Alana tersentak saat merasakan jemari tangannya di genggam oleh Dave. Perempuan itu langsung menoleh ke arah lelaki itu. "Tenanglah ada aku di sini. Tidak akan terjadi apapun di sini. Jika kau memintaku untuk kembali kau akan menyesal," kata Dave santai.
"Tapi Dave-"
Ssstt! Lelaki itu segera meletakkan jari telunjuknya di bibir Alana meminta perempuan itu untuk diam.
"Kau pasti ingat tujuan aku menikahimu Alana," ujar Dave mengingatkan.
Alana mengangguk, setelah mengingat bahwa pernikahan ini hanyalah bentuk pelarian Dave agar tak dijodohkan dengan gadis pilihan orang tuanya.
"Iya Dave!"
"Jadi, lakukan apa yang menjadi tugasmu!" ujar Dave.
Sekali lagi Alana hanya mengangguk pasrah.
"Ada satu hal yang ingin aku katakan untukmu malam ini, Alana."
Kata-kata lelaki itu mampu menarik perhatian Alana hingga membuatnya menoleh ke arahnya. "Apa?" sahutnya penasaran.
"Kau tampak cantik," puji Dave kemudian. Hal itu membuat wajah perempuan itu merona. Hingga langkahnya terasa ringan ketika lelaki itu berhasil membawanya ke dalam setelah melewati pintu yang di jaga ketat oleh penjaga.
Seorang pelayan menyambut kedatangan keduanya. Alana tampak terkesima ketika telah berada di dalam mansion itu, tempatnya tampak megah. Tampak lampu kristal menggantung. Guci-guci mewah menghiasi setiap sudut ruangan. Ini baru bagian ruangan depan pun terlihat sangat luas, entah ada berapa lantai mansion utama. Alana tak sanggup memikirkannya, yang jelas tanpa perlu mencari tahu, kini Alana mengerti bahwa suaminya itu ternyata memang jauh lebih unggul dibandingkan dengan Edo. Ia pikir tidak akan rugi menyetujui pernikahan kontrak dengannya, bahkan Alana bisa mendapatkan apapun yang ia inginkan untuk saat ini.
"Di mana makan malamnya?" tanya Dave pada pelayan.
"Ruangan samping Tuan, karena Tuan Jonas sengaja menyediakan tempat yang lebih luas untuk menyambut tamunya." Penjelasan pelayan itu membuat Dave mengangguk.
"Apakah tamunya sudah datang?" tanya Dave kemudian.
"Sudah sejak tadi. Semuanya sudah tiba, hanya tinggal anda menunggu kedatangan anda," sahut pelayan.
"Baiklah, saya akan kesana! Kau lanjutkan saja pekerjaanmu," titah Dave menolak untuk diantarkan pelayan.
Dave menoleh ke arah Alana yang masih tampak sibuk memindai tempat itu. Kemudian ia melangkah mendekatinya, dan lagi menautkan jemarinya.
"Dave?" Alana tersentak bahkan hampir berjingkat kaget sampai harus mengusap dadanya.
"Apa kau terkejut?" tanya Dave.
"Emm sedikit," jawab Alana gugup.
Dave meremas tangan Alana. "Tenanglah. Kenapa tanganmu jadi sangat dingin begini!"
"Ac nya terlalu dingin," kilah Alana.
Dave tau perempuan itu hanya tengah berbohong. Lelaki dengan berkaca mata bening itu menaikan tangan Alana untuk mengandeng lengannya.
"Biar sandiwara kita semakin meyakinkan, Alana."
Alana hanya mengangguk menurut apa kata lelaki itu. Bahkan ketika Dave menggiringnya ke arah pintu bagian selatan, ia hanya terdiam tanpa banyak bertanya.
Suasana taman samping itu tampak ramai. Bahkan meja berbentuk oval itu sudah terlihat penuh. Ketika keduanya datang, semua orang di sana masih sibuk saling berbincang-bincang.
Ketika salah satu pelayan membisikkan sesuatu pada lelaki setengah baya di kursi paling utama.
"Dave?!" ucap Jonas terdengar senang melihat kedatangan putranya, ia langsung beranjak dari tempat duduknya. Namun, sedetik kemudian raut wajahnya langsung berubah kala melihat Dave tak datang sendiri, apalagi ketika melihat seorang perempuan bergelayut manja di lengan putranya.
"Kamu-"
"Apa kabar Papa?" tanya Dave santai.
"Siapa dia Dave?" Jonas justru berbalik tanya, raut wajahnya langsung berubah terkejut.
"Istriku!" ucap Dave jelas dan tegas. Membuat raut wajah Jona seketika menjadi merah, dan beralih menatap tajam ke arah Alana.
"Istri? Kau gila Dave?" sergah Jonas marah.
Aktivitas keduanya mampu mengundang rasa penasaran orang-orang di belakang tubuh Jonas. Mereka merasa penasaran lantaran, Jonas tak kunjung mempersilahkan Dave untuk duduk, karena yang mereka tahu sejak tadi lelaki itu menunggu kedatangan putranya.
Hingga membuat salah satu dari anak lelaki dewasa beranjak menghampiri Jonas.
"Papa apa yang terjadi?" tanyanya begitu tiba di sisi Jonas.
Suara itu cukup familiar bagi Alana, perempuan yang sejak tadi menunduk menatap lantai marmer, kini mencoba mengangkat wajahnya. Hingga detik berikutnya kedua matanya terbelalak melihat siapa yang kini ada di hadapannya.
"Edo?"
"Alana?"
Ucap keduanya bebarengan saling terkejut. Alana merasa terkejut lantaran kehadiran Edo di keluarga suaminya itu, apa hubungannya Dave dan Edo, bahkan ia sama sekali tidak mengetahui.
Papa?
Jika ia tidak salah mendengar Edo sempat memanggil lelaki setengah baya di hadapannya itu dengan sebutan Papa sama seperti Dave memanggilnya. Itu artinya, Dave dan Edo adalah saudara. Mendadak Alana merasa seluruh tubuhnya terasa kaku tak bisa bergerak, merasa pening memikirkan apa yang tengah terjadi.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 197 Episodes
Comments
Siti Sahara
klo edo anaknya jonas jg seharusnya dia konglomerat juga dong...kok tglnya di apartemen ya
2024-02-17
0
fitriani
nah loh terkejoed kan lu edo ternyata skr alana adalah kakak ipar lu😂😂😂😂
2023-04-20
0
Ananda
bozz bnget kejutannya... 👏👏
2023-04-06
0