Pekerjaan hari ini berjalan dengan lancar. Ia bisa pulang lebih cepat dari biasanya. Tidak banyak teman-teman yang menanyakan soal dirinya kemarin tidak masuk bekerja, mereka hanya berpikir Alana kembali jatuh sakit. Untuk itu Alana merasa lega, ia tak perlu mencari alasan.
Alana sampai di rumah Dave pukul tiga sore. Seusai membersihkan diri, pintu kamar Alana di ketuk oleh Salma.
"Nona, saya diminta Tuan Dave untuk menemani anda berbelanja," ujar Salma.
Hah?
Alana terbengong. Belanja untuk apa? Pakaiannya saja masih banyak. Tapi, kalau Salma sudah mengatakan atas nama Dave, mana mungkin ia berani menolak.
"Baiklah. Tunggu sebentar, aku ganti pakaian lebih dulu," sahut Alana.
Salma mengangguk, memilih berlalu menunggu sang majikan di depan rumah. Alana kembali menutup pintu, mengganti pakaiannya.
Ketika sudah selesai Alana memilih langsung turun menuju halaman depan, di mana Salma dan sopir telah menunggu. Ia pikir Dave memintanya untuk belanja pasti karena ilfil pakaiannya yang Alana kenakan semalem, daster rumahan yang memang biasanya ia gunakan. Haruskah Alana membiasakan diri dengan kehidupan ala orang kaya.
Mobil mewah yang dikemudikan sopir melaju membelah jalanan padat ibu kota. Terlihat sedikit macet, karena memang saat itu bertepatan dengan jam pulang kerja.
Mobil tiba di salah sat Mall untuk kalangan elite. Turun dari mobil Alana dan Salma melangkah masuk.
"Nona beli apa saja yang Nona inginkan," ujar Salma begitu sampai di dalam.
"Benarkah?"
Perempuan itu mengangguk. "Itulah pesan Tuan Dave."
Dengan senyum mengembang, Alana masuk ke dalam salah satu toko pakaian mewah. Alana menelan ludahnya saat melihat label harga yang terpasang di baju-baju yang berjajar rapi di sana. Ia hanya masuk seorang diri, karena Salma tadi ijin menerima telpon lebih dulu.
'Mau belajar jadi orang kaya. Belanja tanpa melihat label harga' gumam Alana dalam hati.
"Selamat datang dan selamat berbelanja. Ada yang bisa saya bantu?" ucap seorang penjaga toko sopan.
"Em.. saya lihat-lihat dulu ya mbak," balas Alana. Ia kembali berkeliling melihat-lihat pakaian di sana. Bagus-bagus memang, tapi harganya. Gaji Alana lima bulan pun rasanya tak akan cukup untuk membeli salah satu baju di sana. Sayang sekali, pikirnya.
Namun, perempuan itu tetap melanjutkan niatnya. Ia harus keluar dengan membawa barang meskipun satu biji, toh semalem Dave sudah memberikan kartu untuknya.
"Nona mencari pakaian kaya gimana? Buat santai, atau kerja, atau sebuah gaun?" tanya pegawai toko, karena ia sejak tadi melihat Alana seperti orang yang bingung.
"Buat santai kak," jawab Alana. Ia cukup terkesan, karena pegawai toko itu begitu ramah dengannya. Meskipun saat itu Alana hanya berpakaian seperti biasanya.
"Saya bantu ya Nona."
Sementara pegawai toko memilihkan ia baju. Alana juga mencoba melihat-lihat pakaian yang lainnya. Hingga pandangannya terhenti, pada sebuah gaun cantik, mewah, tanpa lengan berwarna gold. Alana langsung jatuh hati pada gaun itu, kulitnya yang putih pasti sangat cocok memakai gaun itu. Bukankah Minggu depan ia akan di ajak ke mansion utama, tentu ia membutuhkan sebuah gaun yang bagus kan.
Ketika Alana hendak mengambil gaun itu, tepat sebuah tangan pun juga memegang gaun itu.
"Ini pilihan saya," ujar Alana.
"Alana?"
Suara yang tak asing terdengar, membuat Alana mengangkat wajahnya. Terkejut sekaligus geram karena ia kembali bertemu dengan Tisa. Apalagi kala melihat perempuan itulah yang ternyata berusaha merebut gaun pilihannya. Alana merasa kesal, tak ingin kembali kalah dari Tisa.
"Lepaskan tanganmu," titah Alana.
Tisa semakin menyeringai. "Tidak! Gaun ini milikku!"
Alana tersenyum mengejek. "Mimpi. Gaun ini milik toko ini. Kau pikir ini toko nenek moyangmu. Lepaskan tanganmu, karena gaun ini aku yang lebih dulu memilihnya."
"Halah, kamu itu sok banget. Kaya mampu aja beli baju di sini. Dulu iya aku percaya karena Edo akan memberikan apa saja padamu. Tapi sekarang, kamu harus sadar diri. Kalau kamu itu sudah kembali ke stelan pabrik pada umumnya," ejek Tisa.
Alana menatap Tisa dengan kesal. "Mampu gak mampu itu bukan urusan mulut kotormu itu. Lagian, tanpa Edo pun aku masih mampu membeli pakaian. Tapi aku tidak heran sih sama kamu, sukanya merebut barang milik orang lain," sindirnya kemudian.
Tisa mengepalkan salah satu tangannya, mendengar penuturan Alana ia merasa marah. Bahkan ia masih kekeh ingin mengambil gaun yang sudah menjadi incaran Alana tadi.
"Lepaskan. Kamu itu tidak akan mampu untuk membayar gaun semahal ini," ucap Tisa memaksa.
"Kau pikir aku akan mengalah karena sama kamu. Dulu aku bisa mengalah membiarkan Edo memilihmu, karena memang kalian berdua itu sama-sama sampah. Tapi sekarang jangan harap aku akan mengalah. Gaun ini pilihanku sejak tadi, kau masih bisa mencari yang lain. Tidak usah mengajakku ribut. Atau kau akan malu sendiri!" ancam Alana.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 197 Episodes
Comments
Emn Sc
jangan mengalah terus Alana tunjukkan taringmu...mantan sahabat luknutmu biar nyaho
2024-05-26
0
Siti Sahara
gitu dong alana...bela diri sendiri bisr gak diinjak² manusia sampah
2024-02-17
0
fitriani
good alana jgn mw ngalah sm si pelakor
2023-04-20
0