"Buku ini biar aku yang bawa. Kau langsung pulang saja, jangan lupa bereskan barang-barangmu. Karena kau sudah resmi menjadi istriku, jadi kau harus tinggal bersamaku," titah Dave tanpa ingin dibantah. Tangannya menggenggam dua buku pernikahan. Ya keduanya baru resmi menjalani proses pernikahan di kantor KUA setempat. Pernikahan yang hanya disaksikan oleh Silvi, Zain, dan Andi. Dan setelah selesai Silvi dan Andi segera pergi, karena mengira Alana akan pulang bersama suaminya.
"Tuan mau kemana?" tanya Alana. Perempuan dalam balutan kebaya putih itu bertanya tampak bingung.
"Aku masih ada urusan. Nanti malam kita akan bertemu," jawab Dave datar.
"Tuan bagaimana dengan ibu saya?" tanya Alana sendu.
Dave menghentikan langkahnya yang hendak berlalu ke mobil. "Kamu ingin ibumu sembuh atau bagaimana?" tanya Dave balik.
"Sembuh!"
Dave tersenyum tipis dan mengangguk. "Kalau begitu biar ibumu diurus oleh Zain. Masuk ke salah satu rumah sakit yang fasilitasnya cukup, akan ku pastikan ibumu mendapatkan pelayanan yang terbaik. Sampai kontrak pernikahan kita selesai, ibumu pasti sudah sembuh," ucap Dave kemudian berlalu masuk ke mobil.
Alana masih memandang mobil Dave yang berlalu pergi meninggalkan dirinya yang terdiam kaku di halaman kantor KUA. Ia tidak pernah mengira akan melakukan hal gila seperti ini. Menikah bukan karena atas dasar cinta, melainkan atas dasar kesepakatan. Demi memberi sebuah pelajaran pada mantan kekasih dan sahabatnya itu. Tanpa ia ketahui bahwa waktu itu terus berputar. Saat ini mungkin hatinya masih terasa mati akibat ulah Edo. Tapi tidak akan tau apa yang akan terjadi kedepannya.
"Mari Nona," ucapan Zain membuyarkan lamunannya. Lelaki itu nampak membukakan pintu mobil untuknya, yang entah mobil lelaki itu sudah tiba di hadapannya.
Alana mengangguk dan masuk ke dalam mobil. Zain menutup pintu mobilnya, kemudian berjalan ke arah pintu kemudi.
Mobil meninggalkan pelataran kantor KUA. Sepanjang jalan Alana terdiam, sibuk dengan pemikirannya. Rasanya Alana sungguh gila, menikah hanya disaksikan oleh kedua sahabatnya, bahkan Dave pun tak menghadirkan keluarganya. Entah apa maksud lelaki itu.
Alana mengingat pembicaraannya semalam dengan Dave di club malam yang bernama Lucy bar.
"Menikahlah denganku, Nona Alana!"
Alana terkejut mendengar perkataan Dave. Ia bahkan hampir tertawa jika saja tak melihat tatapan tajam dari lelaki itu. Bagaimana bisa tiba-tiba ada lelaki asing yang mengajaknya menikah. Apakah ia sedang masuk dalam dunia drama. Mengapa ada laki-laki asing yang tiba-tiba menawarkan pernikahan.
"Anda bercanda Tuan?" tanya Alana setelah berhasil menetralkan perasaannya.
"Duduklah!" Dave menggeser tubuhnya sedikit menjauh demi memberikan ruang bagi Alana untuk duduk. Setelah perempuan itu duduk, Dave memberikan kode pada Zain.
Zain yang paham maksud dari atasannya, pun mengangguk dan mengeluarkan map berwarna biru dalam tasnya, membuat Alana dan Silvi terkejut.
"Apa ini?" tanyanya.
Kening Alana mengerut hingga alisnya menyatu, tak mengerti dengan maksud dari lelaki itu, ia menuntut penjelasan. Zain yang mengerti kebingungan Alana pun segera menjelaskan.
"Ini adalah surat perjanjian pernikahan," jelas Zain yang kembali membuat Alana dan Silvi terkejut, bahkan mulutnya sampai menganga.
"Di mana jika Nona Alana bersedia menandatangani surat perjanjian tersebut, berarti Nona setuju dengan segala pasal di dalam surat tersebut." Zain menghela nafasnya sebentar, kemudian melanjutkan ucapannya. "Jika Nona Alana setuju, maka Tuan Dave bersedia membantu apapun kesusahan anda. Nona Alana juga akan mendapatkan fasilitas kemewahan, seperti rumah, mobil, dan black card yang akan membuat anda bisa membelanjakan apapun. Selama anda menjadi istri Tuan Dave."
Alana membeku, mendadak pikirannya menjadi kosong. Ini adalah penawaran yang gila menurutnya, mengapa mendadak ia seperti tengah masuk ke dalam dunia cerita, dan drama yang sering ia tonton bersama Silvi.
Ia memang menginginkan lelaki yang lebih segalanya dari Edo, tapi bukan untuk menikah. Jika ditatap lebih inci Dave memang jauh lebih segalanya dibandingkan Edo. Hanya saja ia hanyalah orang asing bagaimana mungkin keduanya harus menikah.
"Apakah tidak ada pilihan selain harus menikah?" tawar Alana.
Silvi berkali-kali meremas tangan sahabatnya itu, ia khawatir jika Alana menyetujui perjanjian itu, yang menurutnya itu hal yang konyol.
Dave menggeleng lalu berkata dengan cepat dan tegas. "Satu tahun!"
Alana mengangkat wajahnya menatap lelaki itu.
"Ya hanya satu tahun kita menikah. Pernikahan kontrak tanpa melibatkan suatu perasaan yang dinamakan cinta. Bukan begitu Nona?"
"Tapi-"
"Nona bukankah pernikahan ini bisa saling memberi keuntungan. Anda bisa membalas sakit hati anda pada mantan kekasih anda, bukankah Anda tengah membutuhkan hal ini," timpal Zain.
Alana mengangguk. "Lalu untuk Tuan Dave? Maksudku apa untungnya dia menikah dengan saya?" tanya Alana menatap Dave.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 197 Episodes
Comments
RahaYulia
terlalu aneh aku bilang klo baru pertmuan prtma udh ada surat perjanjian yg trtulis, msa kmna2 bwa srt bgtuan😅, klo prtmuan slanjutnya baru rda msk akal ya, tp ya sdh lah ya trsrah yg bikin😁
2023-06-15
2
Nurwana
mudah mudahan bukan Alana duluan yg jatuh cinta.
2023-05-25
0
Fitriyani Puji
siap siap ber perang alana
2023-03-06
0