Dave menggendong Alana, dan mendudukan dirinya di kursi. Setelah sebelumnya ia berteriak memanggil Salma untuk membawakan kotak p3k.
"Are you okay?" tanya Dave cemas. Itulah yang ia takutkan sejak tadi. Alana mengernyit menahan pusing pada kepalanya, menatap lelaki itu dalam-dalam. Salah satu tangan Dave yang masih merangkul pundak Alana, sementara salah satu tangannya berada di perut Alana, membuat posisi keduanya begitu dekat, nyaris tak berjarak.
Hingga membuat Alana merasa sulit untuk bernafas, sekujur tubuhnya mendadak merasa lemas. Perasaan macam apa itu? Gugup atau semacam rasa terpesona pada lelaki yang menyandang gelar seorang suami baginya kini.
Dave menyentuh kening Alana yang nampak memerah, bahkan mungkin hampir berbenjol.
"Aduh!" pekik Alana.
"Sorry! Ini pasti sakit." Dave melonggarkan tangannya, kemudian mendekatkan wajahnya, dan mulai meniup-niup kening Alana.
Alana terkejut, kedua matanya membulat tak menyangka lelaki itu bisa bersikap semanis itu. Tanpa di sangka kedua tangannya kini telah mendarat di perut Dave. Membuat ia dapat menyentuh otot-otot kekar lelaki itu, yang sejak tadi hanya dapat ia lihat.
'Ya ampun. Apa ini? Kok bisa sekeras ini sih,' gumam Alana tak habis pikir.
Dave merasakan sentuhan lembut tangan Alana pada perutnya. Ia mencoba untuk menahan nafas dengan masih melanjutkan niatnya meniup kening Alana. Kemudian, pandangannya terhenti pada mata, turun ke hidung, lalu menuju bibir ranum perempuan itu.
Tatapan keduanya saling terpatri dan mengunci, jarak yang begitu intim membuat hembusan nafas keduanya saling terdengar.
Sesaat keduanya seperti saling terhipnotis. Perlahan Dave mendekatkan wajahnya, dan anehnya Alana bukan menghindar. Namun, justru menutup kedua matanya secara perlahan, seakan membiarkan Dave untuk menciumnya.
Sedetik berikutnya Dave telah berhasil mendaratkan bibirnya di bibir Alana, ia mencoba memaksa perempuan itu untuk membuka bibirnya, untuk membiarkan dirinya mengeksplor isi dari bibir perempuan itu. Namun, tiba....
"Tuan ini kotak p3k nya!"
Suara Zain mengejutkannya. Alana segera mendorong tubuh lelaki itu. Kemudian, bersikap seolah tidak terjadi apa-apa.
Begitupun dengan Dave yang tiba-tiba menjadi salah tingkah. Meski ada rasa jengkel pada asistennya, karena kehadirannya telah menganggu momen itu.
"Maaf Tuan, saya tidak tau kalau anda dan Nona Alana sedang," kata Zain tak enak hati dengan kedua tangannya saling menguncup seperti orang yang sedang ciuman.
"Berisik! Berikan padaku," sergah Dave kesal sambil menarik kotak p3k dalam genggaman tangan Zain.
Zain masih terdiam di tempat. Melihat keduanya majikannya. Lelaki itu tersentak melihat penampilan keduanya bermandikan keringat, belum lagi kondisi Dave yang tampak berte lan jang dada . Sesaat otaknya jadi traveling.
'Ini orang berdua habis ngapain? Bisa keringetan begitu,' gumam Zain yang berfikir jika hubungan keduanya sudah terlanjur jauh.
"Hadap sini Alana. Biar aku obati keningmu. Biar besok tidak benjol," titahnya pada Alana.
"Biar aku obati sendiri Dave!" Alana menolak karena ia pun merasa malu. Apalagi melihat tatapan Zain padanya. Ia seperti seseorang yang tengah kepergok tengah berbuat mesum.
"Tutup matamu kenapa kau menatapnya seperti itu. Alana jadi takut," sergah Dave pada Zain. Kemudian memaksa Alana untuk menghadap ke arahnya, ia pun mulai mengobati kening Alana.
Zain menggaruk tengkuknya, sambil tersenyum tipis. "Maaf Tuan. Sebenarnya saya kesini karena ingin mengatakan sesuatu pada anda," ucapnya.
"Katakan?" titah Dave.
"Acara makan di mansion utama di majukan menjadi Minggu besok Tuan. Karena Tuan Jonas mengatakan semakin cepat semakin baik," kata Zain.
Dave mengangguk. "Katakan padanya aku pasti akan datang."
"Baik Tuan!"
Seusai mengatakan hal itu Zain pun masih berdiri di sana, membuat Dave kesal.
"Ada lagi yang ingin kau katakan Zain?" tanyanya.
"Oh tidak Tuan. Saya hanya pikir saya menunggu kotak-"
"Aku bisa membawanya sendiri! Kamu pikir aku tidak punya tangan dan kaki. Pergi sana!" usir Dave pada Zain.
Zain melongo kalau memang punya tangan dan kaki untuk apa tadi berteriak memanggil Salma, beruntung ia yang baru tiba di rumah itu mendengar langsung sigap. Pasalnya saat itu Salma tengah sibuk di belakang. Tapi yang namanya atasan itu tidak ingin disalahkan dan selalu menang. Zain memilih mengalah dan berlalu pergi.
"Sudah." Dave kembali menutup kotak p3k setelah selesai mengobati Alana.
"Terimakasih!" sahut Alana.
Dave mengangguk. "Kau dengar tadi apa yang diucapkan Zain, Alana?" tanyanya kemudian.
Alana mengangguk. "Makan malam."
"Ya. Karena itu persiapkan dirimu. Besok malam kita akan pergi ke mansion utama. Kau hanya perlu mendengar apa perkataanku. Namun, tetaplah jadi dirimu sendiri Alana," kata Dave seraya beranjak dari tempat duduknya.
"Iya Dave," sahut Alana pasrah.
Dave tersenyum, kemudian beranjak meninggalkan Alana di sana seorang diri.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 197 Episodes
Comments
°^^Jun Natalie^^°
ahh ..Zain menganggu saja🤣
2025-01-07
0
Siti Sahara
zein...mengganggu aja deh kamu
2024-02-17
0
Sintya Ashari
mantab
2023-07-07
0