Akibat semalam hujan-hujanan, kini tubuh Alana menggigil dan demam. Nyaris semalaman ia tak dapat memejamkan kedua matanya, selain karena hatinya yang retak sakit, tubuhnya pun terasa begitu lemah.
"Alana kamu sakit?" suara yang lemah lembut membangunkan Alana yang tengah memejamkan kedua matanya, meski saat itu ia tak benar-benar tidur, kepalanya nyaris sakit.
Alana hanya merintih di atas ranjangnya, ketika merasakan dinginnya tangan yang meraba keningnya. Rasanya ia tak ada niat untuk bangun.
"Ayo bangun, dan coba minum obatmu." Suara itu kembali menuntunnya. Pelan sebuah tangan mencoba membantu Alana menyangga kepalanya, lalu mulutnya pun terbuka, ketika sebuah gelas yang terasa dingin menyentuh ujung bibirnya. Alana meneguk air mineral itu dengan pelan hingga tandas, dan tak lupa minum pil penurun panas.
"Baguslah, sekarang kembalilah tidur. Agar kau lekas sembuh."
Alana berbaring mencoba memejamkan kedua matanya kembali. Namun sesuatu yang dingin menyentuh keningnya, membuat ia tersentak lalu membuka kedua matanya dengan lebar, pandangannya tertuju pada seorang perempuan yang berada di sisinya.
"Silvi?" bisiknya lirih.
"Ya, ini aku Alana. Apakah kau ingin makan?" tanya Silvi. Sahabat sekaligus tetangganya yang bekerja sebagai pelayan di sebuah bar.
Alana menggeleng, lalu meraih tangan Silvi dan meletakkannya di dada. "Silvi. Edo mengkhianati ku, dia bahkan bercinta di hadapanku dengan Tisa. Dia membuatku patah hati. Hatiku sakit Silvi." Alana kembali menangis, buliran air mata mulai membasahi pipinya.
"Sudahlah jangan menangis. Air matamu terlalu berharga untuk menangisi kedua penghianatan itu."
"Apa salahku, Silvi? Kenapa mereka tega berbuat keji seperti itu di belakangku. Padahal kau tau, aku begitu mempercayai dan mencintai Edo. Kenapa Tisa tega merebutnya dariku. Bukankah dia sahabatku juga." Alana masih meratapi nasibnya.
"Sudahlah Alana. Kau tak perlu sampai sehancur ini. Ingatlah masih ada ibumu yang harus kau urus, kau harus menjaga dan merawatnya. Jika kau rapuh bagaimana nasib ibumu," tutur Silvi pelan menenangkan Alana.
Nyatanya, semua tak semudah ucapan Silvi. Alana nampak sedih, beberapa hari ini bahkan suhu badannya naik turun, hal itu membuatnya cuti dari kerjaannya. Beruntung manager Alana adalah orang yang baik dan percaya pada Alana, untuk itu dengan mudah Alana diminta untuk istirahat sampai kondisinya benar-benar fit.
"Bagaimana keadaanmu, Alana?" Setelah dua hari kemudian, Silvi masih menanyakan perihal yang sama.
"Aku sakit Silvi. Rasanya aku ingin mati!" rengeknya.
Plak
Silvi menepuk tangan Alana pelan. "Hust ngomongnya. Jangan sembarangan. Ingat kau masih ada Ibumu. Kau harus bangkit menjadi Alana seperti yang aku kenal."
Alana menunduk sedih, Silvi berpindah posisi duduk di sisi Alana, lalu memeluknya.
"Jangan kau anggap penghianatan mereka adalah kehancuran untukmu. Perbuatan mereka sama sekali tak sebanding untuk kau bayar dengan luka hatimu."
Lagi, Alana mencoba meresapi kata demi kata yang terlontar dari bibir Silvi.
"Tapi mereka bilang, tidak akan ada lelaki yang mau denganku. Tidak akan ada yang mau menikah denganku, karena penyakit ibu." Alana menutup kedua matanya, sakit rasanya ketika mengingat penghinaan mereka. Kenapa harus membawa ibunya, dalam pertengkaran mereka.
Silvi mendengus marah. "Kenapa kau perduli sekali ucapan orang-orang seperti itu. Mereka tentu akan melakukan apa saja demi membuat dirimu merasa sakit. Banggalah kau Alana masih memiliki seorang ibu, sedangkan aku.... Aku hanya anak yatim piatu yang entah di mana kedua orang tuaku. Hanya denganmu aku merasa memiliki keluarga. Aku seperti mempunyai seorang adik. Jadi, ku mohon jangan menyakiti dirimu sendiri demi parasit itu."
Alana terharu, lalu merebahkan kepalanya di pundak Silvi. Apa yang diucapkan sahabatnya itu benar adanya. "Aku pikir tahun ini impianku akan menjadi kenyataan. Menikah dengan Edo, tapi ternyata lelaki itu hanya seorang pembual yang tak lebih dari sampah."
Silvi terdiam membiarkan Alana terus berbicara. "Aku benar-benar mencintainya. Tapi teganya ia mematahkan hatiku!"
"Manusia hanya bisa berencana Alana. Kita tidak pernah tau apa yang akan terjadi kedepannya. Dan dengan kejadian ini, pantasnya kau bersyukur. Tuhan telah menunjukkan jalan, jika Edo bukanlah laki-laki yang baik untukmu. Coba kau pikirkan seandainya kau mengetahui hubungan gelap keduanya setelah kau berhasil menikah dengan Edo. Bukankah hal itu akan lebih menyakitkan."
"Tapi kenapa harus Tisa?" tanyanya sedih dengan tatapan tak percaya.
Silvi menghela nafasnya. "Aku pikir sejak dulu memang Tisa telah mengincar kekasihmu itu. Bukankah setiap Edo datang ke rumahmu, perempuan itu juga akan datang, jangan lupakan pakaian yang seksi yang selalu ia kenakan. Dari situ aku yakin, perempuan itu memang sudah berencana merebut Edo darimu!"
Alana mengangguk, mengingat peristiwa yang diceritakan Silvi.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 197 Episodes
Comments
blackrose
aku dulu punya sih teman seperti ini tiap doi datang temenku itu juga datang ,
2024-03-27
0
Lina Maulina18
BNR t kata Silvi buat cwo kyk gt tangisi heloo dunia g selebar daun kelor keles
2023-06-08
0
mars
suka enak dibacanya
2023-03-30
0