premam jalanan.
Flashback off.
*****
Haura melihat antrian di bagian dokter umum, dia masih belum siap untuk kembali menjadi dokter bedah, sehingga dia meminta kepada seniornya untuk menempatkannya di pos dokter jaga dan memeriksa pasien dengan gejala ringan.
"Apa yang dirasakan saat ini?" tanya haura kepada wanita paruh baya, yang datang bersama seorang anaknya.
"Ibuku, beberapa hari ini, mengalami sakit perut dibagian bawah perutnya dan dia kesulitan buang air kecil." kata anak wanita itu.
"Mari, rebahkan ibu anda," Haura membantu pria itu merangkul ibunya untuk direbahkan.
Haura memeriksa denyut jantung, menekan bagian bawah perut pasiennya dan dia kini memiliki kesimpulan tentang keluhan pasiennya.
"Ibu anda mengalami, gejala usus buntu atau apendiks, apa beliau sering mengkonsumsi makanan yang dibakar dan konsumsi jajanan yang kurang higenis? Dan akhir-akhir ini sering mengalami mual dan demam ringan?" tanya Haura.
"benar dokter, Ibu saya senang mengkonsumsi sambal, setiap hari ibu saya memang makan semua yang dibakar, itu kesukaannya dan beberapa hari lalu mengalami gejala, seperti yang dokter sebutkan," kata pria itu, membenarkan perkataan Haura.
"ini adalah penyebabnya, mengkonsumsi makanan yang dibakar setiap hari atau berlebihan bisa menyebabkan makanan mengandung zat karsinogen, yang bisa memicu kanker serta gejala usus buntu, karena makanan yang diolah menggunakan arang dan membuat bagian makanan tampak menghitam adalah hal yang cukup berbahaya!" jelas Haura panjang lebar.
"Jadi apa solusinya, Dokter?" tanya pria itu setelah mendengar pemaparan Haura.
"Kita harus, melakukan tindakan operasi, saya akan merekomendasikan dokter untuk ibu anda," kata Haura sambil menuliskan sebuah resep obat.
"Kenapa, tidak kamu saja yang mengoprasinya?" bisik suara yang Haura kenal.
"Kenapa dia muncul disaat aku bekerja?" batin Haura.
"Aku bisa mendengar suara hatimu" bisik Bryan lagi.
"Mari pak, bu, kita ke depan, saya akan antar ke ruangan dokternya" kata Haura sambil keluar dari ruang kerjanya.
Haura yang diikuti oleh pasien serta anaknya, menuju ruangan dokter yang dia bisa percaya, seorang dokter laki-laki yang sudah menjadi salah satu dokter senior.
Haura membuka pintu ruangan Jack, dan betapa terkejutnya dia melihat jack dengan seorang perawat wanita sedang bercumbu, dengan cepat dia menutup kembali pintu ruangan Jack dan mengetuknya.
Tok Tok Tok
Haura mengetuk pintu dnegan keras kali ini agar terdengar oleh Jack yang sedang sibuk melakukan pemeriksaan fisik kepada salah perawat.
"dasar pria mesum! Kenapa dia bisa menjadi dokter di rumakh sakit ini!" umpat Haura dalam hatinya.
"Masuk" teriak Jack sambil merapihkan pakaiannya.
Dari dalam seorang perawat yang cukup cantik dengan tubuh putih, membuka pintu berbarengan dengan haura, sehingga mereka berpapasan.
"Ada apa?" katanya dengan tatapan kesal.
"Ini ada pasien yang harus segera di tangani, diagnosa sudah saya tulis di data pasien dan sebaiknya dua hari lagi, dijadwalkan operasi," jelas Haura.
"Kenapa bukan kamu saja yang melakukan tindakan operas?" tanya Jack dengan nada suara yang terdengar masih kesal.
"Saya masih belum bisa melakukan operasi, permisi saya keluar dulu" Haura menyudahi perdebatan diantara mereka, karena tidak enak didengar oleh pasien dan anggota keluarganya.
Haura keluar dari dalam ruangan dan menarik nafas panjang, dia merasa lega bisa menghadapi Jack tadi, setelah melihat tindakan tak senonoh Jack si Pria cabul.
"Dokter cabul! Kini itulah panggilan untukmu!" kata Haura dan kembali ke ruangannya.
Melihat Haura, membuat Bryan juga cukup kesulitan, pasalnya dia tidak bisa membujuk Haura, bahkan kini apa yang dikatakannya selalu diabaikan.
"Pak dokter, bagaimana ini? Jika dokter wanita itu enggan mendengarmu, kita semua akan tidak bisa menjalankan misi ini" kata salash seorang hantu yang berharap sesuatu dari Haura.
"Aku akan mengusahakannya, dia dokter yang saat ini sesuai dengan kriteria yang aku cari, dia bukan seorang dokter yang sembrono dan dia adalah dokter yang sangat pintar, sayang dia takut menghadapi ruang operasi" sesal Bryan.
*****
Haura masih terbayang kegiatan yang di lakukan Jack, dia begitu kesal, Jack dulu sempat mengincar dirinya dan memberi kata-kata bualan berupa gombalan.
"Aku sangat bersyukur tidak berhubungan dengannya, jika terjadi, mungkin aku sudah mencakar-cakar seluruh tubuhku karena disentuh dokter cabul itu!" Haura merinding membayangkannya.
"Kamu sedang berfikir apa?" tanya Bryan yang kembali muncul dihadapan Haura.
"Kenapa kamu terus, muncul dihadapanku?" kesal Haura.
"Aku akan terus mengikuti, kemanapun engkau pergi"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 159 Episodes
Comments
Tita Puspita Dewi
waduh ada konspirasi alam gaib ini.
2022-12-25
1